Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 51


__ADS_3

Gunawan menggeram marah, dia pun berpamitan pulang pada Tia.



"Tia, ayah pulang dulu. Ayah akan menegur Sinta. Ayah juga akan memindahkan Sinta agar hidup mandiri dengan Leo. Selama ini ayah sudah bersabar, aman tetapi karena kesibukan ayah, ayah jadi melupakan urusan tentang si Sinta."



"Baik, Ayah. Hati-hati di jalan," ucap Tia berdiri dan mengiringi langkah sang ayah yang menuju ke pintu luar.



"Assalamu 'alaikum," ucap Gunawan saat hendak masuk ke dalam mobilnya.



"Wa'alaikum salam, Yah. Byee ...." Tia melambaikan tangannya mengiring mobil Gunawan yang melaju menjauh dari rumahnya.



Perjalanan kurang lebih hampir dua jam itu, Gunawan lalui dengan cepat dan akhirnya dia pun sampai juga di rumahnya.



Gunawan membuka pintu rumahnya yang tidak terkunci, hampir malam tapi pintu tidak juga dikunci. Gunawan hanya menggelengkan kepalanya. Beberapa hari ditinggal, rumah tidak terurus dengan baik. Tinggal memerintahkan pada pembantu saja, Sinta sangat malas sekali.



"Sinta ... Sinta ...!" Gunawan berteriak memanggil wanita yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu.



Tidak ada jawaban yang terdengar, rupanya Sinta dan anaknya sedang tidak ada di rumah.



Ting ....


__ADS_1


Suara notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Gunawan. Gunawan pun mengambil ponselnya dan membaca pesan yang ternyata dari Tia.



'Ayah, jika Sinta tidak di rumah, Tia beritahu kalau Sinta sedang ke mall bersama si Sherly.'



Foto Sinta dan Sherly yang sedang berada di mall pun dikirim oleh Tia.



'Terima kasih, Sayang.'



Jawab Gunawan dengan napas yang berat. Dia menahan diri agar tidak meluapkan amarahnya ke sembarang tempat. Hari ini sudah tidak ada tolerir lagi untuk Sinta.



Sinta telah berbuat ceroboh, rumah tidak dikunci saat ditinggal pergi. Sementara sang pembantu tidak tahu ada dimana.




"Bibiik ... Kalian semua ada dimana?!" teriak Gunawan memanggil semua pembantu yang ia bayar untuk berkumpul.



Mendengar suara Gunawan yang menggelegar, para pembantu yang sedang asyik bermain judi di belakang rumah pun terkejut.



Mata Gunawan mendelik saat melihat apa yang dilakukan oleh para pembantunya itu.



"Kaliaaan! Apa yang kalian lakukan selama aku pergi, hah!!"

__ADS_1



"Ma ... Maaf, Tuan. Kami hanya mengisi waktu luang dengan bermain kartu saja!" jawab sang tukang kebun.



"Be ... Benar, Tuan. Kami sudah menyelesaikan tugas kami. Jadi kami semua berkumpul di sini untuk bermain kartu," imbuh wanita yang biasa Gunawan panggil bibik itu.



"Bagaimana pekerjaan kalian sudah selesai? Apa tidak ada yang bisa kalian lakukan, hah!" geram Gunawan lagi.



"Maaf, Tuan. Memang semua pekerjaan sudah kami kerjakan. Nyonya Sinta dan anaknya jarang di rumah, pulang-pulang mereka sudah kenyang hingga tidak ada yang harus kami lakukan, Tuan," jawab sang bibik.



"Apa?! Sinta dan Sherly sering keluar? Apa yang dia lakukan bersama anaknya itu?!" tanya Gunawan lagi.



"Maaf, Tuan. Kami tidak tahu karena nyonya Sinta tidak pernah bilang. Mereka berdua akan pergi dan pulang kembali dengan perut yang kenyang.



Gunawan berkacak pinggang dengan napas yang hampir meledak.



"Kurang ajaaaaar!!" Gunawan berlalu dari tempat itu berniat untuk menyusul Sinta sesuai dengan foto yang Tia kirim.



Gunawan yakin pasti saat ini Sinta sedang makan malam bersama Sherly. Sungguh Gunawan tidak habis pikir, mengapa Sinta selalu membuat dirinya kesal.



Gunawan mengambil kunci mobil dan bergegas menyusul Sinta.

__ADS_1


__ADS_2