Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 61


__ADS_3

Tia melihat gelagat yang tidak menyenangkan dari Kirani. Mata Kirani terus mencuri pandang pada Hans.


"Mbak, apa bisa kita mulai?" tanya Tia membuat terkejut Kirani dan Hans.


"Ah, Iya, Mbak. Kita bisa mulai. Mari silakan ikut saya," balas Kirani dengan senyum yang dipaksakan.


Kirani menunjukkan ruangan yang penuh dengan koleksi baju pengantin dari berbagai model dan ciri khas suatu daerah.


"Silakan, Mbak. Berbagai model gaun pengantin ada di sini, silakan mbak memilih," ucap Kirani menemani Tia memilih baju.


Tia berjalan dari satu gaun ke gaun pengantin yang lain, memilih sekiranya yang cocok untuk dirinya.


"Mbak, menurut mbak saya cocok dengan gaun ini?" tanya Tia pada Kirani sembari menunjukkan gaun tanpa lengan dan bagian dada sedikit terbuka. Gaun dengan model bawah menyerupai ekor duyung.


Kirani memindai gaun tersebut dari atas hingga bawah sembari membayangkan Tia yang memakainya.

__ADS_1


"Maaf, Mbak. Itu kurang cocok untuk mbak," jawab Kirani berbohong. Sebenarnya gaun itu sangat cocok dipakai oleh Tia lantaran tubuh Tia langsing dengan tinggi standard.


"Oh, baiklah. Aku pilih gaun yang lain," balas Tia mengembalikan gaun yang dia pegang. Tia melanjutkan memilih gaun lagi. Hingga sampai gaun ke sepuluh yang dia perlihatkan pada Kirani, semua tidak ada yang cocok dengan tubuh Tia. Tia pun menjadi curiga.


"Sepertinya ada yang ingin membuatku berpenampilan jelek di pesta nanti. Baiklah, aku akan menggunakan hati untuk memilih gaun yang aku sukai dan cocok di tubuhku," gumam Tia yang kesal pada Kirani. Aneh menurutnya, seorang pegawai butik tidak membantu pelanggannya memilih gaun.


Tia berjalan hingga akhirnya berhenti di sebuah gaun yang paling bagus dan mahal. Gaun itu bersembunyi di rimbunan gaun yang lain. Gaun berwarna biru muda dengan aksen batu permata berwarna biru tua.


Dengan hati-hati Tia mengambil gaun itu, kemudian dia patutkan sendiri di depan sebuah cermin. Wajah Kirani sudah memucat lantaran gaun yang sengaja disembunyikan diketahui juga oleh Tia.


"Maaf, Mbak. Itu tidak cocok di tubuh, Mbak. Lagian warna gaun itu tidak cocok untuk sakralnya acara pernikahan. Masih ada gaun lain yang bisa mbak pilih," ucap Kirani sembari mengambil gaun yang ada di tangan Tia.


Tia mengerutkan dahinya, sepertinya Kirani sengaja tidak ingin Tia memilih gaun tersebut.


Sebelum tangan Kirani berhasil mengambil gaun tersebut. Tia menepis tangan Kirani lalu meninggalkan Kirani begitu saja menuju dimana Hans menunggu.

__ADS_1


"Mas Hans, lihatlah aku pakai gaun ini baguskan?" tanya Tia pada Hans sembari menempelkan gaun tersebut di badannya.


Hans menatap sang istri yang sedang memperlihatkan gaun pengantin yang dipilihnya.


"Bagus, Tia. Gaun itu sangat cocok kau pakai," jawab Hans sambil tersenyum. Kirani yang membuntuti Tia terlihat gugup. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, wajah Kirani menjadi malu.


"Benarkah, Mas? Jangan-jangan kamu hanya ingin menyenangkan hatiku saja," ucap Tia curiga pada Hans. Tia menatap manik mata Hans untuk mencari titik kebohongan di sana. Namun, tidak ia dapati kebohongan itu.


Hans tersenyum melihat sang istri yang menggemaskan itu, pasalnya bibir Tia mengerucut sehingga pipinya terlihat chubby.


"Tidak, Sayang. Kamu terlihat cantik sekali," puji Hans sembari berjalan ke arah Tia, lalu mengurai rambut Tia yang dikuncir, agar terlihat lebih cantik.


"Lihatlah mas tidak bohong, tidak ada yang aku sembunyikan darimu lagi."


Tia tertegun dengan sikap Hans, sedetik kemudian dia tersenyum lalu memeluk Hans dengan tiba-tiba. Kirani membulatkan mata melihat adegan romantis tersebut. Ada rasa nyeri di hatinya. Hans yang dulu ia tolak cintanya kini seakan tidak menganggap dirinya ada di ruangan itu. Sungguh ironis sekali, keadaan menjadi terbalik, kini Kirani yang berharap untuk bisa bersatu.

__ADS_1


__ADS_2