
"Terima kasih, Dok. Semua saran dari Anda sangat membantu saya yang tidak memiliki biaya untuk operasi anak saya," ucap Cahyo sembari melihat dengan seksama nama yang tertera di kartu nama tersebut.
"Baiklah, Bapak namanya siapa?" tanya dokter Arfa.
"Saya Cahyo, Dok. Ayah kandung dari pasien bernama Wulan Riyanti," jawab Cahyo dengan senyum. Di dalam hatinya dia merasa senang karena bisa mendapat solusi dari permasalahan biaya operasi Wulan.
"Baiklah, Pak Cahyo. Jika Anda sudah memikirkannya masak-masak, silakan Anda hubungi saya," ucap dokter Arfa.
"Baik, Dok. Terima kasih," jawab Cahyo dengan tersenyum.
"Kalau begitu, kami permisi terlebih dahulu, Pak. Selamat siang," ucap dokter Arfa berpamitan pada Cahyo. Gurat bahagia karena mendapatkan pasien secara mudah dan tidak perlu banyak mengeluarkan uang. Arfa dan dokter Genta pun berlalu meninggalkan Cahyo seorang diri.
Kedua dokter itu masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa Wulan.
"Dokter Arfa, jika dokter berhasil mendapatkan pasien ini, dan menjadikan wajahnya lebih cantik maka dokter akan cepat lulus dengan nilai yang sempurna. Kondisi pasien ini jelas akan menurun jika tidak segera di operasi. Infeksi akan menyerang, berharap operasi kita nanti akan membawa kesembuhan untuk pasien ini." Dokter Genta menatap ke arah tubuh Wulan yang masih dipasang lengkap alat medis.
Dokter Arfa tersenyum, di dalam hatinya berdoa agar Cahyo mau menyetujui permintaannya. Sementara itu Cahyo masih menimang kartu nama dokter Arfa.
"Lebih baik aku setujui saja, toh tidak ada lagi yang bisa aku gunakan untuk membiayai operasi Wulan. Tidak mungkin Hans akan bertanya jika tidak aku beritahu. Aku lebih baik diam saja, tidak ada satupun yang aku beritahu," gumam Cahyo di dalam hati.
Cahyo mengambil ponsel lalu memasukkan nomer dokter Arfa ke dalam daftar kontaknya.
"Papa, sedang menghubungi mama ya?" ucap Hans datang tiba-tiba. Dia pun duduk di samping Cahyo sembari menata makanan yang dibawanya.
"Oh, kau, Hans. Iya ini sedang memberi kabar pada mama dan Aris kalau papa sudah sampai di rumah sakit.
"Kabar mama gimana, Pa?" tanya Hans lagi.
"Syukurlah, mamamu baik-baik saja. Mama juga menanyakan kabar Tia. Oh, ya. Tia bagaimana?" Cahyo menerima kotak makan yang diberikan oleh Hans.
"Mama menanyakan Tia, Pa?" Hans tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Benar, semenjak tinggal di rumah yang Tia sediakan untuk kami. Meri mulai berubah, mungkin dia menyadari kalau Tia lah yang tulus dengan dirinya," ucap Cahyo menunduk. Dia sangat malu dengan sikapnya yang dulu hanya diam bahkan cenderung memperlakukan Tia dengan tidak adil.
"Syukurlah, Pa. Jika Tia mendengar tentang semua ini pastilah dia sangat bahagia," sahut Hans dengan senyum yang merekah.
"Benar, Hans. Papa tidak berbohong. Mamamu sendiri yang bilang seperti itu, dia juga menitipkan hadiah kecil ini untuk Tia," ucap Cahyo mengeluarkan sebuah kotak kecil.
"Apa ini, Pa?" tanya Hans.
"Biarkan Tia tahu sendiri, nanti setelah Wulan sadar, papa akan menjenguk Tia di kamarnya. Papa hanya menunggu tanda tangan persetujuan operasi Wulan."
Cahyo memalingkan muka, dia tidak berani beradu tatap dengan Hans. Dia memilih makan makanan box kotak makan.
"Baiklah, Pa. Aku akan memberikan pada Tia," jawab Hans dengan tersenyum. Hans turut bahagia dengan semua yang ia dengar hari ini.
"Ya sudah, Pa. Hans ingin kembali ke kamar Tia. Takutnya Tia mencari Hans."
Hans berpamitan pada papa mertuanya. Dia tidak ingin sampai Tia mencari dirinya.
"Baiklah, Hans. Sampaikan juga salam papa pada Tia."
__ADS_1
Cahyo menepuk bahu Hans, rasa hangat menjalar ke tubuh Hans. Hal yang paling dia harapkan akhirnya terkabul juga.
Hans pun berjalan meninggalkan Cahyo yang duduk sambil melahap makanan yang ia belikan. Hans ingin segera sampai ke kamar Tia. Hari ini Tia pasti akan gembira karena sang ibu sudah mulai menerima dirinya.
Tok!
Tok!
"Tia, Sayang." Hans mendekat ke arah sang istri yang sedang melihat televisi.
"Mas, bagaimana? Apa semua sudah beres? Bagaimana dengan keadaan mbak Wulan?" Tia mencecar Hans dengan banyak pertanyaan.
Hans dengan sabar menjawab semua pertanyaan Tia. "Semua sudah beres dan papa sudah ada di rumah sakit ini untuk menunggu mbak Wulan. Mbak Wulan akan segera mendapat penanganan yang tepat."
"Syukurlah, mbak Wulan bisa segera sembuh. Walau bagaimanapun mbak Wulan adalah saudara seibu Tia. Tia tidak tega jika dia sampai terlantar."
"Benar, Sayang. Kini semua sudah beres. Kita tinggal menunggu dokter yang akan melakukan tindakan operasi plastik pada mbak Wulan."
Hans menceritakan semua yang dialami oleh Wulan. Tia menyimak semua yang dikatakan oleh sang suami.
Tia terkejut, ternyata Wulan mengalami kecelakaan yang begitu parah.
"Kasihan mbak Wulan. Wajahnya rusak dan harus di operasi plastik," timpal Tia.
Hans kagum dengan kebaikan sang istri, sudah disakiti sedemikan rupa oleh Wulan, Tia masih saja tetap memperhatikan Wulan.
Hans mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya, lalu memberikan kotak itu pada Tia.
"Apa ini, Mas?" tanya Tia menatap kotak kecil itu dengan raut wajah terheran.
"Itu adalah pemberian dari mama mu, Tia. Kata papa itu adalah hadiah pernikahan dari mama,"jawab Hans dengan tersenyum.
"Ini dari mama? Benarkah itu, Mas?" Tia begitu girang dia membolak-balikkan kotak itu dengan binar mata yang begitu gembira. Seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah pertama dari sang ibu.
"Benar, Tia. Papa sendiri yang memberikannya pada mas. Dan papa juga titip salam untukmu. Kamu ingin tahu kabar yang akan membuatmu bertambah bahagia lagi?" kata Hans penuh teka-teki.
"Apa itu, Mas? Cepat katakan. Tia sudah tidak sabar lagi!"
Tia menatap Hans penuh dengan harap, suasana siang yang panas itu berubah menjadi sejuk untuk Tia. Sungguh kejutan demi kejutan dia dapatkan semenjak di rawat di rumah sakit. Dari sang ayah yang mengakuinya sebagai putri kandung hingga hadiah yang ia terima dari sang ibu.
"Kata papa, mama titip salam untukmu. Kata papa lagi, mama sudah banyak berubah semenjak tinggal di rumah yang kau sediakan dulu untuk mereka. Mama sudah menerima mu sebagai anaknya."
Tia yang terkejut tidak sadar jika kotak pemberian sang mama terjatuh dari tangannya.
"Be ... Benarkah, Mas? Mama sudah menerima Tia sebagai anaknya? Tia tidak salah dengan kan?" tanya Tia tergagap mendengar apa yang dikatakan oleh Hans.
"Benar, Tia. Nanti jika papa sudah selesai dengan mbak Wulan. Kamu bisa bertanya langsung pada papa." Hans meyakinkan Tia.
Tia masih melongo, dia belum percaya jika belum bertemu dengan ibunya sendiri. Semua begitu mendadak dan mengejutkan baginya.
__ADS_1
"Tia sudah tidak sabar untuk bisa bergerak bebas lagi mas. Semua ini begitu membuatku bahagia, hingga tidak bisa berkata-kata lagi. Aku ingin segera bertemu dengan mama dan papa," ucap Tia menitikkan air mata.
"Tia, kau tidak membuka kotak yang diberikan oleh mama?" tanya Hans yang ingin mengalihkan perhatian Tia. Hans tidak ingin Tia larut dalam keinginan untuk bertemu dengan sang ibu.
"Benar, Mas. Dimana kotak itu tadi?" Tia kebingungan mencari kotak yang terlepas dari genggamannya.
"Bukankah tadi kamu pegang, Tia?" Hans ikut berdiri untuk membantu Tia mencari kotak pemberian sang ibu.
Hans mencari di bawah bed istrinya sedangkan Tia mencari di sekitar tempat tidurnya. Keduanya sibuk mencari kotak itu.
"Ini dia, Mas!" pekik Tia dengan bahagianya. Bagaikan menemukan harta Karun. Kotak itu terselip di bawah selimutnya.
"Syukurlah, Tia." Hans bernapas lega karena kotak itu ditemukan.
Tia bergegas untuk membuka kotak tersebut, kotak berwarna merah dengan pita di atasnya. Tangan Tia bergetar dengan mata yang membulat sempurna.
"Mas ... Indah sekali!" ucap Tia yang terkagum dengan isi kotak tersebut.
Hans ikut tersenyum bahagia melihat sang istri yang begitu bahagia menerima hadiah yang tidak seberapa baginya itu. Sebuah kalung dengan liontin berwarna merah. Kalung yang biasa Meri pakai dalam kesehariannya.
"Benar, Tia. Kalungnya indah sekali," timpal Hans ikut senang.
"Ini adalah kalung milik mama, Tia tidak menyangka jika mama akan memberikan pada Tia." Tia mengusap liontin batu berwarna merah. Hans akhirnya membantu Tia untuk memakainya di leher Tia.
***
Jakarta
Gunawan sudah sampai di kantor Ridho. Dia tidak mendapati Ridho di kantor tersebut.
"Nona Arum, di mana bos mu berada?" tanya Gunawan pada sekertaris Ridho.
"Tuan Gunawan? Anda di sini?"Arum yang sedang sibuk mengetik laporan melihat Gunawan tiba-tiba berada di depan mejanya.
"Nona Arum, Anda belum menjawab pertanyaan saya!" hardik Gunawan yang kesal karena Ridho tidak ada di dalam kantornya. Gunawan tidak tahu jika saham perusahaan itu sudah beralih ke tangan Hans.
"Maaf, Tuan. Tuan Ridho sudah dua hari ini tidak berangkat ke kantor. Semua sudah diambil alih oleh nona Vera," jawab Arum berdiri dengan wajah menunduk.
"Siapa nona Vera? Bukankah pemilik perusahaan ini masih Ridho?" tanya Gunawan bingung. Dia sama sekali tidak mendapat laporan apapun terkait dengan perkembangan perusahaan yang dia buat untuk sang keponakan.
"Maaf, Tuan. Saham perusahaan ini sudah 50% lebih dikuasai perusahaan Hans Permana. Dan sebagai wakilnya tuan Hans memerintahkan kepada nona Vera sang sekretaris untuk mengurusi semua masalah perusahaan. Tuan Ridho di sini hanya sebagai direktur biasa," ucap Arum apa adanya. Dia tidak bisa berbohong karena takut Gunawan akan lebih marah lagi.
"Apa?! Mengapa tidak ada yang melaporkan kepadaku, Arum!!" hardik Gunawan murka. Dia sangat terkejut dengan kabar yang dia terima.
"Maaf, Tuan. Saya tidak berani mendahului tuan Ridho," jawab Arum apa adanya. Tidaklah mungkin dia melaporkan pada Gunawan tanpa ijin dari Ridho.
"Ridho!! Astaga ... Bagaimana bisa semua ini terjadi!! Arum katakan apa yang menyebabkan perusahaan ini bangkrut?!"
"Para pemegang saham serentak menarik sahamnya karena melihat tuan Ridho yang viral bersama seorang wanita panggilan, Tuan." jawab Arum takut amarah Gunawan semakin memuncak.
"Apa?! Ridho selingkuh dengan wanita panggilan dan viral di media sosial?! Astaga ... Apa -apaan anak itu!!" geram Gunawan.
"Maaf, Tuan. Memang seperti itu kabar beritanya. Saham turun drastis dan akhirnya tuan Hans Permana yang membeli saham tersebut."
"Hans Permana?" ulang Gunawan yang baru menyadari nama yang sudah membeli saham perusahaan Ridho.
__ADS_1