
Tia tersenyum melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Mas, Aris mengirim pesan untuk kita," ucap Tia dengan senyum yang merekah.
Hans melipat sajadah yang dia gunakan untuk alas sholat, mendekati sang istri.
"Ada kabar apa?" tanya Hans dengan wajah yang ikut bahagia.
"Iya, Mas. Aris sudah mengirim nama pabrik tempat dulu papa bekerja. Walau katanya sih, papa sempat gak mau memberi tahu tentang pabrik itu, namun setelah Aris desak papa akhirnya cerita juga," imbuh Tia.
"Bersyukur sekali papa akhirnya mau memberi tahu. Hari ini juga kita akan pergi ke pabrik itu," sahut Hans memberi energi positif di pagi hari bagi Tia.
"Terima kasih, Mas. Tia akan bersiap -siap lalu kita sarapan. Mas mau sarapan apa pagi ini, kita pesan lewat layanan hotel saja ya?" tanya Tia hampir saja lupa kalau mereka berdua sedang berada di hotel.
"Tenang mas mau sarapan yang beda kali ini," jawab Hans sembari mengerlingkan matanya.
"Sarapan apa, Mas?"
"Mas mau kamu, biar lengkap vitamin mas. Bagaimana? Tiga ronde saja?"
Tia membulatkan matanya sempurna, sang suami minta haknya sebanyak tiga ronde. Namun, demi baktinya dan rasa terima kasih karena Hans sudah mau menemani dan mendukungnya mencari sang ayah kandung, Tia pun akhirnya mengangguk.
"Yes! Sarapan pagiku!!" pekik Hans senang sembari membopong tubuh Tia menuju ke ranjang mereka. Mereka pun merenda asa apa yang menjadi hak mereka masing-masing.
***
Di sebuah rumah mewah dengan pagar tembok yang tinggi menjulang. Seorang lelaki mengamuk pasalnya tidak mendapati sang istri di rumah.
"Bik! Kemana nyonya Sinta?!" teriak Steve saat sampai di rumah tapi tidak mendapati sang istri.
"Maaf, Tuan. Nyonya melahirkan, bukankah tuan sudah dikabari oleh Nyonya dari semalam?" jawab sang pembantu rumah. Wanita dengan usia hampir kepala lima dan berpakaian sederhana itu menjawab dengan mimik wajah yang takut.
"Apa?! Dia sudah melahirkan? Siaaal ... Dimana ponselku berada?!" Steve kebingungan mencari ponselnya, pantas saja dari semalam tidak ada dering telepon masuk ataupun notifikasi pesan yang dia terima.
Steve berlari ke arah mobilnya, berniat mencari ponsel itu di dalam mobil. Siapa tahu, ponsel miliknya memang tertinggal di dalam mobil.
Di dalam mobil semua barang Steve keluarkan semua, berharap masih bisa menemukan ponsel itu. Namun sayang, semua barang sudah ia keluarkan, dan isi mobil sudah Steve periksa, tapi tidak ada juga.
"Jangan ... Jangan ... Tertinggal di hotel itu!" gumam Steve dengan berang. Saat ini Steve merasakan sakit kepala. Sudah semalam dia tidak tidur, ditambah istrinya tidak ada dan sekarang ponsel milik Steve juga hilang.
Steve kembali berlari masuk ke dalam rumah mencari sang pembantu.
"Bik Harsii ...! Bibik tahu dimana nyonya Sinta melahirkan?" tanya Steve dengan cemas.
"Di rumah sakit biasa nyonya periksa kandungan, Tuan. Nyonya pergi ke sana hanya dengan pak Imran supir nyonya," jawab bik Harsi menunduk. Dia mengatakan kalau memang semalam Sinta diantar pak Imran pergi ke rumah sakit. Sopir yang sudah dianggap seperti ayah sendiri oleh Sinta.
"Baiklah, saya akan segera ke sana bik," ujar Steve langsung bergegas meninggalkan bik Harsi begitu saja.
Bik Harsi mengangguk, dia pun mengikuti Steve dari belakang untuk menutup kembali pintu.
Dengan tergesa-gesa tanpa mandi atau berganti baju terlebih dahulu. Steve lupa jika dirinya masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai di hotel. Tentu saja parfum wanita masih menempel di kemeja itu.
Steve melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak ingin membuang waktu lagi untuk bisa bertemu dengan sang istri, apa lagi sang istri akan melahirkan.
Mobil yang dikemudikan Steve berulang kali mendapatkan umpatan dari pengguna jalan lain, karena Steve mengendarai mobil dengan ugal-ugalan hingga membahayakan pengemudi lain.
Dengan napas tersengal-sengal, Steve berlari dari arah parkir mobil menuju ke lobi rumah sakit. Steve meminta informasi pada sang petugas resepsionis.
"Selamat pagi, Sus. Bisa minta informasi pasien bernama Sinta Prameswari dirawat di ruang apa? Maaf saya suaminya," tanya Steve pada petugas resepsionis.
"Selamat pagi, Tuan. Tunggu sebentar saya cek dulu pasien bernama Sinta Prameswari," ucap sang petugas resepsionis dengan senyum yang ramah.
Perlahan jemari sang resepsionis bergerak di atas papan keyboard komputer mencari nama pasien yang bernama Sinta Prameswari. Setelah beberapa menit kemudian, sang petugas resepsionis tersebut menemukan sebuah nama sesuai dengan permintaan Steve.
"Maaf, Tuan. Nyonya Sinta Prameswari sekarang sedang dirawat di bangsal Ibu dan anak. Ruang Dahlia nomer satu, VVIP," ucap sang petugas resepsionis pada Steve.
__ADS_1
Steve bernapas dengan lega, akhirnya kesempatan untuk bertemu dengan sang istri terbuka lebar.
"Terima kasih, Sus. Saya akan segera ke sana," ucap Steve dengan senyum sumringah.
"Sama-sama, Tuan," jawab sang petugas itu dengan senyum yang dipaksakan. Sejujurnya petugas itu merasa kesal pada Steve yang mana sebagai seorang suami tidak mendampingi sang melahirkan, hingga bertanya kamar pada orang lain.
"Hmm ... Ada ya, suami tidak tahu dimana istri dirawat. Bukankah seharusnya seorang suami selalu mendampingi istri saat dibutuhkan seperti melahirkan! Dasar lelaki egois, pasti dia lelaki yang hanya mementingkan dirinya sendiri!" gumam sang petugas resepsionis di dalam hati. Jiwa wanitanya meronta ingin memberi balasan pada lelaki seperti Steve.
Steve bergegas menuju ke ruang yang sudah ditunjukkan oleh petugas resepsionis tadi. Dengan harapan besar Steve bisa merayu sang istri untuk memaafkan dirinya, Steve melangkahkan kaki menuju ke kamar sang istri.
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum," ucap Steve di depan pintu kamar. Sinta adalah wanita yang taat beragama, sangat patuh pada sang suami karena baginya ridho suami adalah surga untuknya.
"Wa'alaikum salam," jawab Sinta datar. Tidak biasanya dia menjawab seperti saat Steve datang.
Steve berdiri di depan pintu memandang sang istri yang masih terbaring di ranjang dengan selang infus masih menempel di tangan kirinya.
Sinta sama sekali tidak memandang ke arah Steve. Dia mengalihkan perhatiannya pada benda pipih berbentuk persegi panjang itu dengan bahu apel tergigit sebagai logo belakang.
Steve menjadi gamang melihat perubahan besar sikap sang istri. Di dalam hati Steve berpikir apakah Sinta sudah mendapatkan laporan dari sang ibu.
"Sinta ... Maafkan mas yang terlambat datang, ponsel mas hilang tertinggal di Jakarta. Mas harap kamu tidak marah dengan mas," ucap Steve berjalan mendekati sang istri.
Pak Imran yang menunggu Sinta akhirnya berpamitan pada Sinta dan Steve meninggalkan mereka berdua.
"Maaf, Tuan dan Nyonya Sinta. Saya pamit pulang terlebih dahulu, nanti jika butuh apapun silakan nyonya telepon saja," ucap Imran dengan hati-hati. Dia lebih baik meninggalkan majikannya yang sedang dalam masalah.
"Silakan, pak Imran. Terima kasih sudah mengantar istri saya," ucap Steve pada pak Imran. Steve jika di depan sang istri akan terlihat sebagai orang yang sangat menghargai orang lain. Padahal jika di luar dia tidak mau bergaul dengan para bawahan.
Pak Imran pun keluar dari kamar dimana sang nyonya dirawat lalu menutup rapat pintu masuk, agar tidak ada yang mendengar percekcokan di antara Steve dan sang istri.
"Sayang, jangan diam saja. Mas minta maaf. Oh ya, dimana baby kita, perempuan apa laki-laki?" Steve terus berusaha mendekati sang istri.
Sinta menatap sang suami dalam-dalam, dia melihat suaminya yang sepertinya lelah karena perjalanan jauh.
"Mas, apa benar ponselmu hilang?" tanya Sinta membuka suara.
"Benar, Sayang. Ponsel mas hilang, lagian saat kau mengabari pasti aku sedang mengemudi untuk pulang. Perasaanku mengatakan bahwa istriku pasti sangat membutuhkan aku. Dan ternyata semua yang aku pikirkan terbukti. Kau benar-benar sedang membutuhkan aku," jawab Steve dengan ekspresi yang begitu meyakinkan
Sinta terdiam, apa yang dikatakan sang suami memang benar. Jarak yang jauh menjadikan perjalanan lama untuk bisa sampai ke rumah.
"Sayang, mengapa kau diam saja? Boy atau girl baby kita?" Steve mengulang pertanyaannya kembali.
"Ah, Iya. Baby kita perempuan yang cantik. Untuk itu mas, kita sebagai orang tuanya harus bisa memberikan contoh yang baik untuk anak kita. Jangan sampai anak kita menerima karma atas dosa apa yang diperbuat oleh kedua orang tuanya. Kamu paham kan mas? Aku tidak ingin anak kita menanggung akibat dari kesalahan orang tuanya!"
Sinta menegaskan kata-katanya agar Steve tidak berbuat hal yang bisa membuat anaknya kelak menderita. Namun, Steve hanya terdiam tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh sang istri. Sudah terlanjur apa yang ia lakukan jelas akan berimbas pada anak.
"Mengapa kau diam saja, Mas?" tanya Sinta.
"Ah, itu. Aku sedang merasakan bahagia, membayangkan putri kita pasti akan tumbuh menjadi sosok wanita yang cantik," ucap Steve mengalihkan perhatian Sinta.
Sinta tersenyum, lalu berkata, "Benar, Mas. Kau sudah menengoknya?"
"Belum, boleh aku menjenguk putri kita?" tanya Steve ingin segera kabur dari dekat Sinta. Steve merasa sudah tidak nyaman karena pertanyaan Sinta.
"Masih ada di ruang bayi, Mas. Mas ke sana saja," ucap Sinta yang ternyata belum tahu akan kebusukan sang suami.
"Baiklah, Sayang. Mas akan ke sana. Mas ingin sekali melihat buah hati kita," ucap Steve sembari mengusap surai hitam milik sang istri. Sinta mengangguk tanda mengijinkan sang suami untuk pergi menengok sang putri. Namun baru akan melangkah, Sinta kembali manggil sang suami.
"Mas, tunggu ...!"
Sinta menghentikan langkah sang suami. Jantung Steve berdetak kencang, panggilan istrinya serasa seperti panggilan dari malaikat maut.
__ADS_1
"A ... Ada apa, Sinta?" tanya Steve dengan was -was.
Sinta bangkit dari duduknya, menatap ke arah kemeja sang suami.
"Sini, Mas. Mendekat Lah!" Sinta meminta Steve untuk mendekat.
Deg!
Deg!
Keringat dingin membasahi dahi Steve. Steve takut jika kebohongannya terbongkar. Steve kembali mendekati sang istri.
"A ... Ada, Sayang?" tanya Steve dengan gugup.
"Parfum siapa yang menempel di kemeja mas ini?" tanya Sinta menunjuk kemeja Steve.
Glek!
Steve baru tersadar jika dia belum berganti pakaian. Menjumpai sang istri tidak ada di rumah membuat Steve panik dan tidak sempat untuk berganti baju.
"Mmm ... Tidak ada bau lain selain parfum yang biasa mas pakai." Steve mencoba menghirup bau kemejanya sendiri.
"Tidak, Mas. Jelas ini parfum orang lain. Dan baunya wangi harum dan aku yakin pasti ini adalah parfum mahal," sanggah Sinta yang yakin bahwa bau yang ia cium bukan berasal dari parfum yang biasa Steve pakai.
Steve terlihat panik saat Sinta mulai membandingkan parfum yang biasa ia pakai dengan parfum yang menempel di kemeja Steve.
"Kau salah, Sayang. Bau ini adalah bau parfum ku yang aku pakai, sudahlah. Aku akan menengok putriku terlebih dahulu!"
Steve berjalan cepat meninggalkan Sinta begitu saja, dia ingin cepat menghindar dari berbagai kecurigaan Sinta. Namun saat sampai di depan pintu, sang ibu mertua dan ayah mertua Steve datang menuju ke arah nya.
"Celaka! Bagaimana ini? Itu kan mama dan papa mertua?! Gawat! Bagaimana ini?!" gumam Steve sembari menutup mulutnya agar tidak berteriak karena panik.
Steve segera mencari akal agar bisa menghindar dari kedua mertuanya. Saat hendak melangkahkan kakinya, Clara sang ibu mertua memanggilnya.
"Steve! Mau kemana kau?!" teriak Clara menghentikan langkah Steve.
Glek!
Steve menelan kasar ludahnya, tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menghindar dari sang mertua.
"Mama ... Papa ...!"
Steve mencoba seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan manis dia menyambut sang mertua.
"Kamu mau kabur, Steve?" tanya sang ibu mertua dengan senyum sinisnya.
"Untuk apa kabur, Ma? Steve hanya ingin menengok putri Steve saja, Ma. Mama dan papa mau melihatnya? Kalau mau, mari ikut saya," ajak Steve dengan begitu percaya diri. Dia mengira jika apa yang diucapkannya mampu membuat sang ibu mertua teralihkan perhatiannya.
"Hmm ... Kau salah, Steve! Kami sudah dari kemarin menunggui kelahiran cucu kami. Dari mana saja kamu, kok baru datang? Apa dari bersenang-senang dengan perempuan itu?" ejek sang ibu mertua dengan senyum sinisnya.
Deg!
Deg!
"Gawat! Mengapa mereka lebih cepat sampai daripada diriku?! Dasar bod0h! Bukankah mereka memiliki pesawat pribadi! Dan anehnya mengapa aku memilih naik mobil dari pada naik pesawat?!" Steve merutuki kebodohannya sendiri. Lagi-lagi terlalu panik membuat Steve tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Mm ... Mama, Steve ke sini naik mobil pribadi Steve, jadi Steve terlambat sampai sini," jawab Steve hambar.
Sudah kepalang nanggung, maka Steve jatuh sekalian. Tampaknya dia sudah tidak bisa berkelit lagi. Tidak ada celah baginya untuk kabur dari kedua mertuanya itu.
"Baguslah, kita akan segera menyelesaikan semua karena Sinta sudah melahirkan dan tidak ada lagi yang bisa kau sembunyikan. Lihatlah sebentar lagi kekasihmu itu akan viral di media masa," ucap Clara dengan nada setengah mengejek. Kini sang menantu pengkhianat itu akan menerima balasannya.
Deg!
Deg!
__ADS_1
Jantung Steve berdebar dengan kencang. Seakan-akan ingin keluar dari sarangnya.
"Ma ... Steve mohon kali ini aja. Biarkan Steve melihat anak Steve terlebih dahulu dan ikut menemani Sinta dalam acara akikahan putri kami nanti. Aku mohon, Ma. Biarkan putri kami mendapatkan kebahagiaan bersama kedua orang tuanya di hari pemberian namanya," ucap Steve mencoba merayu sang mertua.