
Taksi online itu berhenti di depan rumah sakit, gegas sang kakek dibantu perawat yang sedang bertugas berjaga membawa masuk tubuh Aditya untuk dilakukan pemeriksaan.
"Hallo?!"
"Alya, tunggu. Ada yang harus mama katakan padamu."
"Apalagi, Bu?!"
"Aditya sudah tidak ada. Sewaktu kami pulang, Aditya sudah membeku. Sekarang kamu ke rumah sakit Medica Sehat. Tubuh Aditya dibawa ke rumah sakit itu," ucap sang nenek pada Alya. Namun Alya tidak menggubrisnya. Dia lebih senang jika anak yang menjadi beban hidupnya itu pergi dari kehidupannya.
Sementara itu di rumah sakit yang sama, Hans menunggui sang mertua. Dia berharap Tia akan cepat sampai di rumah sakit untuk melihat hasil yang ia peroleh. Namun, lama menunggu Tia belum datang juga dan Mery juga belum selesai diperiksa ulang.
Di ruang khusus sebuah rumah sakit swasta bertaraf internasional. Di mana di ruang seorang dokter psikiatri dengan predikat yang baik. Hans ingin memastikan sang mertua mendapatkan penanganan yang baik.
Setelah pemeriksaan, Hans dan Cahyo berniat membawa Mery pulang dan memberi tahu Tia. Akan tetapi ketika sampai di pintu keluar ruang khusus pemeriksaan, Mery berteriak dan meronta tidak jelas hingga membuat pengunjung lain sontak melihat ke arah Mery.
Dokter pun berniat menenangkan Mery lagi. Akan tetapi Mery tetap saja meronta dan berteriak. Hans berpikir mungkin dirinya bisa membantu menenangkan sang mertua.
Hans maju untuk mendekati Mery yang masih mengeluarkan semua perkataan kasarnya. Namun, ia langsung menghentikan langkahnya saat Cahyo memegang lengannya, menahan langkah Hans dengan sedikit menggelengkan kepalanya.
Awalnya Hans tidak setuju dengan perintah Cahyo, namun ia segera menyadarkan diri, untuk apa ia meluapkan emosinya dengan Mery, yang jelas-jelas sedang memberitahukan informasi?
"Tunggu saja, Nak. Biarkan ibu mertua kamu mengatakan sudut pandang dia mengenai calon adik ipar istrimu. Ayah yakin, dibalik sikapnya yang seperti itu, dia tidak ingin Aris salah memilih wanita."
Hans mengangguk paham. Ia segera menetralkan ekspresinya dan kembali mendengarkan semua penjelasan menurut sudut pandang ibu mertuanya.
"Saya tidak suka dia! Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah memberikan mereka restu! Jika mereka tetap menikah tanpa restu dari saya, saya yakin, hubungan mereka akan berantakan dalam kurang dari 1 tahun!" Mery melanjutkan penjelasannya. Kali ini tidak sambil menangis, melainkan suaranya yang begitu tegas hingga membuat siapa pun merasa yakin dengan apa yang diucapkan Mery.
"Ma …." Hans kini langsung melangkah maju mendekati Mery.
"Selain itu, apakah ada lagi, Ma?" tanya Hans dengan hati-hati karena takut jika Mery akan merasa sensitif jika mendapatkan pertanyaan darinya, bukan dari dokter spesialis yang sudah ahli dalam hal ini.
"Dia hanya bisa bekerja sebagai guru, tapi tidak bisa memahami, bagaimana anak-anak bisa paham dengan apa yang sudah dia ajarkan. Emosi dia masih tidak bisa dikendalikan hingga dia seringkali melakukan kekerasan pada murid-muridnya. Semua itu sudah saya lihat dengan mata keoala saya sendiri!"
"Bagaimana Mama bisa seyakin itu, Ma? Apakah Mama sering menjemput anak-anak saya ke sekolah? Saya rasa, tidak, karena sopir saya selalu menjemput mereka. Mama hanya pernah menjemput mereka satu kali dalam bulan ini, Ma," bantah Hans agar ia memiliki informasi lagi lebih dalam.
"Hanya melihat dari lirikan matanya saja, saya sudah sangat yakin kalau dia tidak menyukai anak kecil. Saya mengetahuinya saat dia melihat anak pembantu saya yang sedang berlaku ke ruang tamu dengan membawa mainan di tangannya."
"... lirikan matanya begitu sinis, dan sama sekali tidak menyapa. Bahkan, disaat anak itu tersenyum, wanita penipu itu tidak membalasnya. Dia hanya memutar mata dengan jengah."
"Saya tidak suka dia! Tolong bantu saya mengatakan hal ini kepada anak lelaki saya satu-satunya! Saya tidak ingin melihat anak-anak saya tidak hidup bahagia dengan pasangannya di masa depan!" pinta Mery. Seketika Mery langsung kembali terisak. Ia menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Mama …." Hans memejamkan matanya. Ia harus memikirkan cara, agar bisa membuat Aris berubah pikiran dan tidak bersikukuh untuk mempersunting wanita yang tidak baik, menurut ibu mertuanya.
"Don, apakah terapinya sudah selesai? Apakah masih ada lagi yang harus dijalankan?" tanya Hans pada Doni yang masih setia berdiri di sampingnya. Doni adalah dokter spesialis gangguan jiwa yang ikut menangani Mery.
"Itu adalah urusan temanku, Hans. Dia yang lebih mengerti. Tapi menurut sudut pandangku, ibu mertuamu ini memang harus melakukan terapi setiap hari agar ia bisa mengendalikan emosi nya dan tidak menunjukkannya secara berlebihan. Selain tidak baik untuk perasaan orang lain, itu juga tidak baik untuk fisik, mental, dan jiwanya," jelas Doni membuat Hans dan Cahyo yang ikut mendengarkan penjelasan Doni menganggukkan kepala mereka.
"Baiklah."
"SAYA TIDAK GILAAA!" teriak Mery tiba-tiba membuat Hans, Doni dan Cahyo, serta dokter yang sedang menanganinya menjadi terkejut.
"Tidak, Ma. Saya tidak pernah mengatakan kalau mama gila. Saya hanya …."
"Kalian sungguh keterlaluan! SAYA BUKAN ORANG GILA! TOLONG BUNUH WANITA DAN PRIA ITU! SINGKIRKAN MEREKA DARI DUNIA INI! HIDUP SAYA TIDAK AKAN PERNAH TENANG!" teriak Mery lagi.
__ADS_1
Hans dan Cahyo saling pandang. Mereka tidak tahu siapakah orang yang sedang dimaksud oleh Mery.
Tanpa diduga, Mery langsung berlari dan menekan leher Hans dengan tenaga kuat hingga membuat pria tampan itu membelalakkan matanya.
"Ma …. Apa yang telah Mama lakukan?" tanya Hans dengan terbata-bata.
"Ma, tolong lepaskan! Dia menantu kamu, dia bukan orang jahat itu. Tolong jangan sakiti dia," ujar Cahyo selemah lembut mungkin agar Mery tidak merasa jika perintahnya adalah suatu bahaya yang sedang Mery rasakan.
"DIAMM!" teriak Mery melengking. Mery mulai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"Kamu!" Mery menunjuk Cahyo dengan mata menyala-nyala, "Jangan pernah berani menghalangi aku untuk melindungi keluargaku! Anakku sedang dalam bahaya!" potong Mery dengan tangan yang semakin menekan leher Hans hingga membuat wajah tampan milik menantunya perlahan memucat. Wajah putih itu semakin terlihat putih, serta dadanya yang baik turun karena kesulitan untuk mengambil napas.
"Iya, aku tahu. Tapi …."
"Tapi apa?!"
"Sudah, sudah, Pak. Biarkan saya yang menanganinya, ya," pinta Adinda agar Cahyo menyingkir dan tidak lagi mencoba menenangkan istrinya.
"Baik, Dokter. Tolong buat isteri saya tenang ya," pinta Cahyo dengan mata yang tak lepas memandang dimana tangan Mery masih mencengkeram kuat leher Hans.
"Tunggu! Tolong, tolong saya. Biarkan saya memberitahukan dia!"
Adinda mengangguk, "Mohon sebelum itu, tolong lepaskan tangan Nyonya dari leher tuan ya, Nyonya. Jika Anda terus menekannya, maka usaha Anda memberitahukan informasi, akan sia-sia," ucap Adinda membuat dengan perlahan tangan Mery terlepas dari leher Hans.
"Jangan biarkan keluarga saya hancur!"
Lagi-lagi Mery mengeluarkan permintaan yang sama hingga membuat Doni memberanikan diri mendekati Hans, namun tidak meninggalkan sikap waswas karena ia juga takut akan menjadi sasaran mertua dari sahabatnya.
"Kenapa mertuamu seperti ini, Hans? Aku memiliki firasat, jika dia sudah gila," bisik Doni dengan sangat pelan dan hati-hati, takut Mery mendengar perkataannya.
***
Tia yang semula hendak berangkat ke rumah sakit tiba-tiba ia ditahan oleh sang sekretaris.
"Maaf, mengganggu waktunya sebentar nyonya. Ada beberapa berkas yang harus nyonya tanda tangani secepatnya karena mendesak dan urgent. Klien kita ini tidak menunggu lama sebab dia akan kembali ke luar negeri. Kerjasama yang ia tawarkan akan sangat memberi banyak keuntungan untuk perusahaan kita, Nyonya," ujar sang sekretaris dengan tatapan yang memohon.
Tia yang sudah memegang tasnya terpaksa kembali duduk, kliennya juga penting untuk masa depan anak-anaknya. Dia kembali memeriksa berkas yang harus ia tanda tangani. Tidak sampai di situ saja, pemilik perusahaan luar negeri itu tiba-tiba datang ke kantor Tia untuk menandatangani kontrak kerjasama di depannya.
"Maaf, Nyonya Tia. Saya tipe orang yang tidak mudah untuk percaya jika belum melihat kerjasama kita ini. Jadi mohon maaf jika saya tiba-tiba datang dan menyaksikan Anda sudah menandatangani kontrak kerjasama kita," ucap pemilik perusahaan yang berasal dari Qatar. Lelaki dengan wajah khas timur tengah itu datang tanpa diundang.
Tia sangat kesal, dia terpaksa memundurkan jadwal ke rumah sakit.
"Baiklah, Tuan. Sharma. Anda bisa menyaksikannya bahwa saya benar-benar menandatangani kontrak kerja sama kita. Produk yang berasal dari sini akan sampai ke Qatar dalam waktu tiga hari. Apa anda puas?" tanya Tia dengan tegas.
"Anda sungguh relasi bisnis yang menyenangkan. Pantas saja banyak investor yang puas dengan cara kerja Anda, karena Anda profesional dalam bekerja.
Tia yang memiliki begitu banyak agenda di kantornya merasa membuatnya lemas tidak berdaya dengan tangan yang terus memijat kepalanya dengan harapan bisa menghilangkan rasa pening di kepalanya.
"Sudah jam berapa ini?! jangan -jangan mas Hans sudah kelamaan menungguku," gumam Tia masuk kembali ke ruang kerjanya setelah kedatangan tamu dari Qatar. Tia bergegas keluar dari ruangannya hendak pulang.
"Mas ... Mas masih di rumah sakit atau sudah di rumah mama?" tanya Tia melalui sambungan teleponnya.
"Mas sudah di rumah kita, mama dirawat di rumah sakit karena tadi menyerang mas dan beberapa perawat, takutnya mama akan membahayakan orang lain," jelas Hans yang baru saja sampai di rumah.
"Baiklah, Tia akan langsung ke rumah saja."
__ADS_1
"Baiklah, Sayang. Hati-hati di jalan," ucap Hans dengan lembut. Dia tidak ingin sang istri terburu-buru dan pada akhirnya terjadi kecelakaan.
Tia melajukan mobilnya dengan hati-hati sesuai dengan apa yang dikatakan oleh sang suami. Sebagai istri yang patuh pada suami, Tia sebisa mungkin mematuhi setiap ucapan Hans.
Sesampainya di rumah, Tia langsung mencari kedua anaknya. Dia bersyukur melihat dua anak itu sedang asyik main berdua dengan mbak Yuni yang menjaga mereka.
"Hallo, Sayang ... Mama sudah pulang," ucap Tia menyapa kedua anaknya.
"Hai, Ma ...." Hasan langsung memeluk sang mama, seakan-akan sudah lama tidak bertemu.
"Hai, Sayang." Tia membalas pelukan putranya.
"Aww ...." Hasan meringis saat Tia menyentuh bahunya.
"Hasan ... Kamu kenapa?" tanya Tia panik melihat sang anak yang meringis kesakitan.
"Tidak apa-apa, Ma. Tadi hanya kebentur aja. Sudah tidak apa-apa kok ...." jawab Hasan berlalu dari Tia.
Tia terbengong menatap sang putra yang kembali bermain. Sebagai seorang ibu, ada yang tidak nyaman di hatinya saat melihat sang putra yang sesekali meringis saat menggerakkan tangannya.
"Mbak Yuni, Hasan kenapa?" tanya Tia pada sang pengasuh.
"Saya juga kurang tahu, Nyonya. Tadi sewaktu mandi saya lihat ada memar di bagian lengannya. Saya tanya jawabannya juga sama yaitu terbentur dinding waktu main," ucap Yuni apa adanya.
"Apa Hasan main di luar?" tanya Tia lagi.
"Tidak, Nyonya. Tadi sewaktu saya tinggal belanja sama Bik Inah, Kak Hasan dan dek Hasna main sama mbak Alya," jawab Yuni lagi.
Tia memperhatikan mata Yuni, mencari titik kebohongan di sana, akan tetapi tidak Tia temukan kebohongan itu.
"Terakhir main sama Alya?" Tiba-tiba Hans ikut menyahut dari arah kamar, saat dia sudah selesai mandi dan bergabung bersama putra dan putrinya.
"Iya, Tuan. Hasan waktu saya pulang dia sedang berbicara dengan mbak Alya. Setelah melihat saya, kak Hasan langsung memeluk erat dan minta saya untuk buatkan nasi goreng," ucap Mbak Yuni menerangkan kejadian saat Hasan bersama Alya.
"Ma ... Lebih baik mama segera mandi, ada hal yang ingin papa sampaikan," ucap Hans memanggil Tia dengan panggilan mama jika berada di depan anak-anaknya.
"Iya, Pa. Mama mandi dulu," ucap Tia dengan senyum. Kebetulan Tia juga sudah gerah setelah seharian bekerja. Tapi segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya, banyak pertanyaan yang berkelindan di pikiran Tia. Apa yang sebenarnya terjadi.
Hans menunggu Tia sambil bermain dengan anak-anaknya. Hans mengambil salah satu mainan Hasan. "Kak ... gimana caranya hidupin nih mainan? Papa ingin mencoba memainkannya," ujar Hans pada sang anak sulungnya.
"Tinggal ditekan bagian bawahnya, Pa," jawab Hasan sambil menunjuk bagian bawah mainan mobil-mobilannya.
"Coba kau hidupkan, Kak. Ini kok papa gak bisa hidupin dari tadi." Hans pura -pura tidak bisa menghidupkan mobil- mobilnya itu, berharap sang anak mau mengambil dan menggerakkan lengannya.
Hasan menatap sang ayah dengan tatapan malas. Lengannya masih sakit jika digunakan untuk bergerak.
"Kaak ...!"
"Ya, Pa ...." Hasan ragu untuk menuruti permintaan sang ayah. Akan tetapi jika dia menolak maka sang ayah pasti akan curiga.
Hasan berjalan menuju tempat sang ayah duduk untuk mengambil mobil-mobilan tersebut. Saat mengambilnya, Hasan meringis menahan sakit.
"Kamu kenapa, Hasan?" tanya Hans sambil menatap wajah sang anak yang menahan sakit.
"Tidak apa-apa, Pa. Hasan sudah bilang jika lengan Hasan terbentur dinding tadi," jawab Hasan masih belum mau mengatakan yang sesungguhnya pada sang ayah.
__ADS_1