Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 81


__ADS_3

"Hasna apa yang kena, Nak?" Tia mengecek tangan dan kaki Hasna, dia membolak-balikkan tubuh sang anak takut terkena tumpahan susu panas.


Hasna menunduk merasa bersalah, "Maaf, Ma." cici Hasna.


Tia bernafas lega, untunglah Hasna tidak ketumpahan. Ia khawatir dan lupa memberitahu Hasna jangan menyentuh wajan panci panas, karena keteledoran nya Hasna hampir saja ketumpahan susu panas.


"Hasna duduk di situ, biar Mama bersihkan lantainya." ucap Tia menyuruh Hasna duduk di kursi, dia tidak memarahi Hasna karena ini juga salah dirinya karena teledor.


Hasna menggeleng, dia mengambil kain lap dan pel. "Biar Hasna aja yang beresin, ini kan salah Hasna. Jadi pancinya jatuh." ujar Hasna kemudian mengambil wajan panci dan menaruhnya di wastafel, lalu mengepel tumpahan susu di lantai.


Tia hanya bisa tersenyum dan mengangguk atas permintaan sang anak yang menyerahkan diri untuk bertanggung jawab atas yang sudah dia perbuat, Hasna tahu itu kesalahan nya karena tidak hati-hati.


Dapur di sibukkan dengan ibu dan anak yang berkutik pada alat dapur masing-masing, Tia memanaskan kembali susu full cream dan Hasna sudah selesai membersihkan tumpahan susu di lantai.


"Mangkuk buahnya Hasna taruh dimana, sayang?" tanya Tia pada Hasna yang tengah asik menyemili parutan keju. Dia memilih duduk di kursi selagi sang Mama menyiapkan masakannya.


"Hasna taruh di dalam kulkas, Ma." sahut Hasna membuat Tia menepuk keningnya sendiri.


Tia mengambil buah dari dalam freezer, Hasna sengaja menaruh buahnya dalam freezer agar cepat dingin dan segera di konsumsi.


"Tunggu buahnya dingin dulu Ma baru nanti di taruh susu sama parutan keju, pasti enak." ucap Hasna membayangkan betapa enaknya sop buah buatan sang Mama.


"Mama lupa bilang sama kamu, sop buahnya kita buat jangan dingin soalnya Hasan baru aja sembuh. Kalau Hasna mau dingin nanti Mama kasih es batu, tapi …" Tia tampak berpikir mengetuk dagunya dengan ibu jari, Hasna menunggu lanjutan perkataan sang Mama.


"Hasna juga jangan pakai es ya, nanti tenggorokan nya sakit seperti Hasan." kata Tia melanjutkan ucapannya yang tergantung, Hasna hanya mengangguk. Menurut nya tidak masalah jika sop buah tidak di campur es batu, tidak menghilangkan citra rasa dari sop buah itu sendiri.


"Siap! Sudah jadi, ayo kita bawa ke meja makan." ucap Tia setelah menaburi keju parut di atas sop buah yang sudah jadi.


Tia menaruh mangkuk besar berisi sop buah di atas meja makan, Hasan masih berada di sana dan di susul Hasna mendudukkan dirinya di samping kursi Hasan.


"Hasan sama Hasna habis ini tidur siang ya, sebentar lagi kalian masuk sekolah kembali." ucap Tia sambil menuangkan sop buah ke mangkuk kecil lalu memberikan nya pada Hasan dan Hasna.


"Huft … cepat sekali libur sekolah berakhir, rasanya baru kemarin." sahut Hasna menghela nafas.

__ADS_1


"Aku tidak sabar masuk sekolah, mau ketemuan teman-teman. Bosan di rumah terus." ucap Hasan sambil menyuap satu sendok sop buah kedalam mulutnya.


"Itu karena kak Hasan sakit jadi harus istirahat di rumah." celetuk Hasna pada Hasan.


"Enaaak! Sop buah tanpa es batu ternyata enak, Ma. Apalagi di tambah yogurt sama parutan keju." ucap Hasna dengan mata berbinar memuji sop buah buatannya dan sang Mama.


"Rasanya lebih mengarah ke salad buah tapi rasanya tidak kalah enak dari sop buah pada umumnya, malah ini jauh lebih enak." puji Hasan membuat Tia tersipu mendapat pujian dari anak-anak nya.


Hasan memakan satu suapan terakhirnya, kini mangkuk berisi sop buah tanda tanpa tersisa.


"Wah … lagi makan apa ini." Bik Inah dari pintu belakang melihat majikan dan kedua anaknya terlihat bercerita di meja makan, segera Bik Inah menghampiri nya.


"Ini Bik, Mama buat sop buah rasanya enak banget deh Bik." sahut Hasan yang sudah selesai dari kegiatan makannya.


"Bik Inah dari mana, kok lewa pintu belakang? Sini Bik makan sop buah, saya tadi buat." Tia menepuk kursi makan di sampingnya menyuruh Bik Inah duduk di sebelahnya.


"Iya, Nyonya. Nanti Bik Inah cicip sop buah nya, tadi habis bersih-bersih halaman belakang sama Mbak Yuni belum selesai, ini mau ambil minum buat di halaman. Sepertinya kalau di taman pohon mangga enak." ucap Bik Inah di akhiri kekehan di akhir kalimatnya, membayangkan jika halaman belakang di tanami pohon mangga.


"Bik Inah lanjut ke belakang dulu ya, Nyonya." pamit Bik Inah kembali ke halaman belakang sambil membawa sebotol air mineral dan dua gelas plastik.


"Apa minta temani Mas Hans saja ya, tapi aku takut ganggu." gumam Tia menimbang antara ingin menghubungi Hans atau tidak, ponsel sudah dia pegang tapi enggan menelpon sang suami.


"Sepertinya aku sendiri saja, nanti pesan taxi online." guman Tia lagi setelahnya berdiri dari duduk santainya di sofa hendak merapihkan dirinya dan bergegas ke rumah sakit.


Tia memang terkadang mandiri, hanya saja di saat-saat tertentu Hans suka memanjakan istrinya begitu juga sebaliknya.


Taxi online yang di pesan Tia sudah standby di depan gerbang, Tia membuka pintu lalu masuk kedalam mobil.


"Sesuai titik alamat ya Bu, Rumah sakit." tanya supir taxi memiringkan badannya ke arah Tia yang duduk di kursi penumpang belakang.


"Iya Pak." jawab Tia seraya menganggukkan kepalanya.


Brum.

__ADS_1


Membutuhkan waktu 20 menit mobil taxi yang di tumpangi Tia mendarat tepat di depan Rumah sakit, Tia turun dari mobil. Dan melangkahkan kakinya ke dalam Rumah sakit. Tidak lupa memberi uang sesuai aplikasi dan mengucapkan kata terimakasih.


"Atas nama Bu Tia?" tanya sang dokter tersenyum ramah ketika Tia memasuki ruang periksa.


"Silahkan berbaring di atas Bu," ucap dokter wanita menunjuk kasur brankar.


"Saya periksa, ya Bu." Dokter tersebut mulai mengarahkan transducer USG di atas perut Tia.


Monitor memperlihatkan pergerakan janin di dalam perut Tia, mata sang dokter menatap layar monitor dan perut Tia secara bergantian lalu menaruh kembali transducer USG ke tempat nya semula dan mempersilahkan Tia menuju kursi untuk membicarakan pemeriksaan tadi.


"Bayi nya cukup sehat dan berkembang secara baik di dalam kandungan, hanya saja Bu Tia harus lebih banyak beristirahat dan banyak mengonsumsi air mineral agar janin tidak dehidrasi. Dan kurangi stres yang berlebihan karena akan mempengaruhi kondisi janin, selebihnya baik-baik saja tidak ada yang perlu di khawatir kan." ucap dokter menjelaskan apa yang harus Tia lakukan dan hindari.


"Baik, dok. Akhir-akhir ini memang saya jarang konsumsi air mineral, tapi selebihnya saja akan mengikuti apa yang dokter sarankan." ucap Tia mengangguk mengembangkan senyumannya.


"Saya kasih resep vitamin, nanti di tebus saja di apotik." kata dokter itu sambil menuliskan resep di atas kertas lalu menyerahkan pada Tia.


Tia menerima kertas resep itu dan mengucapkan terimakasih pada sang dokter, baru saja ia ingin memesan taxi dan pulang ke rumah. Tapi langkahnya terhenti saat indera penglihatan nya menangkap sosok yang ia kenali, untuk kedua kalinya Tia bertemu dengannya.


"Cloe? Kenapa aku sering bertemu dia di rumah sakit." gumam Tia penasaran karena ini bukan kali pertama dia memergoki Cloe di Rumah sakit.


"Apa aku ikuti saja ya." batin Tia, matanya menatap sekantung vitamin yang baru saja ia tebus di apotik.


Mata Tia mengikuti langkah Cloe menuju apotik saat Tia menebus Vitamin, Tia tidak tanu Cloe membeli apa disana. Yang pasti dalam penglihatan Tia. Cloe menerima sebuah botol capsul dari petugas apotik.


"Sebenarnya ngapain Cloe di sini." tanya Tia dalam hati semakin penasaran.


Tanpa pikir panjang, Tia mengikuti langkah Cloe. Rasa curiga semakin bertambah saat Cloe berhenti di sebuah ruangan, tapi lagi-lagi Cloe asing dengan ruangan itu.


Karena rasa penasaran yang tidak dapat di bendung, Tia memutuskan menunggu Cloe keluar dari ruangan itu berharap mendapatkan jawaban selama ini yang menjadi pertanyaan nya saat hari itu Tia menemui Cloe memasuki sebuah ruangan.


Namun sudah hampir 15 menit Tia menunggu Cloe, wanita itu tidak kunjung menampakkan dirinya. Rasanya ingin sekali Tia membuka ruangan itu dan melihat secara langsung apa yang Cloe lakukan di dalam sana.


"Apa sebaiknya aku pulang saja, tapi gerak-gerik Cloe mencurigakan." Tia menautkan kedua alisnya, menatap pintu ruangan itu penuh tanda tanya.

__ADS_1


Tia membulatkan matanya sempurna ketika Cloe keluar dari ruangan itu, segera Tia menyembunyikan tubuhnya di balik dinding karena Cloe seperti menatap ke arahnya. Merasa aman Tia mengintip dari balik dinding, Cloe sudah jalan meninggal ruangan itu lalu Tia membuntuti nya dari belakang.


"Aku takut Cloe berbuat jahat." batin Tia.


__ADS_2