Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 130


__ADS_3

Sementara itu di kantor, Hans masih sibuk dengan pekerjaannya. Pria dewasa itu membolak-balik berkas yang ada di meja dengan seksama tanpa ingat jam istirahat, maupun waktu makan siang.



"Haahh. Pekerjaan-pekerjaan ini tiada habisnya," gumamnya di sela memeriksa tumpukan berkas.


Tok! Tok! Tok!


Terdengar pintu kantornya diketuk dengan tidak sabaran.


"Masuk!" Ucapkan tanpa mengalihkan perhatian dari berkas-berkas di meja.


"Siang, Bos, ini ada berkas-berkas dari divisi keuangan, dan juga data-data para pelamar pekerjaan," kata Vera, sekertaris sekaligus orang kepercayaannya.


"Iya. Letakkan saja di situ!" sahut Hans lagi-lagi tanpa mengalihkan perhatian dari berkas di tangannya.


"Oke. Saya letakkan di sini, Bos," ucapnya dengan hati-hati meletakkan berkas di meja.


"Kantor ini kacau sekali," lagi-lagi Hans mengeluh. Kali ini ada Vera yang siap mendengarkan keluh kesahnya.


"Benar. Karena perusahaan ini sebenarnya telah diterlantarkan selama satu bulan, alhasil semua sistem, dan aturan kacau. Ditambah lagi ulah oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang semakin memperburuk keadaan kantor," sahut Vera sembari mengusap tumpukan berkas di meja.


"HHAHHH!" Hans menghela nafas berat untuk kesekian kalinya di hari itu. Kemudian dia berkata, "ini adalah perusahaan besar yang menaungi banyak orang. Bagaimana bisa ada seseorang yang tidak bertanggung jawab, dan menelantarkannya begitu saja tanpa memikirkan nasib karyawan-karyawannya."


"Sabar, Tuan. Yang terpenting sekarang adalah merancang kembali sistem yang baru, demi mengembalikan kondisi perusahaan yang nyaris bangkrut ini," saran Vera dengan penuh kesabaran.



Lagi-lagi Hans menghela nafas berat. Kali ini dia bahkan sampai memijat pangkal hidungnya yang terasa begitu penat. Berlama-lama memperhatikan berkas rupanya membuat mata Hans semakin kelelahan.



"Yah, ini memang parah. Tapi semoga saja setelah begitu banyak usaha yang kita lakukan, hasilnya lebih dari memuaskan. Agar anda juga tidak menyesal telah membeli perusahaan ini dari tuan Ridho," ucap Vera lagi, suaranya terdengar penuh kesabaran.



Ucapan Vera membuat hati Hans sedikit tenang. Meski perusahaan ini nyaris hancur, tetapi dia yakin akan kemampuannya sendiri hingga pasti mampu mengembangkan kembali perusahaan ini dari kondisi mati suri.


"Baiklah, aku akan berusaha keras agar perusahaan ini kembali pada masa jayanya," ucapan Hans kini terdengar lebih bersemangat.


Vera tersenyum lega melihat semangat bosnya sudah kembali seperti sedia kala. Pria dewasa ini pun berkata, "Nah, begitu, dong, bos! Semangat! Agar boss bisa kembali membanggakan prestasi di depan bayi boss yang sebentar lagi akan lahir!"



Ucapan Vera semakin memompa semangat di hati Hans. Dia jadi teringat pada istrinya yang kini sedang hamil besar.


"Kamu benar. Ah, aku jadi merindukan anak dan istriku," lirih Hans. Senyum kecil pun terbit di wajah pria yang selama beberapa hari ini terus memasang wajah suntuk. Nampaknya, semangat pria dewasa ini perlahan telah terbit kembali.


"Makanya, bos! Semangat kerjanya! Agar kondisi perusahaan segera pulih dan bos bisa bersantai," ucap Vera tidak kenal lelah menyemangati bosnya.


"Kau benar lagi. Kalau gitu, Kenapa kau masih di sini?! cepat pergi kerja sana!" Perintah Hans terdengar kasar.


Vera menggelengkan kepala mendengar ucapan bosnya tersebut. Dia menjawab Bossnya tanpa sungkan, karena Vera sudah dianggap adik sendiri oleh Hans.


"Dih, tidak sadar diri! 'kan boss yang tadi mengajak saya ngobrol! Ya sudah kalau gitu, saya kembali bekerja ke tempat saya sendiri."


Vera pun melenggang keluar dari kantor Hans. Dengan sedikit emosi dia membanting pintu kantor bosnya sendiri.


Setelah kepergian Vera, Hans kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkas yang menumpuk. Pria dewasa ini bahkan hampir melewatkan jam makan siang karena pekerjaan yang tiada habisnya.



Meski begitu tidak ada waktu bagi Hans untuk mengeluh. Sebab nasib banyak karyawan tergantung kinerjanya pula.



Tok!



Tok!



"Duuh ... Yang semangat kerja, hingga tidak tahu jika istrinya datang?" ucap sosok wanita dengan perut yang membuncit.



Hans mendongak dan membetulkan letak kacamata, lalu diapun tersenyum.



"Tia, kau datang? Sungguh kebetulan sekali perut ini sangat lapar. Bukan hanya perut, tapi juga saudaranya," ucap Hans sambil mengerlingkan matanya.



Tia mencebik kesal, kedatangannya hanya untuk mengantar makanan tapi juga harus memenuhi kebutuhan lain suaminya.



"Mass ...!"


__ADS_1


"Ssst ... Pokoknya aku ingin yang lain juga, benar kan baby? Kau sudah rindu dengan papi mu ini?" tanya Hans sembari mengecup perut buncit sang istri.



"Ck! Satu ronde!"



"Baiklah ... Makan siang doubel, hahaha ...!" Hans tertawa senang setelah seharian berkutat dengan berkas yang menumpuk.



Dengan semangat Hans mengunci pintu ruangannya, lalu menggendong sang istri menuju ke kamar istirahatnya. Siang yang panas itu pun berubah menjadi indah.



"Mas, aku pulang dulu. Oh ya, Mas. Kata bik Inah kita harus mengadakan tasyakuran tujuh bulanan agar baby dan ibunya sehat. Bagaimana menurutmu?" tanya Tia sembari merapikan tempat makan.



"Tasyakuran tujuh bulanan? Boleh, kita akan undang semua anak panti dan pondok untuk acara itu. Kau persiapkan semuanya, mas belum bisa bantu. Biar Vera yang membantu mu. Pekerjaan mas sangat banyak, Ridho sialan itu ternyata tidak becus menjadi direktur!" geram Hans kembali ke meja kerjanya.



Tia tersenyum melihat sang suami yang tampak serius di depan laptop dan beberapa berkas yang masih menggunung.



"Baiklah, aku akan meminta Vera untuk membantumu. Mas tenang saja, semua akan aku persiapkan bersama Vera," sahut Tia dengan wajah yang bersinar.



Hans tersenyum menanggapi sang istri lalu kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaannya.



"Maaas ...! Ada satu hal yang aku lupa, kita jadi baby moon kan?" tanya Tia lagi.



Hans membulatkan matanya dia lupa akan janjinya pada sang istri untuk bulan madu. Dulu awal nikah, dia tidak mengajak Tia untuk bulan madu.



"Tentu, Sayang. Tapi tunggu mas selesaikan semua pekerjaan ini. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Hans dengan tatapan memohon.



Tia menghela napas, dia mengerti kalau sang suami sangat sibuk. Tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaannya.




"Baiklah, tapi hati-hati, Sayang. Jangan lupa kabari mas kalau sudah sampai di rumah ibu," ucap Hans berdiri dan mengecup kening sang istri.



Tia tersenyum lalu mengecup pipi sang suami untuk berpamitan.



"Assalamu 'alaikum."



"Wa'alaikum salam."



Tia pun berlalu meninggalkan kantor Hans. Hans kembali menyelesaikan pekerjaan. Sampai nanti jam pulang kantor pun tiba.



Lain dengan Hans, dan Tia yang kini mulai merajut kisah bahagia, lain pula dengan Ridho yang masih luntang-lantung mencari pekerjaan. Pria dewasa satu ini bahkan masih menyusuri jalanan di saat matahari sudah terik demi mendapatkan sebuah pekerjaan.


Tidak jarang dia juga pergi mencari pekerjaan serabutan di hari Minggu.


Hari yang dahulu dia gunakan untuk full tidur seharian. Kini jika sehari saja terlewat tanpa bekerja Ridho harus terlelap dengan keadaan perut kelaparan. Hal inilah yang memaksanya untuk terus bergerak dan bekerja demi sesuap nasi pengganjal perut.


"Kemana lagi aku harus mencari pekerjaan tetap?" Keluh Ridho, saat sekali lagi Dia harus menelusuri jalanan di bawah teriknya matahari siang itu.


Karena kebodohannya di masa lalu Ridho harus kehilangan segalanya. Kini demi sesuap nasi Rida harus rentang-lantung mencari pekerjaan yang bisa memenuhi perutnya.


Sampai suatu ketika nasib membawanya ke salah satu cafe yang cukup besar di kota tersebut. Ridho tersenyum senang melihat kertas bertuliskan 'membutuhkan pelayan' di jendela kaca cafe.



Dengan penuh semangat pemuda itu masuk ke cafe dan menunjukkan berkas data dirinya.


Melihat riwayat pekerjaannya yang cukup luar biasa, Ridho pun langsung diterima bekerja di cafe itu. Dia langsung mendapatkan arahan tentang pekerjaannya, juga seragam Hitam-Putih khas pelayan cafe tersebut.


Di sisa hari itu Ridho tersenyum senang. Dia merasa lega pada akhirnya Tuhan memberikannya kesempatan untuk menikmati hidup yang lebih baik seperti sedia kala. Dengan pekerjaan tetap ini dia berharap kehidupannya kelak di masa depan perlahan akan kembali membaik.

__ADS_1



Setelah di training, keesokan harinya Ridho bisa langsung bekerja. Selama bekerja sebagai seorang pelayan, Ridho cukup cekatan, dan profesional. Dalam sekejap Ridho bisa menguasai pekerjaan itu dengan mudah. Seakan dia sudah pernah melakukannya.



Hari berlalu dengan begitu cepat. Tanpa terasa Ridho sudah sangat nyaman bekerja di cafe itu. Dia mudah sekali akrab dengan para pelayan dan pekerja lain. Apalagi dengan para customer langganan setia cafe.



Hari yang cerah, Tia dan Hans berkunjung ke cafe itu untuk menikmati waktu istirahat sore mereka. Biasanya mereka berdua menikmati camilan dengan duduk santai di teras rumah. Namun hari itu Tia ingin menikmati suasana baru dan akan membahas acara tujuh bulanan. Alhasil Mereka pun pergi ke cafe yang cukup terkenal di kota itu.



Naasnya, mereka malah berjumpa dengan Ridho yang masih sibuk bekerja di tempat itu.


"Selamat datang, tu-" ucapan Ridho yang biasanya begitu ramah menyambut tamu seketika terpotong. Dia terpaku melihat Tia dan Hans datang ke kafe itu cafe itu.


Ketiga orang ini terdiam cukup lama. Mereka bertiga saling menatap dengan ekspresi yang sulit dibaca. Yang pasti, mereka sama-sama terkejut akan bertemu di tempat seperti ini, dan dengan posisi yang sudah sangat berbalik ini.



"Jadi, sekarang kamu bekerja sebagai pelayan di tempat ini?" Hans bertanya dengan wajah dingin. Sorot matanya yang tajam terlihat jelas sangat merendahkan Ridho.



Sementara itu Ridho hanya bisa terdiam sembari menahan amarah yang ingin membuncah. Pria itu hanya bisa membalas dengan tatapan tajam. Namun jika melihat Tia yang masih sangat disayanginya, pada akhirnya Ridho hanya bisa menghela nafas dengan berat. Kemudian dia berkata dengan penuh kesabaran, "Benar. Selamat datang! Silahkan duduk di manapun Anda mau."


Ridho mencoba mengulas senyum, meski kaku. Dia masih mencoba bersikap profesional demi mempertahankan pekerjaan. Sekaligus demi mempertahankan citra di hadapan Tia.


Hans tersenyum semakin senang melihat sikap Ridho. Dia merasa keputusannya untuk datang ke cafe ini sangat tepat. Sebab dia bisa membalas perlakuan Ridho dahulu padanya.


"Ini pasti seru," gumam Hans setelah dia duduk di tempat yang dia inginkan.


"Mas, jangan membuat masalah dengan mas Ridho. Aku hanya ingin menikmati sore ini dengan makan camilan, dan mengobrol tenang denganmu," pinta Tia. Wanita dewasa yang sangat lemah-lembut ini terlihat sangat khawatir. Dia juga tidak ingin sore harinya yang damai rusak karena dendam di antara kedua pria ini.


"Tenang saja, sayang. Aku tidak akan membuat masalah jika dia tidak mengusik aku lebih dulu, kok," ujar Hans sembari mengecup lembut punggung tangan istrinya.


Meski Hans sudah berkata begitu, tetap saja Tia khawatir. Apalagi jika mengingat perseteruan di antara mereka berdua yang tidak kunjung habis. Namun Tia tetap akan mencoba percaya pada ucapan suaminya.


"Baiklah, mas. Aku akan mencoba percaya ucapanmu. Semoga saja kali ini kamu benar-benar menghindari perseteruan dengan mas Ridho," lirih Tia sembari menatap lekat suaminya.


Kedua sejoli ini terlibat suasana yang begitu romantis. Mereka berdua perlahan masuk dalam suasana penuh kehangatan dalam obrolan humor yang Hans ciptakan.


Pasangan suami-istri ini benar-benar menikmati waktu mereka. Tanpa menghiraukan seseorang yang menatap mereka dengan penuh rasa iri.



Dari meja lain, seorang pria dengan pakaian pelayan tidak bisa mengalihkan pandangan. Meski sambil bekerja melayani pelanggan lain, mata tajamnya selalu saja menyoroti Hans, dan Tia yang asik bercengkrama di sudut ruangan. Jujur saja, ada rasa iri di hati Ridho akan keromantisan, dan keharmonisan pasangan ini.


"Hey, itu untuk meja di ujung?" Sampai akhirnya Ridho menahan pelayan yang akan mengantarkan pesanan ke meja Hans, dan Tia.


"Iya, Mas. Kenapa memangnya?" tanya pelayan lain tersebut.


"Biar aku antar saja. Kebetulan aku sedang senggang," pinta Ridho dengan senyum ramah seperti biasanya.


"Wah! Beneran, mas?! Makasih banyak, ya. Soalnya aku masih ada pekerjaan lain, nih," dengan senyum senang pelayan itu menyerahkan nampan berisi pesanan Hans, dan Tia pada Ridho.


Tanpa firasat apapun, dia langsung pergi begitu. Meninggalkan Ridho yang kini melangkah santai menuju meja di sudut ruangan.



Senyum di sudut wajah Ridho terlihat begitu mengerikan. Pria dewasa satu ini menuju meja dengan satu tangan memegang nampan. Entah apa yang direncanakan pria itu. Tetapi dilihat dari gelagatnya, sepertinya itu bukanlah hal yang baik.



Seperti tidak belajar dari kejadian sebelumnya, Ridho kembali merencanakan hal buruk pada Hans. Padahal dia baru saja menerima pekerjaan di tempat baru itu. Semoga keegoisannya kali ini tidak membawanya pada nasib yang lebih buruk lagi.



Tia dan Hans sedang membicarakan tentang acara tasyakuran tujuh bulanan.



"Sayang, bagaimana dengan mama? Apa dia akan datang?" tanya Hans sembari menggenggam tangan sang istri.



Tia sangat terharu dengan sikap sang suami. Dia begitu lembut memperlakukan dirinya.



"Mama akan datang bersama papa dan Aris, Mas. Tia sangat bahagia, semua keluarga akhirnya bisa kumpul kembali," jawab Tia sambil tersenyum.



"Apa kau akan mengundang, Ayah?" tanya Hans mengingatkan Tia pada sang ayah kandung.



Tia terdiam, dia lupa untuk mengundang Gunawan.


__ADS_1


"Benar, Mas. Tia lupa. Baiklah, nanti Tia akan menghubungi ayah untuk datang di acara tasyakuran tujuh bulanan."


__ADS_2