
Tia terus menepuk pipi sang suami, namun belum juga bangun. Sepertinya Hans diberi obat tidur dalam dosis yang tidak rendah. Tia tidak habis akal, dia mengambil gelas air putih yang ada di atas nakas.
Tia mengusap wajah Hans dengan air tersebut, tidak berapa lama kemudian Hans pun bangun karena efek rasa dingin air yang dicipratkan Tia ke wajahnya.
"Mas ... Syukurlah mas sudah bangun!" Tia mendekat ke arah Hans lalu memeluknya.
"Tia? Mengapa kita ada di sini? Bukan kah tadi mas sedang meeting dengan tuan Vian?" tanya Hans pada Tia. Hans belum sepenuhnya kembali kesadarannya.
Tia tersenyum pada Hans, itu pertanda memang suaminya tidak bersalah. Hans hanya korban dari rencana jahat Merlyn.
"Mas ... Kita ada di kamar hotel," jawab Tia dengan tersenyum.
Hans menatap Tia lalu menatap ke arah kedua polisi yang sedang membujuk Merlyn.
"Mereka sedang apa? Mengapa kedua polisi itu mengarahkan pistolnya ke arah Merlyn, ada apa ini, Sayang?" tanya Hans terheran melihat adegan di depannya persisi film di televisi.
"Petugas polisi datang menangkap Merlyn karena laporan dari Tia, Mas. Tia melaporkan Merlyn dengan tuduhan penculikan. Merlyn sudah menculik mas dari kantor," jawab Tia jujur walau semua itu tidak luput dari campur tangan Gunawan.
"Apa?! Maksudmu Merlyn yang membawa mas ke hotel ini?" tanya Hans setengah berteriak, dia tidak menyangka jika Merlyn adalah orang yang ada di balik rencana ini.
"Iya, Mas. Merlyn yang merencanakan semua. Beruntung dia belum ngapa-ngapain mas. Jika tidak, Tia juga tidak tahu bagaimana kita akan melalui hari -hari dengan rasa curiga," ucap Tia membayangkan jika saja Merlyn berhasil menjalankan rencananya.
"Benar, itu tandanya Allah masih sayang pada kita, keutuhan rumah tangga kita masih terjaga. Aku tidak akan mengampuni Merlyn!" ucap Hans mengepalkan kedua tangannya. Diapun bangkit dan berjalan mendekati kedua pisau tersebut.
__ADS_1
"Merlyn! Lebih baik kau menyerah, kalau kau bisa kabur pun sampai ujung dunia aku akan mengejar mu!!" teriak Hans lantang. Emosinya sudah tersulut, Hans sudah tidak bisa menahan lagi rasa benci pada Merlyn.
Merlyn menoleh ke arah Hans, dia semakin panik. Kini hanya kebencian yang ia lihat di mata Hans. Andai bisa pasti saat ini Merlyn sudah dilahap habis oh Hans.
"Hans? Kenapa kau begitu, Sayang? Apakah kau tidak ingat, aku adalah wanita yang selalu ada untukmu saat kau menuntut ilmu di luar negeri dahulu? Kenapa kau seperti ini? Apakah kau sudah lupa dengan apa yang kita lakukan dahulu? Hans ... Please! Don't hate me!" Merlyn sengaja berbicara seperti itu hanya untuk memanasi Tia. Sudah terlanjur tertangkap basah, sekalian yang hancur semua.
"Diam kamu, Merlyn! Saya tidak punya hubungan apa pun dengan mu!! Tidak akan pernah aku mengakui segala sesuatu yang tidak pernah aku perbuat!" jawab Hans lantang dengan tatapan tajam ke arah Merlyn.
Tia hanya terdiam tidak mau ikut campur. Semua itu adalah masa lalu Hans, dan dia tidak berhak untuk ikut campur. Toh selama ini Hans tidak pernah menyinggung sama sekali tentang Merlyn.
"Honey?! Mengapa kau berkata yang begitu menyakitkan? Aku sudah menyerahkan semua kepadamu, baik tubuh maupun hatiku! Mengapa kau melupakan semua itu, hah?" u ap Merlyn dengan gaya seolah -olah dia lah yang paling tersakiti. Sungguh Merlyn adalah seorang aktris yang berbakat.
"Cukup, Merlyn! Lebih baik kamu menyerah! Aku tahu kau hanya ingin mengulur waktu saja!"
"Ck! Dasar lelaki pengecut! Kau tidak berani mengakui karena ad istrimu bukan?! Hahaha ... Dasar lelaki takut pada istri!" ejek Merlyn dengan tawa yang dibuat-buat.
Tia menatap Merlyn dengan penuh amarah, dia pun berjalan mendekat ke arah keempat orang tersebut. Merlyn mengira Tia sudah terpancing dan akan menampar Hans.
Apa yang dikira Merlyn ternyata salah, bukannya menampar Hans akan tetapi Tia masih terus berjalan mendekat ke arahnya.
Plak!
Plak!
__ADS_1
Dua kali Tia menampar pipi Merlyn bergantian. Merlyn memegang kedua pipinya yang dirasa panas.
"Kamu?! Berani sekali menamparku, hah!"
"Itu belum seberapa! Satu tamparan untuk balasanmu menghina suamiku, dan satu tamparan karena kau ingin menjebaknya! Pak polisi cepat tangkap wanita ini!!" teriak Tia sembari mencekal tangan Merlyn dengan cepat. Amarahnya mampu membangkitkan semua kekuatan dan keberanian dalam dirinya.
Kedua polisi itu pun segera mendekat dan memegangi kedua tangan Merlyn.
"Kurang ajar! Lepaskan ...!" Merlyn meronta saat kedua tangannya dicekal kuat oleh kedua petugas polisi.
"Bekerjasama lah, Nyonya!" tegas salah satu petugas polisi yang memegang tangan Merlyn.
"Tidaak ... Aku tidak bersalah! Aku tidak maauu ... Tidaak!!" Merlyn terus berteriak dan meronta minta dilepaskan.
Petugas kepolisian tidak mendengar dan menggubris teriakan Merlyn. Mereka berdua menggelandang Merlyn menuju ke kantor polisi.
Berita penangkapan Merlyn pun menyebar luas, sang ayah yang melihat tayangan di televisi pun murka.
"Merlyn! Apa yang ia lakukan!! Kurang ajar! Siapa yang berani memenjarakan Merlyn!! Ronald! Cepat hubungi pengacara dan minta segera bebaskan Merlyn sekarang juga!" teriak ayah Merlyn menggema di ruang kerjanya.
"Siap, Tuan Noah!" jawab Ronald sang asisten.
Noah geram, ternyata masih ada yang berani melawan dirinya. Noah tidak tahu jika lawannya bukanlah sembarang orang. Kali ini dia akan dihadapkan dua pilihan yang berat, putrinya atau karirnya di negara ini.
__ADS_1