Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMPS 2 Bab. 22


__ADS_3

Hasan pergi meninggalkan kamar Hasna dengan berlari, namun sayang kaki kecil itu tidak mampu bergerak karena dirinya sudah tertangkap.


"Hasan! Kenapa kamu lari-lari seperti itu, Sayang?" tanya Alya dengan seringai di ujung bibirnya.


"Tidak, Tante. Hasan hanya ingin bermain saja. Tidak ada maksud apa-apa!" jelas Hasan dengan gugup. Dia seperti orang ketakutan melihat hantu. Hasan menunduk dengan tangan yang bergetar.


"Benarkah? Apa kau tidak melihat sesuatu yang ingin kau laporkan pada mama dan papamu?" Sindir Aliya.


Hasan masih menunduk kemudian dia menggeleng. Tidak berani menjawab pertanyaan Aliya.


"Bagus! Jika sampai kau buka suara tentang apa yang kau dengar hari ini maka Tante pastikan kau tidak akan bertemu lagi dengan Hasna! Apa kamu paham, Hasan?!" ancam Aliya. Bocah berusia tujuh tahun itu mengangguk dengan wajah yang terus menunduk.


"Jawab, Hasan!! Jangan hanya mengangguk saja! Kau tidak tuli 'kan?" seru Aliya dengan nada penuh penekanan.


Hasan yang merasa takut pun tidak mampu menahan air matanya. Dia menangis akan tetapi tidak berani ia tunjukkan pada Alya.


"Paham, Tante," ucap Hasan lirih karena rasa ketakutan yang luar biasa. Terakhir kali bertemu dengan Aliya, Hasan dicubit sampai merah di bagian lengannya.


"Bagus! Aku tahu kamu adalah anak yang cerdas, pasti tahu apa yang harus kami lakukan jika tidak ingin kau kehilangan adik tersayang mu itu!" tegas Aliya dengan seringai di bibirnya. Wajah cantik Aliya tidaklah secantik watak dan karakter wanita ini.


"Nona Aliya? Mengapa Kak Hasan menangis?" tanya Mbak Yuni pada Aliya. Yuni baru saja datang dari belanja kebutuhan dapur bersama bik Inah.


"Ini si Hasan jatuh karena lari-larian di ruang tamu. Baru aku nasehati mbak agar tidak lari-larian lagi di dalam rumah. Benar kan Hasan?" tanya Alya sembari pura - pura mengusap kepala Hasan dengan lembut.


"Be ... Benar, Mbak!" Hasan menjawab sambil berlari ke arah Yuni untuk memeluknya. Bagai orang yang tidak bertemu lama, Hasan memeluk erat Yuni.

__ADS_1


"Kak ... Sudah sering mbak Yuni ingatkan agar tidak lari-larian di ruang tamu. Begini kan akibatnya! Sekarang bagian mana yang sakit?" tanya Yuni pada Hasan.


Degh!


Degh!


Dada Alya berdegup kencang. Dia lupa menunjukkan bagian tubuh mana yang sakit.


"Kakiku yang sakit, Mbak!!" jawab Hasan membuat Aliya bisa bernapas dengan lega.


"Hmm ... Ternyata anak itu pandai juga berakting. Bagus kalau begitu maka rahasiaku akan aman. Hanya cukup diancam dengan keselamatan adiknya dia sudah takut! Dasar anak kecil mudah dibohongi, hahaha ...." Alya tertawa dalam hatinya. Dia mulai menyenangi permainan yang ia ciptakan.


"Syukurlah, Kak. Lain kali dengarkan kata Tante Aliya dan ingat pesan mama agar baik-baik di rumah," ucap Yuni mengusap air mata Hasan. Air mata yang ia kira keluar kerena sakit setelah terjatuh. Yuni tidak tahu jika di dalam hati anak kecil itu banyak menyimpan rahasia.


"Mbak Yuni, Hasan mau makan nasi goreng, mbak Yuni mau kan buatin nasi goreng untuk Hasan?" pinta Hasan pada sang pengasuh. Semua itu hanyalah alasan Hasan untuk menghindari Alya.


Tiin ... Tiin ....


Mobil Aris membunyikan klakson pada penjaga gerbang rumah mewah Hans agar dibukakan gerbang.


"Selamat malam, Tuan," sapa sang penjaga gerbang.


"Selamat malam, Pak." Aris menjawab dengan bibir yang tersenyum ramah. Hatinya berbunga-bunga karena dia akan mengajak sang kekasih untuk makan malam bersama.


Tok! Tok!

__ADS_1


"Assalamu 'alaikum," sapa Aris pada bik Inah yang membukakan pintu untuknya.


"Wa'alaikum salam," jawab bik Inah dengan senyum yang ramah.


"Bik, Alya kemana? Kok tidak kelihatan?" tanya Aris celingukan mencari sang calon istri.


"Nona Aliya sudah pulang dari siang tadi, setelah bibik dan mbak Yuni pulang dari belanja. Katanya ada perlu dan sekalian pamit pulang. Bibik kira ada perlu dengan den Aris," jawab bik Inah membuat Aris melongo kecewa. Apa yang sudah ia rencanakan seketika gagal total.


"Apa?! Alya sudah pulang dari tadi siang??" Aris belum percaya jika sang kekasih sudah pulang tanpa memberitahu diri ya terlebih dahulu. Sungguh tidak terbayangkan bagaimana wajah Aris yang menahan kecewa. Aly tidak memberitahu sedikitpun pada Aris. Tidak ada chat atau pesan masuk yang mengatakan bahwa Alya pulang duluan.


Aris merasa gusar, dia sangat kecewa. Dengan langkah lunglai Aris pamitan pada bik Inah.


"Maaf, Bik. Karena Aliya sudah pulang, lebih baik Ari pulang saja," ucap Aris dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan karena hatinya masih belum percaya jika Alya tidak mengabari kalau sudah pulang.


Bik Inah merasa kasihan dengan Aris yang terlihat sangat kecewa.


"Baiklah, Den. Den Aris tidak mampir dulu?" tanya Bik Inah mencoba menghentikan langkah Aris yang sudah kecewa.


Jika hati sudah kecewa dengan sosok yang disayangi maka sakitnya akan berlipat ganda, kecuali jika kekecewaan itu memiliki alasan yang kuat. Namun, tidak ada alasan dari Aliya yang bisa membuat Aris memaklumi semua.


"Maaf, Bik. Aris lebih baik langsung pergi dan istirahat di rumah saja. Lagian tadi Aris hanya ingin menjemput Aliya saja. Kalau Aliyanya sudah pulang ya sudah, Aris pulang saja," ucap Aris sambil memainkan ponselnya mengirim pesan pada Aliya. Pesona yang dikirim oleh Aris ternyata tidak di baca Aliya, pesan yang dikirim Aris masih centang satu berwarna abu.


"Aliya ... Kamu di mana sayang, mengapa kau tidak mengabari aku kalau sudah pulang lebih dahulu!" gumam Aris sembari terus melihat ke arah ponselnya yang belum ada notif jika pesannya sudah dibalas.


Dengan langkah gontai, Aris meninggalkan rumah Tia dan menuju ke mobilnya. Aris menekan pedal gasnya lalu meninggalkan rumah Tia. Malam ini semua yang sudah Aris rencanakan gagal total dan meninggalkan rasa kecewa. Seharusnya Aliya tidak mengabaikannya, minim memberi tahu jika dirinya sudah pulang ke rumah.

__ADS_1


"Apa aku harus ke rumah Aliya saja? Bukannya tadi dia pamit untuk pulang duluan?" Aris bermonolog dengan dirinya sendiri. Tanpa berpikir panjang lagi Aris memutar arah menuju ke rumah Alya.


__ADS_2