Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 180


__ADS_3

Sudah dari semalam Tia memikirkan apa yang dikatakan oleh Baby Sitter anaknya dan juga pembantunya. Tanpa sepengetahuan suaminya dirinya mulai melihat CCTV itu dan mereka benar-benar jujur dengan apa yang terjadi di rumah. Tidak menyangka jika dia telah melakukan hal seperti itu dengan suaminya.


Sejak semalam dirinya sudah memikirkan keputusan matang-matang untuk menyelesaikan masalah ini. Tentu saja ia sakit hati, di depan ditnya Luna bersikap baik sekali. Bahkan dia tak pernah menyinggung dirinya sama sekali, tapi ternyata sifat buruk manusia tidak ada yang tahu.


Dia bisa menyembunyikan selama ini bahwa dia menyukai suaminya, ketika ia tidak ada di rumah dia memanfaatkan kesempatan supaya bisa dekat dengan suaminya itu. Sampai sekarang Hans belum tahu masalah ini, sengaja tidak mau memberitahu laki-laki itu sebab ia tidak mau masalah ini semakin panjang.


Biarkan saja dirinya sendiri yang menyelesaikan masalah ini. Saat ini ia memanggil Luna menuju ke halaman belakang. Kali ini dirinya sudah yakin akan bersikap tegas kepada perempuan itu. Mau bagaimanapun dirinya yang bisa menjaga keutuhan rumah tangganya, jadi harus menyingkirkan orang yang ingin merusak rumah tangganya.


"Mbak, kamu tahu saya panggil kamu karena apa?" tanya Tia.


"Tidak nyonya, memangnya ada apa?" tanya Luna dengan alis berkerut.


"Jujur sama saya, apa yang kamu lakukan ketika saya tidak ada di rumah atau tidak ada di dekat rumah saya. Saya mau kamu jujur sekarang juga," ujar Tia.


"Apa yang saya lakukan nyonya? Sungguh, saya tidak melakukan apapun nyonya."


"Benarkah? Coba ingat-ingat lagi apa yang kamu lakukan kemarin, waktu saya ke supermarket dan Menurut kamu apakah tindakan kamu kemarin pantas kamu lakukan untuk seorang laki-laki yang jelas-jelas sudah memiliki istri dan anak? Dan bahkan kamu melakukan itu di saat suasana rumah sedang sepi-sepinya," jelas Tia.


"Nyonya kenapa? Apakah saya ada salah dengan nyonya? Saya tidak melakukan apapun nyonya." Luna mengeluarkan air mata buayanya.


"Kenapa kamu tetap saja tidak mau mengaku? Apakah fakta yang saya katakan tadi kurang jelas dan menurut kamu itu tidak benar? Atau tadi kamu tidak mendengarkan apa perkataan saya. Mbak, jujur saja deh. Mungkin kalau kamu jujur saya juga akan meringankan hukuman yang pantas untuk kamu."


"Nyonya menuduh saya mendekati tuan Hans? Tidak nyonya, Saya berani sumpah bahwa saya tidak memiliki perasaan apapun kepada Tuan Hans. Saya berperilaku kepada tuan seperti atasan dan bawahan pada umumnya. Mengapa Nyonya memiliki pemikiran seperti itu?"


Tia tertawa, lebih tepatnya tawaan hambar yang mengekspresikan kekecewaannya kali ini.


"Mbak, Saya juga tidak akan mengatakan itu jika saya tidak melihat buktinya secara langsung di depan mata saya. Saya menunggu kamu jujur tapi sampai saat ini kamu tidak mau jujur kepada saya, apakah saya sebagai majikan sekurang itu kepada kamu hingga kamu memiliki pemikiran seperti itu? Mbak, kita sama-sama perempuan dan kita pasti tahu perasaan satu sama lain jika ada orang yang dekat dengan kekasih kita apalagi ingin menghancurkan rumah tangga kita."


"Mbak, Saya sudah punya anak dan saya mempercayakan kepada kamu untuk menjaga anak saya. Bukan malah menggoda suami saya seperti itu, kepercayaan yang saya taruh sepenuhnya kepada kamu sekarang hilang seketika karena ulah kamu sendiri."


Suasana menjadi hening, Tia menunggu Luna untuk jujur. Tapi dia sama sekali tidak mau jujur kepada dirinya dan malah mengembalikan fakta seolah-olah ia yang menuduh di sini. Bahkan yang membuat dirinya tidak habis pikir dia masih bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Luna terdiam, ia bingung mengapa Tia mengetahui itu semua tanpa sepengetahuan dirinya. Bahkan ia kalah telak dengan apa yang majikannya itu katakan. Padahal sudah sebisa mungkin dirinya menyembunyikan itu semua tapi tetap saja ketahuan.


Ia benar-benar dipermalukan oleh Tia di sini, posisinya semakin tersudut apalagi dia sudah menyangkut pautkan CCTV dalam masalah ini. Luna hanya diam, berharap dengan air matanya dia bisa memaafkan dirinya.


"Kenapa kamu hanya diam? Kamu menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan? Kamu pikir semuanya baik-baik saja? Setelah kamu menghancurkan kepercayaan saya dan menggoda suami saya," tanya Tia di awal.


"Nyonya, maafkan saya. Saya benar-benar menyesal, saya tidak bermaksud melakukan itu kepada tuan. Tolong maafkan saya nyonya, saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Saya menyesal nyonya, tolong maafkan saya."


Luna semakin menangis, dan bahkan dia mencoba bersujud di kaki Tia. Sementara Tia menghindar ketika Luna hendak mencium kakinya, bahkan air matanya mengembang dipelupuk matanya karena merasa sedih. Ternyata seperti ini rasanya dikhianati oleh kepercayaannya sendiri.


"Kamu saya pecat, Saya tidak bisa melihat kamu di rumah ini lagi dan jangan menyentuh anak saya."


Tia memecat Luna sebelum membuat rumah tangganya hancur, ia memberhentikan Luna.


"Nyonya, Saya membutuhkan pekerjaan ini dan saya tidak tahu lagi harus bekerja apa jika Nyonya memecat saya. Tolong maafkan saya, saya rela nyonya hukum apa saja yang penting Nyonya memaafkan saya. Saya menyesal nyonya, maafkan saya."


"Walaupun saya memaafkan kamu tapi saya tidak bisa membiarkan kamu untuk bekerja di sini lagi. Terima kasih atas perhatian kamu selama ini kepada anak saya dan juga terima kasih karena kamu telah membuat saya trauma jika ada seseorang yang dekat dengan suami saya. Rencana kamu telah berhasil, walaupn rumah tangga saya dan Hans masih baik-baik saja."


Setelah mengatakan itu Tia pergi meninggalkan Luna, bahkan dirinya tidak peduli perempuan itu memanggil-manggil nama dan menyuruhnya untuk berhenti. Keputusannya untuk memberhentikan Luna bekerja sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.


Biarkan saja dia menangis memohon supaya tidak dipecat, Padahal di sini yang paling terluka adalah dirinya, andai saja dirinya tahu kejadian ini akan terjadi mana mungkin ia mempekerjakan Luna di rumahnya.


***


Luna benar-benar angkat kaki dari rumahnya, sekarang ini ia merawat anaknya dengan satu nanny saja, dibantu oleh bik Inah. Tia tak peduli lagi dengan Luna. Untung saja Yuni dan Bi Inah memberitahu dirinya fakta yang sebenarnya, jika tidak dan dirinya tidak percaya mungkin sampai saat ini Luna sudah mencari perhatian kepada suaminya.


Memang Tuhan itu baik sekali, mengirimkan malaikat-malaikat di sekitarnya untuk membongkar kebusukan seseorang yang selama ini dirinya percaya. Jika diingat-ingat memang rasanya begitu sedih, namanya juga manusia tidak ada yang tahu isi hati di dalamnya.


"Mbak, makasih ya. Karena kamu udah kasih tahu saya yang sebenarnya, mungkin kalau kamu tidak memberitahu yang sebenarnya seperti apa saya akan tetap membiarkan dia bekerja di sini."


"Sama-sama, Nyonya, sebenarnya memang selama beberapa hari terakhir saya mencoba menyelidiki Luna sendirian. Awalnya Saya pikir itu memang perilaku yang harus dilakukan bawahan kepada majikannya, tapi jika dilihat-lihat kenapa se dekat itu."

__ADS_1


"Semakin lama saya menaruh kecurigaan, sampai ternyata Bi Inah juga memiliki kecurigaan yang sama dengan saya. Dari situ kita bekerja sama untuk mencari tahu niat Luna bekerja di sini untuk apa. Kalau yang Luna telepon itu memang saya tidak tahu, tapi Bi Inah menjelaskan terlebih dahulu kepada saya."


Tia menganggukkan kepalanya pertanda paham. "Pokoknya saya terimakasih sama mbak dan bibi, saya tidak tahu apa yang terjadi kepada keluarga kecil saya jika saya masih membiarkan Luna bekerja di sini. Mbak tenang saja, Luna sudah saya pecat kok."


"Nyonya, tapi bagaimana jika Luna mengetahui bahwa saya yang membongkar rahasianya selama? Saya takut jika mendapatkan ancaman dari dia,"ucap Yuni khawatir dan takut jika Luna tahu.


"Mbak, tenang saja, saya tutup mulut dengan itu. Saya mengatakan kepada Luna bahwa saya mengetahui dari CCTV. Jadi dia tidak akan curiga kepada siapapun lagi dan juga mbak sama bibi sudah aman di rumah. Dia tidak akan berani menginjakkan kakinya di rumah ini lagi."


"Syukurlah, Nyonya. Saya bisa lega mendengarnya. Saya berharap keluarga kecil nyonya diberikan kebahagiaan dan dijauhkan dari orang-orang yang memiliki niat buruk kepada nyonya dan tuan."


"Aamiin, Mbak. Saya juga berharap ini yang terakhir kalinya saya didekatkan dengan orang yang mau menusuk saya dari belakang," jawab Tia dengan hati yang tenang.


Tia mencoba untuk mengelupas masalah yang ada, dengan menyibukkan diri merawat dan menjaga anaknya. Biarkan saja Luna itu, tidak ada gunanya dirinya memikirkan Luna yang jelas-jelas telah membuat hatinya sakit.


Tia memandikan anaknya, ia belajar banyak hal dari Yuni dalam menjaga dan merawat anak dengan baik. Setelah itu dirinya mau menyambut suaminya di halaman depan karena satu jam lagi suaminya itu akan pulang dari kerja.


Tia berada di kamarnya, ia sedang menghubungi seseorang sebelum Hans datang. orang itu adalah orang yang selama ia percaya, bisa dikatakan dia sebagai bodyguardnya. Sosok yang ia dapat dari sang ayah. Orang itu akan dia suruh untuk melakukan tugas dari dirinya.


"Luna itu sudah angkat kaki dari rumah kami. Saya mau kamu mengikuti dia kemanapun dia pergi karena saya curiga dia akan menggoda suami saya di luar rumah," ucap Tia dengan geram.


"Baik, Nyonya, apakah ada yang lain?" tanya lelaki suruhan Tia. Tia sudah mengatakan semua pada Gunawan hingga Tia mendapatkan solusi dari sang ayah.


"Pokoknya saya mau kamu pantau dia terus, jangan sampai kamu lepas pengawasan dari dia. Kamu bisa laporkan kegiatan dia apa saja kepada saya. Apalagi hal-hal yang mencurigakan, cepat laporkan kepada saya."


"Baik, Nyonya. Mulai besok saya akan mengikuti dan mencari keberadaan dia sesuai dengan perintah dan arah-arah dari nyonya."


Tia mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, ia memang menyuruh orang mengikuti Luna, tidak mungkin jika dirinya yang mengikuti Luna sendirian. Karena sejujurnya dirinya masih penasaran apa yang akan Luna lakukan ketika sudah ia pecat dari rumah ini.


"Luna, kita tidak akan pernah memaafkan kamu karena kamu telah menyentuh suami saya. Saya harap hidup kamu menderita setelah memiliki niatan itu. Memangnya kamu pikir suami saya mau dengan wanita sepertimu," gumam Tia di dalam hatinya.


Tia memilih untuk segera bersiap menyambut kedatangan Hans, berpura-pura baik adalah hal yang cukup salah. Yang mana semua itu membuat kita akan dimanfaatkan oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2