
Satu hari Sebelumnya ....
Di sebuah villa yang dilihat dari luar tampak menyeramkan, seorang pemuda sedang melakukan ritual agar dagangan yang ia buat laku dan disukai oleh konsumen.
"Wahai Raja jin junjunganku, datanglah ... Penuhi panggilan hamba mu ini," ucap Nigam merapal mantra memanggil jin yang menjadi sekutunya. Dengan khusyuk, Nigam terus merapal mantra.
Asap keluar dari dupa yang dibakar oleh Nigam. Muncullah sosok yang begitu menyeramkan. Berbulu panjang, taring sebesar gading gajah dan mata yang melotot mengeluarkan dar4h.
Dengan seringai yang mengerikan, Jin itu menemui Nigam. Jin yang merupakan milik keluarga Nigam secara turun temurun. Keluarga Nigam adalah keluarga penganut ilmu hitam. Susuk, guna-guna, teluh dan santet sudah menjadi hal yang biasa untuk mereka.
Keluarga Nigam memperoleh kekayaan dengan cara melakukan pemujaan. Lawan bisnis mereka akan disingkirkan dengan jalan mengirim santet atau teluh. Banyak gadis yang menjadi korban Nigam karena Nigam sendiri juga memakai susuk di mata dan bibirnya.
"Junjunganku, mengapa wanita yang aku inginkan sepertinya menjauh dariku, kesalahan apa yang aku lakukan?" Nigam bertanya pada junjungannya perihal Tia yang dirasa Nigam mulai menjauh.
"Ruuuaaarhgh ...."
Tiba-tiba tulisan Jawa muncul di dinding. Nigam membaca di dalam hati dan menerjemahkan dalam bahasa Indonesia. Hanya Nigam yang bisa mengerti artinya. Di dalam tulisan itu menjelaskan bahwa wanita yang dimaksud Nigam telah berhasil keluar dari pengaruh jin itu. Sekarang wanita itu terbebas dari pengaruh daya pikat Nigam.
Wajah Nigam terlihat memendam amarah, tangannya mengepal kuat. Jika seperti ini terus maka sudah bisa dipastikan, semua rencana balas dendamnya akan terancam batal.
"Tidaaak! Ini tidak boleh terjadi, aku harus bisa membuat Tia kembali bertekuk lutut kepadaku!" Nigam dengan penuh amarah melempar api pemujaan dengan dupa.
Wuuzz ....
Angin bertiup kencang, tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita. Nigam yang memejamkan matanya untuk mencoba konsentrasi, tiba-tiba mengerutkan alisnya. Dia merasa apa yang ia lakukan untuk mencoba mengirimkan santet pada Tia, ada yang menghalangi dirinya.
"Kurang ajar!! Siapa yang sudah menghalangi ku untuk membuat Tia kembali tunduk padaku!!" geram Nigam dengan muka yang sudah memerah menahan marah.
Nigam mencoba kembali memusatkan konsentrasi dirinya. Ia merapal mantra dengan foto Tia yang ada di baki persembahan. Nigam berulang kali membaca mantra dengan khusyuk, akan tetapi selalu ada bunyi ledakan yang mengiringi setiap dirinya menusuk foto Tia.
Lagi-lagi Nigam gagal! Dia menggeram marah. Usahanya tidak boleh gagal karena semua itu demi tujuan yang sudah ia bangun.
Nigam mengamuk semua yang ada di meja pemujaan ia lempar begitu saja.
"Aargh! Siaal ...! Ternyata tidak mempan, apa yang harus aku lakukan?!" ucap Nigam menggeram marah.
Rumah Tia yang ia tuju ternyata sudah dipagari dengan air rukyah yang disemprotkan mengelilingi rumah Tia.
Nigam duduk terpekur memikirkan apa yang harus ia lakukan. Sejurus kemudian, Nigam mendapatkan ide untuk bisa membuat hidup Hans menderita. Kali ini yang ia jadikan sasaran adalah orang terdekat Hans.
__ADS_1
"Hans, tidak akan kau kubiarkan hidup dengan tenang. Kau harus ikut merasakan bagaimana hidup dalam kegelisahan!" ucap Nigam dengan perasaan yang penuh kebencian.
Nigam berjalan keluar dari ruang pemujaan, dengan rasa kesal dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ingat kau harus bermain cantik, gunakan semua kepandaian mu untuk bisa masuk ke dalam rumah itu!" seru Nigam.
"Itu tugas untukku, Mas?"
"Benar! Masuklah, jangan sampai kau mengecewakan aku!!"
"Baik, Mas. Asal kau berjanji untuk segera menikahi ku!"
"Tentu saja, Sayang. Setelah keluarga itu hancur, aku akan segera menikah dengan dirimu!"
"Okey, aku pegang janjimu, Mas!"
"Kau bisa pegang janjiku, Sayang asal kau bisa bermain dengan cantik. Buatlah seolah dirimu adalah bidadari yang lemah lembut! Aku sudah gagal, maka kau tidak boleh gagal!!" Nigam berkata dengan penuh tanda penekanan.
"Baik. Aku akan lakukan dengan rapi, akan tetapi jangan salahkan aku jika wanita tua itu mengenalku! Dia pernah bertemu dengan ku saat terapi di rumah sakit. Waktu itu dia berteriak ketakutan gara-gara aku memukul Aditya, anak kita!"
"Tidak masalah, karena wanita tua itu aku buat gila. Aditya sekarang sedang apa?!"
"Sabarlah, aku sedang mengumpulkan uang untuk masa depan kita! Dan salah satu penghalang untukku bisa menguasai bisnis adalah Hans! Dia selalu mendapatkan tender besar, mengalahkan perusahaan ku!!"
"Jangan mengulur waktu lagi, Aditya akan semakin besar dan akan bisa bercerita. Saat ini usianya bisa aku atasi, tapi tidak tahu jika nanti kalau dia bertambah besar. Semua orang pasti akan tahu fakta sebenarnya!"
"Sudahlah, makanya kita harus bergerak cepat! Jangan sampai terlalu lama, karena waktu terus berjalan dan kamu tahu itu pasti akan berpengaruh pada usia Aditya yang terus bertambah!"
"Baiklah, Mas. Aku sudah bergerak, dan bisa mendapatkan hati lelaki itu. Bersyukur dia adalah teman kuliahku dulu, hingga tidak sulit bagiku untuk masuk kembali dalam hidupnya!"
"Bagus! Teruslah jaga dan jangan sampai lelaki itu curiga!!"
"Ok! Sudah mas, aku sedang bersama dirinya!" Aku di balkon rumah kakaknya, bermain bersama kedua anak musuh mu! Keduanya dititipkan padaku, sedangkan orangtuanya entah pergi kemana, katanya menjenguk nenek bocah ini! Sungguh menyebalkan sekali harus pura-pura baik di depan mereka!"
"Anak?"
"Benar, dan merek kembar!"
"Bagus! Lebih baik aku tutup dulu, nanti mereka akan curiga!"
__ADS_1
"Ya sudah!"
Nigam menutup ponselnya dengan seringai yang mengerikan. Namun, Nigam tidak tahu jika rumah itu sudah dipagari dengan pagar ghaib, tidak akan bisa masuk orang yang memiliki niat buruk dengan menggunakan jin sebagai perantaranya.
"Hans, aku akan membuat rencana lagi untuk bisa membuatmu tidak bisa lagi hidup dengan tenang!" Nigam mengepalkan tangannya kemudian melempar foto Hans dengan pisau lempar. Pisau itu tepat mengenai wajah Hans. Nigam tidak bisa membuat Hans celaka karena ada sesuatu yang membuat Hans terlindungi.
***
Sementara itu di rumah Tia, seorang wanita sedang menahan kesal karena terpaksa harus berperan menjadi guru dan calon adik ipar yang baik.
"Membosankan! Kenapa aku harus menyetujui permintaan Aris! Jika bukan karena janjiku pada mas Nigam, aku tidak sudi berpura-pura menjadi guru yang baik!" desis Alya menahan kesal.
"Tante, jawaban dari soal ini apa?" teriak Hasna pada Alya yang baru saja selesai menerima telepon dari Nigam.
"Soal nomer berapa, Cantik?" jawab Alya sambil berjalan menuju tempat Hasna.
"Nomer empat. Hasna belum paham dengan penjelasan Tante tadi siang di sekolah," jawab Hasna jujur. Memang dia belum paham dengan apa yang dijelaskan oleh Alya.
Dengan langkah malas, dan umpatan di dalam hati, Alya menghampiri Hasna dan membantu Hasna untuk mengerjakan tugas sekolah selama liburan.
"Nomer empat ini sangat mudah, mengapa kau tidak bisa!! Di sekolah kamu ngapain saja tidak memperhatikan Tante ngajar?!" hardik Alya menunjukkan sifat aslinya.
"Maaf, Tante, Hasna bukannya tidak memperhatikan akan tetapi Hasna benar-benar tidak paham," ucap Hasna yang mulai takut dengan Alya. Hasan ada di kamar sebelah, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan adiknya.
Alya mengambil napas dalam-dalam, dia harus menahan emosi agar semua rencana kekasihnya tidak berantakan.
"Hasna, maafkan Tante. Bukan maksud Tante memarahi mu akan tetapi semua juga demi kebaikan mu, Sayang," ucap Alya merubah gaya biasanya. Takut jika Hasna melaporkan semuanya pada sang ibu.
Hasna yang semula menunduk karena takut pun akhirnya mendongakkan kepalanya saat Alya memegang dagunya sembari berkata dengan manis.
"Iya, Tante. Hasna minta maaf karena Hasna bukan anak yang cerdas!" Hasna dengan mata sendunya menatap ke arah Alya. Berharap Alya akan mengerti akan dirinya yang tidak paham dengan mata pelajaran yang satu itu. Pelajaran matematika bukanlah pelajaran yang disukai Hasna.
Hasna paling suka pelajaran Seni. Seni melukis dan seni menyanyi merupakan pelajaran yang paling Hasna sukai.
Di sudut pintu, Hasan menyaksikan semua bagaimana sang adik sepertinya ingin menangis akan tetapi ditahan.
"Sudah aku duga jika Tante Alya sebenarnya tidak suka dengan anak kecil. Akan tetapi di depan paman mengapa dia begitu manis dan baik?" Hasan bertanya-tanya dalam hatinya melihat perubahan sikap Alya yang tiba-tiba baik, tiba-tiba keluar sifat aslinya.
Suasana tiba-tiba menegang, atmosfir terasa panas saat Alya mengetahui jika di depan pintu ada seseorang yang sedang mengintip apa yang dilakukannya di kamar Hasna.
__ADS_1
"Siapa yang ada di luar ?" teriak Alya yang tahu jika ada seseorang yang mengawasi dirinya saat ini.