
Bik Inah menatap wajah majikan dengan begitu terheran. Tidak biasanya Tia berbicara seperti itu. Entah ada apa, bik Inah merasa bingung dengan sikap Tia yang tidak biasanya itu.
"Nyonya ... Mengapa nyonya berkata seperti itu? Tidak ada yang salah dari semua perbuatan dan perkataan sang nyonya.
"Tidak apa-apa, Bik. Tia hanya mikir saja, mumpung masih kita bisa bertemu, Tia ingin minta maaf. Takutnya ketika sudah tidak ada lagi kesempatan, kita masih punya salah pada orang," jawab Tia entah kenapa tiba-tiba dia berpikir bijak seperti itu.
Apa yang dilihat Tia dari status FB Sinta membuatnya tersadar. Untuk apa memamerkan sesuatu yang bukan miliknya dan ternyata tidak semua orang bisa menerima kebaikan orang lain. Seperti Sinta yang mengunggah semua makanan yang nyata-nyata dibelikan Tia untuknya.
"Oh, saya kira nyonya ada apa kok tumben bicara seperti itu," ucap bik Inah.
"Ini tadi habis lihat status Sinta, Bik. Saya heran mengapa Sinta begitu mudah melupakan kebaikan orang dan suka sekali mendapat pujian dari orang. Heran saya itu sama dia! Gak ada kapok -kapoknya juga!" celoteh Tia yang kesal dengan adik tirinya itu.
"Bukannya dari dulu nona Sinta emang begitu ya, Nyonya? Suka memanfaatkan kesempatan dan kebaikan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri," sahut bik Inah membenarkan apa yang Tia katakan.
"Iya benar, Bik. Entah kapan tuh anak bisa bertobat. Mengambil pelajaran dari berbagai kejadian yang sudah terjadi."
"Sudahlah, Nyonya. Sekarang tidak usah pedulikan dia lagi. Memiliki anak tidak juga membuatnya sadar. Anak nona Sinta sepertinya juga akan meniru ibu dan neneknya," ucap bik Inah menerka berdasarkan apa yang dia lihat di FB milik Tia tadi.
"Maksud, Bik Inah?"
"Dari yang bibik lihat tadi, anaknya nona Sinta akan mewarisi sifat dari ibu dan neneknya. Cara dia bergaya, cara dia menatap kamera semua bisa dilihat, Nyonya."
"Bibik hebat juga ya, bisa menilai seseorang dari tatapan mata dan gaya seseorang. Memang benar sih, tadi aja sewaktu berkenalan si Sherly beda dengan Hasan dan Hasna. Anak itu sepertinya enggan sekadar menyapa saudaranya. Gayanya juga seperti seorang bos."
"Benar kan, Nyonya? Semua itu bisa dilihat dari cara mereka bergaya hanya untuk memamerkan sesuatu," tandas Bill.
__ADS_1
"Iya sih, Bik. Sudahlah, memang apa yang ada di dalam diri seseorang, kita tidak tahu. Dia baik di depan tapi di belakang menusuk kita itu juga banyak," ucap Tia. Tia meracik bumbu balado kesukaan Hans sembari membicarakan kelakuan Sinta pada bik Inah. Memang wanita kalau sudah bertemu dengan yang cocok suka membicarakan orang lain.
"Kalau itu sih sudah banyak, Nyonya. Mengapa nyonya tidak katakan pada tuan Gunawan tentang kelakuan Sinta yang sudah keterlaluan?" tanya Bik Inah memberikan saran agar Tia mau melaporkan semua itu pada Gunawan.
"Benar juga, Bik. Semoga saja, Ayah akan mendengarkan saya ya, Bi. Walau bagaimanapun apa yang dilakukan Sinta itu sudah keterlaluan, bisa mengundang orang untuk berbuat jahat kepadanya. Pasti orang mengira dia orang kaya dan menjadi sasaran korban perampokan. Bisa bahaya sekali, Bi. Bisa-bisa rumah ayah yang jadi korban perampokan!" ujar Tia berpikir jauh akibat apa yang diakibatkan oleh perbuatan Sinta yang suka pamer kemewahan.
"Benar, Nyonya. Lebih baik nyonya sampaikan semua pada tuan Gunawan. Enak saja dia berbuat sesuka hatinya dan berakibat membuat keluarga nyonya jadi sasarannya?" Bik Inah juga merasa kesal pada Sinta.
Tok!
Tok!
"Assalamu 'alaikum, Tia ... Di mana kamu, Nak?" suara bariton milik Gunawan terdengar dari pintu depan.
"Nyonya, itu suara tuan Gunawan. Masyaallah, panjang umur tuan Gunawan. Baru aja kita bicarakan, tiba-tiba beliau datang ke sini!" ucap Bik Inah yang senang mendengar suara Gunawan datang. Pas sekali baru saja mereka bicarakan.
"Wa'alaikum salam, Ayah. Bagaimana kabar ayah, lama tidak berkunjung ke sini," sambut Tia pada sang ayah.
"Alhamdulillah, ayah baik. Maaf, ayah akhir-akhir ini sangat sibuk mengurus cabang perusahaan yang baru saja buka di Singapura. Oh, ya. Di mana anak-anak? Kenapa mereka tidak kelihatan? Bukankah ini liburan sekolah?" tanya Gunawan sambil celingukan mencari keberadaan sang cucu.
"Maaf, Ayah. Mereka liburan menginap di rumah Aris. Kata Hasan dan Hasna, mereka ingin merasakan rumah baru om mereka," jawab Tia.
"Sayang sekali ya, padahal ayah sudah bawa oleh-oleh banyak dari Singapura. Nanti kamu kirimkan ke sana kalau longgar," ucap Gunawan menyerahkan beberapa paper bag pada Tia dan menyisakan dua paper bag di sampingnya.
"Ini semua untuk Hasan dan Hasna?" tanya Tia meminta penjelasan pada sang ayah agar tidak keliru.
__ADS_1
"Ada untukmu dan untuk Hans juga. Sedangkan yang ini untuk Sinta dan Sherly," jawab Gunawan sambil tersenyum.
"Yah, ada yang ingin Tia sampaikan pada ayah tentang Sinta," ujar Tia duduk di samping sang ayah.
Gunawan menautkan alisnya karena heran apa yang terjadi pada sang anak tiri itu.
"Memang apa yang terjadi pada Sinta? Apa dia berulah lagi?" tanya Gunawan.
"Ayah lihat dan baca sendiri unggahan dia di laman FB nya!" Tia menyerahkan ponselnya yang sudah ia terbuka aplikasi FB.
Gunawan mengambil ponsel milik Tia dan melihat serta membaca apa yang Sinta unggah di beranda Facebook miliknya.
Gunawan membelalakkan matanya, dia heran bagaimana sang anak tirinya itu bisa makan makanan mewah. Padahal Sinta termasuk orang yang sangat pelit soal makan. Di rumah saja jarang Sinta membeli makanan mewah, hanya makan masakan pembantu dengan menu sederhana.
"Apa maksudnya si Sinta ini, Tia?" tanya Gunawan belum paham apa maksud Tia.
"Itu si Sinta memosting makanan mewah yang tadi siang Tia belikan di restoran. Dan ayah bisa lihat kalau dia yang membelinya. Apakah hal itu tidak akan memancing para penjahat untuk mendekat? Mengingat Sinta posting makanan mahal, padahal itu saja Tia yang belikan. Bukannya mau mengungkit pemberian Tia. Tapi kalau begitu kan nanti rumah ayah yang menjadi incaran penjahat!" jelas Tia yang tidak suka dengan sikap Sinta.
"Jadi dia posting makanan yang kamu belikan tadi siang? Kamu yang traktir Sinta dan Sinta upload seolah dia yang beli sendiri, begitu kah?" tanya Gunawan memperjelas apa yang ingin disampaikan oleh Tia.
"Benar, Ayah. Kebiasaan Sinta posting barang mewah pasti akan mengundang penjahat, Yah. Rumah ayah yang akan jadi sasaran kejahatan para perampok," imbuh Tia dengan wajah seriusnya.
Gunawan menghela napas dalam-dalam, dia masih tidak mengerti mengapa Sinta terus membuat masalah.
__ADS_1
"Sepertinya Sinta perlu diberi pelajaran! Dia belum sadar juga jika sikapnya akan merugikan orang lain!!"