Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 56


__ADS_3

Ridho masih tersenyum memikirkan semua, gegas dia pulang ke rumah. Hari ini juga Wulan juga boleh kembali ke rumah. Ridho melajukan mobilnya untuk memeriksa surat tanah yang ingin dia jual. Niatnya hari ini juga dia akan menawarkan pada penjual. Ridho lupa jika saat ini dia sudah bercerai dengan Tia. Harta yang dibeli saat menikah dengan Tia, akan masuk dalam harta gono gini.


Deru mobil Ridho membelah keramaian jalan raya. Sambil bersiul dia mengemudikan mobilnya. Sebuah mobil taksi on-line berhenti di depan rumahnya mewah dan luas itu. Menurunkan sosok wanita yang dia kenal sebagai istrinya.



Mobil Ridho berhenti tepat di samping mobil taksi tersebut. Tanpa membantu sang istri yang tertatih turun dari taksi, rasa nyeri masih sedikit Wulan rasakan.



"Mas ... Mas Ridho, loh kok gak mau bantu sih?" teriak Wulan dengan mimik wajah kesal dan kecewa. Dia tidak menyangka suaminya akan melewatinya begitu saja tanpa membantu membawakan atau memapah tubuh Wulan.



"Jangan manja Wulan, mas lagi sibuk," jawab Ridho setengah berlari menuju ruang kerjanya. Semua surat tanah dan surat berharga lain ia simpan dalam brankas.



"Ck! Dasar lelaki tidak punya hati! Awas kalau sakit aku tidak sudi merawatmu!" gerutu Wulan lirih. Tidak ada yang mendengar ataupun memperhatikan dirinya. Wulan tertatih membawa tas berisi baju selama di rumah sakit seorang diri. Sungguh pemandangan yang sangat epik.



Ridho mengobrak-abrik isi brankasnya, namun sayang surat tanah itu sudah tidak ada.



"Dimana aku simpan surat tanah itu? Seingatku semua surat penting aku simpan di sini, tapi ternyata tidak ada. Arrrghh! Siaaal ... Mengapa jadi pelupa begini? Perasaan aku tidak pernah memindahkannya apalagi menggunakan surat tanah itu!"


__ADS_1


Dada Ridho semakin sesak, bagi Ridho oksigen di ruangan itu dirasa semakin menipis. Napas Ridho tersengal-sengal, pikirannya kacau. Di mana dia harus mencari surat tanah itu.



Ridho terduduk lemas di kursi sofa depan meja kerjanya. Tangan kanan Ridho memijit pelipisnya yang dirasa berdenyut memikirkan keberadaan surat tanah itu. Tiba-tiba Ridho teringat kalau brankas itu bukan hanya dirinya yang tahu sandi pembuka pintu brankas, akan tetapi Tia juga tahu.



"Apa Tia yang mengambil surat tanah itu? Tapi buat apa? Dia kan bodoh dan lugu tidak pernah pegang uang banyak. Ck! Kalau bukan dia siapa lagi? Di rumah ini hanya Tia yang tahu, Wulan saja tidak mengetahui kalau aku punya brankas tersembunyi di sini," gumam Ridho di dalam hati seraya meremas frustasi rambutnya.



Tok ... Tok.




"Maaas ... Aku lapar ... Belikan nasi goreng dong," ucap Wulan yang berjalan menuju ke arah Ridho dengan sikap manjanya. Wulan tidak tahu jika dia datang di tempat dan waktu yang salah.



Braak ....



Ridho menggebrak meja yang ada di depannya. Dengan wajah yang sudah memerah dan mata yang melotot hampir keluar, Ridho memaki dan mengumpat pada Wulan.


__ADS_1


"Wulan apa-apaan kau ini! Pergi sana! Jangan membuatku tambah pusing! Wanita hanya bisa jadi beban lelaki, pergi kau dari sini \*\*\*\*\*\*!!" suara Ridho menggelegar hingga terdengar dari luar.



Ridho tidak tahu jika sang kedua mertuanya dan adik iparnya yang pulang dari rumah sakit sudah berada di depan pintu. Beruntung Tia tidak jadi ikut mengantar ibunya pulang, hanya membayar lalu ikut sang suami kembali ke kantor urusan agama.



"Pa ... Mengapa Ridho begitu marah pada Wulan?" tanya Meri pada suaminya. Untuk berapa saat Meri baru pertama kali ini takut dengan sang menantu. Menantu yang dulu selalu ia banggakan.



"Ma, jangan dipikirkan. Nanti mama stress dan bisa kumat kembali sakitnya. Ingat kata dokter, mama tidak boleh stress," ucap Aris yang mendampingi ibu dan ayahnya pulang ke rumah sang kakak ipar.



"Iya, Ma. Mama jangan terlalu banyak pikiran. Hal yang wajar terjadi jika suami istri bertengkar karena adanya perbedaan pendapat," ucap Cahyo ikut menenangkan hati istrinya, walah jujur ia akui dalam hati kalau dirinya juga gemetar karena takut.



Aris mendorong kursi roda sang ibu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar orang tuanya. Aris tidak ingin ibunya melihat ataupun mendengar pertengkaran Wulan dan Ridho.



"Ma ... Pa ... Aris tinggal dulu ya, Aris akan buat makan siang untuk mama dan papa. Walaupun hanya telur ceplok tidak apalah, asal bisa buat kita makan. Tadi mbak Tia memberi uang pada Aris untuk persediaan makan kita bertiga. Mbak Tia itu sangat baik, sudah melunasi biaya pengobatan ibu juga memberikan uang pegangan," ucap Aris memuji kebaikan Tia di depan ibunya.



Meri hanya melengos mendengar perkataan Aris yang memuji kebaikan Tia. Hatinya tetap belum bisa menerima diri Tia.

__ADS_1


__ADS_2