
Sementara itu di sekolah Hasan dan Hasna. Aris dengan merapikan rambutnya di depan spion mobilnya.
"Siiip ... Sudah ganteng," gumam Aris di depan cermin spion mobilnya. Dia pun turun dari mobil dengan cool. Entah mengapa Aris bersemangat menjemput kedua keponakannya.
Aris menunggu sang keponakan di depan kelas Hasna, berbaur bersama ibu-ibu yang lain. Tidak jarang ibu-ibu muda itu mencuri pandang ke arah Aris. Aris pun sedikit grogi karena baru pertama kali dia menjemput keponakannya.
Setelah menunggu lama, semua anak sudah kelar, hanya Hasna yang belum. "Hasna ...." Aris memanggil sang keponakan, dia nekat masuk ke dalam kelas Hasna karena dirasa sudah lama menunggu.
"Anda pamannya, Hasna?" tanya Bu Devi memastikan bahwa yang ada di depannya adalah paman dari muridnya.
"Benar, Bu. Saya pamannya, tadi kita sudah bertemu di warung makan," jawab Aris dengan senyum yang ramah.
"Oh, iya. Maaf ya, Pak. Hasna sedari tadi mengantuk, jadi saya harap bapak bisa menggendongnya," ucap Devi.
Hasna memang sudah tertidur di mejanya.
"Baiklah, Bu. Oh ya, bisa panggil saya mas atau om saja," ucap Aris sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, baiklah. Kalau begitu saya panggil mas saja. Saya kira Anda sudah memiliki keluarga sendiri," jawab Devi malu-malu.
"Kebetulan belum laku, Bu. Masih dalam pencarian ini, berharap bisa mendapatkan bidadari yang Sholihah," jawab Aris asal.
"Oh begitu, semoga disegerakan menemukan jodoh yang tepat ya, Mas. Baiklah, silakan bawa Hasna, karena saya akan segera rapat dengan pimpinan yayasan ini." Devi mempersilakan Aris untuk membawa Hasna yang ketiduran.
"Terimakasih, Bu. Saya akan bawa Hasna segera." Aris melangkah masuk ke dalam kelas dan menggendong Hasna. Di luar sudah berdiri Hasan dengan wajah yang ditekuk, pasalnya dia sudah terlalu lama menunggu.
"Kami permisi dulu, Bu guru," ucap Aris berpamitan pada Devi sambil menggendong Hasna. Tas Hasna digendong di belakang sedangkan Hasna digendong di belakang. Devi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dia kagum pada Aris yang terlihat begitu menyayangi anak kecil. D egan keponakannya saja dia begitu sayang, apalagi nanti dengan anaknya sendiri.
Aris membawa Hasna masuk ke dalam mobil dan menidurkannya di jok tengah, sedangkan Hasan duduk di depan bersamanya.
"Baiklah, ayo kita pulang. Sebagai permintaan maaf om yang sudah membuat kamu lama menunggu, om akan mentraktir mu rujak es krim. Kamu mau?" tanya Aris pada Hasan yang terlihat cemberut.
"Benarkah, Om? Okey ayo kita let's gooo ...." Hasan kembali bersemangat. Aris pun melakukan mobilnya meninggalkan sekolah Hasan dan Hasna untuk Kemabli pulang.
***
Tiin ...
Tiin ...
Suara klakson mobil Aris memasuki halaman rumah Tia yang besar dan mewah. Rumah yang mereka bangun dengan penuh cinta dan perjuangan. Berharap rumah ini yang akan selalu menjadi tempat kembali anak-anaknya kelak ketika sudah dewasa.
"Assalamu 'alaikum, Mama ...." Hasan masuk rumah dengan berteriak. Entah mengapa siang ini Hasan terlihat menahan kesal.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, Kak. Eh ... Hati-hati dong jalannya. Ada apa kakak kok cemberut begitu?" tanya Tia menyambut kedatangan anak -anaknya.
"Hasan gak kenapa -kenapa, Mah. Hanya kesal aja deh ...."
"Ya udah, lebih baik kakak lepas sepatu dan ganti baju dulu sana gih, nanti cerita lagi setelah makan siang bersama. Mama buatin setup markoni lho untuk kalian," ucap Tia seraya memeluk satu persatu anak-anaknya.
"Mama masak setup markoni kesukaan Hasna?" tanya Hasna dengan wajah yang ceria. Sudah lama dia tidak merasakan setup markoni buatan sang mama. Mamanya selalu sibuk bekerja hingga lupa memenuhi kebutuhan batin sang anak.
"Iya, Sayang. Maafkan mama ya, baru sekarang bisa buatin setup markoni kesukaan adek," ucap Tia dengan lembut. Dia sangat terharu dan bahagia melihat senyum yang merekah di bibir Hasna. Senyum yang beberapa hari ini jarang sekali dia lihat.
"Assalamu 'alaikum, Mbak," sapa Aris yang masuk ke rumah setelah memarkirkan mobilnya.
"Wa'alaikum salam, Aris ...." Tia menghampiri Aris yang datang dengan membawa rujak yang ia beli sebelum sampai di rumah Tia.
"Mbak, ini rujak untuk mbak. Aris yakin mbak pasti suka kan?" Aris menyerahkan bungkusan plastik yang berisi rujak.
"Waaah ... Mbak sangat suka sekali, terimakasih, Aris. Oh ya kenapa si Hasan merajuk seperti itu?" tanya Tia penasaran dengan apa yang terjadi dengan anaknya.
"Hehehe ... Tadi waktu beli rujak es krim, eh ... Es krimnya habis jadi kembali manyun lagi dia. Kebetulan juga tadi tidak lewat mini market jadi gak bisa mampir. Biar nanti Aris belikan di mini market ujung jalan bagian timur itu," jawab Aris mengekor sang kakak ke dapur.
"Kamu sudah makan, Ris?" tanya Tia sambil menuang rujak ke dalam mangkok.
"Sudah sih, Mbak. Tadi mampir di warung gudeg yang dekat dengan sekolah Hasan dan Hasna.
"Itu gampang, Mbak. Warungnya buka sampai malam kok, kita bisa makan malam di sana, suasananya sangat menyenangkan, ada mainan juga untuk anak-anak," ujar Aris lagi. Dia mengambil tempat duduk di meja makan.
Tidak berapa lama kemudian, Hasna dan Hasan yang sudah berganti baju bersama mbak Yuni ikut duduk di samping Aris.
"Ini setup untuk Kak Hasna, dan ini setup untuk kak Hasan." Tia meletakkan mangkok di depan Hasan dan Hasna.
"Mama kok sekarang panggil Hasna jadi kakak sih? Kenapa?" tanya Hasna heran dengan perubahan panggilan dari Tia.
"Mama panggil kakak karena sebentar lagi kan Hasna jadi kakak untuk dedek yang ada di dalam perut mama. Hasna suka tidak jika dipanggil kakak? Kalau jadi kakak kan nanti kayak kak Hasan ini, bisa jadi pemimpin untuk adiknya. Bagaimana, Hasna suka tidak?" tanya Tia pada Hasna.
Hasna tampak terdiam dia masih terngiang apa yang dikatakan oleh Alya sewaktu masih menjadi guru. Kata Alya, jika punya adik lagi maka ayah dan ibunya tidak akan sayang lagi. Kedatangan adik baru akan membuat kasih sayang orang tua akan berkurang dan hanya adik bayi yang akan diperhatikan oleh mama dan papanya.
"Ma ... Hasna tidak mau dipanggil kakak! Hasna hanya ingin dipanggil adek. Hasna tidak ingin punya adek. Kata Bu Alya, jika punya adek maka Hasna tidak lagi disayang oleh mama dan papa!" Seru Hasna.
Tia dan Aris terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Hasna.
"Hasna, apa yang kamu katakan, Nak? Tidak ada orang tua yang akan memperlakukan anaknya seperti itu. Siapa yang telah mempengaruhimu Hasna percayalah padamu mama dan papa tidak akan berbuat seperti itu," tegas Tia pada Hasna anaknya.
"Tidak, Mah. Hasna yakin pasti Mama akan lebih sayang pada dedek bayi daripada Hasna, semua itu yang mengatakan adalah bu guru Alya dia yang sudah mengajarkan semua itu pada Hasna."
__ADS_1
Hasna yang sedang kesal dengan dia tiba-tiba pergi meninggalkan dia dan Aris juga Hasan yang masih makan.
"Hasna ... tunggu Mama, Nak!"teriak Tia pada Hasna, namun Hasna sama sekali tidak menggubris teriakan Tia hingga Tia pun akhirnya mengejar Hasna. Hampir saja dia tersandung untunglah ada Hans yang datang tepat pada waktunya.
"Mbak Tia ...!" teriak Aris.
"Mama ...!" teriak Hasan.
"Sayang, kamu harus hati-hati ingat kamu serta mengandung anak kita!" seru Hans memperingatkan Tia
"Tapi, Mas! Hasna marah, aku harus mengejarnya," seru Tia yang tetap ingin mengejar Hasna, namun Hans cegah.
"Dengarkan Tia, biar mas yang berbicara dengan Hasna sesekali dia harus diberi pelajaran agar bisa menghargai apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Jika dibiarkan saja maka anak itu akan menjadi dan semakin keras kepala.
"Jangan kasar pada Hasna, Mas. Dia ada dalam pengaruh Alya, Alya yang sudah mencuci otaknya dengan mengatakan kalau orang tua memiliki adek baru maka dirinya tidak akan disayang oleh orang tuanya lagi," ucap Tia mencegah Hans memarahi Hasna.
Hans yang masih memakai pakaian kerjanya mencebik kesal dengan wanita yang bernama Alya itu.
"Kurang ajar! Alya benar- benar wanita berhati iblis. Aris! Apa kau masih mempertahankan wanita yang tega membuat seorang anak benci pada adik dan ibunya sendiri?" tanya Hans tiba-tiba pada Aris. Hans tidak ingin Aris salah dalam memilih pasangan.
"Tidak, Mas. Aris sudah tahu siapa sebenarnya Alya. Tadi Aris datang ke sini juga untuk mengatakan pada mbak Tia, kalau Aris sudah putus dengan Alya. Aris sudah memergoki sendiri ketika Alya bercinta dengan lelaki lain. Sungguh, Mas. Aris sudah tidak sudi lagi berhubungan dengan wanita berhati iblis itu," jawab Aris dengan tegas.
Semua kini terungkap sudah bahwa Alya bukanlah wanita yang baik. Dia hanya memanfaatkan Aris saja, tidak ada cinta untuk Aris di hati Alya.
"Bagus, Aris. Masih banyak wanita yang lebih baik dari Alya. Mas yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi."
"Terimakasih, Mas. Semua ini juga karena kalian yang berusaha untuk memberitahu Aris tentang siapa sebenarnya Alya itu. Oh, Ya, Mas. Sebaiknya Aris ke rumah sakit, hari ini mama diijinkan pulang oleh dokter, hampir saja Aris lupa. Aris permisi dulu ya, Mas. Nanti Aris kabarin lagi soal mama," ucap Aris berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Hans untuk salaman.
"Hati-hati, Ris. Jangan ngebut, sampaikan salamku pada mama dan papa. Mintakan maaf jika mbak tidak menjenguk karena takut insiden seperti sebelumnya terjadi lagi," ucap Tia pada sang adik, titip pesan untuk mama dan papanya.
"Okey, Mbak. Nanti Aris sampaikan pada mama dan papa. Aris permisi dahulu, Assalamu 'alaikum," ucap Aris pamitan pada kedua kakaknya itu.
"Wa'alaikum salam," jawab Hans dan Tia serempak.
"Tia, ijinkan mas untuk berbicara dengan Hasna," pinta Hans lagi.
"Mas ... Jangan sampai Hasna mengira mas juga membela bayi yang ada di dalam kandungan Tia ini. Hasna pasti juga tidak senang jika papanya juga tidak membelanya. Semua membela bayi ini, tentu saja Hasna akan semakin benci dengan adiknya," jelas Tia mengungkapkan apa yang dia rasa jika semua memarahi Hasna. Kejadian waktu Tia kecil pasti akan terulang kembali.
Hans termenung mendengar apa yang dikatakan Tia padanya. Kemudian Hans sadar jika apa yang dikatakan istrinya itu semuanya benar. Sudah pasti jika Hans ikut memarahi Hasna maka Hasna akan merasa sendiri, tidak ada yang sayang kepadanya. Hans tidak mu itu terjadi pada sang putri kesayangannya.
Tia menatap Hans dengan penuh harap bahwa sang suami mau mendengarkan apa yang dia inginkan.
"Baiklah," pasrah Hans menuruti kemauan istrinya. Hans hanya bisa mendukung Tia dengan memberikan usapan ringan di kepala sang istri hingga membuat senyum di wajah Tia merekah.
__ADS_1
"Lebih baik kamu istirahat dulu, Sayang. Jangan terlalu memfokuskan Hasna, karena kamu juga harus fokus sama calon anak kita," nasihat Hans membuat Tia kembali berpikir. Saat ini, Hasna sudah semakin menjadi kepadanya. Haruskah ia menurut kepada perkataan suaminya untuk beristirahat siang ini? Baiklah, Tia akan beristirahat sebentar dan kemudian ia akan ke kamar Hasna untuk memberikan anaknya pengertian. Setidaknya, ia bisa bersikap adil kepada calon anaknya agar tetap berkembang sehat di dalam perutnya.