Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 146


__ADS_3

Clara terbungkam dengan air mata yang berderai, kebodohannya dahulu adalah mengapa dia memberitahu Rai kalau dirinya hamil. Bukannya mendapat pengakuan, akan tetapi hanya mendapat hinaan. Dimana sekarang Rai datang hanya menginginkan anaknya.


"Tidak, Rai! Sinta anakku, bukan anakmu! Kau tidak pernah menganggap dirinya ada, bahkan kau menolak saat aku katakan padamu kalau aku tengah hamil anakmu pada waktu itu. Sekarang ... Kau datang dan dengan seenaknya meminta Sinta?! Apa kamu sudah tidak waras, Rai!!" teriak Clara seperti orang kesetanan.



Deg!



Gunawan membulatkan matanya, hampir saja ponsel yang tadi dia gunakan untuk merekam semua percakapan dan perbuatan istri dan teman lelakinya terlempar jatuh. Untunglah, Gunawan masih mampu menguasai dirinya hingga dia mampu untuk menangkap kembali ponsel itu.



"Astaga ... Hampir saja, ternyata Sinta bukan darah dagingku? Dan selama ini aku dibohongi oleh Clara kalau Sinta adalah anak dari hasil hubungan semalam dengan Clara. Apakah semua yang terjadi ini adalah karena ego Clara? Dia ingin menutupi aibnya dengan memaksa aku menikah dengan Clara, seakan akulah yang telah menodai Clara? Astaga ...dasar wanita iblis! Baiklah aku akan merenggut semuanya darimu?" Geram Gunawan sembari mengepalkan kedua tangannya.



Gunawan menahan marah, niat dia mau melabrak sang istri dia urungkan. Gunawan perlahan keluar dari kamarnya dengan hati yang hancur. Saat ini dia butuh ketenangan.



Dengan langkah gontai Gunawan memasuki lift menuju ke kafe yang ada di penginapan tersebut.



"Kopi hitam pahit satu, Nona," ucap Gunawan pada sang waiters.



Gunawan mencari tempat duduk di sudut kafe. Dia ingin mencari suasana yang tenang.



"Clara, mengapa begitu kejam kau bohongi aku. Apa salahku hingga kau buat hidupku menderita seperti ini!" Gunawan meremas rambutnya, hati Gunawan jangan ditanya. Hancur tidak terperih lagi.



"Kopinya, Tuan," ucap sang waiters dengan tersenyum ramah. Dia bisa melihat ada kesedihan yang mendalam dalam diri Gunawan.



"Terima kasih, Nona," jawab Gunawan sembari menggeser kopi tersebut tepat di hadapannya.

__ADS_1



"Maafkan saya jika saya lancang, Tuan. Sepertinya tuan sedang tidak baik-baik saja. Bisa saya bantu? Mumpung pelanggan kafe sepi, seperti biasa. Barangkali saya bisa membantu memberi saran atau hanya sekadar sebagai pendengar setia," ucap sang waiters, perempuan berusia kisaran 35 tahun itu memberanikan diri untuk bertanya pada sang pelanggan.



Gunawan menyesap kopi hitamnya sembari menatap ke arah perempuan yang bekerja sebagai waiters itu dengan tatapan terheran. Namun, jujur Gunawan akui kalau saat ini dia sedang membutuhkan seseorang yang bisa diajak untuk saling berbagi dan mendengar semua keluhnya.



"Kamu ingin mendengarkan semua keluh kesahku? Apa tidak mengganggu pekerjaan mu itu?" tanya Gunawan dengan tatapan menyelidik.



"Tenang, Tuan. Hari ini pengunjung sepi karena bukan week end. Jadi, kami bisa bersantai sedikit. Oh ya, Tuan. Rahasia Anda akan kami jamin, bagaimana?" tanya wanita itu dengan senyum yang membuat Gunawan untuk sejenak terpesona.



"Kenalkan saya Gunawan. Siapa namamu? Tidaklah pantas kita belum berkenalan akan tetapi sudah curhat tentang masalah hidup." Gunawan menyodorkan tangannya pada sang Waiters.



"Oh, nama saya Zia. Sazia Prameswari, tuan Gunawan," jawab wanita yang bernama Zia itu.




"Baiklah, Mas Gunawan. Kamu boleh cerita, siapa tahu saya bisa memberi saran. Walau tidak tahu apakah saran saya nanti mas terima atau tidak. Yang terpenting beban mas bisa sedikit berkurang," ucap Zia dengan senyum yang meyakinkan Gunawan.



Wanita dengan paras khas orang Sunda itu memberi kenyamanan pada hati Gunawan. Selama ini dia bekerja di kafe itu dengan diberi kebebasan untuk sekadar menemani para pelanggan menghabiskan minumannya.



"Baiklah, saat ini saya juga sedang bingung menghadapi masalah pelik yang terjadi dalam hidup saya. Saya bukan lelaki yang baik, karena perbuatan saya, seorang wanita kini harus menanggung akibatnya. Dia seorang wanita bersuami dan karena pengaruh obat, saya meruda paksa wanita istri bawahan saya itu. Dan pada akhirnya dia mengandung anak dari saya." Gunawan menarik napas dalam-dalam.



"Maksud Anda? Anda menghamili wanita yang sudah memiliki suami, yang mana suami wanita itu adalah anak buah Anda? Lalu dia hamil? Terus apa Anda bertanggung jawab?"


__ADS_1


"Itulah, yang seharusnya saya lakukan akan tetapi bawahan saya tidak menuntut apa-apa, dan kini saya mendapat balasan. Istri saya melahirkan anak lelaki lain. Sungguh ironis sekali bukan? Apa yang ada di dunia ini pasti akan dapat balasan!" Gunawan menyadari bahwa apa yang ia terima adalah karena perbuatannya sendiri.



"Memang benar apa yang kita alami adalah hasil dari perbuatan kita sendiri. Akan tetapi selama kita masih bisa berusaha untuk perbaiki maka kita harus bersemangat untuk memperbaiki semua. Apapun yang terjadi, anak adalah hal yang utama. Tidak ada mantan anak, yang ada mantan istri atau mantan suami. Benar bukan, Mas?" Zia tersenyum manis. Tutur katanya sangat menyentuh hati Gunawan.



Gunawan terpana dengan kata-kata yang diucapkan Zia. Sungguh kata-kata Zia mampu menembus relung hatinya. Memang benar tidak ada yang namanya mantan anak, yang ada mantan suami atau mantan istri.



"Jadi saya harus berjuang demi anak kandung saya sebagai bukti kalau saya benar-benar bertanggung jawab pada anak saya itu?"



"Tepat sekali. Selama ini mas Gunawan sudah memberikan kasih sayang pada darah daging orang lain bukan? Kini saatnya mas Gunawan mulai mencurahkan kasih sayang pada anak kandung, Mas!"



Gunawan manggut-manggut, kini dia harus bangkit untuk mulai menyusun rencana mengambil apa yang seharusnya menjadi haknya. Semenjak dia menjadi mandor, Gunawan tidak pernah mengambil upah ataupun menikmati gaji yang seharusnya ia dapat. Semua penghasilan yang mengelola adalah Clara.



"Benar apa yang kau katakan Zia, aku harus berjuang dan berdiri di atas kakiku sendiri. Mulai sekarang aku akan mencurahkan kasih sayang dan semua yang aku miliki hanya untuk putri kandungku. Sudah cukup aku menjadi sapi perah untuk keluarga mereka. Terimakasih Zia, kau sudah membuatku bersemangat!"



Zia tersenyum melihat wajah Gunawan yang sudah bersinar lagi. Awan gelap yang sempat menutupi keceriaan wajah Gunawan kini sudah tidak ada lagi.



"Sama-sama, Mas! Aku akan selalu ada kapanpun kau butuhkan," ucap Zia senang bisa membantu orang lain.



"Baiklah, aku akan pulang. Ini untuk bayaran satu gelas kopi dan sisanya untuk mu dan juga anak-anakmu. Aku yakin kau pasti punya anak bukan? Tutur katamu mencerminkan seorang ibu yang sangat perhatian pada anaknya. Aku pergi dulu, permisi," ucap Gunawan berpamitan.



"Terimakasih banyak, Tuan. Semoga semua urusan Anda diberi kemudahan oleh Tuhan," ucap Zia dengan tulus. Hari ini dia mendapatkan rizki yang lumayan untuk biaya hidupnya yang merupakan single parent.


Gunawan tersenyum kemudian dia pun mengambil ponselnya untuk menghubungi sekretaris pribadinya. Sosok yang sangat loyal padanya. Gunawan ternyata tidaklah sebodoh yang Clara kira.

__ADS_1


"Hallo, Rustam. Aku perintahkan padamu untuk secepat memisahkan semua aset yang aku miliki dari perusahaan Clara. Jangan sampai Clara tahu akan hal ini! Aku tidak mau menjadi sapi perah untuknya!" perintah Gunawan yang sudah dipenuhi emosi di dalam hatinya.


__ADS_2