Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
MMSP2. Bab. 70


__ADS_3

Tia menatap lekat Hasan, sejurus kemudian dia memeriksa suhu badan Hasan.


"Badan kakak agak demam? Apa setelah pulang dari renang kemarin, Kak?" tanya Tia pada anak lelakinya itu.


"Iya, Ma. Hasan mulai ke rasanya setelah pulang dari renang kemarin," ucap Hasan lesu.


"Coba mama lihat, kakak buka mulut," pinta Tia pada anaknya.


Hasan membuka mulutnya lebar-lebar, Tia memeriksa tenggorokan Hasan.


"Kakak sepertinya radang tenggorokan. Apa untuk menelan makanan terasa sakit, Kak?" tanya Tia.


"Iya, Ma. Buat nelen makanan sakit," jawab Hasan hampir habis suaranya.


"Baiklah, mama akan buatin wedang jahe plus kencur agar tenggorokan mu lebih enakan. Besok kita ke dokter untuk periksa agar tidak ada infeksi lainnya," ucap Tia mengacak rambut Hasan.


"Okey, Ma." Hasan memilih mematuhi apa yang dikatakan oleh sang mama.


"Oh ya, di mana, Papa? Mengapa belum terlihat?" tanya Tia pada kedua anaknya mengapa sang suami belum datang untuk makan malam bersama.


"Papa tadi bilang kalau kamu suruh makan duluan, papa masih di ruang kerjanya, Ma," ucap Hasna menyampaikan apa ya g Hans katakan.


"Baiklah, kalian makan sama mbak Yuni terlebih dahulu. Biar mama yang panggil papa."


Tia meminta pada dua anak ya untuk makan terlebih dahulu, sedangkan dirinya hendak memanggil sang suami. Tia berjalan meninggalkan ruang makan menuju ke ruang kerja Hans.


"Dengar, Vera! Apapun yang dia tawarkan, perusahaan kita jangan pernah mau bekerjasama dengan wanita gila itu! Dia benar-benar tidak bisa ditolerir lagi. Pokoknya apapun penawaran wanita itu kita tolak!"


" ...."


"Baiklah, kau atur semua! Jangan sampai kita berurusan lagi dengan wanita gila itu!!"


" ...."


"Bagus, lanjutkan. Bye, sampai bertemu besok di kantor!" Hans memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan memutar badannya hendak keluar dari ruang kerjanya. Akan tetapi Hans terkejut, karena mendapati Tia yang sedang berdiri di belakangnya.


"Astaghfirullah ... Sayang, kau mengagetkanku aku saja!!" Hans mengusap dadanya karena saking terkejut, tetiba sang istri sudah ada di belakangnya.


"Hehehe ... Maaf, Mas. Tadi aku ketuk pintu tapi tidak ada jawaban, ya udah aku masuk aja," jawab Tia apa adanya.


"Maaf, tadi Vera telepon. Dia bicarakan semua tentang Merlyn. Tapi sudah mas tegaskan, sampai kapanpun mas tidak akan mau bekerjasama dengan Merlyn." Hans menjelaskan pada Tia agar Tia tidak salah paham.


"Iya, Mas. Tia tadi gak sengaja dengar. Mas yang sabar dan terus hati -hati, Merlyn bukan wanita yang mudah menyerah kalah dan akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia mau."


"Benar sekali. Tapi mas sudah antisipasi semua. Mas pastikan dia tidak bisa menggangu keluarga kita. Ya sudahlah, mas lapar sekali. Ayo kita makan," ajak Hans merangkul bahu Tia.


***


Keesokan harinya.


Pagi hari yang cerah, berubah menjadi mendung bagi Merlyn, di dalam mobil Merlyn terus menggerutu mengingat atas apa yang Hans lakukan padanya saat di kantor pria itu kemarin, gadis bule itu menatap apartemen miliknya sebelum akhirnya menancap gas meninggalkan tempat itu.


"Lihat saja kau Hans! Aku akan buat kau bertekuk lutut di hadapanku … wanita kampung seperti dia tidak pantas menyaingi ku!" Merlyn memukul stir dengan emosi menggebu, obsesi nya untuk mendapatkan Hans akan dia lakukan apapun caranya.


Cukup lama mengendarai mobil. Merlyn menepikan mobilnya di tepi jalan, dia merogoh tas mahalnya. Mengambil ponsel dan mencari nomor seseorang.


"Temui aku di Caffe Kentari! Ada kerjaan bagus untukmu." ucap Merlyn lewat sambungan telpon dengan senyuman terpampang dibibir glamornya.


Merlyn memutus sambungan telpon kemudian merapikan jas yang sedikit berantakan dengan angkuh, sebelum akhirnya melajukan mobilnya menuju tempat dan menemui seseorang di balik telpon.

__ADS_1


Saat ini Merlyn pergi seorang diri, tanpa pengawal yang menjaga nya ataupun Cloe.


"Lihat saja kau wanita kampung! Keberuntungan akan berpihak padaku. Hans akan menjadi milikku."


Sampai di Caffe Kentari, wanita bule bermata biru itu tersenyum smirk ketika menemukan objek yang dia tuju. Merlyn menghampiri pria yang tengah duduk sendirian di temani segelas kopi di meja pojok Caffe, dia meminta meja yang sepi akan pengunjung.


"Lama menungguku, Vian?" sapa Merlyn pada Vian yang ada dihadapan nya, lalu ikut duduk dan meletakkan tas jinjing mahal berwarna merah pekat nya di atas meja.


"Tidak … aku baru saja sampai dan memesan kopi, kau mau aku pesankan sesuatu. Merlyn?" tanya pria itu basa basi sebelum memulai pembicaraan nya dengan Merlyn.


Merlyn menyelipkan anak rambut yang menghalangi wajahnya. "Tidak usah, aku tidak lama."


Vian menatap kagum kecantikan wanita yang dia sukai itu. "Kau makin hari semakin cantik. Merlyn,"


Mendengar itu, Merlyn menautkan alisnya. Memutar bola matanya malas.


"Tidak usah banyak basa-basi! Kau mau tidak membantu ku?" tanya Merlyn memastikan Vian agar mau menuruti perintah nya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk rekan ku ini, hm?" Vian menyeruput kopinya kemudian kembali memfokuskan pandangan pada Merlyn.


"Aku mau, kau bekerja sama dengan Hans. Kau dan dia sama-sama pebisnis sukses."


"Kenapa tiba-tiba kau menyuruh ku menjadi kerjasama dengan Hans?" tanya Vian dengan alis saling bertaut.


"Kau harus menjebak nya, makanya aku mau kau menjalin kerjasama dengan nya terlebih dahulu." kata Merlyn setengah berbisik.


"Apa yang ku dapat dari menjebak pebisnis itu? Perusahaan ku tanpa bekerja sama dengannya tidak akan bangkrut." ucap Vian dengan datar, seberusaha mungkin memahami maksud Merlyn.


"Ck. Aku akan memberimu uang, lagian kau ini! Sama rekanmu kenapa hitung-hitung sekali." ucap Merlyn seakan tidak menyadari yang dihadapannya ini pembisnis sukses.


"Baiklah, aku mau bekerjasama dengan Hans." ucap Vian membuat Merlyn senang, rencana untuk menjebak Hans berhasil.


"Kalau begitu, aku pergi dulu." Merlyn meninggalkan Vian yang masih duduk di kursi Cafe dengan penuh pertanyaan di benaknya.


Lama berkutik dengan pikirannya. Vian akhirnya meninggalkan Cafe dan kembali ke kantornya, menyusun rencananya untuk menjebak Hans.


Sebelum itu, Vian menghubungi sekretaris nya untuk menemui nya di ruang kerja pria itu.


"Buat jadwal pertemuan dengan perusahaan atas nama Hans, cari tau seluk beluk perusahaan itu. Perusahaan kita akan menjalin kerjasama dengan nya." kata Vian menyuruh sekretaris nya, sebelum menerima perintah lain dari Merlyn.


"Baik bos, tapi bukannya perusahaan kita sedang tidak membutuhkan event dengan klien lain?" ucap sekretaris itu setengah hati-hati.


"Buat saja jadwal pertemuan itu, saya akan menemui nya."


"Sebelumnya, maaf pak, sepertinya perusahaan tuan Hans memang menerima event untuk bekerja sama dengan perusahaan lain." kata sekretaris itu sambil mengutak atik layar ipad, membaca informasi tentang perusahaan milik Hans.


"Bagus kalau gitu, kita buat pertemuan dengan Hans. Tapi biar saya saja yang menemuinya." Vian menutup laptop di hadapannya.


"Sudah sanah, kau kembali bekerja." ucap Vian menyuruh sekretaris itu agar keluar dari ruangannya.


"Kalau saja bukan karna Merlyn, aku malas mengurus ini." Vian menghela nafas panjang lalu melanjutkan kegiatan dengan laptop.


Sementara itu, Merlyn kembali ke apartemen menunggu informasi dari Vera yang memata-matai Hans. Dia sungguh akan membayar dengan jumlah uang yang besar pada wanita itu.


"Bodoh sekali Hans! Menolak gadis cantik seperti aku, demi wanita kampungan. Apa bagusnya dari Tia, jelas wajah bule ku ini jauh lebih mempesona." gerutu Merlyn sambil bercermin didalam lift menampilkan wajah cantik nya.


Ting …


Pintu lift terbuka menampilkan wanita bule yang keluar seorang diri dari dalam lift. Merlyn berjalan dengan angkuh, dia aka istirahat dan merencanakan sesuatu esok hari dengan Vian.

__ADS_1


Merlyn merebahkan tubuhnya di atas kasur king size, rasa kesal masih terbenam di benaknya. Di permalukan oleh Hans di depan istrinya membuat Merlyn semakin kesal pada Tia.


"Perkataan Cloe tadi siang ada benarnya, anak dan orangtua Hans akan aku jadikan alat agar Hans menjadi miliku." ucap Merlyn monolog membayangkan sehancur apa Tia nanti, mau gimana pun caranya Merlyn harus mendapatkan apa yang dia mau.


"Aku sangat lelah hari ini, tubuhnya butuh istirahat dan energi." Merlyn memejamkan matanya menjemput alam mimpi. Dia tertidur tanpa melepas dan membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Dilain sisi Cloe sudah menyusun rencananya dengan rapih, untuk saat ini dia akan mengikuti semua permainan yang Merlyn.


"Lelah juga mengikuti wanita bodoh itu. Hanya lewat kekuasaan Ayah nya saja sudah seperti seorang bos sungguhan." Cloe berdecih membayangkan sikap Merlyn yang selalu menghalalkan segala cara tapi tidak tahu resiko yang dia dapat nanti.


Keesokannya pagi-pagi sekali Cloe datang ke apartemen Merlyn mendampingi wanita itu ke kantor, sebelumnya Cloe sudah menyiapkan sarapan untuk Merlyn sebelum sampai ke apartemen ini.


Sebagai sekretaris, Cloe harus terlihat sungguhan mengabdi pada Merlyn.


"Tidurmu semalam nyenyak, Nona?" tanya Cloe sambil ketika melihat Marlyn keluar kamar menghampiri nya.


Merlyn duduk di kursi meja makan yang Cloe siapkan. Dia baru saja selesai mandi dan akan ke kantor segera.


"Tidurku tidak nyenyak, Cloe, tapi itu tidak terlalu buruk." ucap Merlyn dengan nada lirih


"Makanlah dulu, Nona, biar urusan itu menjadi tugasku." ucap Cloe dengan menyeringai.


"Baiklah, terimakasih, Cloe." Merlyn mulai menyuapi makanan kedalam mulutnya dan di akhiri meminum susu sebagai penutup. Dia sudah selsai.


Sebelum bergegas meninggalkan apartemen dan menuju kantor. Merlyn mengetikan sesuatu di ponsel nya, mengirim pesan singkat pada Vera menanyakan informasi Hans hari ini. Dia juga mengirim pesan sesuatu pada Vian.


Ditemani Cloe dan pengawal. Merlyn sampai di kantor perusahaan yang menjadi kebanggannya.


Kedatangan Merlyn di sambut dengan senyuman ramah para karyawan, sesekali ada yang menyapanya.


"Cloe, kau singkah dulu ke ruangan ku." pinta Merlyn kala Cloe dan Merlyn akan berpisah di persimpangan arah ruangan Merlyn.


"Apa ada hal penting yang ingin Nona sampaikan?" tanya Cloe se-ramah mungkin.


"Ya, ayo!"


Cloe mengangguk, membukakan pintu ruangan Merlyn. Sikap Cloe selayaknya sekretaris yang memuliakan ratunya. Meskipun dibalik itu semua Cloe hanya mengkambing hitamkan Merlyn.


"Aku menyuruh Vian bekerja sama dengan Hans, dengan begitu semakin mudah untuk menghancurkan Hans. Kau sendiri yang mengatakan akan menyelidiki keluarga laki-laki itu."


"Vian rekanmu itu, Nona?" tanya Cloe menukar posisi nya dari di hadapan Merlyn kini disamping Merlyn membuat wanita bule itu memutar kursi duduk kesamping.


"Ya!"


"Kalau begitu, saya punya rencana bagus, Nona." ucap Cloe dengan seringai di bibirnya.


"Apa itu?" Merlyn menaikan satu alisnya.


"Nona, ingin memiliki Hans sepenuhnya bukan? Kita harus membuat istri laki-laki itu membenci suaminya." Merlyn akui Cloe ini sangat cerdas. Dengan begitu dia menyerahkan seratus persen semuanya pada Cloe.


***


Sementara itu, Vera memutar bola matanya malas. Menatap jengah layar ponsel nya.


"Memata-matai Pak Hans, memangnya setiap detik aku disisi Pak Hans? Mak lampir satu ini menyebalkan sekali!" Vera mendumel dalam hati, baru saja dia sampai di kantor sudah mendapat pesan dari wanita bule itu.


Vera memilih mengabaikan pesan singkat yang Merlyn kirim, sengaja tidak membuka chat wanita itu.


Dipenjuru lift, Vera seperti melihat orang asing jalan menuju ruangan Bos nya. Segera dia menghampiri orang itu.

__ADS_1


"Selamat pagi. Pak, ada yang bisa saya bantu?" sapa Vera dengan ramah pada pria berjas hitam lengkap dan rapih, namun sedikit menyelidik. Bisa Vera tebak kalau pria yang ada di hadapannya bukan lah karyawan kantor ini.


"Saya ingin bertemu dengan Pak Hans." kata Vian pada Vera membuat wanita itu mengerutkan keningnya, namun segera menormalisasi kan raut wajahnya.


__ADS_2