
"Tia?! Kak Hans?!" pekik Ridho tertahan. Dia sangat terkejut melihat siapa yang menjadi pengantin. Badan Ridho gemetar, dia tersadar akan satu hal.
Tia dan Hans memberi salam pada semua tamu, selebihnya mereka berdua duduk kursi pelaminan. Mereka bagian raja dan ratu. Hans dengan tuxedo warna senada dengan Tia terlihat begitu tampan, dan Tia pun terlihat sangat cantik.
"Berarti yang membeli saham perusahaan ku adalah Kak Hans? Dan sekarang aku hanya jadi bawahan kak Hans? Bukankah kata Wulan, kak Hans sudah bangkrut?" gumam Ridho di dalam hati. Banyak pertanyaan yang berkelindan di pikirannya saat melihat Tia dan Hans lah yang duduk di pelaminan.
Ridho masih mematung mencoba mencerna kembali apa yang terjadi. MC pun memulai semua sesi demi sesi acara, hingga sampai pada sesi berdansa bersama pasangan.
"Baiklah, sekarang tiba saatnya kita akan berdansa bersama, dimulai oleh kedua mempelai pengantin yang akan berdansa terlebih dahulu. Untuk kedua mempelai silakan, musik ... Ayo kita mulai dansa bersama," ucap sang MC diikuti dengan Hans dan Tia yang maju ke tengah altar.
Ridho memandang gerak lincah Tia, sungguh anggun dan cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna biru. Ridho tidak menyangka jika Tia berubah sangat cantik.
__ADS_1
"Tia ... Mengapa kau begitu cantik? Dan mengapa aku baru menyadarinya? Kemana aku dulu, menyia-nyiakan istri cantik dan menerima semua kekuranganku!" gumam Ridho tanpa melepaskan pandangannya ke arah Tia.
Tia dan Hans saling menatap dengan mesra. Semua tamu undangan yang membawa pasangan maju ke altar, mereka berdansa bersama menemani sang mempelai.
Steve mengajak Wulan berdansa, Wulan yang terlalu fokus dengan usahanya mendapatkan Steve, belum juga sadar kalau mantan suaminya dan sang adik menjadi sorotan kamera media masa.
Musik mengalun dengan indah, wajah bahagia tercetak jelas di mata Tia dan Hans. Ridho mengepalkan tangannya, hatinya terasa terba_kar. Ingin sekali dia menarik Hans keluar dan menggantikannya dengan dirinya.
Suara riuh tepuk tangan mengiring, waktunya sang mempelai menyalami semua tamu undangan. Tiba giliran Steve dan Wulan, mata Wulan melotot. Wulan tidak percaya jika Tia dan Hans adalah pasangan pengantin yang baru saja berdansa bersama tamu undangan.
"Tia?!
__ADS_1
"Wulan, ku kenapa?" tanya Steve yang terheran melihat Wulan.
"Itu yang menjadi pengantin adalah Hans, bukan?" Wulan menunjuk ke arah Hans dan Tia yang masih sibuk menyalami para tamu undangan.
"Benar, dia adalah Tuan Hans pemilik dari Permana Group. Sebuah perusahaan terbesar di kota ini, selain itu dia juga pemilik hotel ini," jawab Steve yang memuji kesuksesan Hans.
"Tidak ... Itu tidak mungkin, tidak mungkiiin ...!" Wulan membantah semua yang dikatakan Steve.
"Hai, Wulan. Are you Oke? Kau tidak apa-apa, Wulan?" tanya Steve terheran dengan tingkah Wulan.
Wulan merasa oksigen di ruang ber-AC itu telah menipis hingga napasnya terasa sesak. Ternyata dia melepaskan diri dari ikatan dengan orang terkaya di kota ini.
__ADS_1
"Ma- Maaf ... Aku baik-baik saja, terima kasih," jawab Wulan sembari membuang napas keras. Dia menyesali keputusannya yang dulu meminta cerai dari Hans. Andai Wulan bisa bersabar sedikit, kemungkinan dia tidak akan menjadi seperti saat ini.
"Aku kira kenapa-kenapa, baiklah abaikan saja. Mari kita menghabiskan malam ini hingga esok hari. Bagaimana, kamu setuju bukan?" ucap Steve dengan menatap sayu pada Wulan.