Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 77


__ADS_3

Tenggorokan Ridho tercekat, tidak bisa berkata-kata. Dia tidak tahu harus bagaimana, takut jika salah bicara, kedoknya akan diketahui oleh Wulan.


"Mas ... Kamu kenapa diam saja?" tanya Wulan terheran dengan sikap sang suami yang tiba-tiba diam, tidak membalas ucapannya.



Dada Ridho bergemuruh dahsyat. Dia semakin takut jika sang istri akan mengetahui semua perbuatannya.



"Tidak hanya ikut berpikir saja bagaimana uangmu bisa hilang begitu saja!" jawab Ridho sembari melirik ke arah Wulan.



"Wulan juga heran, Mas! Andai ini tidak malam, sudah aku datangi pihak bank!" geram Wulan sembari mondar-mandir di depan Ridho.



Ridho mematung, dia lebih baik diam saja untuk saat ini. Entah besok bagaimana jadinya, jika Wulan tahu kalau tabungannya sudah berkurang maka pasti akan mengamuk.



"Sudahlah Wulan lebih baik kau beristirahat, jangan terlalu lelah, ingat kau baru saja dioperasi. Tidak boleh terlalu capek," ucap Ridho membujuk Wulan agar tidak memikirkan uangnya yang hilang.



Ridho mengira jika ucapannya bisa membuat Wulan merasa tenang. Bagaimana bisa tenang jika uangnya habis dan dipermalukan di butik oleh Tia? Sosok yang selama ini dihina dan benci. Sungguh peristiwa di butik itu membuat Wulan menjadi kesal.


__ADS_1


"Diam kamu, Mas! Kau tidak merasakan bagaimana rasanya dihina di depan umum! Asal kamu tahu mas orang yang menghinaku adalah orang yang paling aku benci!"



"Siapa orang yang berani menghinamu, Wulan?!" Ridho pura-pura peduli pada keluh kesah Wulan.



Mata Wulan menyala marah mengingat bagaimana dirinya dipermalukan.



"Tia, Mas. Tia yang menghinaku di depan pelanggan lain!" Wulan mengepalkan kedua tangannya, surai hitam sebahu itu sudah berantakan tidak beraturan.




Dahi Wulan berkerut, pertanyaan Ridho membuatnya berpikir. Bagaimana bisa Tia berada di butik yang mahal. Bukankah dirinya sama sekali tidak pernah pergi ke butik sebelumnya. Pikiran Wulan kembali dimana Tia masih menjadi istri Ridho.



"Kak, aku tidak pernah ke butik. Aku tidak ingin menghamburkan uang mas Ridho, Mbak," ucap Tia saat Wulan mengajaknya ke butik untuk beli baju yang terawang dan minim bahan.


Berapa saat kemudian ....


"Mas ... Benar katamu, dulu Tia tidak pernah mau pergi ke butik, apa dia sekarang berubah menjadi wanita bayaran?" Tangan kanan Wulan melingkar di dada sedangkan tangan kirinya memegang bibirnya. Wulan terlihat sangat serius.


__ADS_1


"Tunggu ... Kau bertemu Tia? Apa kau tanya dimana surat tanah itu?" tanya Ridho yang hampir kelupaan dengan surat tanah yang dia cari. Ridho menatap penuh harap pada Wulan.



"Surat tanah? Tadi aku juga tanyakan surat tanah itu, dan gara-gara pertanyaan itu aku dihina oleh pembeli yang ada di sana. Para wanita rese itu mengatasi aku sebagai wanita miskin dan pelakor yang merebut harta dan suami Tia!!" geram Wulan mengingat saat dia tanyakan surat tanah milik Ridho.



"Memang apa jawaban Tia hingga kau disebut sebagai Pelakor perebut harta, suami orang?" Ridho penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh Tia, hingga Wulan dihina seperti itu.



"Kata Tia, surat tanah itu semua atas nama Tia karena dulu yang membeli adalah Tia. Hanya saja waktu beli tanah itu, Tia masih menjadi istri mas Ridho. Apa benar itu, Mas?" todong Wulan.



Glek!



Ridho mendadak gugup, di dalam hati apa yang dikatakan oleh Tia semua itu adalah benar. Dulu sewaktu Ridho masih hidup satu atap bersama Tia, memang pernah Tia meminta Ridho untuk menemani dirinya membeli sebidang tanah pekarangan di kampung halaman Tia. Itupun karena bujukan Meri.



"Mas! Mengapa kau diam saja hah! Benarkan apa yang dikatakan oleh Tia? Lantas kenapa kau mengaku kalau tanah itu adalah milikmu, Mas?!" Wulan menarik kerah kemeja sang suami yang berdiri di depannya.



Ridho terdiam, berdiri tanpa bergerak. Pasrah saat Wulan menarik kerah kemejanya. Ridho terjebak dengan kata-katanya sendiri. Bingung harus menjawab apa pada Wulan.

__ADS_1


__ADS_2