Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
bab. 58


__ADS_3

Madam Jo dengan gaya khasnya menyambut kedatangan Hans dan Tia.


"Selamat sore, Tuan Hans dan Nyonya Hans. Semua yang tuan inginkan sudah tersedia. Nyonya, silakan ikut saya. Saya akan mengajak nyonya untuk melihat gaun yang sudah saya rancang khusus untuk nyonya Hans. Pernikahan ini pasti akan menjadi pernikahan yang mewah dan akan terkenang sepanjang masa. Mari nyonya ikuti saya," ucap Madam Jo.



Madam Jo berjalan dengan Tia berada di belakangnya. Tia dan madam Jo berada di sebuah ruangan dengan aneka baju pesta di sekelilingnya.



"Lihatlah, Nyonya. Gaun pengantin koleksi madam Jo. Indah bukan? Sekarang silakan nyonya memilih gaun yang sesuai dengan impian nyonya sewaktu masih gadis dulu," ujar madam Jo.



Tia membulatkan matanya, tidak percaya jika dia suruh memilih gaun yang menjadi impiannya dulu. Memang setiap gadis pasti memiliki impian, saat datang hari spesial buang dinantikan yakni bersanding dengan lelaki yang menjadi pujaan hatinya.



"Madam, boleh aku memilih gaun ini," ujar Tia sembari memegangi gaun yang dia pilih. Sebuah gaun dengan neck V di bagian lehernya dan lengan yang terbuka dengan layer di bahu.



"Wow, pilihanmu luar biasa, Nyonya. Ini adalah salah satu gaun yang menjadi pemenang di ajang kontes gaun pernikahan internasional," puji madam Jo pada Tia.



"Tapi, pasti mahal harganya. Benarkan, Madam? Aku takut akan memberatkan mas Hans nantinya," lirih suara Tia ragu setelah melihat harga yang tertera di bawah manekin tersebut.


__ADS_1


Madam Jo tersenyum, semua pelanggannya akan merengek meminta pada calon suaminya untuk mengabulkan gaun yang dipilihnya. "Nyonya, anda tidak perlu khawatir semuanya ini sudah dibayar oleh Tuan Hans. Apapun yang ada di dalam butik ini semuanya sudah menjadi milik Tuan Hans," ucap Madam Jo.



"Apa maksud anda madam apakah butik dan salon ini milik mas Hans?" Tia menatap Madam Jo dengan hati yang diselimuti rasa ingin tahu yang besar. Se-kaya apa suaminya saat ini.



Madam Jo tersenyum mendengar pertanyaan Tia, ternyata wanita yang ada di hadapannya itu tidak mengetahui seberapa kaya suaminya.



"Bener, Nyonya. Butik dan salon ini milik Tuan Hans dia juga yang memiliki beberapa hotel yang ada di kota ini dan beberapa hotel di luar kota. Namun, saya salut dengan tuan Hans. Dia tidak pernah menunjukkan kekayaannya pada siapapun. Anda yang jadi istrinya saja tidak tahu bukan?" Madam Jo memandang sinis pada Tia.




"Ah, Maaf, Madam. Saya mengenal dan menerima mas Hans bukan dari kekayaaannya. Melainkan karena sikap dan juga karena dorongan ibu kandung mas Hans."



"Apa nyonya mencintai tuan Hans?" selidik madam Jo yang sepertinya tidak rela jika Hans menjadi suami Tia.



Tia terkejut mendapat pertanyaan dari madam Jo. Bingung harus menjawab apa, karena memang di dalam hatinya benih cinta masih dalam tahap persemaian. Hati Tia belum sepenuhnya bisa mencintai Hans.


__ADS_1


"Mmm ... Sebagai istri apapun yang terjadi cinta dan pengabdian hanya untuk suaminya seorang," jawab Tia dengan senyum yang dipaksakan. Dia tidak ingin masalah pribadinya menjadi konsumsi publik.



"Baiklah, Nyonya. Memang istri haruslah selalu mengabdi pada suami. Oh ya, gaun ini bisa nyonya coba dulu," ucap Madam Jo menurunkan gaun yang ia pasang di boneka manekin itu.



Tia tersenyum, membayangkan dirinya memakai gaun yang selama ini menjadi impiannya. Tidak masalah jika impiannya yang lain yaitu menikah untuk sekali seumur hidup tidak terwujud.



"Silakan, Nyonya. Bisa Anda coba dulu agar bisa nyaman dan pas di badan saat dipakai pada pesta nanti," ucap madam Jo memberikan gaun yang dipilih oleh Tia.



Tia menerima gaun itu kemudian bergegas ke Kamar ganti. Setelah selesai, Tia keluar dengan gaun yang sudah melekat pas di tubuhnya.



Kreek ....



Gaun yang dipakai Tia sobek karena tidak sengaja keinjak Tia saat berjalan.



"Astaga ... Apa yang Anda lakukan, Nyonya. Mengapa bisa robek begini!" Madam Jo terlihat kesal dengan Tia yang sudah membuat robek gaun hasil karyanya itu.

__ADS_1


__ADS_2