
Tia mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan pada sang adik.
Aris: Assalamualaikum, Kak. Maafkan Aris tidak bisa datang ke pernikahan mbak Tia. Ibu tidak ada yang jaga, diajak juga tidak mau. Bagaimana pestanya? Apa mbak Wulan bikin masalah? Mas Ridho pulang dalam keadaan mabuk.
Tia : Wa'alaikum salam. Tidak apa-apa, Aris. Mbak tahu jika mama belum bisa mengakui mbak sebagai anaknya. Benar, tadi mbak Wulan dan mas Ridho bikin masalah. Akan tetapi semua sudah diatasi oleh penjaga keamanan. Oh ya, bolehkan Mbak minta bantuan Aris?
Aris: Bantuan apa, Mbak?
Tia: Aris bisa kan mencarikan informasi di mana pabrik tempat dulu papa bekerja?
Arisa: Memang ada apa, Mbak? Mengapa Mbak tanya tentang pabrik tempat papa bekerja?
Tia: Adalah, Ris. Nanti mbak akan ceritakan padamu. Kita bisa bertemu nanti setelah kau bisa mendapatkan informasi pabrik dimana papa dulu bekerja.
Aris: Oh, Okey, Mbak. Aris akan usahakan untuk bertanya pada papa. Tenang saja, Aris akan bertanya tanpa menimbulkan kecurigaan dari papa.
Tia: Bagus. Terima kasih, Aris. Mbak sangat bahagia kau mau membantu mbak. Kalau sudah mendapatkan informasi hubungi mbak ya.
Aris : Okey, Mbak. Siap laksanakan!
Tia : Assalamualaikum,
__ADS_1
Aris : Wa'alaikum salam.
Tia bernapas dengan lega, Aris akhirnya mau membantu dirinya.
"Bagaimana, Sayang? Apakah Aris bersedia membantu?" Hans bertanya setelah Tia selesai berkirim pesan dengan Aris.
"Iya, Mas. Aku bersyukur, Aris mau membantu kita. Apakah nanti kita akan bisa mendapatkan petunjuk jika kita sudah di pabrik itu?" tanya Tia. Hatinya masih ada kekhawatiran jika usahanya tidak menemukan titik terang.
Hans bisa menangkap kekhawatiran dari raut wajah sang istri. Dia pun tersenyum untuk memberikan rasa percaya diri pada Tia.
"Yakinlah, Tia. Serahkan semua pada Allah. Hanya kepada Allah kita bergantung dan berserah diri. Jika itu semua sudah menjadi takdir mu untuk bertemu dengan ayah kandungmu, maka pasti kau akan dipertemukan dengannya.
"Baiklah, Mas. Aku percaya kepadamu. Dan aku akan selalu berdoa semoga usaha kita ini dipermudah dan mendapatkan ridho dari Allah." Tia tersenyum dan bernapas dengan lega.
"Bagus, kita tidak boleh menjadi orang yang pesimis sebelum berjuang. Tidak ada yang sia-sia jika kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Tentunya diiringi dengan doa," imbuh Hans sambil mengusap surai panjang hitam legam milik Tia.
Tia bersyukur memiliki suami yang ada di kala dia butuhkan, tidak seperti dulu, semua rasa dan apapun masalahnya tidak pernah mendapat dukungan dan support dari sang suami.
Setiap kali Tia mengadu tentang sikap sang ibu pada suaminya, Tia malah yang tersudutkan. Seolah Tia lah yang berada di dalam posisi bersalah, walau jelas sang ibu yang menjadikan Tia kambing hitam.
"Ya Allah, beruntung sekali aku mendapatkan suami seperti mas Hans. Aku berjanji akan selalu menjadi istri yang terbaik untuknya. Aamiin ...." Tia berdoa di dalam hati, mengucap syukur telah mendapatkan suami seperti Hans.
__ADS_1
Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan istirahat siang mereka yang tertunda.
***
Di hotel bintang lima.
Siang yang indah bergulir ke matahari terbenam menjadi saksi dua insan yang sedang mabuk kepayang. Mereka lupa akan kewajibannya pada suami dan istri mereka. Keduanya sama sekali telah melupakan kalau mereka sudah memiliki pasangan hidup.
Tok!
Tok!
"Mas, siapa itu? Cepat tolong kau tengok siapa yang datang," ucap Wulan yang masih malas untuk bangun.
"Room Servis ...." Suara khas dari petugas pelayan hotel terdengar di telinga Steve dan Wulan.
"Hanya room Servis ternyata, mau mengantar sesuatu kayaknya," sahut Steve sembari bangkit dari tidurnya. Steve berjalan tanpa pakaian yang menutupi bagian atasnya. Sedangkan Wulan masih bergelung di dalam selimutnya.
Klik!
"Mama?!" teriak Steve terkejut melihat siapa di belakang sang petugas room Servis.
__ADS_1