Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 71


__ADS_3

Tia tersenyum melihat kesungguhan dalam hati Hans. Dapat dia lihat betapa Hans sangat mencintai dirinya.


"Tidak, Mas. Sudah jadi kewajiban istri untuk selalu patuh suaminya. Aku ikhlas kok selama itu baik untukku. Aku yakin mas Hans tidak akan membuat keputusan tanpa ada dasarnya," jawab Tia membuat Hans tertegun.



"Ya Allah, kau tunjukkan lagi keistimewaan wanita ini. Sungguh aku beruntung memiliki istri sepertinya," gumam Hans menatap sendu pada sang istri.



Hans berulang kali mengucap rasa syukur akan karunia besar yang dia terima. Selain masih perawan, Tia adalah sosok istri yang menghormati suami.



"Nanti saat jam istirahat siang, mas akan menjemputmu. Kamu istirahat saja di hotel ini hingga nanti jam makan siang. Bagaimana? Kamu setuju bukan?" tanya Hans pada Tia.



"Baiklah, Mas. Aku setuju. Aku juga sepertinya butuh banyak istirahat. Oh ya jangan lupa bawakan aku baju ganti. Baju ini sudah aku pakai, akan lecek saat pergi nanti," pinta Tia pada Hans.



"Baiklah, Nyonya Hans. Apapun yang menjadi perintahmu, pria mu ini akan berusaha mewujudkannya." Hans berdiri kemudian membungkukkan badannya.



Tia tersenyum melihat tingkah sang suami.

__ADS_1


"Baiklah, Mas pergi dulu, Tia. Jangan lupa kunci pintu. Jangan ijinkan siapapun masuk. Dan ingat jangan keluar dari hotel sendirian," ucap Hans berpesan pada sang istri.


"Astaga, sebegitunya dia begitu ketat menjaga miliknya," batin Tia di dalam hati.



"Iya, mas. Hati-hati di jalan," jawab Tia tidak ingin memperpanjang masalah. Dia sudah telanjur berkata iya pada Hans.



Hans mengangguk, Tia pun mencium tangan Hans dan dibalas Hans dengan mengecup kening sang istri. Segala doa terucap dari dua bibir itu. Doa untuk keselamatan orang yang disayanginya.



Hans meninggalkan hotel tersebut menuju ke kantornya. Hari ini dia akan melimpahkan semua pekerjaannya pada sang sekretaris. Harapan Hans dia akan menikmati moment cutinya bersama istri barunya.




"Selamat pagi, Tuan," sambut sang sekretaris.



"Selamat pagi, Vera. Tolong semua pekerjaan ku kau persiapkan. Aku akan cuti selama satu Minggu ke depan. Aku harus mengurus persiapan pernikahanku." Hans memberikan perintah pada sang sekretaris agar segera mengambil semua berkas yang harus Hans tanda tangani.


__ADS_1


"Baik, Tuan," jawab Vera dengan semangat. Sekretaris senior yang sudah menemani Hans selama ini. Vera jugalah yang selalu membantu Hans, termasuk pesta pernikahan Hans dengan Tia, ia yang mengurusnya.



"Tuan, ada kabar terbaru. Kalau ada lelang saham di PT. R&B. Jadwal lelangan besok pukul sembilan pagi, berlokasi di rumah sang pemilik perusahaan," ucap Vera di sela menyiapkan semua berkas yang harus Hans tanda tangani.



"Apa? R&B akan dilelang begitu saja? Apa kau tidak salah dengar?" Tanya Hans dengan wajah yang terkejut.



"Tidak, Tuan. Apa yang saya informasikan adalah Valid. Ini kesempatan bagus untuk menguasai saham mereka, Tuan," jawab Reva dengan menunduk.



Hans terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Vera itu. Dengan menguasai saham R&B dia akan bisa membuka cabang untuk usahanya lain.



"Kapan pelelangan itu akan dilaksanakan?" imbuh Hans bertanya pada sang sekretaris.



"Dari undangan yang dibagikan. Pelelangan akan dilaksanakan besok pagi, Tuan," jawab Vera sembari memberikan kartu undangan pada Hans.


__ADS_1


"Ridho? Hem ... apa ini Ridho yang sama dengan Ridho suami Tia?"


__ADS_2