Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 58


__ADS_3

Hari telah berganti, si kembar Hasna dan Hasan sudah kembali dari rumah sang paman. Keduanya tidak menghabiskan hari selama satu Minggu penuh. Hasan dan Hasna memilih cepat pulang karena sudah tidak nyaman tinggal terlalu lama di rumah Aris.



Bukan karena Aris yang membuat kedua ponakannya tidak betah, melainkan karena Devi yang sudah mengeluh karena persediaan stock makanan Hasan dan Hasna yang diberikan oleh sang ibu sudah habis. Hasan mengajak sang adik untuk pulang karena secara tidak sengaja mereka mendengar Devi yang mengeluh pada Aris. Malam itu saat Hasan hendak turun mengambil air minumnya yang habis, Hasan mendengar percakapan antara Aris dan Devi.



"Ma ... ini kan hari terakhir Hasna dan kak Hasan liburan. Gimana kalau kita pergi berenang?" tanya Hasna menghampiri sang ibu yang sedang asyik menonton televisi.



"Mm ... Boleh, mama juga ingin berenang agar adek bayi makin sehat," jawab Tia yang merasa usul sang anak ada baiknya juga.



"Horeee ... Akhirnya bisa pergi keluar juga! Sungguh deh mah, Hasna merasa bebas dari penjara!" seru Hasna yang sangat senang karena sang mama menyetujuinya.



"Lhoh kok Hasna ngomong begitu, kenapa?" tanya Tia terheran dengan sikap sang putri yang terlihat begitu senang padahal hanya renang seperti biasanya.


"Iya lah, Ma. Di rumah Tante Devi, Hasna dan kak Hasan tidak pernah diajak keluar. Om Aris yang begitu sibuk dan Tante Devi juga bilang tidak suka keluar. Katanya hanya menghabiskan uang dan waktu," ucap Hasna polos. Tidak ada yang ia tutupi sama sekali. Anak-anak kalau bercerita akan jujur sesuai dengan apa yang ia rasakan.


"Benarkah, Tante Devi ngomong begitu?" tanya Tia yang terkejut mendengar jawaban sang anak.



Hasna mengangguk dengan yakin, sedari dini Tia sudah mengajari Hasna untuk tidak berbohong.

__ADS_1



"Mmm ... Mungkin om dan Tante sedang banyak pekerjaan, jadi mereka memilih untuk tidak pergi kemana -mana. Kalian kan bisa nanti perginya sama mama dan papa, seperti saat ini. Kita bertiga akan pergi renang bersama.



"Asyiiik, ayo ma kita berangkat sekarang," ucap Hasna ya g sudah tidak sabar untuk segera berangkat berenang.



"Ayo, kita bersiap. Kak Hasan ayo kita pergi," ajak Tia pada anak lelakinya yang asyik main game di komputer.



"Bentar, Ma. Ini sebentar lagi selesai. Hasan pakai baju ini aja, jadi gak usah ganti baju," ucap Hasan malas. Dia asyik bermain karena di rumah Aris, dirinya sama sekali tidak pernah main game lagi.




"Terimakasih, Ma," seru Hasan tanpa menoleh ke arah sang ibu.



"Sama-sama. Ayo Hasna kita bersiap," ajak Tia pada anak perempuannya.



Setelah selesai bersiap, ketiga orang itu pun berangkat menuju ke kolam renang. Tia hanya ingin menuruti keinginan sang anak untuk bisa menghabiskan liburannya dengan berenang bersama.

__ADS_1



Mobil Tia dengan disopiri oleh sopir pribadinya melaju ke kolam renang yang sudah menjadi langganan mereka sekeluarga.



"Hasna, Hasan ... hati-hati ...!" teriak Tia memperingatkan sang putri untuk berhati- hati di kolam renang.



"Ya, Ma. Kami akan berhati-hati!" jawab Hasna dan Hasan serempak. Tia tersenyum, sengaja dia memilih kolam renang yang aman dan cocok untuk anaknya. Meski untuk itu dia harus merogoh kocek yang lebih dalam.



Sepasang mata mengawasi Tia dari jauh, perut buncit Tia menjadi titik fokus obyek pandangannya.



"Kau sekarang lebih bahagia, Tia. Sekarang kau akan memiliki tiga anak, sedangkan aku tidak bisa memiliki anak sampai kapanpun!" gumam lelaki yang berdiri mengawasi keselamatan para pengunjung.



Lelaki dengan tubuh agak kurus itu menatap Tia dan anak-anaknya dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan. Antara rindu dan penyesalan bercampur menjadi satu.



"Hasna ... Hati-hati, Nak!" teriak Tia sekali lagi memperingatkan sang anak untuk lebih berhati-hati. Lelaki itu menoleh ke arah anak perempuan yang berlarian di dalam kolam renang. Sesekali anak itu melempar bola yang memang disediakan oleh pihak pengelola.


__ADS_1


Melihat anak perempuan yang dimaksud tengah berlarian, lelaki itu bergegas untuk mendekat karena melihat apa yang dilakukan oleh Hasna sangat berbahaya.


__ADS_2