Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 176


__ADS_3

Di Rumah sakit jiwa, Clara ditempatkan di sebuah ruangan yang sangat bertolak belakang dengan gaya hidupnya saat ini. Menunggu sang dokter untuk melakukan beberapa tes pada Clara.


Clara ditempatkan di salah satu kamar yang ada di rumah sakit jiwa, benar-benar diluar dugaan ia ditempatkan di sini. Mereka membawanya ke sini dan bahkan menyuruhnya bergabung dengan orang-orang yang memiliki kelainan mental.


Tentu saja Clara menolak, ia tidak gil4. Mereka hanya salah paham, ia tidak gil4. Maka dari itu ia mengamuk sejadi-jadinya hingga akhirnya ditempatkan di ruangan yang sendiri. Jadi hanya ada dirinya sendiri di ruangan ini tidak ada orang lain yang menemani.


Rasanya air matanya sudah kering dan kini berganti dengan rasa kesal dan rasa marah, apalagi banyak sekali orang yang percaya bahwa ia gil4. Mungkin saja jika ia tidak menangis dan tertawa secara bersamaan ia tidak akan dibawa ke sini. Memang nasib buruk selalu saja menghantuiya.


"Aku harus bisa keluar dari sini, pokoknya aku tidak akan membiarkan perusahaanku bangkrut dan aku harus bisa mencari cara supaya perusahaanku kembali seperti awal. Gunawan tidak boleh bersenang-senang dengan keadaanku sekarang," gumam Clara dengan kilat mata yang penuh dengan amarah.


Clara menatap ke seluruh penjuru yang ada di ruangan ini, hanya ada satu tempat tidur dan di sebelah sana terdapat dapur kecil yang berisi peralatan makanan. Memang tadi dirinya sempat diberi makan tapi tidak ia makan karena merasa tidak ada keinginan untuk menyantap makanan itu.


Clara mendekat ke arah meja itu, lalu ia mendekat ke arah sana. Menemukan sesuatu yang bisa membuatnya keluar dari sini, yaitu pisau. Ada pisau buah, ia harap itu tajam dan bisa mengikir jeruji besi itu.


Clara membawa pisaunya mendekat ke arah jeruji besi, menatap situasi di depan yang begitu sepi karena memang ia ditempatkan di tempat yang paling sulit karena dari tadi dirinya terus saja berteriak. Mungkin petugas kesehatan yang ada di sini takut teriakannya akan mengganggu pasien lain.


Ini adalah awal yang bagus, ia mengikir pisau itu ke besi. Suara yang ditimbulkan begitu nyaring, hingga ia tidak mendengar derap langkah kaki yang menunjukkan tanda-tanda ada orang datang ke sini. Mungkin saja rencananya akan berjalan dengan baik.


"Pokoknya aku harus keluar dari tempat ini, Rai akan menertawakan ku jika aku masih ada di sini. Gara-gara dia juga perusahaan ku hancur, orang yang aku kenal baik ternyata pergi di saat aku susah!" batin Clara sembari meluangkan kekecewaannya lewat gesekan antara pisau dan besi itu.


Clara menghela napas pelan, rupanya besi itu tidak bisa ia putus dengan menggunakan pisau. Apalagi kondisinya pisau buah ini tidak terlalu tajam. Ia menatap gembok di bagian tengah, tidak ada kuncinya. Lantas Clara beralih menggergaji gembok itu, kenapa tidak dari tadi saja ini yang ia lakukan.


"Apa yang kamu lakukan?"


Tanpa dugaan Clara, tiba-tiba petugas datang dan membuat para langsung menyembunyikan pisau itu di balik tubuhnya. Posisinya Clara sedang berdiri bertumpuan dengan lututnya supaya mempermudah dirinya dalam menggergaji gembok itu.


"Apa kamu butuh sesuatu? Kenapa dibelakang pintu saja? Kamu bisa istirahat jika lelah, bisa tidur di kasur itu. Tenang saja, sekarang aku sahabat mu. Jadi kamu tidak perlu merasa kesepian lagi."


Clara diam, ia tak mau menjawab untuk menghemat energinya.


Petugas itu menggelengkan kepalanya. "Yaudah, main saja kalau nggak mau tidur. Di ujung sana ada mainan, bisa kamu gunakan." Setelah kalimat itu dikatakan petugas kesehatan itu langsung pergi dari hadapan Clara.


Sementara Clara tenggelam nafas lega karena tidak ketahuan, ternyata dia juga menganggap ia gi la. Pakai disuruh main segalak, memangnya dirinya anak kecil apa. Clara mengintip petugas itu lagi, ternyata dia sudah menghilang dari pandangannya dan langsung saja dirinya kembali melanjutkan kegiatannya tadi yaitu menggergaji gembok.


"Ayo, kau pasti bisa, Clara. Perusahaan mu akan baik-baik saja setelah kau keluar dari tempat ini, pokoknya kau harus segera keluar."


Clara menyemangati dirinya, membayangkan yang wajah Gunawan yang menertawai dirinya. Laki-laki yang telah membuat perusahaannya hancur. Belum lagi dirinya yang dikejar-kejar petugas bank karena telat membayar tagihan. Jika dirinya Jatuh Miskin bagaimana ia membayar pekerja yang ada di rumahnya dan karyawan di kantor?


Berhasil, tempat itu benar-benar terbuka. Clara membuka pintu secara perlahan-lahan, sepertinya ruangan ini jarang ditempati oleh seseorang buktinya saja pintunya sedikit sulit dibuka. Tapi semua itu bisa diatasi dan Clara bisa keluar.


Untung saja Clara masih memakai pakaiannya sendiri, bukan pakaian yang dikhususkan untuk pasien yang ada di rumah sakit ini. Perlahan-lahan tapi pasti ia mulai melangkah menyusuri lorong demi lorong. Melewati beberapa kamar yang di dalamnya ada pasien dengan berbagai macam gangguan mental.


Bahkan ada juga yang menangis seperti yang dirinya lakukan tadi sambil ketawa juga tentunya. Clara berjalan sedikit cepat, takutnya petugas kesehatan yang membawanya tadi mengetahui dirinya kabur atau lewat di depannya. Bisa-bisa dirinya kembali diseret di dalam kamar itu lagi.


"Hey, ada yang bisa dibantu? Apakah kamu sedang mencari pasien yang ada di rumah sakit ini?"


Clara mendengar ada seseorang yang memanggil dirinya dan posisinya ada di belakang. Clara memilih pura-pura tidak didengar dan semakin mempercepat langkahnya. Berharap orang itu tidak mengikuti dirinya dan bertanya lagi supaya ia tidak menjadi pusat perhatian di sini.


Untung saja ada beberapa pengunjung yang datang ke sini jadi ia bisa bersembunyi di depan dan belakang pengunjung supaya tidak ada yang curiga. Ketika melihat orang yang tadi membawanya datang ke sini berada di depan sana, Clara langsung bersembunyi di belakang pajangan bunga yang besar itu.

__ADS_1


Bahkan polwan tadi juga ikut berjalan di depan sana, entah mengapa Clara menduga mereka menuju ke kamarnya tadi. Clara bersembunyi supaya tidak ketahuan.


"Bagaimana dengan pasien yang teriak-teriak di jalan tadi? Apakah sudah mendapatkan penanganan?"


"Menunggu dia tenang dan dipindahkan ke ruangan untuk melakukan serangkaian tes. Supaya terbukti jelas dia terkena kelainan mental apa saja."


"Kasihan sekali, masih muda tapi udah sakit mental."


"Tapi dia mengatakan dia tidak gil4."


"Namanya juga orang kena gangguan mental, mana mungkin dia mengaku dia sakit gangguan mental. Jadi kita sebagai petugas ya cuma nurut aja sih, Lagian banyak kasus yang lebih dari ini yang kita alami kok."


Seperti dugaan, mereka mengobrolkan dirinya yang teriak-teriak di jalan. Nama baiknya menjadi hancur karena tragedi itu, bisa-bisa dirinya terkena gangguan jiwa beneran jika terus seperti ini. Awalnya dirinya berada di posisi yang paling atas dan sekarang dijatuhkan sejatuh-jatuhnya.


Merasa situasi kembali aman lantas dirinya kembali melanjutkan jalan dan akhirnya sudah sampai di halaman depan rumah sakit ini. Entah di mana Dirinya sekarang berada ia juga tidak tahu, dan bagaimana ia bisa pulang dalam keadaan seperti ini.


"Bagaimana aku bisa pulang jika dimana tempat ini aja aku tidak tahu!" gerutu Clara yang benar-benar dia tidak tahu di mana saat ini dia berada.


Seorang penjaga mencurigai sosok Clara yang terlihat aneh. Dia mengamati Clara dari jauh, gerak gerik Clara memang sangat mencurigakan.


"Maaf, Nyonya. Anda mau kemana?" tanya petugas security pada Clara. Wajah Clara terlihat pucat pasi, saat tahu siapa yang mengajaknya bicara.


"A ... A ... Anu, saya mau pulang. Apakah ada angkutan umum yang bisa saya tumpangi?" tanya Clara dengan wajah yang takut.


"Ada, Nyonya. Tapi sudah sore sepertinya para supir angkutan itu sudah pulang." Sang security menjawab pertanyaan Clara.


Clara terdiam, sudah tidak ada harapan lagi untuk menaiki angkutan umum.


"Silakan, Nyonya," jawab Sang security dengan wajah tersenyum.


Clara pun meninggalkan tempatnya berdiri. Melangkah menjauh dari sang security. Akan tetapi belum sampai sepuluh langkah, security lain dan perawat mengejar Clara.


"Nyonya ... Nyonyaaa ....!" teriak para perawat dan security yang mengejar Clara. Melihat orang-orang mengejar dirinya, Clara pun melarikan diri. Dia terus berlari karena dikejar oleh beberapa petugas keamanan dan beberapa perawat.


Clara terus berlari dengan sesekali menoleh ke arah rombongan yang mengejarnya. Suasana sore itu menjadi tegang. Tanpa disadari oleh Clara tiba-tiba sebuah mobil melintas.


Ciiit ... Brakk!


Tubuh Clara tertabrak dan terpental. Mobil itu berhenti dan pengendara mobil itu pun keluar dari dalam mobilnya.


"Astaga ...!"


"Nyonya!!"


Rombongan yang mengejar Clara pun terkejut dan langsung menolong Clara yang tergeletak tidak jauh dari tempat mobil itu berhenti.


Para petugas keamanan dan perawat membawa tubuh Clara masuk ke rumah sakit dan segera diberi pertolongan pertama. Luka yang dialami Clara hanya terbentur di bagian kepalanya. Tidak ada da rah yang keluar dari tubuh Clara.


"Untuk sementara kita pantau hingga pasien sadarkan diri dulu. Semoga luka benturan di kepalanya tidak memberi dampak yang berarti bagi tubuh pasien," ucap sang dokter yang mengobati luka Clara.

__ADS_1


"Siap, Dok. Kami akan terus mengawasi pasien dengan ketat agar tidak kabur lagi," jawab salah satu perawat yang diberi tugas untuk mengawasi Clara.


***


Sore yang indah Di Jakarta.


Resah gelisah kini melanda hati Sinta, dia bingung apakah harus kembali ke Lampung untuk bisa menjenguk sang ibu, atau dia biarkan saja ibunya menghadapi semua masalahnya sendirian.


"Ck! Mengapa mama selalu membuat hidupku dalam penderitaan. Seharusnya dia tidak berbuat onar seperti itu. Pasti semua temanku sudah membaca berit yang viral hari ini. Aarrgh! Semua ini gara -gara mama!!" oceh Sinta geram dengan sang ibu yang selalu membuat masalah dalam hidupnya.


Sinta duduk bersandar di kursi kantornya sembari memijit kepalanya yang terasa pusing. Jam selesai kantor tidaklah ia pedulikan. Tiba-tiba perutnya merasakan mual.


"Hoeek ... Hoek!" Sinta menutup mulutnya lalu pergi ke kamar mandi.


"Hah ... Hah ... Makan apa aku tadi hingga perutku terasa mual sekali!" ucap Sinta dengan keringat dingin sebiji jagung keluar dari dahinya. Napas Sinta tersengal karena hampir semua yang ada di dalam perutnya ia muntah kan.


Sinta membersihkan mulutnya saat perutnya dirasa sudah membaik setelah memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya.


"Mulutku jadi masam begini gara-gara muntah tidak jelas tadi. Sepertinya makan bakso adalah hal yang terbaik untuk mengganjal perut yang sudah dikuras habis ini!" ucap Sinta sembari menepuk -nepuk perutnya.


Sinta melenggang pergi dari kantornya karena sebagian besar pegawai sudah ada yang pulang dan ada juga yang sedang lembur. Para pegawai Tia adalah sosok yang disiplin tinggi. Mereka rela lembur agar bisa menyelesaikan pekerjaan mereka.


***


Di rumah Tia, saat ini Tia sangat berbahagia pasalnya mbak Yuni sang baby sitter pertama sudah kembali dari kampung.


"Mbak Yuni. Selamat datang kembali. Sekarang saya bisa merasa tenang jika ada mbak Yuni," ucap Tia menyambut kedatangan Yuni.


"Terima kasih, Nyonya. Saya semangat senang sekali jika nyonya masih menerima saya kembali bekerja di sini. Ibu saya pada akhirnya meninggal dunia karena usia yang sudah lanjut dan sakitnya tidak bisa ditolong lagi," jawab Mbak Yuni dengan wajah yang berbinar.


"Innalillahi wa innailaihi rojiun ... Baiklah, Mbak. Sudah aku bilang dulu jika mbak Yuni mau bekerja kembali di sini dengan senang hati aku akan menerimanya, Mbak!"jawab Tia dengan hati yang berbahagia. Suasana haru menyeruak di ruang tamu yang luas dan berkelas.


"Silakan diminum, Mbak Yuni. Kenalkan dia adalah pengasuh pengganti mbak Yuni. Namanya Luna. Sekarang kalian bisa berbagi tugas. Saya ingin mbak Yuni memegang Hasna dan Luna memegang Hasan. Apabila kalian memerlukan sesuatu cukup tekan tombol maka bik Inah atau yang lain akan datang." Tia terlihat bahagia dengan kedatangan Yuni. Sekarang akan ada yang mengawasi gera- gerik Luna.


"Maaf, kenalkan saya Yuni. Anda siapa?" tanya Yuni pada sosok Luna yang sedari tadi terdiam. Dia hanya ingin sekadar menyapa.


"Luna ... Nama saya Luna, Mbak," sahut Luna yang menunjukkan bahwa sesungguhnya dirinya seorang yang berjiwa sosial tinggi.


"Mbak Yuni kamarmu ada di samping kamar yang mbak Yuni dulu pakai, sebab kamar yang dulu mbak Yuni pakai sudah dipakai oleh Luna," jawab Tia dengan senyum khasnya.


"Siap, Nyonya. Terima kasih banyak," jawab Yuni dengan ramah. Senyum mengembang di sudut bibir Tia. Akhirnya dia tidak perlu mencurigai Luna karena akan ada yang menggantikannya untuk mengawasi Luna.


Tia bercanda dengan bik Inah, sang pembantu yang selalu ada untuk membantunya. Namun Tia tidak bisa menjadikan bik Inah sebagai pengasuh karena bik Inah sudah lanjut usianya dan tenaganya tentu berkurang jika harus diminta membantu Tia untuk mengasuh kedua anaknya.


Bik Inah membantu Yuni untuk membawakan barang yang Yuni bawa. Yuni agak membawa banyak barang karena dia sudah berencana untuk mengabdikan dirinya pada keluarga Tia.


"Mbak, Silakan. Maafkan bibik jika dalam beberes kurang rapi maklum uban sudah banyak di kepala, bertanda sudah tua."


"Tidak apa -apa, Bik. Semua sudah cukup untukku, terima kasih banyak ya, Bik," ucap Yuni.

__ADS_1


.


__ADS_2