
Tia memejamkan matanya, namun semakin ia berusaha, semakin sulit ia tidur. Ada perasaan yang sulit untuk dijelaskan jelaskan.
Dia menatap langit-langit kamar dia berharap bisa secepatnya tidur. Namun laki-laki dia tidak bisa memejamkan matanya, tiba-tiba Tia merasakan gelisah yang teramat sangat, seperti ada yang ingin mengajaknya untuk pergi dari kehidupan Hans.
Tia menoleh kearah Hans yang sudah tidur dengan pulas. Dengan tatapan yang penuh dengan kebencian, tiba-tiba Tia ingin melampiaskan kebenciannya pada Hans. Namun, tiba-tiba rasa itu menghilang saat menatap wajah Hans yang polos. Masih ada rasa sayang dan cinta yang membuat rasa benci itu hilang.
Tia bangun dari tidurnya, dia berjalan menuju balkon. Tia membuka pintu balkon dan keluar dari sana. Hawa dingin menusuk tulang menembus dari balik tirai. Namun, Tia tidak peduli dengan semua itu. Dia tetap melangkah keluar.
Tia berdiri di depan pagar balkon, menghadap ke arah di mana bulan bersinar dengan terang.
"Ada apa denganku? Mengapa aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Semenjak penobatan diri ini menjadi pebisnis wanita handal, tiba-tiba rasa kantuk seperti hilang setiap malam," gumam Tia sambil menatap sang bulan.
Pikiran Tia kembali pada saat acara penobatan dirinya sebagai pebisnis wanita yang bersinar.
Flash Back On.
"Selamat atas kesuksesannya, Nyonya Tia. Semoga karir anda semakin bersinar." Beberapa wartawan melakukan wawancara dan sesi pemotretan untuk diterbitkan dalam majalah bisnis. Tia yang berbalut jas wanita sangat anggun dan elegan.
Semua media masa berisi berita tentang Tia. Tia sukses membuat perusahaan yang diberikan ayahnya sukses hingga berkembang sampai ke luar negeri.
Darah pebisnis dari sang ayah terlihat sekali dalam diri Tia. Tia di usianya memasuki kepala tiga itu sukses dalam mengelola bisnis yang bergerak di bidang garment. Berbagai macam pakaian seragam ia produksi dan desain sendiri. Tia ternyata bakat dalam mendesain model baju.
Saat perjamuan makan siang, seorang lelaki yang belum dikenal Tia datang menghampiri.
"Selamat atas kesuksesannya, nyonya Tia. Sungguh Anda adalah wanita yang begitu cerdas. Kecerdasan Anda membuat kami para pebisnis muda itu pada Anda," ucap lelaki dengan tubuh tinggi khas orang Asia Timur itu.
"Anda terlalu memuji, Tuan. Semua ini bisa tercapai karena kerja sama semua staf, bukan hanya diri saya saja," jawab Tia merendah. Tia bukanlah sosok yang mudah tinggi hati saat sedang dipuji.
"Tidak, Nyonya. Itu adalah fakta. Anda adalah sosok wanita yang hebat, mampu membuat bisnis garment Anda maju dengan pesat. Apakah Anda mengijinkan jika perusahaan saya bergabung dengan perusahaan Anda?" tanya lelaki itu.
__ADS_1
"Maksud Anda kita akan bekerja sama?" tanya Tia sembari mengerutkan alisnya.
"Benar, Nyonya. Kenalkan Saya Kim Youri pemilik perusahaan D&G Corps yang berpusat di RRC ingin bekerjasama dengan perusahaan Garment milik Anda," ucap lelaki dengan nama Kim Youri itu.
Bibir Tia mengembang membentuk lengkungan senyum yang indah. Tidak disangka jika perusahaan miliknya menarik minat investor dari RRC. Dari yang hanya Asia Tenggara, kini merambah ke Asia Timur.
"Baiklah, silakan besok berkunjung ke Haznita Corps. Kami dengan senang hati membuka pintu kerjasama dengan D&G Corps," jawab Tia yang juga ingin bisnisnya sampai ke Asia Timur.
"Baik, Nyonya. Saya pastikan, saya akan datang ke kantor perusahaan Haznita Corps," jawab Kim dengan senyum ramahnya.
Acara penobatan Tia sebagai pebisnis wanita tersukses berlangsung hingga akhir acara. Tia yang ditemani Hans pun akhirnya kembali ke rumah setelah selesai menghadiri acara penobatan tersebut.
Wajah Tia bermunculan di laman media sosial dan media cetak. Kabar tentang keberhasilan Tia tersebar di mana-mana. Nama Tia viral di media masa.
Pagi harinya, Hans seperti biasa selalu membaca surat kabar setelah sarapan.
"Sayang, namamu jadi terkenal nih," ucap Hans sembari menunjukkan foto Tia yang tercetak di koran.
"Ini adalah sebuah penghargaan untuk semua prestasimu, Sayang," ucap Hans sembari menyeruput teh buatan Tia.
"Alhamdulillah ya, Mas. Tia hanya melanjutkan apa yang sudah ayah lakukan. Dan semua ini tidak luput dari bimbingan dan dukungan dari mas dan ayah. Aku sangat beruntung memiliki dua pria yang sangat mencintaiku," ucap Tia. Gelas teh yang ada di tangan Tia sudah habis air tehnya.
Tia menjalankan aktivitasnya dengan penuh semangat, banyak investor baru yang ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan Tia. Hampir seharian Tia tidak istirahat, antusiasme para investor untuk menanamkan saham pada perusahaan Tia membuat Tia kewalahan.
Malam harinya.
"Aaargh! Kepalaku sakit!" Pekik Tia memegangi kepalanya. Kedua tangan Tia memegang kepalanya yang terasa sakit. Semenjak itulah setiap malam Tia merasakan sakit kepala dan tidak bisa tidur dengan pulas.
Flash Back Off.
__ADS_1
Udara dingin semakin menusuk tulang, Tia pada akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamar. Tia mengambil obat tidur yang dibawakan sepulang dari rumah sakit.
Sembari mengecek laporan keuangan perusahaan, Tia menghabiskan malam yang dingin itu dengan bekerja. Tia menghela napas kasar. Hasan yang juga tidak bisa tidur, keluar dari kamarnya. Melihat sang ibu masih bekerja.
"Mama istirahat lah, jangan begadang," ucap Hasan yang ingin ke dapur tapi tidak jadi saat melihat ibunya yang masih bekerja.
"Hasan, kau belum tidur, Nak?" tanya Tia yang terkejut tiba-tiba sang anak lelaki datang menghampiri.
"Sudah, Ma. Tapi Hasan ingin mengambil minum di dapur karena haus dan air minum Hasan sudah habis. Mama kenapa belum tidur juga?" tanya Hasan tidak mau kalah.
"Ini, mama hanya ingin mengecek laporan keuangan perusahaan saja. Habis itu mama akan tidur kok," jawab Tia yang tidak sepenuhnya berbohong.
"Baiklah, ingat jika sudah mengantuk segera tidur, Ma!" tegas Hasan yang juga tidak bisa tidur jika belum melihat sang ibu.
Kabar tentang kesuksesan Tia juga terdengar sampai ke tahanan. Pasalnya, media elektronik yang meliput acara penobatan Tia sudah menayangkan berita itu hingga sampai ke pelosok tanah air.
Di sel tahanan Salemba.
Seorang perempuan dengan wajah yang mengerikan menatap tajam layar televisi yang ada di ruang kantor penjaga. Para tahanan itu bisa melihat acara televisi melalui televisi yang ada di kantor.
"Enak sekali kau, Tia!!" teriak wanita itu dengan tangan mengepal. Dia tidak terima melihat sosok yang ia benci malah bisa berkembang dengan pesat.
Wanita dengan wajah yang tembelan seperti barang kertas yang disusun saling menempel tidak beraturan.
"Kau kenapa?" tanya seseorang wanita yang memakai baju sama dengan dirinya. Wanita itu bertubuh gemuk dan berkulit hitam itu, juga semua orang di sel tahanan hormat dan patuh kepadanya.
__ADS_1
.