Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 117


__ADS_3

Hans berjalan mengikuti Gunawan keluar menuju ke tempat, dimana mereka tadi berbicara dari awal semula.



"Duduklah, Hans!" pinta Gunawan yang sudah merubah panggilannya pada Hans dengan hanya menyebut nama saja.



"Baik, Paman." Hans begitu patuh apa yang menjadi perintah dari Gunawan.



"Hans, ada sesuatu yang ingin paman katakan padamu. Sebuah rahasia besar yang aku simpan rapat-rapat selama ini. Bahkan istriku sendiri pun tidak tahu," ucap Gunawan sembari mengambil sepuntung rokok dari balik saku kemejanya.



Gunawan lupa jika saat ini dia berada di sebuah rumah sakit yang melarang pada siapapun untuk tidak merokok di dalam rumah sakit.



"Paman! Jangan dihidupkan rokoknya, ingat sekarang kita berada di rumah sakit!" tegur Hans berhasil membuat Gunawan mengurungkan niatnya untuk merokok. Gunawan pun memasukkan kembali rokok tersebut ke dalam saku kemejanya.



"Maaf, lupa kalau sekarang kita berada di rumah sakit. Maklum jika pikiran tegang maka akan lupa dimana dirinya sedang berada," ucap Gunawan beralasan.



Memang apa yang dikatakan Gunawan itu jujur apa adanya. Diri Gunawan sering merokok saat sedang dalam kegelisahan atau saat dirinya merasa tegang.



"Benar, Tuan. Jika kita sedang banyak pikiran maka apa yang mau kita lakukan akan lupa dan kadang tidak sadar dimana kita berada," imbuh Hans yang juga terkadang merasakan apa yang Gunawan rasakan.



Gunawan mengusap wajahnya kasar untuk mengurangi kegugupan yang kini sedang melanda diri Gunawan. Bagaimana tidak, dosa yang dulu dia lakukan kini hasilnya ada di depan mata. Bagaimana pun wanita yang menjadi istri lelaki yang berada di sampingnya itu adalah anak kandungnya.



"Nak Hans, ada hal yang ingin paman katakan kepadamu. Sebuah pengakuan dosa yang tidak akan mungkin bisa dimaafkan. Dosa yang paman lakukan dulu dimana paman masih belum dewasa dalam berpikir dan bertindak, hingga mengakibatkan penderitaan pada orang lain."



Gunawan menjeda kata-katanya untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya, dada Gunawan mulai terasa sesak.



"Uhuk ... Uhuk!" Gunawan terbatuk karena dia merasakan napasnya mulai berat seakan ada yang mengganjal di jalan napasnya.



"Paman, Anda tidak apa-apa?" tanya Hans sembari menepuk punggung Gunawan.



"Tidak, paman tidak apa-apa. Mungkin hanya karena ada yang menyangkut di tenggorokan paman," jawab Gunawan berbohong.

__ADS_1



Hans mengangguk, dia hanya bisa menunggu hingga Gunawan siap untuk bercerita lagi. Suasana lorong yang sepi menambah ketegangan dalam diri Gunawan.



"Nak Hans, boleh paman bertanya? Apakah istrimu pernah bercerita tentang bagaimana ibunya di ruda paksa dulu?" tanya Gunawan hati-hati. Dia ingin langsung bercerita tapi hatinya masih merasakan malu.



"Pernah cerita tapi tidak lengkap, Paman. Tia hanya bercerita, kalau dulu ibunya sewaktu sang kakak masih kecil pernah sendirian di rumah. Karena sang suami tiba-tiba dipanggil atasannya untuk memperbaiki mesin yang rusak, mereka pun malam itu hanya berdua saja." Hans berhenti sebentar.



"Lalu apa yang terjadi?"


Gunawan ingin mendengar cerita menurut dari pihak ibu Tia. Apakah cerita itu ditambahi atau tidak.


"Yang terjadi selanjutnya adalah sang mandor datang ke rumah itu dengan alasan mengambil alat yang dibutuhkan oleh sang suami. Namun melihat ibu Tia, lelaki itu tergoda dan meruda paksa ibu Tia hingga hamil. Lelaki itu hanya meninggalkan uang tanpa mau bertanggung jawab. Semenjak tahu dirinya hamil, ibu Tia selalu marah dan hampir saja menggugurkan kandungannya."



"Apa sebenci itu ibu kandung Tia pada anaknya?" tanya Gunawan dengan hati yang bergetar. Jelas saat ini yang jadi korban keegoisannya adalah anak kandungnya.



"Benar, Paman. Tia memang sampai sekarang belum diterima sebagai anaknya," ucap Hans lagi.



"Astaga ... Jadi Tia sampai sekarang tidak diterima sebagai anak oleh ibu kandungnya sendiri?"




"Apa maksudmu? Kau adalah suami kakak Tia dan sekarang kau menjadi suaminya? Hubungan apa ini? Mengapa rumit sekali? Saya tidak paham dengan hubungan yang terjadi di antara kalian," sahut Gunawan sembari memijat pelipisnya.



"Jadi kisahnya begini, Paman. Dulu saya dan kakak perempuan Tia yang bernama Wulan saling mencintai semenjak kuliah satu kampus. Kami pun akhirnya menikah, dan hidup bersama. Sementara itu suami pertama Tia yang bernama Ridho itu, memaksa agar Orang tua Tia untuk menjodohkannya dengan Tia lantaran kecewa dengan penolakan Wulan."


"Lalu bagaimana bisa Kau menikahi Tia sekarang?"


"Begini, Paman. Saya menceraikan Wulan karena ternyata Wulan adalah perempuan yang selalu menghamburkan uang. Dia hanya mencintai uang saya saja, Paman. Perusahaan ayah yang diwariskan pada saya hampir saja bangkrut gara-gara Wulan selalu mengambil uang perusahaan tanpa sepengetahuan saya."



"Jadi kamu menceraikan Wulan, dan menikah dengan Tia? Lalu suami Tia bagaimana?"


"Ceritanya, Wulan kembali ke rumah orang tuanya yang tinggal satu atap dengan Tia dan suaminya. Menurut cerita Tia, Wulan telah berusaha menggoda Ridho yang usahanya mulai sukses. Kedua orang tua Tia bukannya menghentikan perselingkuhan itu malah menikahkan Ridho dengan Wulan. Jadi Tia dimadu dengan kakaknya."


"Apa Tia menerima dirinya dimadu?" tanya Gunawan yang merasa kasihan dengan nasib Tia.



"Tidak, dia mengajukan gugatan cerai dan pindah ke kota. Di kota itulah saya bertemu dengan Tia. Dari situlah kami menjalin hubungan, dengan ibu saya yang menjadi orang pertama yang merestui hubungan kami," ucap Hans tersenyum mengenang bagaimana dulu dirinya dan Tia menikah dengan cara yang unik, serba dadakan.

__ADS_1



Gunawan manggut-manggut, dia berusaha memahami cerita tentang sang putri.



"Paman, Saya sudah banyak bercerita. Sekarang giliran paman yang bercerita," ucap Hans sudah tidak bisa lagi bersabar.



"Baiklah, saya akan jujur. Saya lah sang mandor yang telah meruda paksa ibu Tia. Saya lah yang menghancurkan hidup wanita tidak berdosa itu."



Hans membulatkan matanya menatap Gunawan yang menangis.



"Paman ayah kandung Tia kan?"



"Benar sekali, dia adalah anak kandung saya. Anak hasil kejahatan yang saya lakukan pada ibunya. Namun, saya tidak tanpa sebab melakukan perbuatan itu. Malam itu, saya dalam pengaruh obat. Entah siapa yang mencampurnya dalam minuman saya," ucap Gunawan sembari menyeka air matanya.



"Apakah paman tahu siapa yang telah berbuat jahat pada paman?" Hans mulai penasaran dengan kisah Gunawan.



"Tidak, paman tidak tahu siapa yang telah mencampur minuman paman."



"Terakhir paman berbicara dengan siapa?"



"Waktu itu nona Clara yang mengajak paman bicara, tapi kami hanya mengobrol biasa lalu paman diminta tolong oleh pak Cahyo untuk mengambil alat yang tertinggal di mes," jawab Gunawan.



"Apa paman baik-baik saja saat berbicara dengan nona Clara itu?"



"Iya, paman baik-baik saja. Akan tetapi waktu akan sampai di mes pak Cahyo, paman merasakan terbakar dan tiba-tiba gelora kelelakian paman meningkat, akhirnya terjadilah apa yang seharusnya tidak boleh terjadi," ucap Gunawan dengan ingatan kembali di malam itu.



Hans ikut terhanyut dalam teka-teki siapa yang telah mencampur obat dalam minuman Gunawan.



"Apa paman tidak mencurigai siapa gitu?"


__ADS_1


"Entahlah, paman juga tidak tahu. Semenjak kejadian itu,nona Clara selalu mendekati paman. Padahal menurut kabar, nona Clara punya pacar yang lebih kaya dari paman. Apa yang bisa dibanggakan dalam diri paman, paman ini hanya seorang mandor," jawab Gunawan mengingat bagaimana Clara mendekatinya.


__ADS_2