Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 46


__ADS_3

Tia mengangguk paham, memang tidak masalah jika suami yang melayani sang istri. Itu hal yang wajar terjadi, walaupun ada seorang suami yang menegaskan bahwa semua urusan rumah adalah pekerjaan istri, dan tugas suami hanyalah mencari nafkah saja.


Berbeda dengan Hans dan Aris, mereka tidak segan melayani istri mereka yang memang membutuhkan bantuan suaminya.


"Baguslah kalau Aris bukan suami yang diktator. Dia mau terjun membantu istri untuk melaksanakan tugasnya. Namun kita sebagai istri juga tidak boleh terlalu bergantung pada suami. Mereka sudah lelah mencari nafkah untuk kita," ujar Tia menasehati Devi sembari menyendok makanan yang dibuat oleh Aris.


Aris adalah lelaki yang sudah terbiasa mandiri dari masa sekolah dulu, dia sering membantu Tia mengerjakan pekerjaan rumah yang dibebankan pada Tia oleh mamanya.


"Iya, Mbak. Devi terlambat bangun karena dah kebiasaan waktu masih gadis dulu kalau berhalangan sholat, tidurnya sampai siang," ucap Devi tersenyum. Paham jika sang kakak ipar pasti tidak suka jika adiknya yang sudah bekerja keras masih juga mengurus rumah.


"Okey, semua sudah selesai sarapan, sekarang kita pergi belanja," seru Tia dengan senyum yang mengembang. Mengajak anak-anak dan adik iparnya untuk bersiap belanja.


"Okey, Ma," jawab si kembar Hasna dan Hasan dengan bersemangat. Di dalam benak mereka sudah tercatat semua yang akan mereka beli.


Tia, Devi, Hasna dan Hasan pun berangkat dengan Tia yang memegang kemudi.


"Mbak Tia sudah lama bisa mengemudikan mobil?" tanya Devi senang melihat Tia yang mengemudikan mobil dengan halus.


"Lumayan lah, karena mbak terkadang harus berangkat ke kantor sendiri. Terkadang juga harus pergi menjemput Hasna dan Hasan," jawab Tia dengan tersenyum sembari fokus ke depan.


"Kalau saya belum bisa menyetir mbak, karena orang tua saya tidak mengijinkan anaknya bawa mobil sendiri. Saya lebih senang naik motir matic saya," jawab Devi polos. Ada sisi baik dalam diri Devi yang menyukai kesederhanaan.

__ADS_1


"Mbak dulu juga suka naik motor, akan tetapi setelah memiliki anak semuanya berubah. Mbak harus bisa mengemudikan mobil karena anak -anak ingin mbak yang menjemput, dan seperti saat ini mereka pulang minta beli sesuatu seperti es krim."


"Wah, punya anak tentu tambah pengeluaran ya, Mbak?"


"Memang kalau kita punya anak harus siap mengeluarkan uang lebih banyak. Tapi yakin saja, anak itu membawa rizkinya masing-masing. Allah akan membalas semua yang kita keluarkan untuk anak kita. Yakin itu, jangan pernah punya pikiran jika punya anak maka uang kita akan banyak yang keluar. Untuk itu tetaplah semangat untuk memiliki anak. Ada wanita yang sudah banyak mengeluarkan ratusan juta hanya untuk bisa punya anak," ucap Tia.


Devi mengangguk mencerna apa yang dikatakan oleh Tia. Memang benar, tidak sedikit wanita yang ingin punya keturunan, hingga mereka rela mengeluarkan uang hingga ratusan juta untuk bisa hamil.


"Benar juga ya, Mbak. Tapi Devi dan mas Aris ingin segera memiliki anak, mumpung kami masih muda. Semoga apa yang kita inginkan bisa terkabul," ucap Devi bersemangat.


"Aamiin."


Tia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak berapa lama kemudian mereka pun sampai di sebuah mall yang menjadi langganan mereka.


"Devi, kamu mau pilih yang mana? Apapun yang kamu suka ambil aja, biar mbak yang bayar," ucap Tia yang tahu dari ekspresi Devi yang ingin membeli baju tapi takut membeli karena harganya yang lumayan menguras kantong.


Devi berasal dari kalangan menengah, apa yang ia beli tentu harus sesuai budget yang ia miliki.


"Benarkah, Mbak? Devi boleh memilih apapun yang Devi inginkan?" tanya Devi dengan senyum yang merekah. Tidak bisa ia ungkapkan bagaimana senangnya hati Devi saat ini. Walau jika ia minta pada sang suami pasti dengan mudah Aris belikan. Namun hitungan matematika Devi lebih mendominasi.


Devi berpikir jika ia meminta pada Aris tentu saja uang Aris akan berkurang dan tabungan masa depan mereka juga akan terganggu.

__ADS_1


"Iya, Devi. Terkadang kita memang harus memanjakan diri sendiri dan gemar berbagi. Agar Rizki melimpah dan dijauhkan dari mara bahaya. Shodaqoh menolak bala dan melindungi kita dari berbagai musibah," ucap Tia panjang lebar.


Hati Devi tersindir dengan pa yang dikatakan oleh Tia. Namun, Devi tidak menunjukkan perasaan tidak suka pada sang kakak ipar. Apa yang dikatakan oleh Tia hanyalah sebagai pencerahan untuk Devi.


"Iya, Mbak. Lebih baik Devi segera memilih baju agar tidak terlalu lama di sini," ucap Devi meninggalkan Tia untuk memilih baju yang sesuai dengan keinginannya. Mumpung gratisan, itulah prinsip Devi.


"Hasna kamu pilih apa, Nak?" Tanya Tia pada gadis kecilnya yang bingung memilih gaun yang pas dan cocok untuk dirinya.


"Hasna bingung, Ma. Hasna pilih yang mana ya ... Bantu Hasna ya, Mah," ucap Hasna penuh harap di depan Tia.


"Baiklah, bidadari mama yang cantik. Alhamdulillah, kamu pakai baju apapun pasti terlihat cantik," puji Tia pada sang putri. Sebelum memuji, Tia membiasakan diri untuk bersyukur dengan mengucapkan kalimat tahmid. Tia mendapatkan semua ilmu itu dari ustadz yang dulu merukyahnya. Semua itu untuk menghindari dari penyakit Ain.


Tia mengikuti sang putri untuk memilih baju yang sesuai dengan dirinya. Setelah selesai, Tia membantu Hasan yang juga kebingungan harus memilih yang mana.


Setelah puas memilih baju, mereka pun mulai pergi ke kasir untuk membayar baju yang mereka pilih. Mata Devi membulat saat tahu berapa rupiah yang harus Tia bayar. Dan semua itu tampak biasa saja bagi Tia.


"Wah, Mbak Tia memang benar-benar hebat. Dia mengeluarkan uang segitu banyak ternyata biasa saja. Coba kalau itu aku, sudah kena omel mama. Jadi wanita jangan terlalu boros, tidak baik lah, tidak kasihan suamilah, tidak kasihan orang tua lah," gumam Devi menirukan mimik sang ibu saat berbicara.


Setelah selesai, Devi mengira akan segera pulang, tapi ternyata tidak. Tia mengajak anak-anaknya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Tia sengaja membelikan banyak bahan makanan untuk Devi dan Aris karena anaknya akan berada di situ selama beberapa hari.


"Mbak Tia belanja begitu banyaknya? Seperti mau pindahan, Mbak?" celetuk Devi yang melongo melihat belanjaan Tia yang hampir dua troli penuh.

__ADS_1


"Iya, ini sebagian juga untuk kalian, anak-anak mbak tentu akan banyak menghabiskan sabun mandi, pasti gigi, sabun cuci dan yang lain untuk anak-anak," jawab Tia dengan tersenyum. Dia tidak ingin membuat adik iparnya merasa tersinggung.


__ADS_2