
"Selamat pagi, semua ...." sapa Hans pada istri dan anak-anaknya yang sudah lebih dulu duduk di kursi makan.
"Pagi, Pa ...." sahut ketiga serempak.
"Alhamdulillaah, semua sudah kumpul. Ayo kita sarapan, sebelum sarapan seperti biasa kita dia dahulu," ucap Hans memulai ritual sebelum sarapan dimulai.
"Pa ... Besok ada pertemuan wali murid, yang datang mama atau papa? Kelas kita berbeda, jadi mama ke kelas Hasan dan papa ke kelas Hasna," ucap Tia yang baru saja mendapat undangan dari sekolahan anaknya yang dititipkan pada kedua anak mereka.
"Baiklah, jam berapa, Ma?" tanya Hans sambil mengaduk nasi goreng yang masih panas.
"Jam sembilan pagi, Pa. Nanti kita berangkat bareng aja, Pa. Anak-anak diliburkan," jawab Tia menata bekal untuk anaknya. Tia tidak membiasakan anak- anaknya untuk jajan sembarangan.
"Okey, besok kita berangkat bersama. Papa akan cancel semua agenda sampai siang," sahut Hans. Dia tentunya lebih mengutamakan pendidikan anaknya dari pada urusan bisnis yang masih bisa ditunda.
"Ma, Pa ... Kami berangkat dulu ya." Hasan dan Hasna yang sudah selesai sarapan berpamitan pada kedua orang tuanya.
"Hati-hati ya, Sayang. Belajar yang benar. Jika ada temannya yang nakal, jangan diikuti. Contoh sikap yang baik, ya," nasihat Tia memperingatkan anak-anaknya agar tetap bersikap baik walaupun diluar pengawasan orang tuanya.
"Iya, Ma," jawab Hasan dan Hasna serempak. Kedua anak kembar itu sudah rapi dengan setelan baju sekolah merah putih yang sudah melekat rapi di tubuh mungil mereka. Dasi merah yang sudah menggantung di leher, serta tali pinggang dengan logo sekolah juga sudah terpasang rapi melengkapi seragam mereka hari ini.
"Ayo kita antar mereka ke luar, Pa," ujar Tia pada Hans yang kini sedang membersihkan area mulutnya dengan tisu.
"Dah, Maa, Pa." Hasan dan Hasna melambaikan tangan mereka setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Mobil pun meluncur meninggalkan pekarangan rumah secara perlahan.
"Mas berangkat dulu ya, Sayang?" Hans berbalik menatap Tia yang mulai melunturkan senyumnya untuk anak kembar mereka.
"Iya, Mas. Sebentar, Tia ambilkan tas kerjanya dulu ya, Mas." Bergegas, Tia langsung masuk ke dalam rumah dan mengambil tas kerja Hans yang memang sudah di siapkan di sofa ruang tamu.
"Ini, Mas. Mas nanti pulang jam berapa? Apakah mau Tia bawakan makan siang?" tanya Tia.
"Mas bakalan pulang cepat, Sayang. Kamu nggak perlu repot-repot bawakan Mas bekal. Istirahat saja di rumah. Kalau mau keluar rumah untuk membeli sesuatu, minta temani sama bibi, ya? Jangan sendirian," pesan Hans menatap lekat-lekat mata Tia.
"Iya, Mas. Tapi Tia bakal tetap berangkat kerja. Ini tinggal ganti pakaian saja," ujar Tia seraya memperlihatkan penampilannya yang sudah rapi dan hanya tinggal berganti pakaian dengan pakaian formal.
__ADS_1
"Kamu yakin? Mas antar saja kalau begitu."
"Nggak usah, Mas. Mas Hans berangkat saja. Daripada nanti terlambat, kan?" tolak Tia dengan halus karena bagaimanapun Hans harus menjadi contoh yang baik bagi semua karyawannya.
"... Tia naik berangkat sendiri saja. Mas nggak perlu khawatir," lanjut Tia.
"Okey. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Mas, ya?"
"Siap, Mas," jawab Tia dengan senyum di wajahnya.
"Salim dulu, dong," ucap Hans. Mengulurkan tangannya di depan Tia.
"Assalamualaikum," ucap Hans.
"Wa'alaikumsalam," sahut Tia. Tia masih tetap berdiri di halaman rumah mereka dan menunggu sampai mobil Hans pergi meninggalkan halaman rumah mereka.
\*\*\*
Keesokan harinya, Tia dan Hans kini sudah rapi dengan pakaian yang berbeda dari pakaian formal ketika mereka bekerja. Keduanya sudah berada di dalam perjalanan untuk menuju sekolah anak kembar mereka.
"Papa ke kelas Hasna ya, Pa. Ada di lantai 3 urutan ke 4. Dari sini, belok kiri saja. Nanti Mama ke kelas Hasan. Dia kelasnya ada di gedung yang berbeda. Nanti telepon Mama saja ya, Pa, kalau Papa kesulitan cari kelasnya," ucap Tia setelah keduanya sampai di parkiran sekolah anak mereka.
"Okey, Ma. Papa kesana dulu kalau begitu," ujar Hans, langsung bergegas pergi ke arah yang telah Tua beritahukan. Melangkahkan kakinya satu persatu menaiki anak tangga.
Hans dan Tia pun masuk ke kelas anak mereka masing-masing. Menyimak semua penjelasan yang wali kelas jelaskan kepada wali murid dengan seksama. Sesekali, mereka melirik wali murid lainnya yang mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan.
Hans dan Tia langsung memutuskan untuk pulang ke rumah setelah rapat selesai. Tia langsung pergi ke dapur untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu. Tia mulai mengeluarkan semua bahan makanan dari kulkas dan mengeksekusinya. Mengiris beberapa bahan dan menghaluskannya untuk di tumis dan di ubah menjadi menu makanan untuk anak-anaknya dan suaminya karena waktu makan malam sudah semakin dekat.
Malam harinya, tepat di jam waktu makan malam, semua menu makanan telah siap. Tia langsung memanggil anak dan suaminya di lantai dua, tempat kamar mereka berada.
__ADS_1
"Ayo, Sayang. Hasan dan Hasna segera turun ke bawah, ya. Kita makan malam bersama. Mama sudah masak tumis jamur tiram kesukaan kalian, loh," ujar Tia begitu masuk ke dalam kamar anaknya. Anak kembar yang berbeda gender itu sedang melakukan aktivitas mereka masing-masing.
"Baik, Ma," jawab mereka bersamaan. Kedua saudara kembar itu langsung menghentikan aktivitas mereka dan mengekor di belakang Tia.
"Ma, apa saja yang dikatakan oleh ibu guru di sekolah saat rapat tadi?" tanya Hasna kepada Tia.
"Tadi gurumu mengatakan jika sekolah kalian akan mengadakan family gathering," sahut Hans.
"Wahhh …. Bakalan seru dong, Ma, Pa?" seru Hasan dengan mata berbinar.
"Iya, Nak. Kamu suka? Nanti kita akan menghadiri acara itu sama-sama, ya," ucap Tia seraya mengusap puncak kepala Hasan.
"Sudah. Ayo, kita mulai makan. Tidak baik jika terus di tunda-tunda. Nanti makanannya dingin. Makanan itu lebih enak dinikmati pas hangat-hangat. Apalagi, masakannya Mama yang buatin," ujar Hans membuat Tia tersipu.
Ting tong!
Suara bel terdengar, membuat semua mata mengarah ke arah pintu yang jaraknya cukup jauh dari meja makan.
"Siapa yang bertamu malam-malam begini, Pa?" tanya Tia sedikit heran.
"Entahlah, Ma. Sebentar, Papa cek dulu, ya." Hans pamit dan langsung melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Assalamualaikum, Kakak Ipar," sapa Aris–adik Tia–tersenyum begitu melihat wajah tampan Hans-lah yang menyambut kedatangannya.
"Wa'alaikumsalam, Aris. Oh, ternyata kamu. Saya kira … siapa?" Hans menggaruk tengkuknya.
"Ma, ini ada Aris. Hasan, Hasna, sini dulu. Ini ada om kalian," panggil Hans agar anak dan istrinya segera menyambut kedatangan Aris.
"Assalamualaikum, Mbak." Aris mengecup tangan Tia dan Hans bergantian.
__ADS_1
"Aris, kenapa kamu malam-malam ke rumah Mbak? Ayo, masuk dulu," ajak Tia agar Aris dan seseorang yang bersama sang adik segera masuk ke dalam rumahnya.