Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP 2 Bab. 12


__ADS_3

Gunawan sudah membuat perjanjian dengan Leo. Hal yang paling penting sekarang adalah anak yang dikandung Sinta memiliki seorang ayah. Gunawan tidak mau masalah Sinta memengaruhi nama baik perusahaannya.


Semua orang tidak tahu jika Sinta itu bukan anak kandung, yang mereka tahu Sinta adalah anak kandung Gunawan dan Clara.


Gunawan kembali ke Jakarta untuk menemui Sinta. Kemarin Sinta sudah boleh diajak pulang. Gunawan berencana untuk membahas semua ini pada Sinta.


"Sinta, karena kau sudah hamil maka papa harap kau terima keputusan papa. Tiga hari lagi kau akan menikah dengan orang yang sudah menaruh benihnya di rahimmu. Papa sudah menemukan orang itu. Nanti setelah anak itu lahir, terserah kau akan menceraikan dia atau tidak yang terpenting di mata dunia kau melahirkan dengan suami yang ada di sisimu!" ucap Gunawan dengan tegas.


Sinta hanya menunduk takut, tidak ada kata -kata yang terucap dari bibirnya. Sinta hanya pasrah pada keputusan ayahnya. Dia tidak mau menjadi momok untuk kelangsungan hidup perusahaan sang ayah.


"Baiklah, kalau kau sudah paham, persiapkan dirimu untuk pernikahan ini," ucap Gunawan seraya membelai lembut rambut anak tirinya itu. Walau sejujurnya Gunawan kecewa akan tetapi demi rasa sayang yang dulu pernah tercipta di antara mereka berdua.


Gunawan mengambil ponselnya untuk menghubungi Rustam.


"Rustam, persiapkan pernikahan Sinta tiga hari dari sekarang. Tidak perlu mewah, kita laksanakan ijab kabul di rumahku saja. Undang beberapa keluarga dan kerabat terdekat saja. Aku akan mengundang Tia dan keluarganya juga," ucap Gunawan memberi perintah pada sang asisten untuk mengurusi pernikahan Sinta.


"Siap, Tuan. Saya akan persiapkan semua," jawab Rustam patuh.


Gunawan pun menutup kembali ponselnya, dia bersiap ingin pergi ke rumah Tia sekaligus untuk bertemu dengan cucu-cucunya.


Gunawan diantar sopir menuju ke rumah Tia. Gunawan berharap Tia berkenan hadir di acara pernikahan Sinta. Mobil Gunawan melaju dengan kencang, ko Didi jalanan yang macet membuat perjalanan Gunawan lebih lambat. Walaupun demikian tidak menyurutkan langkah Gunawan untuk datang menemui anak dan cucunya.


"Assalamu 'alaikum," sapa Gunawan dari depan pintu.


Pintu yang terbuka membuat semua tahu siapa yang datang.


"Wa'alaikum salam, kakek ...." Hasan dan Hasna berlari menyambut kakeknya.


"Hasan ... Hasna ... Kakek sangat rindu dengan kalian. Bagaimana kabar jagoan kakek ini?" Gunawan memeluk dan mengecup kening satu persatu cucunya dengan penuh kasih sayang.


"Kami semua sehat, Kek," jawab Hasna dan Hasan serempak.


"Di mana mama kalian?" tanya Gunawan mencari Tia.


"Mama ada di kamar, mama jadi senang berhias, Kek," ucap Hasna yang mengadu kelakuan sang ibu pada kakeknya.

__ADS_1


"Oh ya? Emang mama kemana kok mama senang berhias?" tanya Gunawan yang juga heran dengan tingkah aneh sang anak kandung.


"Mama gak kemana-mana, Kek. Tapi semenjak dua hari yang lalu, Mama sering berhias," sahut Hasna sambil membawa boneka Barbie-nya.


"Baiklah, kakek akan coba tanya. Mungkin mama mau pergi ke mana gitu?" imbuh Gunawan.


Gunawan melangkah menuju ke kamar Tia.


Tok!


Tok!


"Tia, ini Ayah ... Bisa kita bicara sebentar," panggil Gunawan pada sang anak perempuan semata wayangnya. Hanya Tia yang kini menjadi keluarganya.


"Iya, Ayah. Sebentar ... Tia akan keluar," jawab Tia dari dalam kamarnya. Tidak berapa lama kemudian Tia pun keluar.


"Ayah, kapan ayah datang?" ucap Tia sembari mencium punggung telapak tangan ayahnya.


"Ayah baru saja datang, kebetulan ayah mengurus bisnis di Jakarta jadi bisa mampir. Wah ... Ku kelihatan sangat cantik, Tia?" puji Gunawan yang melihat anak perempuannya semakin cantik karena Tia mulai suka berhias.


"Iya, anak ayah sekarang cantik sekali. Memang mau ke mana?" tanya Gunawan sambil berjalan menuju ke ruang tamu.


"Tidak ke mana-mana, Ayah. Tapi hanya ingin terlihat cantik sama seperti teman-teman CEO yang lain. Mereka menjaga penampilan dan wajah mereka. Menyeimbangkan antara jabatan dan penampilan kita," jawab Tia beralasan.


"Baiklah, kalau begitu. Memang wanita itu harus pandai menjaga diri. Baik penampilan, wajah dan tentunya sikap. Jangan sampai karena tidak pandai mengurus diri, apa yang kita miliki akan menjadi milik orang lain." Gunawan menasihati anaknya untuk selalu menjaga penampilannya.


Tia tersenyum senang karena sang ayah mendukung apa yang diperbuatnya. Tia semakin senang dan akan giat merawat kecantikan wajahnya.


"Oh ya, tadi kata ayah ada yang ingin disampaikan ke Tia. Apakah itu?" tanya Tia pada Gunawan, ia ingat tadi saat memanggil dirinya, Gunawan ingin membicarakan sesuatu hal pada Tia.


"Benar, Tia. Ada yang ingin ayah sampaikan. Tiga hari lagi, ayah akan menikahkan Sinta. Sinta saat ini sedang hamil dan dia tidak tahu siapa ayah bayi yang dikandungnya. Setelah ayah selidiki ternyata ayah kandung bayi itu adalah salah satu narapidana kasus penjualan wanita. Demi menutup malu dan demi bayi tersebut mendapatkan pengakuan dari dunia, maka ayah berniat menikahkan Sinta tiga hari lagi."


"Astaga ... Sinta hamil?! Lalu sekarang apakah Sinta menerima keputusan ayah"


Tia terkejut mendengar jika saudara tirinya itu sedang hamil saat ini. Tia tahu jika Sinta adalah seorang janda beranak satu.

__ADS_1


"Mau tidak mau, Sinta harus menuruti perkataan ayah. Ayah tidak mau bisnis ayah terpengaruh jika Sinta punya anak tanpa pernikahan," ucap Gunawan yang mengatakan alasan mengapa Gunawan harus menikahkan Sinta dengan Leo.


"Seperti itu alasan ayah menikahkan Sinta. Memang sih hal yang sepele akan membuat nama baik perusahaan kita menjadi ikut terpengaruh." Tia membenarkan dan menyetujui semua yang direncanakan oleh Gunawan. Menurut Tia apa yang dikatakan oleh Gunawan semua adalah benar. Hal sepele akan bisa menghancurkan nama baik perusahaan.


"Kata anak-anak, kau baru sembuh dari sakit. Apa benar itu, Tia? Mengapa kau tidak bilang ke ayah kalau kau sakit. Kenapa, Tia?" tanya Gunawan yang kecewa dengan Tia yang tidak memberitahu perihal dirinya yang sakit.


"Tia sakit tidak sewajarnya, Yah. Ada yang mengirim guna-guna atau santet pada Tia. Kemarin lalu Tia sudah berobat dengan rukyah pada seorang ustadz. Tia bersyukur walau sakit akan tetapi tenaga Tia masih kuat untuk mengais rezeki," tandas Tia.


Apa yang menimpa diri Tia, sudah Tia terima dengan tersenyum. Hal itu menunjukkan betapa dirinya bersyukur terhindar dari hal yang bisa membuat diri Tia terjerumus dalam dosa.


"Putri ayah memang cerdas, bisa memahami semua ujian dengan baik. Rasa sakit mu kelak akan membawamu pada kejayaan," sahut Gunawan yang kini merasa memiliki kesibukan yang padat bukan main, hingga waktu untuk sang anak pun berkurang.


"Aamiin ... Terimakasih doanya, Yah. Tia merasa bersyukur masih ada yang sayang dan peduli pada Tia. Ayah, Aris dan mas Hans adalah lelaki yang selalu ada untuk Tia.


"Baiklah, ayah lega mendengarnya. Jika kau merasa sakit atau apapun, hubungi ayah. Ayah akan berusaha membantu. Kalau perlu ayah akan mencari kyai yang bisa membantu mu untuk terbebas dari guna-guna itu." Gunawan menawarkan bantuan pada Tia, dia merasa pasti ada seseorang yang berniat buruk pada anaknya. Gunawan berjanji akan mencari siapa orang itu.


"Ayah ... Aris dan Mas Hans sudah membawa Tia untuk rukyah. Kini tinggal penyembuhan dan sebentar lagi ustadz akan datang untuk mencari di mana buhul itu ditanam," jawab Tia.


"Benarkah? Kalau begitu syukurlah jika Hans dan Aris sudah membawa mu untuk dirukyah. Apakah kau punya feeling siapa kira-kira yang ingin membuatmu celaka?"


Gunawan menatap sang putri dengan tatapan penuh iba. Dia merasa kasihan pada putri semata wayangnya itu. Gunawan berjanji tetap akan mencari tahu siapa yang sudah membuat putrinya menderita.


Tidak berapa lama kemudian, seseorang mengetuk pintu rumah Tia.


Tok!


Tok!


"Assalamu 'alaikum ...."


Suara bariton terdengar dari arah pintu masuk. Tia yang mendengar meminta bik Inah untuk membuka pintu tersebut.


"Bik ... tolong lihat siapa yang datang," pinta Tia pada sang pembantu.


"Baik, Nyonya. Bibi akan lihat siapa yang penakut dan siapa yang paling kuat," celoteh bik Inah sembari bersiap jika tamu itu berniat jahat.

__ADS_1


__ADS_2