Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 78.


__ADS_3

"Mas! Katakan, Mas! Jawab pertanyaanku! Jangan kau diam saja. Aku tidak menyangka selama ini kau hanya menipuku, Mas! Dasar lelaki kere! Menyesal aku dulu menikah denganmu!"


Wulan menangis sesenggukan di dada Ridho. Tidak berapa lama tubuh Wulan luruh ke lantai. Kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya yang masih menangis, menyesali semua.


Lelah Ridho mendengarkan ucapan Wulan, dia pun pergi meninggalkan Wulan begitu saja.


"Rosie! Cepat temani aku malam ini." Ridho memanggil Rosie wanita simpanannya. Malam ini Ridho butuh hiburan, terlalu lelah dan stress membuatnya gelap hati. Istri yang seharusnya dia hibur dan tenangkan hatinya, ia tinggal begitu saja.


"Siap, Mas. Asal kau isi rekening Rosie, sudah habis isinya," jawab Rosie manja di seberang sana.


"Kamu tenang saja, aku pastikan kau tidak akan mengalami rekening kosong," ucap Ridho sombong. Padahal saat ini dia tengah berada dalam masalah besar. Namun, Rosie bukanlah wanita bayaran level atas. Tarif Rosie masihlah bisa ditawar.


"Diih ... Ogah sih sebenernya layanin tuh orang, belum puas sudah loyo duluan. Mana cuman mungil gitu! Semangat Rosie, semua demi bisa menjadi nyonya besar!" gumam Rosie menyemangati dirinya sendiri.


Rosie berharap, malam dimana dia menghabiskan malam dengan Ridho tanpa pengaman apapun membuahkan hasil. Namun, harapannya buyar tatkala Rosie masih mendapati dirinya datang bulan.


Ridho pun meluncur meninggalkan rumahnya, dia sudah tidak memerdulikan Wulan. Saat ini baginya, Wulan harus bisa menghasilkan uang untuknya. Ya, Ridho berniat menjadikan Wulan sebagai mesin ATM nya.

__ADS_1


***


Di rumah Hans.


Setelah selesai berbelanja gaun untuk sang ibu, Tia dan Hans kembali pulang ke rumahnya. Hari pernikahan tinggal tiga hari lagi.


"Assalamu' alaikum, Bu," sapa Tia dan Hans serentak. Mereka pun bergiliran mencium tangan Ningsih.


"Wa'alaikum salam ... kalian sudah datang?" tanya Ningsih pada kedua orang yang dia sayangi itu. Wajah berseri mengiringi Ningsih menyambut kedatangan Hans dan Wulan.


"Iya, Bu. Maafkan kami, semua rencana mas Hans yang serba mendadak. Tia belum sempat pamit pada ibu," ucap Tia meminta maaf pada Ningsih.


"Iya, Bu. Kami ingat, ini kami belikan gaun untuk ibu. Warna hampir senada dengan gaun pengantin Tia. Tia harap ibu berkenan menerimanya," ucap Tia sembari menyerahkan paper bag pada Ningsih.


Senyum menghiasi wajah Ningsih, dia sangat bersyukur memiliki menantu yang memerhatikan dirinya. Rasa tidak dihargai sebagai mertua pernah Ningsih rasakan dari menantu pertamanya. Ningsih berharap, menantu keduanya ini bisa memberinya kebahagiaan.


"Terimakasih, Sayang. Pasti ibu akan memakainya nanti di hari pesta pernikahan kalian. Ibu berharap kalian akan selalu bahagia. Pesan ibu, jagalah selalu rasa cinta di antara kalian. Jadikan perbedaan menjadi sebuah pengikat erat hubungan kalian. Jangan pernah mengedepankan ego dan rasa ingin menang sendiri," ucap Ningsih memberi nasehat pada Tia dan Hans.

__ADS_1


"Insyaallah, Bu. Kami berdua akan melaksanakan semua nasehat ibu. Semoga pernikahan kami ini adalah pernikahan terakhir bagi kami," ucap Hans memberikan jawaban membuat Tia dan Ningsih terharu. Mereka berdua menitikkan air mata perlahan.


"Sudahlah, lebih baik kalian beristirahat. Semoga malam ini adalah malam dimana Allah menebarkan benih-benih kebahagiaan di antara kalian berdua. Hans, ajak istrimu istirahat, sepertinya dia sudah lelah hari ini. Tia, Hans tidak menyakitimu, bukan?" tanya Ningsih pada Tia.


"Bu, tentu saja karena ulah Hans, Tia akan kesakitan melahirkan anak-anak Hans, Bu. Benarkan, Tia?" tanya Hans sambil melirik manja pada Tia.


Blush ....


Pipi Tia mendadak berubah menjadi merah merona. Kata-kata Hans membuat dirinya tidak berkutik. Malu untuk menjawabnya.


"Mas, diam!! Jangan bikin malu, Tia!" geram Tia menatap kesal pada suaminya itu. Tia tidak pernah menyangka jika sosok pendiam itu ternyata ceplas - ceplos dalam berkata.


"Aww ...."


Tia mencubit pinggang Hans. Dia sangat kesal mengapa Hans omongin tentang kejadian kemarin malam.


"Mas, malu ih!"

__ADS_1


"Kalian sudah pecah telur?"


__ADS_2