Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 116


__ADS_3

Menyadari akan keteledorannya, Hans pun bangkit dari kursi sofa. Dia melihat ke arah Tia yang sudah tertidur. Gegas Hans keluar untuk menemui Gunawan.


Hans berdiri di depan pintu kamar tempat Sinta--anak Gunawan dirawat. Penampilan Hans yang sama sekali belum ganti baju karena dia tidak memiliki sanak saudara ataupun teman di daerah itu untuk dimintai pertolongan.


Semua beban, Hans tanggung sendiri. Prinsip hidupnya, selama masih bisa berusaha sendiri maka ia akan jalani kecuali mengenai urusan kesehatan orang yang ia cintai. Apapun akan Hans lakukan demi Tia. Termasuk rasa sungkan atau malu meminta tolong pada Gunawan telah ia tepiskan.



Tok!



Tok!


Klek!


"Siapa? Oh, tuan Hans. Ayo, silakan masuk," ucap Gunawan mengajak Hans masuk ke kamar anaknya.



"Maaf, Tuan Gunawan. Saya hanya ingin bicara empat mata dengan tuan," ucap Hans dengan wajah yang tertunduk sungkan.



Gunawan mengernyitkan dahinya, menatap heran pada Hans. Baru saja kenal akan tetapi Hans sudah akrab. Gunawan pun tersenyum lalu menjawab permintaan Hans, "Baiklah, kita mau bicara dimana?"



Hans mendongakkan kepalanya. Dia tidak percaya jika Gunawan mau memenuhi permintaannya.



"A ... Anda memenuhi permintaan saya?" tanya Hans dengan tatapan tidak percaya. Senyum merekah menghiasi bibir Hans.



"Iya, benar. Mengapa Anda terlihat begitu senang, Tuan?" Gunawan benar-benar dibuat heran dengan sikap Hans yang seperti anak kecil saja.



"Mm ... bukan begitu maksud saya, saya hanya tidak menyangka jika Anda mau memenuhi permintaan saya. Secara kita baru saja dekat," ucap Hans gugup. Dia tidak ingin sikapnya ini membuat Gunawan mengurungkan niatnya.



"Santai saja, Tuan. Jika ada yang membutuhkan bantuan, selama saya bisa mengapa saya harus menolaknya?" tandas Gunawan membuat Hans menjadi tersipu malu.



"Baiklah, terima kasih sebelumnya saya ucapkan, Tuan. Bisa kita berbicara sebentar di depan kursi itu tuan?" tanya Hans menunjuk ke deretan kursi yang disediakan untuk para penunggu pasien di depan kamar VIP.



"Baiklah ... silakan, Tuan," jawab Gunawan mengikuti Hans.



Hans duduk dengan hati yang tidak karuan, dia bingung bagaimana harus memulainya. Gunawan melihat gelagat gelisah di mata Hans, hingga dirinyalah yang memulai percakapan.



"Tuan Hans katakan apa yang bisa saya bantu, Anda tidak perlu sungkan untuk mengatakannya," ucap Gunawan dengan ramah. Deretan gigi yang masih kokoh menghiasi senyumnya.



Hans mengambil napas dalam-dalam, kau mengembuskannya pelan. Hans sebelum mengutarakan maksudnya di dalam hati dia berdoa agar semua ucapannya bisa membuat hati Gunawan terketuk.



"Maaf, Tuan Gunawan ...."



"Tunggu, panggil saja aku paman. Rasanya lebih enak jika kamu panggil saya dengan sebutan paman." Gunawan memotong ucapan Hans. Hatinya tidak merasa nyaman jika Hans memanggilnya tuan, ada semacam rasa yang sulit untuk diungkapkan.


__ADS_1


"Baiklah, Tu ... Mm ... Maksud saya, Paman. Maaf jika jadi canggung begini. Saya merasa bingung bagaimana harus mengatakannya," ucap Hans grogi. Sungguh ini adalah suasana yang paling ia benci. Rasa canggung, malu, takut dan sungkan bercampur menjadi satu.



"Ada apa, Nak? Kamu seperti menyimpan beban yang begitu berat. Walau kita baru saja kenal dan dekat, kamu boleh ceritakan beban pikiranmu pada paman," ucap Gunawan sembari menepuk bahu Hans.



Hati Hans mendadak menghangat, dia merasakan kembali kasih sayang seorang ayah. Dengan mengumpulkan semua keberanian, Hans mengatakan maksudnya.



"Begini, Paman. Istri saya hamil tapi baru awal, masih membentuk kantung saja. Untuk bisa bertahan istri saya harus mendapatkan donor darah karena HB istri saya rendah," ucap Hans berhenti sejenak.



"Lalu apa yang kau harapkan dari saya, Nak?" tanya Gunawan ingin Hans langsung pada inti pembicaraan.



"Begini, Paman. Apakah paman memiliki golongan darah B\+?" tanya Hans dengan wajah takut mendapat penolakan.



"Mmm ... Benar, golongan darah saya B\+. Apa kamu ingin saya mendonorkan darah untuk istrimu?" Gunawan balik bertanya dengan ekspresi biasa saja. Dia menganggap Hans sama seperti yang lain saat meminta bantuan untuk mendonor kan darahnya.



Hans menyugar rambutnya untuk menguranginya ketegangan di dalam hati. "Benar, Tuan. Itu yang ingin saya katakan," jawab Hans dalam sekali tarikan napas.



Gunawan tersenyum melihat Hans yang terlihat lucu. Hanya mengatakan hal seperti itu saja harus takut.



"Nak, Hans. Mana bisa saya menolak jika itu alasan kemanusiaan? Apalagi untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Tentu saja saya akan berkenan membantu," jawab Gunawan dengan ekspresi wajah bersahabat.




"Te ... Terima kasih, Paman. Saya sangat bersyukur paman mau membantu kami. Sungguh kami di sini tidak punya siapa-siapa. Kami datang dari Jakarta hanya berdua saja," ucap Hans.



Gunawan melirik ke arah Hans dengan tatapan kasihan. Di kota ini ternyata Hans dan istrinya sendirian.



Taktik Hans untuk memancing empati Gunawan pun berhasil. Perlahan dia akan membawa Gunawan masuk dalam lingkaran masa lalu Tia. Segala akibat dan konsekuensi sudah ia perhitungkan sebelumnya.



"Benar, Paman. Kami di sini dalam satu tujuan untuk mencari ayah kandung dari istri saya, Paman." Hans mulai masuk ke dalam inti pembicaraannya. Ia hanya ingin lelaki yang duduk di sampingnya itu tahu jika dirinya harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya di masa lalu.



"Mencari ayah kandung? Memangnya ayah kandung istrimu dimana?" tanya Gunawan mulai merasa penasaran dengan cerita Hans.



"Istri saya tidak tahu siapa ayah kandungnya karena dari kisah sang ibu, istri saya adalah anak hasil ruda paksa. Akibat dari hal itu, istri saya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya, karena sang ibu membenci ayah kandung istri saya. Ibunya selalu marah jika melihat wajah istri saya yang mirip dengan lelaki yang sudah meruda paksanya."



Hans melirik wajah Gunawan yang terlihat pucat. Seketika Gunawan mengingat malam kelam yang mana dirinya meruda paksa istri bawahannya. Tidak tanpa alasan, malam itu Gunawan dalam pengaruh obat.


Deg!


Deg!



Detak jantung Gunawan berdetak dengan kencang, Hans yang berada di sampingnya bisa mendengar bunyi detak jantung itu.

__ADS_1



"Paman ... Paman tidak apa-apa?" tanya Hans pura-pura tidak tahu jika lelaki yang ada di sampingnya itu mulai merasa tidak tenang.



Gunawan tidak menjawab pertanyaan Hans, dia hanya tersenyum pada Hans. Namun gelagatnya tidak dapat dibohongi, jelas sekali kalau Gunawan sedang gelisah.



"Paman tahu bagaimana istri saya hari-harinya di masa kecil? dia sangat tersiksa, Paman. Selalu dibedakan dan bahkan tidak diakui oleh sang ibu kandung. Malang sekali dia, bahkan ketika suami pertamanya dulu selingkuh dengan kakak kandungnya, sang ibu malah menyalahkan istri saya. Ketidak adilan selalu ia dapatkan," ucap Hans dengan wajah yang dibuat sedih.



"Benarkah?" Gunawan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Hans. Dia tidak mengira jika anak hasil ruda paksa akan begitu menderita.


"Benar, Paman. Saat ditanya siapa pelaku itu sang ibu hanya diam. Dari sang ayah, istri saya mendapatkan informasi kalau pelaku kejahatan itu adalah mandor tempat sang ayah bekerja."


Hans melempar jauh pandangannya ke lorong kamar VIP. Pura-pura tidak memerhatikan raut wajah Gunawan yang melongo karena terkejut, masa lalu Gunawan hampir sama dengan apa yang diceritakan oleh Hans. Dirinya dulu pernah meruda paksa istri bawahannya.


"Kami sampai di sini karena istri saya ingin sekali bertemu dengan ayah kandungnya. Kata suami sang ibu, lelaki itu bekerja di kota ini," ucap Hans lagi-lagi membuat Gunawan bergetar.



"Kasihan sekali istrimu," ucap Gunawan membayangkan anaknya mengalami penderitaan di masa kecilnya.



"Benar, Tuan. Apalagi sekarang dia sedang hamil dan butuh donor darah secepatnya," ucap Hans lagi. Hans berpikir sudah cukup dirinya memancing Gunawan. Hans yakin hati Gunawan pasti akan tersentuh dan akan mencari tahu tentang putrinya itu.



"Nak Hans, siapa nama suami dari ibu mertua mu itu?" tanya Gunawan membuat Hans terkejut. Tidak disangka jika Gunawan begitu cepat ingin tahu siapa anak perempuannya itu.



"Ayah Istri saya bernama Cahyo, dia seorang teknisi yang bekerja di pabrik makanan nomor satu di kota ini," jawab Hans dengan lega. Pastilah saat ini Gunawan akan kembali terkejut.



"Apa?! Cepat tolong pertemukan saya dengan istri mu, sekarang juga!" pinta Gunawan dengan tatapan penuh harap akan disetujui oleh Hans.



"Apa? Mengapa tuan ingin sekali bertemu dengan istri saya?" tanya Hans dengan mimik wajah yang dibuat serius. Seakan-akan dia tidak tahu jika Gunawan adalah ayah mertuanya.



"Tidak, aku hanya ingin bertemu dengan orang yang aku tolong, walau hanya tuk sekadar menyapa saja," ucap Gunawan. Dia ingin sekali bertemu dengan putrinya.



Hans berpikir ulang apa, mungkin sudah waktunya semua terbongkar, tidak ada yang akan disembunyikan lagi. Han berdiri dari duduknya, lalu memberi isyarat pada Gunawan untuk mengikuti dirinya. Keduanya berjalan masuk ke dalam kamar Tia.



"Silakan, Tuan. Maaf karena istri saya sedang tidur, jadi tidak bisa menyambut Anda dengan baik," ucap Hans mengajak Gunawan untuk masuk ke dalam ruang rawat Tia.



Gunawan tersenyum getir, dia hanya bisa mengikuti kemauan Hans. Tidak bersuara dan bergerak perlahan menuju ke bed Tia.



Hans menggunakan tangannya untuk meng-kode pada Hans agar mendekat. Hans mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah Hans. Dari sisi arah Hans, wajah Tia terlihat dengan begitu jelas.



Gunawan membulatkan matanya dan kemudian dia pun menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara, lantaran wajah yang ia lihat sangat mirip dengan dirinya. Seperti sebuah potret diri semasa kecil terlihat jelas di depan mata Gunawan.



"Astaga, kenapa wajah gadis ini mirip sekali waktu aku kecil? Apakah dia anakku? Jelas dia adalah anakku, tidak tahu harus bagaimana lagi, aku harus menolongnya. Ia sudah lama menderita, kini tidak akan ada lagi yang akan membuatnya menderita," gumam Gunawan di dalam hati.


__ADS_1


Gunawan pun memberikan kode pada Hans untuk bicara di luar. Hans berjalan mengikuti Gunawan dari belakang menuju ke tempat yang mereka gunakan tadi untuk bicara.


__ADS_2