Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab. 127


__ADS_3

Gunawan menyebut nama Hans. Sosok yang baru saja kemarin bertemu dengan dirinya. Dari Hans pula Gunawan bisa tahu jika Gunawan memiliki putri kandung hasil kejahatannya.



"Astaga ... Aku baru sadar jika Hans adalah sosok pebisnis muda yang paling sukses di antara pebisnis muda yang lain. Sungguh tidak aku sangka jika aku memiliki menantu yang begitu kaya. Kekayaanku dan Clara saja tidak mampu menyaingi kekayaan Hans!" seru Gunawan di dalam hati.



Arum mendongak untuk melihat mengapa sang majikan itu terdiam. "Si bos kenapa tuh?" tanya Arum di dalam hati. Dia heran melihat tingkah big bosnya yang aneh, habis marah-marah sekarang diam.



"Tuan tidak apa-apa?" tanya Arum penasaran.



Gunawan melirik ke arah Arum lalu berkata, "Tidak apa-apa. Tolong kau kirim alamat Ridho sekarang juga. Saya ingin datang ke rumahnya!"



Gunawan tidak bisa bertemu Ridho di kantor, maka diapun ingin bertemu Ridho di rumahnya.



"Baik, Tuan. Ini alamat tuan Ridho. Saya catatkan." Arum mengambil kertas dan pena lalu menulis alamat lengkap rumah Ridho.



"Baiklah, Terimakasih. Nanti jika ada acara meeting dengan tuan Hans tolong beritahu saya. Saya ingin bertemu dengan tuan Hans itu," kata Gunawan sembari menerima secarik kertas berisi alamat rumah Ridho.



"Maaf, Tuan. Ada kabar kalau Tuan Hans pemilik perusahaan ini sedang berada di Lampung karena istri barunya sedang sakit. Beliau sudah menyerahkan semua urusan kantor pada nona Vera. Seperti yang sudah saya sampaikan tadi jika pemilik perusahaan ini sedang tidak ada di tempat," jawab Arum menegaskan kembali bahwa Hans tidak ada di Jakarta.



"Apa istri tuan Hans itu bernama Tia?" tanya Gunawan untuk memastikan bahwa Hans pemilik perusahaan ini sama dengan nama sang menantu.



"Iya, Tuan. Benar sekali, istri tuan Hans yang baru dinikahinya bernama nyonya Tia. Nyonya Tia adalah mantan istri tuan Ridho," jawab Arum.



"Jadi memang benar, Hans adalah orang yang sama yaitu menantuku! Syukurlah jika Tia mendapatkan sosok yang begitu luar biasa," gumam Gunawan di dalam hatinya. Ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Gunawan. Wajah dengan kerut di dahi itu tersenyum dengan kabar yang ia dengar.



Arum semakin heran melihat tingkah aneh sang big bosnya itu. Entah mengapa sang majikan masih tersenyum tidak jelas begitu.



"Ya sudah, Arum. Saya permisi dulu," ucap Gunawan melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Arum.



"Dasar orang kaya aneh! Tadi marah-marah setelah itu senyum -senyum sendiri! Hmm ... Sepertinya perlu di rukyah si bos itu," gumam Arum di dalam hati sambil geleng-geleng kepala melihat punggung Gunawan yang semakin menjauh.



Gunawan melangkah meninggalkan kantor perusahaan Ridho dengan perasaan bahagia bercampur kesal. Satu sisi dia merasa senang karena perusahaan itu jatuh di tangan suami anak kandungnya dan satu sisi dia merasa kesal dengan sang keponakan.



Mobil yang dikemudikan Gunawan membelah panasnya kota Jakarta. Dengan alamat yang dia bawa dan dengan bantuan maps, Gunawan sampai di rumah Ridho.



Gunawan menatap rumah Ridho yang sudah tidak terawat. Banyak sekali ilalang yang tumbuh liar di sekitar pot bunga. Selain itu daun-daun kering dari pohon buah mangga yang gugur berserakan, tidak ada yang menyapu halaman itu.



"Ini rumah apa sarang hantu?" gumam Gunawan, dirinya ragu untuk masuk ke dalam rumah itu.



Dengan langkah berat, Gunawan memutuskan untuk masuk ke dalam rumah itu. Dia sudah bertekad harus bisa bertemu dengan Ridho hari ini.



Tok!



Tok!



Gunawan mengetuk pintu dari kayu yang tengahnya terdapat ukiran. Lama menunggu tidak ada jawaban dari dalam, Gunawan sekali lagi mengetuk pintu itu.



Tok!



Tok!


"Assalamualaikum ...." Gunawan uluk salam tapi tetap saja tidak ada yang menjawab. Gunawan meras kesal, dia melirik jam tangan mahal yang ia pakai. Sudah hampir setengah jam, Gunawan berdiri di situ. Hatinya merasa sangat kesal.


"Di mana si Ridho!" geram Gunawan memendarkan pandangannya berharap ada jendela yang terbuka.



Gunawan memegang handle pintu mencoba untuk membukanya. Ternyata pintu itu tidak terkunci, gegas ia memutarnya dan membuka pintu tersebut.



Klek!



Pintu terbuka, gegas Gunawan masuk ke dalam rumah Ridho. Rumah yang dulu bersih, tidak ada debu yang menempel kini terlihat begitu kotor dan tidak terurus.



"Ridho ... Ridho!" teriak Gunawan memanggil Ridho. Dia membuka kamar depan, akan tetapi tidak ada. Gunawan melanjutkan kembali langkahnya menuju ke kamar yang terlihat memakai korden mewah.

__ADS_1



"Ridho ... Ridho!!" Gunawan kembali berteriak memanggil Ridho.



Gunawan memegang handle pintu utama. Pintu itu pun tidak terkunci, Gunawan masuk begitu saja tanpa bimbang lagi.



Brak!



Pintu dibuka kasar oleh Gunawan, hati Gunawan sudah sangat kesal karena jauh-jauh dia datang akan tetapi tidak bisa menemui Ridho juga.



"Ridho ..? Ridhooo ..!" Gunawan berteriak terkejut saat melihat Ridho yang tergeletak di lantai karena mabuk.



Bau alkohol menyeruak dari tubuh Ridho. Bau tubuh Ridho sudah tidak karuan, rupanya Ridho menghabiskan hari-harinya dengan mabuk-mabukan.



"Astagaaa ... Apa-apaan ini, Ridho!!" geram Gunawan yang sangat kesal dengan Ridho ya g mabuk.



Gunawan berjongkok lalu menepuk pipi Ridho agar sadar, akan tetapi pengaruh alkohol itu benar -benar membuat Ridho tidak sadar. Gunawan beranjak dan berdiri, dia mencari dimana letak kamar mandi Ridho.



Dengan susah payah, Gunawan menarik tubuh Ridho masuk ke kamar mandi. Rencana Gunawan adalah ingin membangunkan Ridho dengan memasukkannya ke dalam bak mandi.



Byur!



Ridho dimasukkan Gunawan di bak mandi, Gunawan sudah tidak tahan dengan bau badan Ridho yang sangat menyengat.



"Bluup ... Hah ... Hah!" Ridho yang tidak sadarkan diri pun akhirnya terbangun.



Gunawan tersenyum remeh melihat Ridho yang sudah sadar. Bagi Gunawan, seorang pemabuk itu hanyalah orang yang pengecut, tidak berani menghadapi kenyataan hingga lebih memilih melarikan diri dengan mabuk-mabukan.



"Bangun, Ridho!!" hardik Gunawan dengan kedua tangannya berada di pinggang.



Ridho yang merasakan dinginnya air pun bangun. Ridho menyugar rambutnya yang basah oleh air.




"Iya, ini paman! Cepat mandi dan bersihkan dirimu. Kau hutang penjelasan dengan paman!!" pekik Gunawan menahan geram.



Ridho tidak dapat mengelak lagi gegas diri Ridho mandi dan membersihkan dirinya. Gunawan adalah sosok yang paling ditakuti oleh Ridho melebihi ayah kandungnya sendiri.



Gunawan meninggalkan kamar mandi tersebut menuju ke ruang tamu di sana dia beristirahat karena tubuhnya merasa lelah setelah menarik Ridho ke kamar mandi.



"Astagaa ... Mengapa Tuhan memberiku keponakan yang begitu tolol! Sudah diberi istri cantik dan baik seperti Tia, tapi masih saja kurang. Sudah dibantu membuat perusahaan, malah dihancurin sendiri. Tercipta dari apa si Ridho itu!! Untunglah Tia sudah cerai dengan Ridho!!" gumam Gunawan duduk di sofa dengan mengangkat satu kakinya.



Gunawan menunggu lama sang keponakan yang sedang mandi, karena terlalu lama Gunawan pun tertidur. Sementara di dalam kamar, Ridho sedang duduk di atas ranjang. Dia merasa takut menghadapi sang paman.



Dulu saat meminta bantuan sang paman, Ridho berjanji akan membuat perusahaan yang ia rintis akan lebih maju lagi.



"Bagaimana aku akan menghadapi paman?" gumam Ridho duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya. Kepalanya berdenyut sakit, pengaruh dari minuman keras yang ia habiskan sendiri.



Ridho beranjak dari duduknya, berjalan mondar-mandir tidak jelas. Berusaha mencari alasan yang tepat saat nanti ditanya oleh sang paman.



"Ck! Siaaal ...! Mengapa paman datang di saat yang tidak telat begini!!" umpat Ridho.



Nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak akan bisa berjalan mundur lagi. Ridho melihat arloji kesayangannya, jarum panjang sudah menunjuk ke angka 12 dan jarum pendek menunjuk ke angka 11. Sebentar lagi adalah jam makan siang, Ridho berharap sang paman capek menunggu dan akhirnya pergi dari rumah.



"Ridho!! Sedang apa kau!!" teriak Gunawan dengan suara lantang.



Ridho terkejut saat sang paman sudah berdiri di depan pintu.



"Pa ... Paman! Maaf, Paman. Ridho sedang bersiap-siap." Ridho beralasan dengan tidak tepat. Gunawan pun masuk lalu menarik tangan Ridho untuk dibawa paksanya menuju ke ruang tamu.



Gunawan menghempaskan tubuh Ridho begitu saja tanpa bales kasihan, hatinya sudah sangat kesal sekali.

__ADS_1



"Cepat, katakan Ridho!! Jelaskan pada paman bagaimana bisa perusahaan itu menjadi milik orang lain! Cepat katakan, Ridho!" Gunawan membentak Ridho dengan suara yang menggelegar.



Ridho bangkit dan bersimpuh di kaki Gunawan.



"Ampun, Paman. Ampuni Ridho. Ridho sudah dijebak oleh wanita malam itu. Ridho tidak bersalah, Paman. Semua itu adalah ulah Rosie, si wanita tidak tahu malu itu!" jawab Ridho menjadikan Rosie sebagai biang dari masalah yang kini sedang ia hadapi.



"Benarkah? Bukannya kau berselingkuh dengan wanita itu dan kemudian viral di media sosial, benar bukan?! Asal kamu tahu Ridho, istrimu Wulan karena kelakuanmu itu, dia telah merampas suami Sinta! Kakak sepupumu, puas kau Ridho!"



Bugh!



Bugh!



Gunawan menghajar Ridho, dia menumpahkan segala kekesalan hatinya. Dua anak perempuannya telah disakiti oleh orang yang sama, dan semuanya hanya karena Ridho biang masalahnya.



"Ampun ... Ampuuun, Paman?" teriak Ridho yang kesakitan karena dihajar oleh Gunawan.



Gunawan menghentikan aksinya saat Ridho yang sudah dia hajar babak belur dan tenaga Gunawan juga sudah habis. Napas keduanya tersengal, dan Gunawan akhirnya luruh duduk di lantai.



"Ridho, katakan pada Paman. Apa yang kurang dari paman, hingga kau tega mempermainkan kepercayaan dari paman. Demi mu paman rela harus mengemis pada tantemu Clara agar diijinkan membantumu. Tapi, sekarang lihatlah, semuanya hancur! Perusahaan itu sudah menjadi milik orang lain, Ridho!!" teriak Gunawan geram.



Ridho memegang dagunya yang terasa sakit karena kena pukul sang paman. "Paman, maafkan Ridho. Ridho tidak tahu jika semua akan menjadi seperti ini. Ridho juga terlalu di buatkan oleh cinta pada Wulan hingga tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusan Tia. Ridho sangat menyesal, Paman. Ridho sudah menyakiti hati wanita yang begitu baik," ucap Ridho menyesali semua perbuatannya.



Gunawan tidaklah mungkin memberi tahu kalau Tia adalah putri kandungnya. Dia tidak ingin Ridho akan memberi tahukan semua pada keluarga besar mereka.



"Kamu tahu Ridho, kini Sinta sudah menjadi janda. Sinta telah mengajukan cerai pada Steve karena Sinta melihat berita viral tentang perselingkuhan Wulan dan Steve. Sungguh paman malu, Ridho. Keluarga kita sudah viral di media sosial. Apa yang kau dan Steve lakukan sudah mencoreng nama baik keluarga!"



Gunawan menatap langit-langit kamar Ridho. Saat ini tubuh dan pikirannya benar-benar lelah. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa yang dikatakan Clara harus ia lakukan walau sebenarnya hati Gunawan tidak tega pada sang keponakan.



"Paman, maafkan Ridho. Ridho berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ridho akan perbaiki semua, Paman." Ridho mendekat ke arah sang paman dengan merangkak. Tubuhnya tidak kuat untuk berdiri.



Gunawan menatap sang keponakan dengan tatapan kesal. Semua sudah terlanjur, kenapa dia baru sekarang menyesali perbuatannya.



"Maafkan paman, Ridho! Tantemu Clar sudah marah, dia menginginkan paman untuk mencabut semua modal yang ada di perusahaan mu itu. Paman tidak bisa menolak perintah dari tantemu itu. Kau tahu sendiri bagaimana jika tantemu Clara jika sudah marah. Maka semua yang ia beri pasti akan ia minta lagi!" jelas Gunawan yang tidak bisa mengabulkan permintaan Ridho.



"Ridho tahu, Paman. Apa paman begitu takut pada Tante Clara? Mengapa paman tidak mencoba untuk melawan Tante Clara. Apa paman tidak punya kuasa atas hidup paman sendiri!"



Plak!



Gunawan menampar pipi kanan Ridho hingga berdarah. Amarah kini terlihat jelas di mata Gunawan.



"Jaga bicaramu, Ridho! Kau sudah tahu dari awal, siapa yang memiliki harta? Kita semua hidup berada di bawah harta Clara! Paman hanyalah seorang butuh yang bekerja di pabrik ayah Clara. Jika tidak, kita pasti juga sama dengan para buruh yang lain," ucap Gunawan dengan geram.



Mata Gunawan berkilat, menunjukkan amarah yang teramat sangat. Bagaikan lahar yang menggelegak dan siap untuk dimuntahkan.



"Ampun, Paman!"



"Sudahlah! Semua sudah terlanjur terjadi, paman hanya ingin memberitahu padamu kalau Tante Clara mengambil semua modalnya. Biarkan perusahaan itu menjadi milik orang lain!" Gunawan mengusap mukanya kasar.



Gunawan akui memanglah selama ini hidupnya selalu dalam pengawasan Clara. Dirinya hanya bagaikan sapi perah saja, atau sebagai kerbau yang digunakan untuk membajak sawah.



Ridho menganga tidak percaya. Jika itu pamannya lakukan maka dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Hanya tinggal rumah yang dia tempati saat ini sebagai harta yang tersisa.



"Baiklah, Paman. Ridho hanya bisa pasrah. Ridho akan menjual rumah ini dan kembali ke Lampung saja," ucap Ridho pasrah pada apa yang akan paman dan tantenya lakukan.



Gunawan hanya diam, dia tidak menjawab apa yang dikatakan Ridho. Jikalau memang semua harus terjadi maka ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.



"Ayahmu belum tahu, apakah paman harus memberitahunya?" tanya Gunawan pada Ridho.


__ADS_1


"Jangan, Paman. Ridho malu, kalau begitu Ridho tidak jadi pulang ke kampung. Ridho akan bekerja di sini saja. Entah jadi apa, Ridho akan terus mencari pekerjaan," ucap Ridho menyesal.


__ADS_2