
Pesan dari Ridho, Tia abaikan dan langsung dihapus. Akan tetapi ternyata tidak hanya berhenti di situ saja.
Ridho terus berusaha mendekati Tia. Dia bahkan mulai mengirimkan bunga, dan coklat tanpa nama. Kemudian dia mengetik beberapa baris indah puisi demi memperjelas pada Tia akan perasaan, dan maksudnya mengirim hadiah itu.
\*Kebodohanku di masa lalu adalah menyia-nyiakanmu
Semoga kamu berkenan mengampuni aku,
dan menerima pemberianku yang sederhana itu.*
Ridho.
Tia membelalak kesal menerima pesan itu. Sebab Kini dia tahu yang mengirimkan hadiah untuknya ternyata adalah Ridho. Seseorang yang paling ingin dia lupakan di dunia ini.
"Hiisshh! Untuk apa sih, dia melakukan hal ini lagi?!" omel Tia saat membuang bunga, dan hadiah dari Ridho ke tempat sampah di luar rumah. Wajah cemberut Tia menunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak suka dengan hadiah-hadiah itu.
"Kenapa dia membuangnya? Apa kurang mewah?? Atau kurang mahal??" gumam seorang pria yang mengawasi rumah Tia dari kejauhan. Sosok ini terlihat begitu memuja saat melihat siluet Tia yang kini sedang hamil tujuh bulan.
"Semakin hari kamu semakin cantik, dan menggemaskan, Tia," gumamnya tidak lepas memandang sosok Tia. Pria ini bahkan tidak perduli jika Tia masih memiliki suami. Perasaannya pada Tia tidak mudah untuk ditangani. Dia sudah terlanjur terobsesi pada Tia. Bahkan Dia sudah bertekad akan menerima anak yang dikandung Tia sebagai anaknya sendiri.
Pria aneh yang terus-terusan mengawasi Tia adalah Ridho. Pria ini bahkan sampai menyewa rumah yang cukup berdekatan dengan rumah Tia, agar dia bisa lebih leluasa mengawasi pergerakan Tia. Sebab Dia benar-benar merasa akan gila jika sehari saja tidak melihat Tia.
Contohnya seperti pagi itu. Setelah melihat Tia membuang hadiah darinya, Ridho melihat Tia keluar rumah untuk berjalan-jalan di pagi hari. Dengan daster sederhana, wanita hamil itu berjalan perlahan menyusuri kompleks. Senyum di wajah wanita hamil itu membuat Ridho semakin tersihir, dan memuja.
"Kamu semakin cantik semenjak hamil. Sayangnya suamimu yang bodoh itu tidak bisa melihat keindahanmu ini," gumam Ridho dari balik jendela kaca mobilnya. Setiap pagi Ridho mengawasi Tia dari mobilnya yang ia parkir tidak jauh dari rumah Tia dan Hans.
Pria itu terus mengawasi Tia dengan seksama. Bertemankan segelas kopi di tangannya, Ridho memuja keindahan yang kini sedang berjalan menikmati matahari pagi. Sesekali Tia berhenti berjalan, dan mengusap perutnya dengan penuh sayang.
"Kalau saja itu adalah bayiku," gumam Ridho semakin terlihat mengerikan. Ekspresinya yang penuh dengan hasrat kepada Tia. Membuatnya terlihat seperti seorang psikopat.
Setelah selesai olah raga pagi dengan berjalan kaki, Tia tidak keluar rumah lagi. Ridho jadi tidak tenang. Dia ingin melihat Tia. Dia ingin memanjakan Tia, dan melihat senyuman Tia. Alhasil Ridho membuat siasat lagi untuk mengunjungi Tia.
__ADS_1
Siang itu Tia tidak memasak untuk makan siang. Dia memilih beristirahat, dan memesan makan siang di restoran langganannya. Namun saat seseorang mengetuk pintu rumah, Tia kaget bukan kepalang melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya.
"Ridho?! Ngapain kamu di sini?!" tanya Tia dengan ekspresi kesal.
"Main. Kebetulan aku sedang senggang, dan lewat sekitar sini. Aku bawakan opor kesukaanmu, nih! Ayo, masuk dulu!" pinta Ridho dengan sedikit memaksa.
Tia hanya melipat tangan di depan dada. Dia menatap Ridho dari ujung kaki hingga ujung kepala, seakan sedang menilai pria dewasa itu. Terlihat jelas Tia tidak nyaman dengan kehadiran Ridho. Namun aroma opor ayam yang dibawa Ridho membuat Tia menelan air liur.
"Kenapa kamu hanya diam saja? Kamu tidak mau mempersilahkan tamu kamu masuk?" Ridho kembali bertanya. Memancing Tia kembali dari lamunannya.
"Haahh. Baiklah. Masuk saja," ucap Tia dengan berat hati.
"Naahh, begitu, dong. Terimakasih banyak, Tia. Ini opor ayam kesukaan kamu!" Setelah diizinkan masuk ke rumah barulah Ridho menyerahkan kantung berisi opor ayam kepada Tia.
Wanita dewasa yang sedang hamil itu tersenyum senang menerima bingkisan yang mengeluarkan aroma wangi. Tia bahkan sempat menciumi dulu kantong plastik berisi opor ayam tersebut. Sebelum akhirnya membawanya ke belakang untuk diletakkan di wadah yang lebih baik.
Diam-diam Ridho mengulum senyum. Dia senang melihat Tia bahagia dengan bingkisannya. Itu artinya, selera Tia masih belum berubah, dan dia masih bisa mencoba mendekati Tia dengan mengirimkan makanan, atau barang kesukaannya.
"Iya. Aku mengerti. Biarkan saja dia menikmati bingkisannya," tutur Ridho dengan senyum semringah.
Dengan senang hati dia akan menunggu sampai Tia selesai makan opor yang dia bawakan.
Selama Tia menghabiskan waktunya untuk makan opor, Ridho menggunakan kesempatan ini untuk melihat-lihat rumah Tia.
Pemuda itu melihat Tia masih mengenakan korden, dan sofa dengan warna senada. Menandakan Tia masih setia pada warna-warna favoritnya. Ridho jadi merasa Dia memiliki harapan untuk kembali mengetuk hati Tia. Sebab menurutnya, selera Tia belum berubah. Yang artinya, mungkin saja dia masih masuk ke dalam list pria favoritnya.
"Loh?? Ngapain kamu masih di sini?!" Tia terlihat kaget melihat Ridho masih di ruang tamu rumahnya.
Pria dewasa itu tersenyum senang. Dia lekas menyimpan ponsel yang sebelumnya digunakan untuk mengambil gambar. Kini dia ingin fokus saat berbicara dengan Tia.
"Kok, kamu ngomong begitu, sih? Aku hanya ingin berkunjung, dan nengok kabarmu sebentar. Apa opor tadi kurang berkenan di hatimu?" tanya Ridho dengan suara selembut mungkin. Pria ini memasang wajah memelas demi mendapatkan simpati Tia.
Wanita yang sedang hamil itu kontan salah tingkah. Dia merasa tidak enak hati sebab bersikap seperti itu kepada seseorang yang datang dengan membawa buah tangan favoritnya.
"A- aku baik, kok," jawab Tia pelan. Dia duduk di salah satu sofa yang cukup jauh dari Ridho. "Seperti yang kamu lihat, aku hidup bahagia dan sedang mengandung buah hati mas Hans," lanjut Tia mengulas senyum bahagia.
Wanita dewasa ini mengusap lembut perutnya yang sudah membesar. Dia terlihat begitu bahagia dan damai dengan kehidupannya saat ini.
__ADS_1
"Iya. Aku bisa melihat itu dengan jelas. Tentu saja kamu bahagia. Sebentar lagi kalian akan dikaruniai bayi yang lucu," sahut Ridho tanpa sadar memandang lekat perut Tia. Pria itu tersenyum kecut, seakan kecewa akan sesuatu. Membuat Tia kembali merasa canggung ditatap seperti itu.
"Ehem! Kamu ..., Kamu gak kerja, mas?" Tia mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia terlihat tidak nyaman ditatap, dan duduk bersama Ridho terlalu lama.
"Tidak. aku mengambil cuti. Kepalaku pusing karena beberapa masalah yang sangat pelik," jawab Ridho memasang wajah sendu.
"Hemm. Hidup ini memang banyak cobaan, yang sabar aja. Cepat atau lambat segalanya pasti akan berlalu," lirih Tia. Seperti sudah menjadi kebiasaan, tanpa sadar Tia menasehati Ridho. Menyisipkan ketenangan yang tidak pernah Ridho rasakan sebelumnya dari orang lain.
Pria dewasa itu tersenyum kecil. Dia bahagia mendapatkan nasehat dari Tia. Ridho merasa Tia masih memiliki simpati padanya, dan masih menyimpan sedikit rasa untuknya.
"Iya. Trimakasih banyak, Tia," senyum di bibir Ridho semakin mengembang lebar. Dia senang bisa merasakan kembali kedamaian bersama Tia di sisinya.
"Terima kasih kamu nggak langsung mengusirku. Terimakasih juga kamu masih mau membuka pintu rumahmu untukku. Maaf. Aku..., Aku sudah bersikap jahat padamu," lirih Ridho sepenuh hatinya.
Terlihat jelas ketulusan di mata Ridho. Pria dewasa ini benar-benar telah berubah. Setidaknya di hadapan Tia. Dia ingin menciptakan kesan baik di mata mantan istrinya. Sebab dia ingin Tia kembali ke dalam pelukannya apapun yang terjadi.
"Iya, mas. Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Aku tidak akan menyimpan dendam padamu," ucap Tia dengan suaranya yang lembut. Senyum kecil di bibir Tia seakan membawa harapan besar di hati Ridho.
Diam-diam ridho bersorak penuh kemenangan dalam hatinya. Langkah pertamanya untuk mendekati Tia kini berjalan dengan mulus.
"Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Kamu memang perempuan yang baik, Tia," puji Ridho. Pria dewasa ini tidak henti-hentinya mengulas senyum senang. Sebab berada di sisi Tia adalah sesuatu yang sangat membahagiakan baginya.
"Kalau begitu, aku boleh datang berkunjung lagi lain waktu?" tanya Ridho lagi. Dia masih belum rela pergi. Namun inilah siasatnya untuk menarik simpati Tia lagi.
Tia terdiam cukup lama. Wanita dewasa ini menimbang dengan seksama jawaban terbaik bagi Ridho. Tia paham, jika dia menolak, Ridho akan bersikap nekad. Namun jika dia langsung menerima, Tia khawatir Ridho akan mengharapkan lebih.
"Kenapa? Tidak boleh, ya?? Atau.., aku berkunjung saat suamimu di rumah juga tidak masalah. Aku sedang butuh sosok yang dapat menenangkan badai dalam hatiku. Dan sampai saat ini, hanya kamu yang bisa melakukannya, Tia," tambah Ridho dengan nada suara memelas.
Sorot mata Ridho penuh akan permohonan. Rasa lelah, penat, dan putus asa terlihat jelas di wajahnya yang kusut. Melihat semua ini, tidak mungkin Tia tega menolaknya. Apalagi Tia adalah perempuan dengan hati yang lembut.
"Haahh ...!" Tia menghela nafas berat. Kemudian dia berkata, "Baiklah, mas. Kamu boleh berkunjung lagi. Tapi lain kali, lebih baik saat Mas Hans ada di rumah," tutur Tia akhirnya memutuskan demikian.
Wanita dewasa ini tidak bisa memikirkan alasan lain untuk menolak mentah-mentah sikap Ridho. Sebab pria dewasa ini terlihat sangat menyedihkan, dan butuh rekan bicara. Tia jadi tidak tega padanya.
Ridho tersenyum senang. Hatinya bersorak kegirangan. Dia benar-benar berhasil menarik simpati Tia. Rupanya benar dugaan Ridho, bahwa Tia belum berubah. Hatinya sangat lembut, dan mudah bersimpati kepada orang lain.
"Iya. Aku mengerti. Begini saja aku sudah sangat berterimakasih, Tia. Kebaikan hatimu tidak akan aku lupakan," kata Ridho.
Pria dewasa ini pun berdiri. Dia bersiap untuk pamit pergi. Hari ini cukup sampai di sini langkah yang akan dia lakukan untuk mendekati Tia.
"Kalau begitu aku pamit, ya. Sampai jumpa lain waktu," ucap Ridho begitu keluar dari rumah Tia. Dia segera melaju pergi meninggalkan rumah dia dengan motor mahal favoritnya.
__ADS_1
Sementara itu Tia duduk melamun di teras rumah. Dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi antara dirinya, dan Ridho hingga detik ini. Membuatnya berpikir kembali apakah keputusan untuk menerima Ridho sebagai tamu adalah hal yang benar?