Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 114.


__ADS_3

"Nyonya Tia. Tuan, berdasar hasil laboratorium, nyonya Tia sedang mengandung. Kira-kira usia kandungan hampir dua Minggu. Untuk lebih pastinya bisa kita cek USG nanti. Apa ada keluhan dari nyonya Tia?" tanya sang dokter.


"Istri saya hamil, Dok?"


Hans tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Kupu-kupu beterbangan keluar dari dada Hans. Bunga-bunga bermekaran di sanubari Hans, impian yang dulu pernah dia harapkan kini terwujud juga.



"Untuk lebih yakinnya lagi, kita akan melakukan USG. Nanti akan kita jadwalkan, Tuan," jawab sang dokter bijak.



"Siap, Dok. Sungguh ini adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi kami," ucap Hans.



"Selamat, Tuan. Selanjutnya akan kita lakukan pemeriksaan secara USG untuk memastikan apatah kandungan nyonya Tia bermasalah atau tidak," ucap sang dokter mengingatkan pada Hans bahwa semua masih dalam pantauan dokter.



"Baik, Dok. Kami akan ikuti semua saran dari dokter," tegas Hans. Dia tidak ingin salah langkah jadi apa yang sang dokter anjurkan akan dia ikuti.



"Baiklah, nanti akan ada suster yang akan datang ke kamar pasien jika semua sudah dipersiapkan," imbuh dokter Katrina dengan senyum yang ramah.



"Baik, Dok. Kalau begitu saya permisi. Tapi ada yang ingin saya tanyakan, Dok. Mengapa istri saya terlihat semakin lemah, katanya jika badan ia gerakkan maka kepalanya pusing. Padahal sudah dapat infus dan juga vitamin," tanya Hans menanyakan keluhan yang diderita sang istri.



"Benarkah? Baiklah, semua akan kami observasi terlebih dahulu. Setelah semua selesai dipersiapkan maka kami akan datang ke kamar pasien," jawab sang dokter belum bisa menjawab pertanyaan Hans karena belum melakukan semua pemeriksaan secara lengkap.



"Baik, Dok. Saya permisi dahulu," ucap Hans berpamitan.



"Silakan, Tuan," jawab dokter Katrina. Dokter cantik dengan segudang prestasi yang sudah diraihnya selama menjadi dokter spesialis kandungan.



Hans berjalan keluar dari ruang praktek dokter Katrina dengan wajah yang cerah, walaupun kondisi kandungan Tia belum jelas, Hans tetap optimis dan berpikiran positif. Tidak ingin suasana hatinya yang sedang bahagia itu rusak oleh sesuatu yang belum jelas.



Klek!


__ADS_1


"Assalamu 'alaikum," ucap Hans memberi salam pada Tia yang ternyata masih tidur. Seharian Tia hanya tidur, makanan hanya masuk beberapa suap saja.



Hans tetap tersenyum walau sang istri tidak menyambut kedatangannya. Satu hal yang ia pahami bahwa wanita hamil memang kadang unik. Ada yang suka tidur dan ada yang suka makan makanan tertentu. Beruntung bagi mereka yang saat hamil, semua makanan mau dan tidur tetap nyenyak.



"Tia, terima kasih. Kau sudah rela berkepayahan hanya untuk mengandung anakku. Hal yang dulu tidak aku dapatkan dari Wulan, kini bisa aku dapatkan dari mu. Mungkin Allah sudah merencanakan ini semua pada takdir kita. Bersama suami pertama mu kau tidak punya keturunan, hal yang sama denganku. Dengan istri pertama aku juga tidak mendapat keturunan. Sungguh Allah itu Maha Baik. Anakku bisa terlahir dari wanita yang hebat sepertimu."



Hans menggenggam tangan Tia, kemudian mengecupnya dengan segenap hatinya. Rasa sayang pada Tia semakin bertambah, dan pastinya Hans akan lebih protektif lagi pada Tia. Kejadian Tia pingsan sudah cukup membuat Hans takut.



Karena merasa lelah, Hans pun tertidur di kursi samping Tia. Tangan Hans tidak lepas selalu menggenggam tangan Tia.


***


Satu jam berlalu, dua suster datang kembali ke kamar Tia. Kali ini mereka akan membawa Tia ke ruang pemeriksaan dengan USG.



"Permisi, Tuan. Kami akan membawa nyonya Tia untuk pemeriksaan dengan USG," ucap salah satu suster. Mereka datang berdua agar mudah membawa bed Tia menuju ke ruang pemeriksaan USG.




Dua orang suster, mendorong perlahan bed Tia menuju ruang pemeriksaan yang yang tidak jauh dari lorong kamar VIP.



Setelah memasuki ruang pemeriksaan, dokter Katrina sudah menunggu di ruangan dengan alat yang tertata rapi di ruangan itu. Saat sudah berada di ruangan itu, Tia pun terbangun.



"Mas, Aku ada dimana?" tanya Tia membuka matanya. Dia heran dengan keadaan ruangan yang berbeda dengan ruangan yang ia tempati sebelum Tia tertidur.



"Sayang, kau sudah bangun? Maaf tadi tidak sempat membangunkan mu karena mas juga tertidur. Saat ini kau berada di ruang pemeriksaan. Hasil analisa urine mu menyatakan bahwa kamu sedang hamil. Ada kehidupan di dalam rahimmu," ucap Hans dengan tersenyum bahagia.



"Benarkah, Mas?"



"Iya, Sayang. Saat ini kau akan menjalani pemeriksaan dengan alat USG, agar lebih yakin lagi jika ada calon anak kita di dalam rahimmu," jawab Hans dengan wajah yang meyakinkan.

__ADS_1



"Benar, Nyonya. Dan saat ini kami akan melakukan pemeriksaan dengan USG. Boleh saya mulai, Nyonya?" ucap sang dokter dengan ramah.



"Silakan, Dok," jawab Tia dengan senyum yang terus mengembang.



Dokter Katrina mulai menuangkan gel ke atas perut Tia dan mulai menggerakkan alat tranducer di atas perut Tia. Terlihat di layar monitor dua buah kantung lingkaran.



"Nyonya, sepertinya Anda akan memiliki dua anak kembar. Lihat ada dua kantung yang terlihat. Semoga calon janin yang masih berbentuk titik itu bisa berkembang dengan baik," ujar sang dokter menjelaskan tentang keadaan rahim Tia.



"Mas, kita akan dikaruniai dua anak kembar sekaligus! Alhamdulillah, terima kasih ya Allah," ucap Tia bersyukur karena dirinya bisa hamil juga. Apalagi sekalinya hamil langsung mendapatkan anak kembar.



"Iya, Sayang. Masyaallah ... Sungguh ini hal luar biasa yang patut kita syukuri," sahut Hans ikut bergembira.



"Maaf, Tuan dan Nyonya ada masalah. Untuk kehamilan nyonya yang memiliki bayi kembar ini, nyonya harus mendapatkan transfusi darah. HB nyonya Tia rendah sehingga kemungkinan akan berdampak buruk pada perkembangan janin. Untuk itu kami akan melakukan transfusi darah," ucap dokter Katrina setelah memeriksa darah Tia karena keluhan yang disampaikan oleh Hans tadi.



Baik, Dokter. Silakan lakukan yang terbaik untuk Tia. Berapa pun biayanya tidak masalah, yang terpenting ibu dan dua anak saya selamat semua," ucap Hans pasrah pada sang dokter.



"Baik, Tuan. Tapi ada kendala. Stok bank darah kami untuk golongan darah nyonya Tia hanya tinggal satu. Sambil menunggu dari PMI apakah ada anggota keluarga yang golongan darahnya sama dengan nyonya Tia?" tanya dokter Katrina.



Sontak, Hans dan Tia bertukar pandang. Untuk saat ini yang menjadi anggota keluarga Tia yang memiliki golongan darah yang sama dengan dirinya hanyalah sang ayah kandung.



"Dok, apakah tidak bisa diusahakan dulu di bank darah? sebelumnya kami minta maaf jika membuat dokter tidak berkenan," ucap Hans meminta agar pihak rumah sakit mencarikan golongan darah yang sama.



"Maaf, Tuan. Seperti yang anda ketahui. Rumah sakit kami tidaklah sebesar seperti rumah sakit yang ada di Jakarta. Stok kami terbatas, untuk itu kita upayakan ada yang mendonorkan darahnya untuk istri anda," jawab dokter Katrina mengingatkan Hans kalau memang rumah sakit yang ia tempati saat ini berada di wilayah yang kalah jauh dengan kota Jakarta.



"Baiklah, Dok. Kita akan usahakan agar mendapatkan donor darah," ucap Hans. Mungkin dia akan berusaha meminta bantuan pada sang ayah kandung Tia.

__ADS_1


__ADS_2