
Dengan tubuh yang dipaksakan, Sinta mengambil buah yang ada di dapur. Berharap dengan makan buah, lambungnya akan terisi dan bisa mendapatkan tenaga kembali.
"Aku makan buah apel saja, sepertinya segar. Apalagi kalau ditambah sambal kacang," ucap Sinta. Tiba-tiba dia ingin makan apel yang diberi sambal kacang.
Seperti mendapat tenaga baru saat membayangkan sambal kacang, Sinta memanggil sang pembantu untuk membuat sambal kacang.
"Bi, kemarilah!" titah Sinta pada sang pembantu.
"Iya, Non. Ada yang bisa bibi bantu? Nona sudah bisa jalan ke dapur?" tanya sang pembantu dengan wajah yang menunjukkan kelegaan hati.
"Iya, Bi. Sudah agak mendingan. Tadi aku lapar dan melihat ada buah apel kok jadi pengen makan pakai sambel kacang ya? Bisakah bibi buatin aku sambal kacang sekarang?" tanya Sinta dengan wajah penuh semangat. Ia sudah membayangkan betapa segar dan lezatnya apel yang diberi sambal kacang.
"Sambal kacang yang untuk rujak itu, Nona?" tanya bibi dengan alis yang bertaut menjadi satu. Pasalnya bukankah tadi sang majikan sakit perut dan kini malah meminta dibuatkan sambal kacang.
"Benar, Bi. Yang itu yang saya mau, sepertinya segar dan bisa membuat tubuh ini bersemangat lagi," sahut Sinta dengan mata yang berbinar. Persis seorang anak kecil yang sangat senang saat kemauannya dipahami oleh kedua orang tuanya.
"Baiklah, Nona. Tunggu sebentar, akan bibi buatkan terlebih dahulu. Sepertinya semua bahan masih ada." Sang ibu menjawab sembari membuka lemari atas yang berisi berbagai macam bumbu.
"Terima kasih, Bi. Nanti tolong bawa ke kamar ya kalau sudah jadi," imbuh Sinta memerintah sang pembantu untuk mengantar sambal itu ke kamarnya.
"Baik, Nona. Akan saya bawa ke kamar Nona jika sudah siap," jawab sang pembantu dengan menghela napas karena menurutnya keinginan Sinta itu aneh.
"Bi Siti, nona minta dibuatin apa?" tanya Manto-supir yang sedari tadi ngobrol dengan Siti.
"Aneh sih, Man. Dia minta dibuatin sambal kacang yang buat rujak itu. Tidak mau makan tapi mintanya dibuatin sambal kacang. Aneh kan?" jelas Situ sambil mulai menyangrai kacang tanah yang sudah dikupas.
"Iya ... Ya ... Aneh juga. Kalau menurutku sih nona Sinta itu sedang hamil, Bik. Ciri-cirinya sama seperti istriku yang sedang hamil dulu. Gak mau makan, eh cuman makan rujak aja. Sama seperti nona Sinta," ucap Manto mengingat jaman istrinya hamil dulu.
"Kalau aku sih ngira juga begitu, tapi kan nona Sinta sudah pisah sama suaminya. Kini mereka sudah resmi bercerai, anaknya aja diikutkan bapaknya bocah itu! Nona Sinta kayak enggan merawat bayi. Lah kalau hamil, terus gimana urusin anaknya dan semua orang pasti bertanya siapa ayahnya? Benar begitu kan, Man?" cerocos Siti membuat Manto manggut-manggut. Siti masih terus mengulek sambel.
"Iya, Bik. Siapa ayah bayi itu tidak ada yang tahu. Kasihan sekali bayi itu nantinya, jika sudah besar pasti ditanya siapa ayahnya, dia pasti bingung jawab apa. Memang jaman sekarang serba aneh ya bi, pergaulan bebas sekali," sambung Manto yang merasa kasihan pada janin yang dikandung Sinta.
"Sudahlah, sambal kacangnya sudah jadi, aku mau antar sambal ini dulu ke kamar nona Sinta. Takutnya dia marah karena gak selesai-selesai. Kamu minggir sana, kembali ke tempatmu!" seru Situ mengusir Manto agar mau kembali bekerja.
__ADS_1
"Eittdah ... Si bibik ditemani malah gak tahu balas budi, main usir aja. Minta dikit ya ....waaah, nyus tenaan ... sambalnya, pedas manis seperti kata-kata mu, Bik! Hahaha ...." Manto mencolek sambal kacang buatan Siti dan berlalu begitu saja.
"Woalah! Bocah semprul! Awas kau ...!
"Hahaha ... Besok buatin ya, Bik. Sambalnya enak!" teriak Manto keluar dari dapur.
Siti geram dengan tingkah tengil si Manto, lelaki berusia 30 tahun yang sudah memiliki satu anak itu.
Dengan mempercepat langkahnya, Siti membawa sambal kacang itu ke kamar Sinta.
Tok!
Tok!
"Permisi, Nona. Sambalnya sudah jadi," panggil Siti pada sang majikan.
Bik Siti masuk ke dalam kamar Sinta sembari membawa sambal kacang dalam mangkok dan beberapa buah lain yang ada di dalam lemari es.
"Silakan, Nona."
"Terima kasih, Bik," ucap Sinta dengan tersenyum. Air liurnya sudah menetes melihat sambal kacang buatan sang pembantu. Gegas Sinta mengambil dan memakan sambal kacang dengan buah yang dibawakan oleh bik Siti.
"Mmm ... Lezat sekali, Bik. Ini sangat enak, bibi memang pandai membuat sambal kacang," ucap Sinta memuji lezatnya sambal kacang buatan sang pembantu.
Bik Siti tersenyum sekaligus terheran melihat Sinta yang makan persis orang yang tidak makan selama seharian. Begitu lahap dan cepat. Setelah selesai pun Sinta bersendawa.
"Huaah ... Kenyaaang ....!" seru Sinta dengan senyum yang mengembang, pada akhirnya dia bisa makan dengan enak dan anehnya dia hanya mau sambal kacang, tidak mau nasi.
"Sudah, Non?" tanya Bik Siti.
__ADS_1
"Sudah, Bi. Terima kasih ya, sudah dibuatkan. Sambal kacangnya enak sekali. Setiap hari tolong buatkan ya, Bi. Besok ke kantor aku juga ingin bawa bekal sambal kacang. Mulutku terasa asam jika tidak maka sambal kacang," ucap Sinta dengan pupil mata yang bersinar.
"Insyaallah, Nona. Keinginan nona mengingatkan saya akan waktu muda dulu," ucap bik Siti yang tidak tahan untuk bicara.
"Emang waktu muda dulu kenapa, Bi?" tanya Sinta menatap sang pembantu yang duduk di lantai sedangkan dirinya di atas kursi santainya.
"Dulu waktu bibi muda kan hamil pertama, nah bibi tuh ngidam sama seperti nona ini," jawab bik Siti memancing Sinta.
Sinta terdiam, dia tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh sang Pembantu.
"Sudahlah, Bi. Aku mau tidur saja, besok harus bekerja. Tidak enak sama papa jika banyak bolos. Apalagi Tia yang sok kerajinan itu! Baru jadi bos saja sudah blagu," ucap Sinta mencebik kesal mengingat bagaimana Tia melaporkannya pada sang ayah.
"Baiklah, Non. Kalau butuh apa-apa panggil saja bibik," ucap bik Siti berpamitan pada Sinta.
Sinta berjalan menuju ke tempat tidurnya. Dia merebahkan diri untuk beristirahat setelah kenyang makan buah dan sambal kacang. Sinta gelisah tidak bisa tidur, dia terus memikirkan apa yang dikatakan oleh sang pembantu.
"Apa benar aku hamil?" gumam Sinta di dalam hati. Namun dia berpikir siapa yang sudah menghamili dirinya. Sinta tidak ingat peristiwa di malam dia mabuk dan diculik oleh seseorang.
"Aku tidak merasa pernah berhubungan dengan siapapun. Steve juga tidak pernah datang semenjak kasus perceraian selesai. Lalu jika aku hamil, aku hamil dengan siapa? Tidak ... Tidak! Ini hanyalah perasaan bik Siti saja, aku tidak boleh terpengaruh oleh siapapun," ujar Sinta di dalam hati sembari menatap langit -langit kamarnya.
Karena merasa lelah, akhirnya Sinta pun tertidur dengan lelap hingga bermimpi. Di dalam mimpinya, Sinta dikejar oleh seekor ular yang berbisa. Ular itu terus mengejar Sinta hingga Sinta pun terjatuh dan terluka.
"Tolooong ... Tolooong!" teriak Sinta dengan wajah yang ketakutan. Sinta berteriak meminta tolong karena sang ular sudah mengunci pergerakan Sinta hingga Sinta tidak bisa kabur.
"Hosh ... Hosh!" Sinta terbangun dengan napas tersengal. Dahinya bersimbah peluh, tenggorokan Sinta menjadi kering. Mimpi yang dialami Sinta terasa nyata.
Sinta turun dari tempat tidur dan mencari minum yang biasa ia siapkan di nakas. Akan tetapi teko itu kebetulan habis, itu artinya mau tidak mau dia harus keluar dari kamar untuk mengambil minum di dapur.
"Si4l ...! mengapa air di dalam teko ini habis! aku lupa untuk mengisinya," gumam Sinta yang kesal dengan keadaan yang memaksa dirinya untuk pergi ke dapur.
Dengan malas, Sinta berjalan menuju dapur. Dia tidak mau membuang waktu karena tenggorokannya sudah teramat kering. Suasana sepi membuat Sinta merasa merinding. Dia pun mempercepat langkahnya untuk mengambil minum.
Kreek ....
__ADS_1
Suara orang membuka pintu membuat takut Sinta, tanpa menunggu penuh Sinta kembali ke kamarnya dengan setengah berlari. Jam di dinding menunjukkan pukul 12 malam. Sinta segera meminum air putih itu dan setelah selesai dia bergegas kembali tidur, namun sayang sakit gigi kini melanda dirinya hingga Sinta tidak bisa tidur malam itu.