Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 115.


__ADS_3

Para suster kembali mendorong bed Tia untuk kembali ke kamarnya. Hans berjalan dengan pikiran yang melayang entah kemana. Saat ini hanya bagaimana bisa mendapatkan pendonor darah yang darahnya sama dengan sang istri.



Bruk!



Hans yang tidak fokus jalan di belakang para suster, menabrak seseorang hingga orang itu hampir jatuh, namun orang itu mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.



"Maaf, Tuan," ucap Hans meminta maaf, dia tidak melihat siapa yang ia tabrak.



"Tidak apa-apa, Tuan," ucap laki-laki itu.



Hans mendongakkan kepalanya, dia terkejut saat melihat siapa yang ia tabrak.



"Tuan Hans? Benarkah ini tuan Hans?" tanya lelaki itu.



"Benar, Tuan? Anda siapa?"p tanya Hans yang penasaran dengan lelaki itu.



"Perkenalkan, saya Gunawan. Kita pernah bertemu dalam sebuah lelang bisnis," ucap lelaki berusia setengah baya itu.


__ADS_1


Hans melongo, dia tidak mengira akan bertemu dengan orang yang sangat dia harapkan.



"I ... Iya? A ... Anda benar-benar tuan Gunawan? Pemilik perusahaan properti dan makanan yang terkenal itu?" tanya Hans untuk meyakinkan dirinya lagi.



"Benar, bukankah kita pernah bertemu? Apa Anda tidak mengingat saya?" Gunawan menepuk bahu Hans.



Hans tidak memerhatikan jika para suster sudah sampai di kamar Tia. Dia masih asyik berbicara dengan Gunawan.



"Mmm ... Maafkan saya jika masih muda tapi mudah lupa, saya kalah dengan Anda. Anda masih tajam ingatannya sedangkan saya tidak bisa mengingat siapa Anda," ucap Hans dengan wajah yang malu.




"Sudahlah, hal biasa jika anak muda sekarang banyak lupanya. Oh ya, siapa yang sakit?" tanya Gunawan pada Hans.



"Saya sedang menunggui istri saya, Tuan. Namun saya sedang gelisah, istri saya sedang membutuhkan donor darah secepatnya. Namun malangnya, stok darah di rumah sakit ini tinggal satu saja. Jadi kami masih butuh pendonor lain," ucap Hans dengan menunduk sedih.



Hans menunduk sedih mengingat dia harus mencari dimana, apalagi kota ini bukanlah tempat tinggalnya.


"Sangat disayangkan, rumah sakit tidak memiliki stok yang cukup," ucap Gunawan.


"Benar, Tuan. Untuk itu saya harus mencari pendonor yang lain. Oh ya, tuan sendiri sedang menunggu siapa?"

__ADS_1


Hans lupa untuk bertanya karena sibuk dengan pikirannya tentang pendonor darah untuk sang istri.


"Saya menunggu anak saya yang baru saja melahirkan. Kebetulan istri saya tidak bisa menemani karena ada keperluan, keponakannya meninggal dunia. Jadi kami berganti tugas untuk menemani putri kami. Kamarnya ada di ujung deretan ini," jawab Gunawan.


"Wah, selamat Tuan. Anda sudah mendapatkan cucu. Dunia kita akan lebih terasa ramai jika ada suara tangis bayi. Semoga istri saya segera mendapatkan pendonor darah."



"Aamiin ... baiklah, Tuan. Saya permisi dahulu. Ini kamar istri saya," ucap Hans sembari menunjuk kamar Tia.



"Oh, Baiklah. Silakan, Tuan," ucap Gunawan dengan senyum ramah menghiasi ucapannya.



Hans pun masuk ke dalam kamar rawat inap milik Tia. Dia menatap kosong tubuh Tia yang sedang tidur.



"Tia, mas harap kita akan segera mendapatkan donor darah untukmu," gumam Hans dalam hati. Dia pun gusar karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan.



Hans duduk di kursi sofa sembari menatap ke atas langit-langit kamar sang istri.



"Tunggu ... Mengapa aku baru sadar jika lelaki yang aku temui tadi adalah tuan Gunawan. Bukankah tuan Gunawan itu bilang bahwa dirinya pemilik perusahaan properti dan makanan? Jadi lelaki itu tadi adalah ayah kandung Tia!!"



Hans yang semula tiduran, tiba-tiba tersentak dan bangun ketika mengingat siapa lelaki yang baru saja dia temui tadi. Hans baru sadar jika ayah kandung Tia adalah tuan Gunawan yang merupakan pemilik dari pengusaha bisnis properti dan Makanan.


__ADS_1


"Astaga ... mengapa aku terlambat untuk menyadarinya. Orang yang menjadi tujuan kedatangan aku dan Tia ternyata sekarang ada di dekat kami!!" pekik Hans sibuk dengan penyesalan akan keteledorannya. Kelemahan Hans yang banyak lupa menjadi sesuatu yang Hans syukuri.


__ADS_2