
Tia berjalan mengendap-endap mengikuti langkah Cloe memasuki rumahnya. Rumah besar dengan nuansa perpaduan antara gaya natural dan modern, menunjukkan pemiliknya memiliki seni yang tinggi.
"Kenapa wajah Cloe kelihatan kesal begitu saat menerima telepon dari Merlyn, bukankah wanita pirang itu atasannya?" gumam Tia dalam hati, kakinya terus melangkah mengikuti Cloe.
Ceklek.
Tia memandang pintu yang baru saja Cloe masuki, ia tidak berani ikut masuk kedalam karena bisa Tia tebak itu adalah sebuah kamar. Entah kamar siapa, tapi Tia akan menunggu sampai situasi aman baru ia akan masuk ke kamar itu.
Cukup lama Tia memandangi pintu kamar itu dari jarak yang lumayan jauh, betapa terkejutnya saat ia melihat Cloe keluar dari kamar itu sambil mendorong kursi roda yang di duduki oleh wanita yang sangat Tia kenal. Clara, mantan ibu tirinya. Penampilan Clara jauh berbeda dari sebelumnya, kini wanita itu tampak kusam dan rambutnya sedikit berantakan seperti orang tidak terurus.
"Hallo, Kakak. Bagaimana kabarmu hari ini? Aku bawakan obat lagi dari rumah sakit. Bukankah obat yang biasa kakak minum sudah habis?" Cloe menyapa Clara sembari duduk di tepi ranjang menghadap Clara yang duduk di kursi roda.
"Astaghfirullah … apakah itu benar Clara? Dan ternyata Clara adalah kakak dari Cloe. Sekarang semua jelas, Cloe dan Clara memiliki hubungan darah! Aku harus berhati-hati dengan Cloe! Bukankah dulu dia di Sumatra? Oh ... Rupanya Clara dibawa ke sini oleh Cloe!" cicit Tia terheran dan dia tidak tega melihat kondisi Clara yang memprihatinkan. Dia tidak menyangka jika mantan ibu tirinya itu berada di dalam kamar tersebut. Namun, jika mengingat kejahatan Clara, Tia kembali membenci wanita itu.
Tia masih syok dengan apa yang barusan ia lihat, ternyata wanita itu benar mengidap gangguan jiwa sehingga badan nya terlihat kurus. Tatapannya pun kosong.
"Kasihan sekali nasibmu Clara, aku tidak tega tapi kamu sudah berbuat sangat kejam pada keluarga ku. Maafkan aku, tapi aku harap ini sebagai balasan atas perbuatan mu Clara! Dan Cloe, aku harap kau bisa belajar dari kakakmu. Karena apa yang sudah kalian perbuat akan mendapatkan balasannya." ujar Tia meninggalkan tempat itu, ia semakin tidak kuasa melihat nasib Clara. Tia memang tidak menyukai kejahatan Clara tapi Tia juga mempunyai sisi manusia.
Tia melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 2 siang, ia harus pulang. Anak-anaknya sudah pasti mencarinya.
"Sebaiknya aku harus segera meninggalkan rumah ini, yang terpenting aku sudah tahu dimana Clara kini berada," gumam Tia di dalam hati.
Pintu pagar di tutup sangat pelan hampir tidak menimbulkan suara, Tia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di bawah pohon.
Brum …
Mobil Tia melaju membelah ramainya kendaraan di jalan raya, sekarang masih jam makan siang di kantor Hans. Tia akan mampir sebentar di kantor sang suami, tapi sebelum nya ia akan singgah di toko bakery. Membelikan Hans minuman kesukaan nya dan pancake.
Tring.
Suara lonceng terdengar saat pintu toko di buka, menampakkan Tia yang baru saja memasukinya.
"Selamat siang Bu Tia, tumben sekali baru kelihatan." sapa pelayang toko dengan sangat ramah.
__ADS_1
"Siang, saya akhir-akhir ini memang jarang sekali keluar rumah dan berbelanja. Ini saja ingin ke kantor suami makanya singgah sebentar di toko bakery." Imbuh Tia.
"Oh, iya apa pancake mocca ada hari ini mbak? Dan kopi latte?" tanya Tia seraya melihat kue yang di panjang di rak-rak etalase bagian pancake.
"Kami buat kok pancake mocca, tapi masih dalam proses pembuatan. Bu Tia duduk sebentar, kami akan menyiapkan pesanannya. Dan kebetulan toko kami mengeluarkan produk baru, mini cake. Saya mau ibu menyicipi nya. Kami kasih gratis untuk Bu Tia." jelas pelayan itu dibarengi kekehan di akhir kalimatnya.
"Baiklah, saya pasti sangat menyukai menu baru cake yang toko ini keluarkan, keluarga saya menyukai semua produk dari toko ini." ujar Tia memuji kemewahan tiap menu makanan dan minuman yang toko ini jual.
"Terimakasih." penjual itu sangat senang dengan pujian yang diberi pelanggan setia nya, dulu Tia dan Hans memang sering datang ke toko bakery ini. Tia juga terkadang memberikan masukan pada resep di toko ini dan lidah Tia sangat berpengaruh pada menu-menu baru yang dikeluarkan oleh toko bakery itu.
"Semoga mas Hans menyukai pancake yang aku bawa, apa aku belikan nasi juga ya untuknya? Heum … tapi sepertinya mas Hans sudah makan." gumam Tia menimbang akan membelikan Hans makanan juga atau tidak.
"Dari pada bingung, lebih baik aku kirim pesan aja ke mas Hans." Tia mengambil ponselnya dan mengetikkan beberapa pesan ke nomor sang suami.
Tidak membutuhkan waktu lama, Hans sudah membalas pesannya. Bisa Tia duga bahwa suaminya saat ini sedang tidak sibuk, mengingat jam makan siang belum berakhir.
Tia : 'toko bakery langganan kita juga membuat menu baru, aku di suruh mencicipi nya. Nanti aku bawakan juga untuk mas Hans.'
"Permisi nyonya, ini kopi latte pesanannya." seorang barista meletakkan di atas meja satu cup kopi latte pesanan Tia didalam box kecil. "Dan ini menu baru kami, silahkan di coba, nyonya." Barista itu mempersilahkan Tia untuk mengambil mini cake yang ia taruh di atas meja bundar di depan Tia.
"Bagaimana rasa mini cake baru kami, nyonya. Enak bukan?" tanya barista itu dengan mata berbinar ketika melihat ekspresi Tia yang seperti nya menyukai mini cake nya.
Tia memejamkan matanya beberapa saat, setelahnya ia berucap. "Mini cake nya enak sekali, seperti nya saya akan membeli satu menu lagi, dua porsi mini cake." ucap Tia, menu baru yang mereka keluarkan memang sangat cocok di lidah nya.
"Baik, kalau begitu saya akan buatkan dua porsi lagi mini cake nya." kata barista itu saat hendak pamit kembali ke dapur pembuatan cake dan kopi.
Setelah Tia mencicipi mini cake itu, tidak lama kemudian barista tadi menghampiri nya dan memberikan semua pesanan nya. Saat sudah beres semua, Tia menuju kasir untuk membayar.
"Terimakasih Bu Tia sudah mengunjungi toko kami, sering-seringlah dagang kesini." kata pelayan toko yang pertama menyapa Tia. Ia senang jika Tia mengunjungi toko kue nya.
"Baik, saya akan menyempatkan waktu untuk datang lagi ke toko ini." ucap Tia dibarengi dengan senyuman yang terpatri di bibir nya.
Tia menambah kecepatan mobilnya, kini dirinya sudah sampai di kantor kebanggaan sang suami.
__ADS_1
Saat memasuki koridor kantor Hans, Tia mendapat banyak sapaan dari para karyawan. Tia pun tak kalah ramah nya pada pegawai di kantor suaminya itu.
"Bu, Tia apa kabar?" Vara menyapa Tia membuat langkah nya terhenti.
"Vera … kabar saya baik, Alhamdulillah." jawab Tia, terakhir Vera menghubunginya saat mengabari bahwa sang suami dijebak oleh Merlyn -- wanita keturunan bule itu.
"Alhamdulillah kalau gitu, Bu. Pak Hans nya ada di ruangan kerjanya, Bu Tia langsung masuk saja ke dalam." ucap Vera menggeser tubuhnya kesamping, mempersilahkan Tia melanjutkan jalannya.
Cklek.
Hans mendongak menatap pintu ruangan yang di buka oleh sang istri, kepala Tia menyembul di balik pintu. Sebuah senyuman merekah di bibirnya lalu menghampiri Hans ke meja kerjanya.
"Hari ini aku bawain pancake mocca dan kopi latte kesukaan mas Hans!" ujar Tia meletakkan dua box kehadapan Hans.
"Makasih ya sayang, kamu sampai repot-repot dari rumah ke kantor." ucap Hans sambil menyingkirkan beberapa berkas ke samping, ia mengambil box pemberian Tia dan menuntun sang istri duduk di sofa yang berada di pojok ruangan.
Hans menaruh box pancake di meja bundar. Sebelum membuka box itu, Hans menatap lekat sang istri lalu mengecup kening Tia cukup lama. Tubuh Tia ia bawa kedalam pelukan nya.
"Mas berterimakasih banget kamu bawa pancake kesukaan mas, seharusnya kamu istirahat di rumah." Hans mengendurkan pelukan nya dan kembali menatap sang istri.
"Siapa bilang aku repot, sebenarnya aku itu habis beli susu hamil, stoknya sudah habis mas. Kebetulan aku di luar jadi aku mampir ke toko bakery langganan kita." ucap Tia setengah berbohong, menyabotase cerita aslinya bahwa niat Tia keluar bukan untuk membeli stok susu yang sudah habis.
"Yasudah, mas makan ya." kata Hans mulai membuka isi box pancake dan menyicipi makanan favorit nya itu.
"Iya mas, ini juga kamu harus cobain mini cake nya. Enak banget." ujar Tia membuka satu box berwarna biru.
"Aneh banget bentuk nya kecil gitu, terus ramai gitu warnanya pelangi." kekeh Hans saat menyadari bentuk mini cake yang sangat unik di matanya, ia baru pertama kali melihat cake mini tapi ramai akan topping.
"Mas coba dulu, enak banget. Bentuknya memang unik, rasanya pun unik." Tia meraih satu mini cake dan menyendok bagian pinggir nya lalu menyuapkan satu sendok ke dalam mulut Hans.
"Gimana, enak kan?" tanya Tia dengan senyum manisnya.
"Apapun yang kau suapkan ke dalam mulut ini pasti enak," ucap Hans sembari membersihkan mulutnya dengan tisu.
__ADS_1