Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 124


__ADS_3

Satu bulan kemudian ....


"Rai, aku hamil. Katamu dulu kau akan bertanggungjawab, sekarang aku ingin kau menikahiku, Rai!" seru Clara yang merasa kesal dengan Rai karena dihubungi tidak pernah diangkat. Selalu dirijek dan pesan dari Clara tidak pernah dibaca.



Rai yang sedang duduk bersama beberapa teman sekampusnya pun merasa kesal dengan Clara. Rai telah dibuat malu oleh Clara hingga Rai beranjak dari duduknya lalu berteriak dengan lantang sambil menunjuk ke arah Clara.



"Dasar wanita mur4han! Kau hamil dengan orang lain tapi menuntut tanggung jawab padaku! Kau ingin aku menikahi mu? Ambil cermin dan berkacalah! masih banyak wanita yang lebih cantik dan cerdas dari mu, mengapa aku harus menikahimu!!"



Duaarr ....



Bagai tersambar petir, Clara hanya diam mematung melihat semua mahasiswa yang ada di situ berbisik dan melihat dengan tatapan yang menghina.



Maksud hati Clara hanya ingin bertanya baik-baik pada Rai, akan tetapi balasan Rai sungguh di luar dugaan.



Clara menjadi bahan olokan dan gunjingan semua orang di kampus, dan pada akhirnya bea siswa Clara dicabut dan dia di keluarkan dari kampus. Impian Clara untuk bisa sekolah di luar negeri dengan bea siswa pun pupus sudah.



Clara menangis tersedu-sedu menyesali semua perbuatannya, sang ayah hanya bisa meratapi nasib sang anak. Semenjak itu Clara menjadi pribadi yang berbeda, dia lebih sering marah. Hingga pada akhirnya Clara memutuskan untuk mencari suami untuk menutupi aibnya.



"Papa, Clara akan aktif kembali ke pabrik, barangkali ada yang mau aku jadikan suami. Clara tidak mungkin menggugurkan kandungan ini karena bayi ini jika digugurkan maka nyawa Clara yang terancam," ucap Clara meminta ijin pada sang ayah untuk bisa memuluskan rencananya.



"Terserah kamu, Clara. Kau bebas melakukan apa pun yang kau anggap benar. Tidak perlu minta ijin pada papa karena semua ini adalah milikmu," ucap Burhan pada Clara sang anak.



"Terimakasih, Papa," ucap Clara sembari memeluk sang ayah.



Akhirnya Clara pun melancarkan aksinya untuk menjerat Gunawan, sosok yang paling tampan di antara para pegawai dan pekerja pabrik.


***


"Ma, mama melamun?" tanya Sinta pada sang ibu yang dilihatnya sedari tadi melamun.



Clara terkejut, dia mengira sang putri semata wayangnya itu sudah tidur, ternyata Sinta belum juga tidur.



"Apa ...? Melamun? Tidak, Sayang. Mama hanya sedang berpikir untuk segera menggantikan papamu dengan dirimu. Mama ingin kau bisa menjadi wanita karir. Tunjukkan pada Steve bahwa kau perempuan yang kuat dan buat juga Steve menyesal!" ucap Clara memberi nasehat pada sang putri.



Sinta tersenyum, dia paham dengan sang mama. Harga diri seorang wanita tidak bisa diinjak-injak begitu saja.



"Baiklah, Ma. Aku akan menuruti semua saran mama. Sinta juga ingin membalas sakit hati pada mas Steve," ucap Sinta membuat hati Clara merasa senang. Sinta adalah sosok wanita yang cerdas dan lugu seperti ibunya. Namun, karena disakiti, dia pun juga berubah seperti sang mama.



Clara merasa bangga pada Sinta, tidak percuma Sinta kuliah hingga luar negeri hanya untuk mewujudkan impian Clara dulu yang tidak tercapai.



"Sinta, ayo tidur. Biar tubuhmu besok pagi lebih bugar dan kita bisa segera pulang ke rumah. Kita akan mempersiapkan acara tasyakuran kelahiran cucu mama. Sudahlah kau beri nama putrimu?" tanya Clara.



"Sudah, Ma. Sudah aku simpan satu nama indah untuk putri kecilku," jawab Sinta.



"Bagus, Sayang. Kalau begitu cepatlah tidur, akan banyak yang harus kita persiapkan," ucap Clara mengusap rambut Sinta dengan penuh kasih sayang.



Sinta mengangguk, dia pun mematuhi perintah ibunya untuk segera tidur. Setelah Sinta tidur, barulah Clara kembali merebahkan tubuhnya, kali ini dia memilih tidur daripada memikirkan masa lalunya.


***

__ADS_1


Matahari bersinar dengan terangnya, menyinari seluruh alam semesta. Pagi yang indah, dimana penduduk rumah sakit sudah mulai beraktivitas. Begitu pun Tia yang sudah merasa lebih baikan dan segar dibandingkan keadaannya kemarin. Dua kantung darah dari Gunawan sudah masuk sempurna ke dalam tubuh Tia.



"Pagi, Sayang," ucap Hans menyapa sang istri yang baru membuka matanya.



"Pagi, Mas," jawab Tia dengan tersenyum. Wajahnya sudah tidak pucat lagi.



"Bagaimana tidurmu, Sayang. Apakah nyenyak?" Imbuh Hans. Dia sangat bahagia melihat sang istri terlihat lebih segar daripada kemarin.



"Alhamdulillah, Mas. Tia bisa tidur dengan nyenyak. Daster pemberian ayah bagaikan obat tidur untukku," jawab Tia sambil mengusap daster yang ia pakai. Tia merasa nyaman dengan daster yang dibelikan Gunawan untuknya.



"Benar, Tia. Bukan daster itu yang bikin nyenyak, akan tetapi kasih sayang ayah lah yang membuat kita tidur dengan nyenyak. Sungguh Allah telah menunjukkan kuasanya, kita jauh datang ke sini tanpa tangan kosong. Kita bisa menemukan ayah dan ayah pun mengakui mu menjadi anaknya," ucap Hans duduk di tepi ranjang Tia.



"Benar, Mas. Tidak sia-sia kita jauh kemari," ucap Tia. Mereka senang karena usaha untuk mengetahui siap ayah kandung Tia telah berhasil.



Mereka berdua pun saling berpelukan meluapkan rasa syukur yang tiada terkira.



"Baiklah, mas tinggal dulu ya. Sesuai keinginanmu kalau mas harus menjenguk Wulan lalu memberitahukan semua ini pada Aris. Bukan begitu keinginanmu, Tia?" tanya Hans pada Tia.



"Benar, Mas. Tia ingin mas Hans memberi kabar pada Aris. Berharap papa mau datang ke sini untuk menjenguk mbak Wulan. Kasihan jika mbak Wulan tidak segera mendapatkan penanganan lebih lanjut karena tidak ada keluarga yang bisa dihubungi," jawab Tia dengan senyum.



"Baiklah, setelah sarapan nanti mas akan ke bagian informasi untuk mendapatkan info tentang kakak perempuan mu itu, selanjutnya kita serahkan pada tim dokter untuk melakukan tindakan yang tepat bagi Wulan," sahut Hans memberi ketenangan pada Tia.



"Terima kasih, Mas. Aku bersyukur memiliki suami sebaik dirimu. Kau masih peduli dengan wanita yang sudah mengkhianati dirimu," ucap Tia mengucapkan terima kasih pada Hans.




Tidak berapa lama kemudian suster yang biasa membawa makanan untuk pasien pun datang.



Tok!



Tok!



"Permisi, Tuan. Sarapan untuk nyonya Tia," ucap sang suster sembari memberikan nampan yang diatasnya ada kotak makanan dan teh hangat.



Hans menerima nampan tersebut lalu berkata, "Terima kasih, Sus."



"Sama-sama, Tuan," jawab sang suster dengan ramah.



Gegas Charles menyuapi istrinya agar Tia mendapatkan asupan gizi yang baik. Setelah selesai menyuapi Tia, Hans pamitan pada Tia untuk mencari informasi tentang Wulan dan mengirimnya ke Aris.



"Mas pergi dulu ya, kalau ada apa-apa tekan tombol untuk memanggil suster. Mas tidak akan lama-lama kok, hanya cari informasi tentang Wulan lalu mengirimnya pada Aris," ucap Hans berpamitan.



"Iya, Mas. Kamu tenang aja, jika ada apa-apa aku akan panggil suster," ucap Tia tersenyum melihat sang suami yang begitu mengkhawatirkan dirinya.



Setelah mengecup kening Tia dan mengusap calon bayinya, Hans pun meninggalkan kamar Tia. Dia berjalan menyusuri lorong menuju ke bagian informasi. Di sana dia akan bertanya dimana Wulan dirawat.


__ADS_1


"Selamat pagi, Sus," sapa Hans dengan ramah.



"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya suster penjaga bagian informasi.



"Bisa minta informasi tentang pasien bernama Wulan Riyanti? Pasien kecelakaan tempo hari," jawab Hans dengan ramah.



"Sebentar, Tuan. Kami cek dahulu," jawab sang suster. Ia pun melihat daftar pasien melalui layar komputer.



"Wulan Riyanti, pasien kecelakaan. Sekarang sedang dirawat di ruang ICU. Apakah Anda keluarga atau rekannya?" tanya sang suster.



"Saya keluarganya, Sus. Adik ipar dari pasien," ucap Hans jujur. Bagaimana pun Wulan adalah kakak perempuan istrinya.



"Baiklah, jika Anda adalah keluarganya, Anda diharap untuk menemui dokter Genta. Dokter yang menangani pasien," jelas sang suster.



"Dimana letak ruang praktek dokter Genta, Sus?" tanya Hans lagi.



"Silakan Anda lurus, lalu belok kiri, di sana nanti ada papan penunjuk letak ruangan dokter Genta," jawab sang suster dengan menunjuk ke arah yang ia maksud.



"Terima kasih, Sus."


Hans pun menuju ke ruangan dokter Genta untuk mengetahui perkembangan keadaan Wulan. Setelah menyusuri lorong sesuai dengan petunjuk yang sang suster tunjukkan, Hans pun akhirnya sampai di depan ruang praktek dokter Genta.


Tok!



Tok!



"Silakan masuk," ucap dokter Genta yang kebetulan belum jam prakteknya, hingga pasien belum ada.



"Selamat pagi, Dok. Maaf pagi-pagi mengganggu," ucap Hans dengan ramah. Senyum menghiasi wajah Hans yang putih.



"Selamat pagi, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Genta ramah. Dokter yang memiliki usia tiga tahun lebih tua dari Hans itu menyambut ramah kedatangan Hans.



"Dok, perkenalkan nama saya Hans Permana. Salah satu keluarga dari pasien kecelakaan Wulan Riyanti. Saya dapat informasi bahwa Wulan adalah pasien dari Dokter Genta. Untuk itu saya ingin mengetahui perkembangan lebih lanjut dari pasien yang bernama Wulan," ucap Hans mengutarakan maksud kedatangannya.



"Oh ... Anda pasien dari Wulan Riyanti? Syukurlah, kami hampir putus asa karena kami kira tidak ada keluarga yang bisa kami mintai persetujuan," ucap dokter Genta membuat Hans tertunduk. Sejujurnya Hans tidak mau peduli lagi pada Wulan, akan tetapi karena sang istri memaksa, Hans terpaksa harus menuruti sang istri dan bertanggung jawab pada keadaan Wulan.



"Kami minta maaf, Dok. Kami juga mendapat kabar baru kemarin," jawab Hans.



Sang dokter pun tersenyum, dia memahami memang berita kecelakaan tanpa ada identitas diri si korban akan sangat lama kabar sampai pada sang keluarga.



"Tidak masalah, Tuan. Memang kami menyadari karena tidak adanya kartu identitas yang bisa kami temukan, maka kami terpaksa menunggu hingga keluarga bisa menemui pasien," ucap sang dokter memaklumi lambatnya kabar tersampaikan pada pihak keluarga pasien korban kecelakaan.



"Bagaimana keadaan Wulan sampai saat ini, Dok? Apakah ada kemajuan atau ada hal yang mengkhawatirkan?" Hans ingin langsung pada inti pembicaraan, dia tidak ingin berlama-lama menunggu kabar keadaan Wulan.



"Baiklah, Tuan. Ada hal yang ingin saya katakan tentang perkembangan Nyonya Wulan, kecelakaan mobil itu telah membuat wajah nyonya Wulan rusak. Dan kami ingin minta ijin pada keluarga untuk melakukan operasi plastik pada pasien, karena jika operasi ini tidak dilakukan maka akan menimbulkan infeksi yang serius," jelas sang dokter.



Dokter Genta menjelaskan semua keadaan Wulan secara detail pada Hans.

__ADS_1



"Astaga ... Sebegitu parahnya, Dok?"


__ADS_2