
Clara menyadari arti tatapan keduanya dia pun bergegas bertindak jangan sampai Rai jatuh hati pada anak kandungnya sendiri.
"Ehem ... Rai, dia adalah anak kandung mu, yang dulu kau tanyakan," ucap Clara dengan tegas. Sudah banyak cerita yang ia baca kalau jaman sekarang banyak anak yang merebut calon suami ibunya. Sebelum hal itu terjadi, Clara memberitahu semua pada Rai dan Sinta.
"Sinta, om Rai adalah papa kandungmu. Kau boleh memanggilnya papa," ucap Clara sambil menatap wajah sang putri yang terkejut mendengar fakta jika lelaki itulah yang menyebabkan dirinya lahir ke dunia ini.
"Apa?! Dia adalah papa kandung Sinta? Jadi papa Gunawan itu bukan papa kandung Sinta?!" Sinta terkejut saat mendapati dirinya bukanlah anak Gunawan melainkan anak dari Rai. Sinta melangkah mundur hingga ia jauh terduduk kembali di kursi makannya.
"Benar, maafkan mama yang tidak mengatakan rahasia mama selama ini. Kau bukanlah anak dari Gunawan. Mama menikah dengan Gunawan saat kau sudah ada di dalam kandungan mama. Jadi sebenarnya kau adalah anak dari papa Rai," ucap Clara menjelaskan semua pada Sinta.
Sinta terdiam lagi-lagi merasa ditipu oleh orang yang ia sayangi. Sebelumnya Steve dan sekarang adalah Clara ibu kandungnya sendiri.
"Sinta, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Clara pada Sinta yang terdiam mematung.
Sinta menatap ke arah sang ibu yang saat ini berdiri di samping Sinta sembari mengusap kepalanya. Rai yang juga baru tahu jika Sinta adalah anaknya pun merasa haru. Anak yang disembunyikan oleh Clara dari dirinya kini berada tepat di hadapannya.
Rai berjalan mendekati Sinta lalu berkata, "Sinta kau adalah anakku. Tidak aku sangka jika aku memiliki anak yang sudah dewasa. Maafkan papa, Sinta. Papa baru tahu jika kau adalah anak papa," ucap Rai berdiri di sebelah kanan Sinta.
Sinta menepis tangan Rai yang berusaha mengusap kepalanya. Dia belum bisa menerima Rai menjadi ayah kandungnya, menggantikan Gunawan. Hal yang sangat menyakitkan jika ternyata Sinta bukan anak kandung Gunawan.
"Lepaskan! Jangan pernah kau menyentuhku! Kau bukan papaku, dan kau bukan mamaku! Aku benci kalian ...!" teriak Sinta berdiri lalu berlari meninggalkan Clara dan Rai yang berdiri melongo melihat penolakan sang anak.
***
Sementara itu di Jakarta.
Tia dan Hans sedang berbahagia karena hari ini adalah hari tasyakuran aqiqahan kedua anaknya. Hans mengadakan pesta besar-besaran di rumahnya.
Semua orang tampak sibuk mendekorasi rumah. Beberapa orang dari vendor yang disewa oleh Hans pun lalu lalang untuk memasang kain dekorasi dan menata ruangan. Keadaan rumah pun lebih ramai dari biasanya. Itu membuat dua anak kembar yang belum genap lahir satu bulan itu pun sedikit terganggu tidurnya, dan membuat kedua orang tua mereka sibuk.
__ADS_1
Hans sudah dua kali membuat susu formula ke dalam botol susu. Sementara air susu belum kunjung keluar dari payudara Tia. Menyusui dua anak kembar tentu bukanlah hal yang mudah. Maka dari itu, Hans selalu siap sedia membantu Tia untuk membuatkan susu formula.
Hans sengaja menyewa vendor khusus untuk acara aqiqahan putra dan putri kembarnya. Semuanya sudah lengkap dengan dekorasi dan juga kotak nasi yang akan dibagikan pada para tamu dengan secarik kertas yang menempel di atas kotak nasi bertuliskan nama kedua anaknya. Hasan Pratama dan Hasna Pratama.
Tasyakuran aqiqah yang diadakan mewah dan meriah, Hans tidak tanggung-tanggung mengeluarkan biaya yang tidak sedikit karena mewah dan besar. Tidak hanya tetangga dan kerabat dekat saja yang diundang menghadiri acara tersebut, tetapi juga semua teman dan karyawan juga turut diundang.
Tia menimang bayi perempuannya dan bersenandung kecil di dekat balkon kamar sembari melihat ke arah pekarangan rumah yang juga sedang dihias oleh dekorasi cantik, lengkap dengan hiasan bunga segar. Tak hentinya dia bersyukur bisa sampai pada titik ini di mana sudah berjuang melahirkan dua anak kembar yang menggemaskan.
Hans yang baru selesai menyusui sang putra kecilnya, tampak senang melihat bayinya itu tertidur dengan lelap meskipun keadaan rumah sedang berisik. Dia menghampiri Tia dan memeluk tubuh sang istri dari belakang. "Aku akan ke bawah mengecek persiapannya."
Tia hanya menjawab dengan menganggukkan kepala saja. Hans sekilas mencium pipi Tia, lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Dia menghampiri salah satu karyawan di rumah dan membantu mengangkat vas bunga berukuran besar yang terbuat dari keramik ke sudut ruangan.
"Makasih, Pak," ucap karyawan itu. Hans hanya tersenyum saja. Dia memperhatikan satu persatu dekorasi yang sudah terpasang.
Acara tasyakuran aqiqah akan dilaksanakan ba'da Ashar nanti. Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum acara dimulai. Hans tidak hanya diam memperhatikan, dia juga turut membantu walaupun hanya mengangkat benda-benda yang ringan saja. Hingga pukul dua belas siang, semua beristirahat dan makan bersama di rumah dengan memesan makanan secara online.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di pekarangan rumah Hans. Hans segera keluar dari rumah untuk mengecek siapa yang datang. Ternyata itu adalah ayah mertuanya. Hans menghampiri Gunawan yang baru saja keluar dari mobil. Dia mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Gunawan, menyalami dengan takjim.
"Mana Tia?" tanya Gunawan sembari celingukan ke dalam rumah.
Hans mengangkat tangan kanannya ke atas, mempersilakan sang ayah mertua untuk masuk ke dalam rumah. "Tia ada di kamar. Masih menyusui Hasna."
Gunawan melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan tersenyum ramah pada karyawan yang sedang beristirahat. Dia segera menuju ke kamar untuk menghampiri Tia yang ternyata sedang membaringkan tubuh Hasna ke atas ranjang bayi tepat di samping tubuh Hasan.
"Wah, lihatlah putri Ayah yang sekarang sudah menjadi seorang ibu dari dua anak kembar. Luar biasa. Rasanya baru kemarin aku menimang bayi, dan sekarang bayi itu sudah memiliki baik," kelakar Gunawan di ambang pintu dengan kedua tangan yang menyilang di atas dada.
Tia menoleh pada sang ayah dan tersenyum senang. "Ayah sudah datang? Aku kira Ayah tidak akan datang karena sibuk bekerja."
Gunawan masuk ke dalam kamar bayi dan mengelus pucuk kepala Tia dengan lembut. "Tentu saja tidak. Ayah akan menyempatkan diri untuk datang di acara spesial seperti ini. Apalagi untuk kedua cucu Ayah. Maaf karena baru sempat datang setelah semua urusan ayah selesai dan waktunya ayah mengambil cuti untuk istirahat dan bebas menggendong cucu ayah." Gunawan menggendong cucu lelakinya.
__ADS_1
Tia tersenyum, lalu menghambur ke dalam pelukan sang ayah. Mereka berbincang santai mengenai bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dengan segala hal yang baru. Tia merasa lelah, tetapi juga merasa bahagia karena mendapatkan karunia seperti ini. Banyak yang menginginkan bayi kembar dan sulit mendapatkannya meski sudah program sekali pun. Namun, Tia berhasil mendapatkannya dari Tuhan, sepasang.
"Untung saja Hans selalu membantu dan menemaniku tiap malam," tutur Tia mengakhiri ceritanya menjadi ibu muda baru.
Gunawan mengangguk kagum, ternyata Hans bisa melakukan hal yang manis seperti itu selayaknya seorang ayah yang baik untuk kedua bayi mereka. Dia mengurus baju kepala Tia dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Ayah sudah makan siang? Atau memang sengaja dari kantor datang ke sini dan belum makan apapun?" tanya Tia. Belum sempat mendengar jawaban dari Gunawan, wanita itu segera menarik pergelangan tangan sayang ayah dan membawanya keluar dari kamar.
Gunawan terkekeh melihat tingkah sang putri yang membawanya ke dapur dan tiba-tiba saja menuangkan nasi ke atas piring untuknya. "Ya, ampun. Kau ingin aku makan di sini? Kalau begitu, ayo, makan siang juga temani Ayah."
Tia duduk dan menopang dagu di atas meja makan. "Ayah saja yang makan. Aku masih kenyang."
Gunawan yang kebetulan yang memang sudah lapar pun segera menyantap makanannya dengan lahap karena sudah lama juga dia tidak makan makanan khas yang ada di acara spesial seperti ini. Sementara Tia, hanya memandang sang ayah dengan penuh kasih sayang.
Waktu acara tasyaquran pun dimulai. Semua orang yang diundang pun sudah berkumpul dan turut berdoa bersama. Setelah pengajian selesai sekitar satu jam, masuklah pada acara inti marhaban untuk mencukur rambut yang ada di kepala dua bayi kembar Hans dan Tia.
Gunawan dan Hans menggendong bayi sembari memutari satu persatu jemaah pria yang datang untuk mencukur rambut Hasan dan Hasna. Rasa haru pun menyelimuti hati Tia. Berulang kali dia menyeka air mata bahagia seiring dengan alunan shalawat yang terus berkumandang.
Semua prosesi acaranya berjalan dengan lancar, sampai tepat pada pukul setengah enam, acara selesai. Hans membagikan masing-masing tamu undangan sebuah bingkisan yang berisi dua nasi kotak dengan nama Hasna dan Hasan, minuman teh botol, sebungkus besar biskuit, satu liter minyak goreng, satu botol kecap dan saus, serta satu kilo gula putih. Bingkisan yang sangat mewah dan juga bermanfaat.
"Terima kasih sudah datang," ucap Hans sembari menyerahkan bingkisan pada tamu terakhir mereka yang merupakan anak yatim piaty dari sebuah panti asuhan. Hans sengaja ingin berbagi Rizki pada mereka semua. Berharap mereka mendoakan anak-anaknya agar menjadi anak yang Sholih dan Sholihah.
Bingkisan yang tersisa masih cukup banyak, Hans berinisiatif untuk membagikannya pada orang yang tidak mampu di sekitar lingkungan mereka sampai tidak tersisa. Senyum pun mengembang dengan sempurna di wajahnya. Dia mengelus dada sembari menghela napas lega. "Alhamdulillah."
Setelah semua selesai, Hans dan Tia kembali ke kamar.
"Mas ... Sepertinya kita membutuhkan baby sister. Aku kewalahan jika mengurus dua bayi kita ini sendirian, apalagi saat mas bekerja. Hanya pembantu yang tidak terampil dalam menjaga anak kita. Semua harus diberi tahu terlebih dahulu," gerutu Tia sambil memijat bagian bahunya yang terasa lelah.
Hans terdiam, dia menyadari jika istrinya akan kewalahan jika seorang diri dalam mengasuh anak kembar.
__ADS_1