
Malam harinya, Tia memulai aktivitas seperti biasa. Dia menyiapkan makan malam untuk suami dan kedua anaknya. Bik Inah dan Mbak Yuni juga membantu Tia.
"Bik, apa semua sudah siap?" tanya Tia sembari menata piring dan gelas.
"Sudah, Nyonya. Malam ini kita makan dengan sayur gudeg, dan tahu bacem. Seperti yang nyonya perintahkan tadi siang," ucap bik Inah mengaduk sayur yang ia panaskan.
"Alhamdulillah ya, Bik. Hari ini Tia ingin makan sayur gudeg. Sebenarnya sih ingin banget makan di restoran gudeg itu, tapi mau bagaimana lagi. Tadi gara-gara ada kuntilanak pirang semua jadi kacau!" gerutu Tia dengan bibir yang mengerucut.
"Kuntilanak pirang? Ada ya nyonya, kuntilanak pirang itu?" tanya Mbak Yuni yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan Tia dan bik Inah.
"Hahaha ... Iya tadi ada wanita kelakuannya lebih menyeramkan daripada kuntilanak. Tapi kuntilanak ini rambutnya pirang alias bule." Tia terkekeh baru sadar apa yang ia katakan membuat orang lain penasaran.
Bik Inah dan Mbak Yuni saling menatap, keduanya terbengong melihat sang majikan yang tertawa renyah. Mereka tidak tahu apa yang menyebabkan sang majikan bisa tertawa sampai segitunya.
__ADS_1
"Eh ... Maaf, Bik Inah, Mbak Yuni. Habisnya kalau ingat kuntilanak pirang itu kok jadi pengen tertawa," ucap Tia sembari menyeka air mata yang menitik di sudut matanya.
"Maaf, Nyonya. Saya kurang paham, siapa yang nyonya panggil kuntilanak pirang itu," ucap mbak Yuni yang dibuat Tia semakin penasaran.
"Kuntilanak pirang itu adalah wanita bule yang ingin menjadi mitra kerja mas Hans. Nah, karena mas Hans menolak, dia buat rencana agar saya cemburu, Mbak. Hampir saja sih saya memarahi tuan kalian itu! Untunglah ada CCTV yang bisa dijadikan bukti," jelas Tia dengan senyum yang masih mengembang jika ingat pada Merlyn.
"Pasti ... Wanita itu tidak hanya ingin berbisnis saja. Akan tetapi menjadikan bisnisnya itu untuk memikat tuan Hans! Benar kan, Nyonya?" tebak mbak Yuni.
"Nyonya, lebih baik nyonya tidak perlu khawatir. Serahkan semua ini pada Tuhan. Pasti akan ada jalan yang terbuka untuk masalah ini," ucap Mbak Yuni menghibur Tia.
"Benar yang dikatakan Yuni, Nyonya. Anda tidak boleh khawatir apalagi stres. Ingat nyonya sedang hamil dan lebih baik fokus pada kehamilan nyonya," ucap Bik Inah menguatkan apa yang dikatakan oleh mbak Yuni.
Tia manggut-manggut, memang saran dari dokter, Tia harus banyak istirahat dan tidak boleh stres.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan bik Inah dan mbak Yuni semua benar. Tia harus lebih percaya lagi pada mas Hans. Aku yakin mas Hans bisa mengatasi wanita itu dengan baik. Kata mas Hans lagi, mungkin keselamatan Tia juga diincar oleh mereka. Untuk itu Tia akan lebih banyak di rumah daripada keluar," sahut Tia bersemangat.
"Bagus, Nyonya. Hal yang utama adalah keluarga kita. Orang lain tidaklah perlu diperhatikan!" tegas bik Inah memberi semangat pada Tia.
Tia tersenyum melihat dua wanita yang sudah seperti ibu dan kakak baginya itu.
"Terimakasih, Bik Inah. Terimakasih, Mbak Yuni. Kalian sudah mengingatkan saya untuk lebih menjaga keluarga daripada mengurusi orang lain," ucap Tia sembari memeluk bik Inah dan mbak Yuni secara bergantian.
Sementara itu Hans dan anak-anak datang ke meja makan setelah mendengar bunyi nyaring suara Tia yang memanggil mereka untuk makan.
"Hasan, Hasna. Ayo makan yang banyak. Biar kalian tidur nyenyak," ucap Tia mengusap kepala kedua anaknya.
"Mama ... Kami tidak nafsu makan, Hasan merasa tidak enak badan," ucap Hasan lesu. Sudah dari kemarin Hasan menunjukkan kalau dirinya sedang tidak enak badan.
__ADS_1