
"Tapi apa, Tia?" tanya Hans penasaran dengan apa yang Tia inginkan.
"Tapii ... Tia ingin mas sebentar saja menengok mbak Wulan. Agar aku tenang dan tidak kepikiran mbak Wulan. Dan tolong hubungi Aris, beritahu keadaan mbak Wulan pada Aris. Kasihan mbak Wulan jika tidak ada keluarga yang menemaninya. Minim, papa bisa ke sini untuk menemani mbak Wulan jika mama tidak bisa datang," pinta Tia.
Entah terbuat dari apa hati Tia, sudah jelas ia selalu disakiti Wulan tapi tetap saja selalu memikirkan keadaan Wulan. Hans hanya bisa menuruti keinginan sang istri agar sang istri bisa istirahat dengan tenang.
"Baiklah, mas akan melihat keadaan Wulan dan memberi tahukan pada Aris," ucap Hans membuat Tia merasa tenang. Sekiranya sang kakak perempuan tidak akan merasa sendirian.
"Terimakasih, Mas. Tia sangat bersyukur memiliki suami yang baik dan pengertian sepertimu. Entah sudah berapa kali Tia selalu membuat mas Hans repot. Sekali lagi, terima kasih, Mas," ucap Tia sembari menggenggam tangan Hans erat.
"Sudahlah, Tia. Kau adalah istriku. Sudah sepantasnya mas melakukan semua demi istri mas tercinta ini. Pokoknya, kamu harus berjanji pada mas untuk mulai hati-hati dan jaga buah hati kita dengan baik. Okey?" Hans mengusap surai hitam Tia dengan lembut. Hans sangat bersyukur memiliki istri yang berhati lembut dan baik seperti Tia.
Tok!
Tok!
"Mas, siapa yang datang?" tanya Tia.
"Entahlah, biar mas lihat dulu," jawab Hans beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
"Selamat malam, Tuan. Ada kiriman untuk Tuan Hans dari Tuan Gunawan," ucap lelaki yang ternyata seorang kurir.
"Oh, paket dari tuan Gunawan? Baiklah dimana saya harus tanda tangan?" sahut Hans menerima paket dari Gunawan.
"Sebelah sini, Tuan." Sang kurir menyerahkan blanko tanda terima pada Hans untuk ditandatangani.
"Sudah."
"Terimakasih, Tuan. Saya pergi dulu." Sang kurir pun pergi meninggalkan Hans yang memandang kotak bingkisan yang ukurannya lumayan besar.
"Siapa, Mas?" tanya Tia ingin tahu siapa yang datang.
"Tadi kurir yang mengantar kotak bingkisan kiriman dari Ayah Gunawan," Jawa Hans berjalan mendekat ke arah ranjang Tia lalu meletakkan kardus itu di meja kemudian membukanya.
"Tia, lihat. Banyak sekali baju yang dikirim ayah. Ada kaos dan celana juga untuk mas. Dan ini baju hamil untukmu dan apa ini? Susu khusus ibu hamil! Masyaallah, ayah benar -benar luar biasa. Dia begitu perhatian pada kita berdua!"
Hans memperlihatkan semua isi kardus tersebut pada Tia. Tia melongo saat Hans memperlihatkan daster cantik untuk dirinya.
"Mas, bagus sekali daster ini, sungguh ayah memang ayah yang terbaik. Tia jadi terharu melihat ketulusan hati sang ayah. Untuk pertama kalinya Tia merasakan kasih sayang dari orang tua. Walau sebenarnya dia bisa membeli sendiri semua yang dibelikan oleh Gunawan, akan tetapi rasa bahagia yang didapat sangat berbeda.
Senyum menghiasi bibir Tia, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan baginya. Apapun bentuk hadiah dari orang tua, bagi sang anak merupakan hal yang luar biasa.
Sementara Hans dan Tia sedang berbahagia dengan kiriman sang ayah, di ruang ICU. Beberapa dokter sedang rapat untuk membicarakan tindakan selanjutnya untuk pasien mereka.
"Dokter, apa yang harus kita lakukan pada pasien ini! Belum ada keluarga yang datang untuk menjenguknya. Kita akan minta persetujuan pada siapa jika akan melakukan tindakan lebih lanjut?!" ucap dokter spesialis bedah dengan nama tag dr. Ferdi, Sp.BD
"Benar sekali kita tidak tahu identitas wanita ini. Kita juga tidak bisa menghubungi keluarganya. Sedangkan kita harus segera melakukan tindakan lebih lanjut, apakah kita harus mengambil tindakan sendiri tanpa persetujuan dari keluarganya?" timpal dokter spesialis bedah plastik-- dokter Genta.
__ADS_1
Kedua dokter itu terdiam, sedangkan di samping mereka ada dokter Arfa.
"Dokter Arfa, bagaimana menurut Anda? Anda sedang melanjutkan studi mengambil spesialis bedah plastik. Mumpung ini ada pasien tanpa ada keluarga, apa Anda ingin mencobanya? Barangkali pasien ini bisa kita jadikan sebagai percobaan," bujuk dokter Ferdi.
"Mmm ... Maaf, dokter saya belum berani. Masih banyak ilmu yang harus saya pelajari, jadi saya belum berani praktek langsung," jawab Arfa dengan menunduk. Dia belum berani melakukan operasi bedah plastik karena merasa dirinya belum mampu.
"Dokter Arfa, ingat sangat sulit untuk mencari pasien bedah plastik wajah. Ini adalah kesempatan langka untukmu. Saya dulu harus membayar mahal untuk mencari pasien," ucap dokter Genta mendukung apa yang diucapkan oleh dokter Ferdi.
Dokter Arfa melirik ke arah dokter Genta. Memang apa yang dikatakan oleh dokter Genta benar adanya. Mereka harus membayar mahal untuk dapat pasien yang akan digunakan saat ujian praktek.
"Tidak, Dok. Saya ikut aturan saja, lebih baik saya membeli pasien daripada harus melanggar aturan. Akan tetapi jika keluarga pasien setuju, maka dengan senang hati saya akan membayar mereka," ucap dokter Arfa bijak. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang berakibat buruk di masa yang akan datang.
"Bagus, dokter Arfa. Kau punya prinsip yang bagus! Saya salut dengan Anda. Kita akan bersiap melakukan operasi saat keluarga wanita ini datang," ucap dokter Genta, seorang dokter senior sekaligus dosen bagi mereka yang mendalami spesialis bedah plastik.
Dokter Arfa tersenyum, merasa bangga akan keputusannya itu. Sudah jauh dia dari Jakarta hanya agar bisa berguru pada dokter Genta, tidak akan ia rusak kesempatan itu dengan jalan yang dapat merusak citra rumah sakit.
Para dokter itu tidak bisa berbuat banyak sebelum keluarga pasien datang. Di samping itu pasien sendiri belum sadar dari koma hingga belum bisa diinterogasi tentang siapa dirinya. Clara yang tahu hanya diam saja, dia tidak ingin ada keluarga Wulan yang tahu akan keadaan Wulan.
Di kamar Sinta.
Clara tersenyum menyeringai, mendapat kabar bahwa sampai sekarang belum ada keluarga Wulan. Dia merasa senang jika penghancur keluarga sang putri terdampar tidak berdaya di ruang ICU.
"Rasakan kau, Wulan! Tidak ada satupun keluarga mu yang datang. Itu sebagai balasan setimpal atas perbuatan mu yang merusak rumah tangga anakku!!" Clara bermonolog dengan dirinya sendiri di dalam hati setelah membaca pesan dari rekannya yang bekerja di rumah sakit.
"Ma ... Mama mengapa tersenyum sendiri, apa yang terjadi, Ma?" tanya Sinta sang putri yang baru saja terbangun.
Sinta mengangguk menjawab pertanyaan sang ibu lalu bertanya, "Ma, papa dimana?"
"Papa besok ada urusan di Jakarta. Tadi papa menunggumu tapi kamu-nya tidur, ya sudah papa hanya titip pesan pada mama. Jika anak mama yang cantik ini bangun, maka kamu harus menelepon papa dan minta oleh-oleh apa saat papa pulang nanti," jawab Clara dengan senyum yang merekah.
"Oh, papa mau ke Jakarta untuk urusan bisnisnya?"
"Benar, sekali. Ada relasi yang harus dia temui untuk kemajuan perusahaan kita. Oh ya, bagaimana keadaan anak mama ini? Masih nyeri tidak? Tadi mama tengok cucu mama, dia sangat lucu dan cantik. Kata suster besok cucu mama akan dibawa ke sini, biar kamu bisa menyusuri dan memeluknya. Tapi usul mama nih, biar tubuhmu tetap cantik dan langsing, lebih baik kasih anakmu susu formula saja. Bagaimana?"
Clara memengaruhi Sinta agar tidak menyusui bayinya. Mengganti ASI dengan susu formula. Dia tidak ingin tubuh putrinya yang sudah jadi janda itu berubah tidak menyenangkan jika dilihat lelaki.
"Ma, bukankah ASI itu lebih utama daripada susu Formula?" tanya Sinta dengan wajah terheran dengan saran sang ibu.
"Sinta, ingatlah kau sudah janda. Jika tubuhmu sudah tidak menarik, maka lelaki mana yang akan mau dengan dirimu. Susah lho jadi janda itu! Apa kamu mau menjadi janda seumur hidupmu?"
Clara menjawab sambil mengupas buah apel yang tersedia di meja. Dia ingin mengupas apel itu untuk sang putri.
Sinta menghela napas lalu pertanyaan sang ibu dia jawab, "Ma, untuk saat ini Sinta tidak ingin memikirkan untuk mencari pasangan. Sinta ingin mengurus putri Sinta terlebih dahulu hingga masa ASI ekslusif berakhir."
Clara menghentikan mengupas apel tatkala sang putri membantah dirinya. "Sinta, mama tidak ingin kau terlena dengan peran mu menjadi seorang ibu. Kau sudah mama sekolahkan hingga jauh meninggalkan kampung halamanmu agar apa, hah? Agar bisa melanjutkan mengurus perusahaan papa! Siapa lagi yang akan mengurus selain dirimu, Sinta? Mama tidak ingin perusahaan ini dikuasai oleh keluarga papamu!"
Clara menaikkan nada bicaranya karena tidak ingin dibantah sang anak. Clara tidak ingin perusahaan ayahnya dikelola oleh keponakan dari sang suami, mengingat Clara adalah anak satu-satunya dari Burhan dan Sinta adalah keturunan satu-satunya.
__ADS_1
"Apa kamu ingin keluarga papamu itu menguasai perusahaan kakek mu? Ingat Sinta, anakmu akan mama urus dengan bantuan baby sitter. Kau fokus mengurus perusahaan kakek! Mama tidak ingin apa yang menjadi milik kita dikuasai orang lain! Kamu paham?!" ucap Clara lagi.
Sinta termenung, apa yang dikatakan oleh sang mama memang ada benarnya. Terbukti untuk saat ini banyak keponakan dari sang papa yang bekerja di pabrik. Ada yang jadi staf manager, ada yang jadi HRD dan ada yang jadi ketua divisi pemasaran.
"Baiklah, Ma. Sinta akan pikirkan lagi. Sinta akan mengelola perusahaan papa jika Sinta sudah merasa baikan." Sinta akhirnya menyerah pada keputusan sang mama.
"Bagus, Sinta. Mama yakin kau pasti akan sukses seperti papamu," ucap Clara tersenyum dengan tatapan penuh teka-teki.
"Semoga Sinta bisa seperti papa," sahut Sinta dengan penuh keyakinan. Dia tahu bagaimana sepak terjang Gunawan yang berhasil memajukan perusahaan sang kakek.
"Makanlah apel ini agar kesehatan cepat pulih. Oh ya, ada kabar baik untuk kita, wanita yang merebut suami mu si Steve itu sudah mendapatkan karmanya," ucap Clara sembari menyerahkan semangkok potongan buah apel untuk Sinta.
"Siapa, Ma? Wanita yang viral di media sosial dengan mas Steve itu?" sahut Sinta sambil memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya.
"Benar sekali. Wanita yang mama viralkan karena kepergok mama berselingkuh dengan Steve! Asal kamu tahu jika wanita itu berniat merampok uang kita dengan ancamannya. Syukur ada Amar yang membantu mama, tapi sayang, Amar sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan tunggal. Mama yakin jika wanita itu penyebab kematian Amar!" jelas Clara menceritakan kejadian yang menimpa Amar sang keponakan.
"Apa? Mas Amar meninggal? Astaga ... Kasihan sekali kak lintang, bukankah mereka sebentar lagi akan menikah?" timpal Sinta yang merasa kasihan dengan nasib Amar yang meninggal dunia sebelum jadi menikah.
"Benar, kasihan Lintang. Tadi di upacara pemakaman Amar pun dia terus menangis. Wanita itu sungguh kejam! Mama sudah membalasnya dengan tidak memberitahu pihak yang berwajib siapa keluarganya. Biar saja dia menderita, tidak ada yang mengurusi!" geram Clara pada Wulan.
Sinta melongo mendengar sang mama yang begitu geram dengan Wulan. Memang tidak bisa dipungkiri jika Wulan adalah sosok wanita yang tidak memiliki hati.
"Memang wanita itu patut untuk menderita! Mama memang sangat tegas, Sinta salut dengan mama. Pantas aja papa tidak pernah berkhianat pada mama karena pasti wanita yang menjadi selingkuhan papa akan dibuat mama menderita," ucap Sinta memuji sang mama.
"Jelas saja papa mu tidak akan berani pada mama, secara semua yang dimiliki papa adalah milik mama. Lagian jika papa ketahuan selingkuh, maka bisa mama pastikan keluarga wanita yang menjadi selingkuh papa itu akan menderita! Bahkan semua keluarganya akan mama habisi!!"
Clara dengan mata yang menyala bersumpah akan menghabisi semua keluarga perempuan yang sudah berani merebut suaminya.
"Mama sangat keren! Kita jadi wanita harus tegas, beruntung aku memilih melepaskan Steve daripada harus menderita. Lelaki yang suka selingkuh maka tidak akan pernah berhenti untuk selingkuh," ucap Sinta mengepalkan tangannya mengingat pengkhianatan sang suami.
Clara tersenyum melihat sang putri akan mengikuti jejaknya. Tidak ada kata toleransi bagi lelaki yang ketahuan selingkuh.
"Bagus, Sinta. Kita harus jadi wanita yang tegas, jangan mau ditindas oleh lelaki!!" Clara menepuk bahu sang anak. Merasa senang dengan sikap Sanga nak yang memilih tegas pada lelaki yang berkhianat. Sepertinya Clara pernah mengalami suatu pengkhianatan hingga ia pun memiliki jalan pikiran, tidak suka dengan pengkhianat. Pengkhianat harus dihukum dengan berat.
"Hooamm ...!" Sinta menguap.
"Baiklah, Mom. Sinta sudah kenyang, Sinta mau tidur dulu agar lebih fresh besok pagi," ucap Sinta yang sudah mengantuk.
"Okey, Sayang. Kau istirahat lah, mama akan menjagamu di sini," ucap Clara membantu sang putri untuk merebahkan kembali dirinya.
Clara menatap sendu sang putri, jika melihat putrinya maka Clara akan merasakan luka lama yang sulit ia kubur. Luka yang membawa dirinya berubah. Dari sosok yang lembut menjadi sosok yang dingin dan egois.
Setelah merapikan selimut Sinta, Clara pun merebahkan dirinya di atas kursi sofa yang bisa dijadikan sebagai tempat tidur. Pikiran Clara melayang di masa untuk pertama kalinya dia merasakan pengkhianatan.
Clara adalah sosok gadis yang periang dan polos. Dia jarang bergaul dengan temannya. Hari -hari yang ia lalui adalah belajar dan mengikuti kegiatan kampus. Hingga satu hari membuat semua dunianya jungkir balik. Sosok gadis yang periang itu menjadi pendiam, licik dan kejam.
Semua itu berawal dari kejadian di satu kegiatan kampus.
__ADS_1