Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 82


__ADS_3

Tia menahan napas, dia pun berpikir keras bagaimana cara untuk bisa membangunkan Hans tanpa harus menggunakan suara.


"Baiklah, cara tradisional akan kita lakukan," gumam Tia dengan senyum yang mengembang. Kali ini dia ingin memberi pelajaran pada suaminya agar tidak menjadi orang yang egois dan mampu mengendalikan emosi dengan baik.


Tia melipat mukenanya, lalu bangkit dari tempatnya sholat menuju ke kamar mandi. Diambilnya gayung lalu isi air sedikit dan bawa ke ranjang.


"Maafkan, Tia ya mas ... Tia tidak ingin mas menjadi orang yang egois dan maunya menang sendiri. Sebuah rumah tangga harus saling mengingatkan, agar rumah tangga kita langgeng untuk selamanya," ucap Tia di dalam hati.


"Hujaaan ...." Hans teriak karena terkejut saat ada air yang membasahi wajahnya. Tia yang melihat hanya menahan tawa. Dia segera berlalu dari samping tempat tidur Hans.

__ADS_1


"Hmm ...." Hans mengusap wajahnya yang basah, dia hanya melirik ke arah Tia yang berlalu dari hadapannya menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Argh ...! Kenapa sih harus buat tantangan. Mana bisa aku bertahan lama, bangun subuh aja harus dibangunin sekarang!" gumam Hans di dalam hati, meratapi nasibnya. Hans mengakui jika dirinya memang belum mengontrol diri jika sedang emosi.


"Rasain kau, Mas! Biar tahu bagaimana rasanya tidak berbicara dengan orang yang kita cintai. Semoga kau bisa mengambil hikmah di balik semua." Tia tersenyum sinis pada Hans.


Dengan kejadian ini Tia berharap jika Hans mau merubah sikapnya yang terlalu egois. Namun, jauh di lubuk hati Tia, dia sangat mencintai Hans.


Sementara Tia memasak, Hans seperti biasa akan membantunya menyiapkan piring dan air putih. Sesekali mereka saling melirik. Namun, tetap dalam diam. Sungguh pemandangan yang sangat unik, keduanya saling mempertahankan gengsi mereka.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tia ... Masak apa hari ini, Nak?" tanya Ningsih. Semakin hari kesehatan Ningsih semakin membaik. Kebahagiaan yang dia rasakan mampu meningkatkan kesehatannya.


Tia menoleh ke arah Ningsih yang datang dengan kursi rodanya. Sekarang Ningsih bisa bangun sendiri tanpa harus dibantu oleh Tia. Hal yang membuat Hans semakin cinta pada Tia, yaitu Tia mampu memberikan warna kehidupan pada Ningsih.


"Eh, ibu. Selamat pagi, Bu. Ini Tia masak ayam kecap. Biasa kesukaan anak ibu tentunya," jawab Tia sambil tersenyum. Dengan rambut dicepol ke atas, leher putih Tia terekspos. Sepasang mata sedari tadi tidak berpaling dari menatap tubuh Tia. Walaupun harus dengan jalan mencuri pandang.


"Wah, sungguh kau adalah sosok istri yang Sholihah. Ibu sangat bahagia sekali kau menjadi bagian dari keluarga ini, beruntung sekali Hans, memiliki istri yang pandai memasak," puji Ningsih pada Tia.


Ningsih melihat perbedaan yang jauh antara kakak beradik dulu. Saat dulu sang kakak menjadi menantunya, jarang sekali dilihatnya sang menantu menyiapkan sarapan untuk anaknya. Setiap hari selalu saja ada alasan untuk bangun siang. Namun, menantunya yang baru ini pagi-pagi sudah menyibukkan diri mempersiapkan sarapan untuk semua.

__ADS_1


"Ah, ibu bisa saja. Tia memang sudah sedari dulu suka memasak. Selain itu sudah menjadi tugas seorang istri untuk menjaga kesehatan suami. Untuk itulah, Allah menciptakan wanita sebagai pelengkap hidup seorang lelaki," balas Tia sembari melirik ke arah Hans yang pura -pura tidak sedang melihat dirinya.


"Benar, Tia. Sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk memperlakukan istri dengan baik. Kebahagiaan istri adalah pembuka pintu rizki seorang suami," ucap sang ibu mertua. Seketika Tia merasa kata-kata Ningsih menunjukkan arti kalau Ningsih mendukung sang menantu.


__ADS_2