
"Bukan begitu?! Kau tidak tahu aku seperti ini demi siapa? Demi kalian, kau dan Aditya! Tapi tunggu ... Di mana Aditya?!" tanya Nigam yang baru ingat jika dia seharian tadi belum melihat anaknya.
"Mm ... Aditya ikut ayah dan ibu ke kampung. Dia sangat senang di sana," bohong Alya.
Hal yang sebenarnya adalah Aditya sudah meninggal dunia, sedangkan ayah dan ibunya di suruh pulang ke kampung untuk hidup di sana bersama sepupu Alya.
"Oh aku kira Aditya kenapa kenapa, makanya tidak terlihat seharian ini. Walau bagaimanapun dia adalah buah hati kita, pengerat hubungan kita berdua. Kau harus berusaha untuk membuat Aris kembali, bagaimana pun kau harus mencoba untuk menghubunginya lagi," pinta Nigam dengan nada mengintimidasi Alya.
"Ya, Baiklah, Mas. Alya akan mencoba menghubunginya lagi, tapi jika tidak berhasil maka jangan salahkan aku,"jawab Alya menuruti apa yang Nigam katakan.
Sebenarnya Alya sudah lelah dengan semua ini, tidak ada gunanya ia menelepon Aris. Jangankan mengangkat teleponnya, Aris saja tidak mau membuka pesannya. Entah bagaimana lagi Alya harus berusaha untuk memperbaiki hubungannya dengan Arus, sedangkan seperti apa hubungannya dengan Aris sekarang, ia sendiri tidak tahu. Yang jelas ia sudah berusaha untuk menghubungi Aris setelah insiden itu.
"Dokter sudah memperbolehkan kamu pulang, biarkan aku yang menyetir mobil ke rumah kamu," ujar Alya.
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri ke rumah," jawab Nigam menghempaskan tangan Alya.
Hati Alya sakit, kata -kata Nigam menggores hatinya. Mau sampai kapan Nigam akan mau mengajak Alya ke rumahnya. Selama ini Nigam lah yang selalu datang ke rumahnya, Alya tidak pernah diajak untuk bertemu dengan kedua orang tua Nigam. Bagaimana mau diajak, Orang tua Nigam sendiri terlalu misteri, sampai saat ini mereka masih bersembunyi dari warga.
***
Sementara itu di rumah Aris.
Aris merenung di kamarnya, ia masih belum percaya apa yang terjadi pada hari. Ingin sekali dia bisa memutar waktu dan bahkan bila perlu ia tidak melihat kejadian seperti itu lagi. Sampai saat ini dirinya masih belum menyangka Alya akan menghianati dirinya dan bermain api dengan pria lain.
Apa sebenarnya kekurangan dirinya di mata Alya? Padahal sebagai seorang kekasih ia sudah berusaha untuk membahagiakan dia. Tetapi yang dirinya dapatkan malah hal yang menyakitkan ini. Bahkan Alya sampai memasukkan laki-laki lain di rumahnya sendiri. Aris saja sebagai kekasihnya selalu menjaga kesucian cinta dan kehormatan sang kekasih.
Sedari tadi Aris memang mendengar deringan ponsel yang berasal dari Alya, tetapi sama sekali tidak adanya niatan untuk mengangkat telepon. Sebab ia sudah telanjur sakit hati, bahkan ia tak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini.
"Alya, aku sudah berusaha untuk menaruh sepenuhnya rasa sayang dan cinta ini kepadamu. Tapi kenapa ini yang aku dapatkan? Sebenar apa kurangnya aku di mata kamu? Apakah diri ini tidak bisa mendapatkan hati kamu sepenuhnya?" Lirih Aris melaung kecewa dan sakit hati.
Aris benar-benar patah hati, luka yang ia dapatkan akibat berkelahi tadi belum sempat ia bersihkan. Ia tak peduli jika nanti terjadi infeksi. Ternyata memang benar, menangis dalam diam adalah hal yang paling menyakitkan.
"Mbak Tia, ternyata apa yang ingin kau katakan semua benar. Mengapa Aris tidak percaya pada mbak Tia dan mama? Aris malu, Mbak. Wanita yang selama ini ia bela mati-matian ternyata hanyalah seorang pengkhianat.
Aris menyeka air mata yang membasahi pipinya. Menurut Aris, Alya tidak layak untuk mendapatkan air mata itu. Aris bangkit dan berdiri, lalu dengan segera ia membersihkan mukanya. Hari ini ia memutuskan untuk masuk kerja walau hanya setengah hari saja.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya aku menangisi wanita murahan itu! Lebih baik aku menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk!" gumam Aris bermonolog dengan dirinya sendiri.
Setelah selesai berganti pakaian dan merapikan penampilannya, Aris pun mengambil ponselnya dan mengambil kunci mobilnya.
Broom ....
Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia menyusuri jalanan yang lumayan sepi karena masih jam kantor dan jam sekolah.
Krrruuk ...
Cacing dalam perut Aris, Aris lupa kalau hari ini dia belum juga sarapan. Tidak jauh dari posisinya saat ini, di depan ada sebuah warung makan dengan nuansa khas Yogyakarta. Bangunan berbentuk Joglo, dan beberapa ornamen patung dengan baju khas kota itu pun menarik perhatian Aris.
"Hmm ... Sudah lama aku tidak makan gudeg ceker. Sepertinya enak kalau aku makan di sini," ucap Aris sambil manggut-manggut membayangkan lezatnya sayur yang terbuat dari nangka muda itu.
Dengan sambal terasi sebagai pelengkapnya dan juga tahu serta tempe bacem, sudah terbayang kelezatannya.
Aris memarkirkan mobilnya dan setelah turun dia bergegas masuk ke dalam waring makan sederhana itu. Aris mencari tempat duduk yang menurutnya sangat strategis. Dia bisa melihat ke segala arah, sesekali mencuri pandang pada gadis yang terlihat cantik dan manis. Semua itu Aris lakukan hanya untuk menghibur hatinya yang sedang galau.
"Silakan, Tuan," ucap sang waiters memberikan buku menu makanan dan minuman.
Setelah selesai memilih dan menulis pesanannya, pelayan itu pun kembali ke dapur. Aris menantu dengan sabar, hingga tampak olehnya dia orang wanita yang pernah ia lihat sepertinya.
Sepertinya aku kenal dengan wanita berjilbab itu, tapi di mana ya?" batin Hans sambil menatap ke arah gadis yang memakai jilbab sepinggang . Aris mengingat di mana ia pernah melihat gadis itu sebelumnya.
"Bu guru Devi? Benarkan Anda Bu guru Devi, guru dari keponakan saya, Hasna," ucap Aris menyapa wanita yang ternyata adalah guru dari sang keponakan.
"Oh, Anda kemarin yang bertanya tentang Bu Alya ya? Maaf , kami sedang memesan beberapa nasi kotak untuk acara rapat nanti," jawab sang guru yang memiliki nama 'Devi' tersebut.
"Oh, ada rapat ya. Kalau begitu keponakan saya pulang jam berapa ya, Bu?" tanya Aris dengan sopan.
"Setelah selesai istirahat, mereka akan dipulangkan," jawab Devi dengan wajah yang ramah.
"Terimakasih Bu Devi, saya akan memberi tahu mbak Tia untuk menjemput anak -anak setelah makan siang," ucap Aris. Dia juga merasa sedikit terhibur saat berbicara dengan Devi.
Setelah menikmati makanan yang ia pesan, Aris menghubungi kakaknya untuk bilang jika anak -anak pulang setelah istirahat selesai.
__ADS_1
"Hallo, Aris? Ada apa?" tanya Tia di balik telepon.
"Mbak, Aris minta maaf sudah berburuk sangka pada mbak Tia. Aris sudah tahu semua, dan ada yang ingin Aris bicarakan. Mbak Tia ada di rumah?" tanya Aris lagi.
"Ada, Ris. Mbak dah cuti, jadi lebih banyak waktu di rumah," jawab Tia apa adanya.
"Okey, Mbak. Aris akan ke rumah tapi setelah jemput Hasna dan Hasan. Kata gurunya mereka pulang lebih awal karena para guru ada acara dengan pihak yayasan, boleh ya mbak, Aris jemput mereka," ucap Aris dengan penuh harap untuk diijinkan menjemput kedua keponakannya itu.
"Hasan dan Hasna pulang lebih awal? Dari mana kau tahu, Ris?" tanya Tia pada Aris.
"Iya, Mbak. Tadi Aris ketemu sama ibu guru barunya Hasna. Kami berdua ngobrol sebentar dan setelah itu diberitahu kalau pulangnya lebih awal. Jadi Aris sekalian jemput ya ... Bye, Mbak ...."
Aris menutup ponselnya, dia tidak sabar lagi untuk menjemput sang keponakan. Tentu saja bukan hanya sekadar menjemput, tapi pastinya ada tujuan lain.
Tia yang masih memegang ponselnya hanya melongo, heran dengan sikap adiknya yang kemarin tetiba marah gak pulang kembali kantor, sekarang tiba-tiba dengan cerianya ingin bertemu dan menjemput keponakannya.
"Semoga kebahagiaan selalu bersamamu adikku. Kau orang baik sudah sepantasnya mendapatkan orang yang baik juga," gumam Tia sambil tersenyum yakin jika sang adik pasti bahagia pada waktunya.
Memang manusia pasti akan diuji sebelum mendapatkan kebahagiaan. Banyaknya masalah akan membawa diri pada kedewasaan yang sesungguhnya. Bukan hanya melulu ingin bahagia tanpa ada ujian.
Di rumah, Tia bergegas menyiapkan makan siang dengan dibantu bik Inah dan Mbak Yuni.
"Nyonya, hari ini kita masak apa? Katanya Den Hasan dan Den Hasna mau pulang awal?" tanya Bik Inah pada sang majikan.
"Kita kan bikin setup markoni kesukaan Hasna, Bik. Saya ingin Hasna merasa disayangi. Beberapa hari ini mungkin dia cemburu karena akan punya adik baru. Entah anak itu siapa yang memengaruhi kalau punya adik pasti tidak akan disayang lagi," jawab Tia dengan senyum yang dipaksakan.
"Sabar, Nyonya. Memang ujian setiap rumah tangga itu beda-beda. Ada yang dituju dengan pasangannya dan ada yang diuji dengan anaknya. Mungkin saat ini nyonya sedang diuji dengan anak. Den Hasna jadi seperti ini mungkin karena ingin nyonya sayangi. Sudah tepat jika nyonya ambil cuti, minim nyonya akan lebih banyak waktu dengan den Hasna di banding nanti setelah nyonya melahirkan," balas bik Inah banyak memberi wejangan pada Tia.
Tia menyimak apa yang disampaikan oleh bik Inah dengan baik sambil merebus butiran markoni yang akan diolah menjadi setup. masakan ya g selalu menjadi favorit Hasna sejak mengenal makanan padat.
"Benar yang bibik katakan, selama ini Tia merasa sendiri tanpa ada orang tua yang membimbing Tia. Untung ada bibik yang sudah Tia anggap sebagai orang tua sendiri. Tia berharap bisa menjadi ibu yang baik bagi Hasna. Seberat dan serepot apapun nanti, Tia akan tetap memprioritaskan Hasan dan Hasna. Mereka berdua adalah buah hati kami yang pertama kali menjadikan kami sebagai orang tua."
"Bibik doakan semoga kebahagiaan selalu ada di rumah ini. Jauh dari segala mara bahaya dan dilindungi dari segala musibah. Aamiin ...." Bik Inah tulus mendoakan kedua majikannya agar selalu hidup bahagia dengan anak-anaknya.
"Terima kasih, Bik. Tetap sehat selalu agar bisa menemani kami menjalani hari-hari yang penuh dengan suka dan duka." Tia memeluk sang pembantu.
__ADS_1