
"Baiklah, Mas. Tia istirahat dulu, ya. Kalau ada apa-apa, kamu bangunin Tia saja. Tadi, Hasna makan dengan porsi sedikit sekali. Tia takut kesehatan dia terganggu, Mas," ujar Tia. Raut wajah khawatir kembali ia munculkan ketika mengingat kembali bagaimana raut wajah anaknya.
"Iya, Sayang. Serahkan saja semuanya kepada Mas, ya? Jangan terlalu terbebani. Kita akan membuat Hasna mengerti bersama-sama."
Tia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya setelah menganggukkan kepala dan disusul kembali dengan elusan di kepala Tia. Hans kembali ke dapur karena mengingat jika ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Tia, tapi ia memilih dirinya sendiri saja yang mengerjakannya, mengingat kondisi Tia yang memprihatinkan saat ini. Dahi Hans berkerut begitu melihat anak laki-lakinya kini sedang berdiri di depan wastafel.
"Hasan, apa yang sedang kamu lakukan di sana?" tanya Hans ketika sang anak menggulung tangan bajunya hingga sikut.
"Mau merapikan ini, Pa," jawab Hasan sambil menolehkan kepalanya ke arah Hans.
"Sini, biar Papa saja, Nak." Hans menyuruh Hasan bergeser tubuhnya agar dirinya yang mengambil alih dalam kegiatan sang anak yang ingin mencuci piring.
"Nggak papa, Pa. Biar Hasan saja. Lebih baik Papa beristirahat saja di kamar, sekalian ganti baju Papa. Kita kan, baru pulang jalan-jalan, Pa," ujar Hasan membuat Hans menggaruk keningnya. Ia merasa tersanjung dengan sikap anaknya yang begitu perhatian kepadanya, sampai-sampai bajunya yang belum diganti saja Hasan begitu peka.
"Baiklah, Nak. Papa ganti baju dulu, ya. Kalau ada kesulitan dalam mencucinya, kamu bisa panggil bibi dulu. Yang lebih dekat jika Papa belum kembali ya, Nak," ucap Hans.
"Iya, Pa."
Hans pun meninggalkan Hasan yang sedang beraktivitas seperti mamanya. Mencuci piring kotor setelah selesai makan bersama. Itulah rutinitas yang selalu Tia lakukan. Itu semua tidak luput dari perhatian Hasan, hingga kini anak laki-laki itu bisa melakukan apa saja yang pernah Tia lakukan selama orang tuanya masih bisa melakukan aktivitas. Saat itu kehamilan Tia belum terlalu payah seperti sekarang ini.
"Hasna, kamu mau apa, Dek?" tanya Hasan begitu menyadari kehadiran Hasna di dapur. Sang adik terlihat kebingungan mencari sesuatu hingga Hasan memiliki niat untuk membantunya setelah membersihkan tangannya dari busa sabun cuci piring.
"Mau cari gelas, aku haus, Kak. Tapi dimana, ya? Aku kok nggak nemu?" tanya Hasna tanpa menatap kakaknya.
"Oh, gelas. Itu ada di atas, Dek. Ini ada, tapi belum Kakak bersihkan. Baru di cuci soalnya" jawab Hasan bergegas mendekati Hasna dan mencarikan apa yang adiknya butuhkan.
"Tuan, Nona. Apa yang sedang kalian lakukan di dapur? Astaga, Tuan! Apa yang Tuan lakukan? Kenapa malah cuci piring, Tuan? Biarkan saja hal ini Bibi yang melakukannya," ujar pembantu di rumah mereka dengan sedikit syok saat mengetahui jika sebagian piring kotor terlah dibersihkan oleh Hasan.
"Nggak papa kok, Bi. Cuma ini dong lagian, kan. Bibi bisa kerjakan yang lain saja. Mama kan kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Pasti, Bibi sangat kecapekan melakukan semuanya sendirian," ujar Hasan begitu sangat pengertian hingga membuat pembantu di rumah mereka terenyuh mendengar tuturan kata dari Hasan.
"Tapi, Tuan …."
"Apa sih, Bi? Kok berisik banget? Bukannya malah bersyukur karena kakak sudah bantuin tugas Bibi di sini, kok malah komen? Aneh banget!" celetuk Hasna dengan nada sinis dan tatapan matanya penuh ketidaksukaan kepada pembantu di rumah mereka.
"Shuttt! Hasna! Apa yang kamu katakan? Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Hasna! Bibi juga orang tua kita di sini, sudah sepatutnya kita menghormati Bibi!" tegas Hasan begitu terkejut dengan bentakan yang adik tersayangnya ucapkan barusan.
"Biarin saja kah, Kak! Lagian, apa Bibi nggak pernah diajarkan bagaimana rasa bersyukur? Kan seharusnya dia bersyukur karena Kakak sudah berbaik hati bantuin dia! Aneh banget! Ini sudah di bantuin, tapi malah komen! Kalau aku yang jadi Kakak, nggak Sudi aku, Kak, bantuin Bibi! Di rumah ini kan, Bibi juga kita bayar! Untuk apa bayarannya kalau dia saja nggak becus lakukan pekerjaan dia?" ucap Hasna panjang lebar membuat mata Hasan melotot tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari sang adik.
"Hasna! Apa yang kamu katakan? Siapa yang ajarin kamu berbicara seperti itu, Dek? Kakak nggak suka ya, kamu kayak gini!" tegur Hasan dengan nada pelan, namun penuh dengan penekanan agar adik kembarnya tahu jika ia sedang marah saat ini, dan Hasna tidak akan menganggap ucapannya main-main.
"Kakak ngebela pembantu ini? Jelas-jelas Di sini dia yang salah, Kak! Seharusnya kan, habis kita selesai makan, dia harus selalu ada di dapur untuk mencuci piring! Harusnya juga dia tahu, kalau mama kan lagi fokus sama adek bayi! Nggak mungkin banget mama sempet kerjain yang kayak gini! Fokus dia itu ya, cuma sama adik bayi!" teriak Hasna semakin menjadi membuat Hasan menjadi geram sendiri. Selain tidak sopan kepada pembantu mereka, Hansa juga secara langsung mengatakan jika ibu mereka tidak becus dalam mengurus rumah.
"Hasna, ayo ikut, Kakak!" Hasan menarik tangan Hasna untuk menjauh dari dapur.
"Bi, maaf ya, Hasan baru cuci piring kotornya setengah. Nanti bakal Hasan lanjutkan lagi," ujar Hasan sebelum pergi meninggalkan dapur, mengingat jika apa yang sedang di kerjakan belum selesai.
__ADS_1
"Iya, Tuan, nggak papa. Ini cuma sedikit lagi, biar Bibi yang melanjutkannya," ujar pembantu mereka dan langsung bergegas melanjutkan pekerjaan Hasan yang sedang tertunda.
"Terima kasih, Bi. Maaf, ya." Hasan merasa bersalah.
"Ayo, kamu ikut Kakak!" Hasan menarik Hasna agar terus mengikuti langkahnya menjauh dari dapur. Saya ini, ia ingin memberikan adiknya sedikit nasihat agar memperbaiki sikap Hasna yang menurut Hasan sudah keterlaluan.
"Sakit, Kak. Lepasin, ih! Kakak kok , sekarang jadi kasar sama Hasna? Apa Kakak juga sudah mulai nggak sayang lagi sama Hasna, ya?" tanya Hasna dengan bulir air mata yang sudah mulai menggenang di pelupuk mata Hasna.
###
"Hasna, jangan kayak gitu, ya. Itu nggak baik. Bibi umurnya lebih tua dari kita. Sudah sepatutnya kita hormati dia, seperti kita hormat kepada kedua orang tua kita," ujar Hasan setelah beberapa detik menarik napas panjang untuk menahan kekesalannya melihat sikap tidak wajar adik kembarnya.
"Kalau sudah tidak di anggap, apakah kita harus bersikap baik lagi ke orang itu, Kak? Hasna nggak mau, pokoknya!"
"Maksud kamu? Siapa yang tidak dianggap? Kamu tidak dianggap oleh siapa?" tanya Hasan memberikan pertanyaan dan sedikit melarat pertanyaannya setelah berpikir jeli maksud dari perkataan adiknya.
"Mama. Mama sudah nggak anggap aku anak, Kak!" jawab Hasna seketika membuat pupil mata Hasan melebar.
"Hasna, kita itu masih kecil, nggak baik punya pemikiran seperti itu! Apalagi, sampai berpikiran jauh sampai ke sana. Kita ini anak mama dan papa. Mama dan papa selalu baik ke kita. Jadi, jangan pernah berpikir seperti itu, ya." Hasan mengusap dengan perasaan lembut pundak Hasna yang kini sedikit bergetar. Hasan yakin, kembarannya ini pasti sedang susah payah menahan tangisnya yang ingin pecah.
"Tidak, Kak! Hasna benar! Mama memang sudah tidak menyayangi Hasna lagi. Buktinya, sekarang Mama ada di mana? Mama ada di kamar kan, Kak? Kemana Mama yang biasanya selalu menemani Hasna main? Nggak ada! mama sudah terlalu fokus sama adik bayi!" pekik Hasna kini dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Mama sekarang butuh banyak istirahat, Dek. Kamu masih kecil. Lebih baik istirahat juga." Hasan yang memiliki pemikiran lebih dewasa dari pada adiknya kini memutuskan untuk menyuruh Hasna beristirahat, agar adiknya tidak berlarut-larut dalam kesedihan yang tidak akan ada habisnya jika terus di pikirkan.
"Kakak mau buat es sirup. Kamu mau, Dek? Nanti biar sekalian Kakak buatkan. Kamu haus, kan?" Hasan mulai berjalan meninggalkan Hasna untuk kembali ke dapur.
"Mau, Kak."
***
"Mas, aku mau ke luar dulu, ya. Aku nggak bisa tidur, kepikiran Hasna dan Hasan terus," ucap Tia akhirnya pasrah karena matanya yang sejak tadi ia paksakan terpejam agar segera menyelami alam mimpi, tak kunjung menyelaminya.
"Badan kamu sakit? Sini, Mas pijatin. Kaki atau tangan, Sayang?" tanya Hans, mulai duduk di samping Tia yang sedang duduk bersandar di dasbor tempat tidur.
"Tidak usah, Mas. Terima kasih. Saat ini, nggak ada yang pegal atau sakit, kok. Adik bayi baik-baik saja, nggak merepotkan," ujar Tia dengan tatapan mata sedikit kosong. Mata indah Tia yang sering Hans lihat kini berubah sedikit lebih sayu karena jarang tidur terlalu memikirkan perdebatannya dengan Hasna akhir-akhir ini.
"Mas, aku mau turun ke bawah dulu, ya? Aku mau buatin kue untuk Hasna. Sepertinya stik camilan di lemari sudah habis deh, Mas. Kasihan kalau dia hanya diam saja di kamar tanpa memakan camilan apapun." Tia bangkit dari tempat tidur, namun tertahan saat tangan Hans mencekal pelan tangannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Tia, kembali duduk pada posisinya.
"Besok Mas akan mengambil jadwal libur yang masih tersisa. Apakah kamu setuju kalau Mas berikan usul, kita akan melakukan piknik bersama dengan anak-anak? Sepertinya ini sangat menyenangkan," ujar Hans.
"Piknik ya, Mas? Sepertinya ide bagus dan pastinya, sangat menyenangkan! Aku setuju, Mas!" ujar Tia. Ia sudah mulai menyusun rencana di dalam otaknya sebagai salah satu susunan rencananya untuk memperbaiki hubungannya dengan sang anak.
"Baiklah. Besok, ya?" tanya Hans langsung dijawab anggukan kepala Tia.
__ADS_1
"Tunggu di sini saja ya, Sayang. Aku mau mengatakan hal ini kepada anak-anak. Tadi, Hasan sedang mencuci piring. Aku harus segera membantunya, takut jika piring itu tergelincir dari tangannya. Bibi sepertinya sedang tidak ada di dapur," ucap Hans berpamitan kepada Tia.
***
"Tuan sedang mencari siapa?" tanya sang pembantu ketika melihat Hans sedang menatap sekeliling dapur.
"Hasan. Dia di mana, Bi?" tanya Hans mendekati pembantu rumah mereka.
"Oh, Tuan Hasan. Tadi dia bersama dengan nona Hasna, Tuan. Sepertinya tuan Hasan mengajak adiknya main di dalam kamar," jawab pembantu itu dan langsung membuat Hans menyusul ke kamar anak kembarnya setelah mengucapkan kalimat sakral, yaitu terima kasih.
Tok! Tok! Tok!
"Boleh Papa masuk?" tanya Hans dari luar kamar Hasna dan Hasan.
"Boleh, Pa," jawab Hasan dari dalam kamar, sedangkan Hansa hanya terus fokus mengganti pakaian Barbie mainannya tanpa peduli dengan siapa kakaknya saat ini sedang berinteraksi.
"Kalian sedang main apa? Sepertinya seru," ujar Hans, mencoba menarik perhatian Hasna yang terus cuek kepadanya.
"Omong-omong ada yang ingin Papa katakan kepada kalian. Besok, kita akan melakukan piknik. Kalian senang, tidak?" tanya Hans langsung me dapatkan tatapan berbinar dari mata kedua anaknya.
"Beneran, Pa?" tanya Hasna antusias.
"Iya, bener. Untuk apa Papa berbohong, Sayang?" Hans mengusap kepala Hasna dan membawa sang anak ke dalam pelukannya, setelah mengangkat tubuh ringan Hasna ke dalam pangkuannya.
"Kalau begitu, aku ingin membaw Barbie ini." Hasna langsung mengambil mainannya dan menunjukkannya kepada Hans.
"Hasan. Kenapa kamu diam saja, Nak? Apakah kamu tidak suka dengan ide Papa untuk melakukan piknik?" tanya Hans.
"Tidak, Pa. Hasan hanya memikirkan bagaimana kondisi mama jika mama juga harus ikut bersama kita piknik," jawab Hasan mengungkap keresahan hatinya.
"Mama kalian akan baik-baik saja, kok. Mama kalian adalah wanita kuat, yang sangat memikirkan kebahagiaan anak-anaknya. Usulan piknik ini saja, Mama kalian yang lebih dulu mengatakannya. Tugas Papa di sini adalah mengatakannya kepada kalian, karena mama tidak Papa ijinkan untuk keluar kamar," ujar Hans dengan tangan yang tak henti mengusap punggung belakang Hasna agar anaknya tetap tenang.
"Baiklah. Hasan akan ikut, Pa."
"Kalau begitu, segera persiapkan barang-barang kalian, ya. Nanti Papa akan meminta bibi untuk membantu kalian menyiapkan semuanya. Besok, kita akan berangkat. Papa pastikan, piknik kali ini akan sangat berkesan di dalam hidup kalian." Hans mengecup puncak kepala anak kembarnya sebelum keluar dari kamar mereka.
***
Pagi harinya, Hasna, Hasan, Hans dan Tia sudah berada di depan rumah mereka, dan memasukkan semua barang-barang bawaan mereka ke bagasi mobil. Semuanya sudah Tia pastikan tidak ada yang tertinggal, baik barang-barang anaknya ataupun barang miliknya dan sang suami.
"Hasna. Kamu mau makan coklat? Mama bawa dua pack. Satu untuk kamu, satunya lagi untuk kakak kamu, ya," ujar Tia lembut seraya mengeluarkan dua bungkus coklat kepala anak-anaknya.
Hasna menolak? Tentu saja tidak! Hasna paling suka dengan sesuatu yang berkaitan dengan coklat! Rasanya, Hansa ingin sekali kehidupannya hanya dikelilingi oleh cokelat, tanpa ada apapun lagi. Apalagi sayuran. Itu adalah kesukaan Hasan. Namun, semua itu tetap tidak bisa nikmati karena kedua orang tuanya sudah membatasinya dan menjaga kesehatannya.
"Ma, aku haus," ujar Hasna membuat Tia langsung bergegas membukakan botol air untuk anaknya. Ini adalah kali pertama Hasna meminta bantuannya lagi setelah perang dingin yang tercipta diantara mereka.
__ADS_1