Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab.70


__ADS_3

Hans mengerutkan alisnya, dia menatap sang istri dengan tatapan terheran. Mandi bersama adalah hal yang biasa dilakukan pasangan suami istri, dan hal itu pun ada tuntunannya.


"Iya, kita mandi berdua. Apakah kau tidak pernah melakukannya bersama Ridho?" tanya Hans penasaran. Pernikahan macam apa yang dilakoni oleh Tia.



Tia menggelengkan kepalanya cepat seraya berkata, "Belum pernah, Mas." Tia menjawab jujur pertanyaan Hans.



"Mandi bersama antara suami istri merupakan hal yang dianjurkan. Bahkan dicontohkan oleh nabi kita. Kau pasti pernah mendengarnya bukan? Hubungan suami istri akan semakin erat karena mandi bersama akan memperkuat hubungan suami istri. Dari hal itu kemesraan akan tercipta dan perasaan saling menghargai satu sama lain akan tercipta. Kamu paham, Tia?" tanya Hans pada Tia yang hanya melongo.



"Eh, Iya, Mas. Aku dengarkan," jawab Tia.



"Lalu?"



"Lalu apa?"



"Ya kelanjutannya!"



"Kelanjutan apa?"


__ADS_1


"Tiaaa ....!"



Hans merasa kesal, dia pun menggendong tubuh Tia layaknya karung beras menuju ke kamar mandi.



Byuuur ....



"Maaas ...."



Mereka berdua pun akhirnya menghabiskan satu botol sabun yang disiapkan pihak hotel. Sambil bercanda mereka saling bertukar menggosok punggung pasangan.




"Mas, nanti ke kantor atau tidak?" tanya Tia sambil menuangkan teh hangat di gelas Hans. Sebuah layanan paling favorit di hotel tersebut, yakni sepoci teh hangat di pagi hari. Para pelanggan bebas menentukan sendiri seberapa banyak gula yang akan digunakan.



"Iya, nanti mas mau ke kantor untuk mengurus cuti. Mas akan cuti untuk beberapa hari. Biar kita bisa bermesraan terus, hahaha ...."



"Ck! Mas ... Tubuh ini belum juga beristirahat. Tadi malam dan tadi pagi njatah terus!! Nanti Tia ingin ke butik, Mas. Lupa kalau ibu belum ada gaun untuk pesta kita nanti." Tia mengaduk pelan teh dan gula untuk Hans.


__ADS_1


"Hmm ...."



"Kok, Hmmm ... aja sih, Mas?" tanya Tia heran. Hans bukannya menjawab malah cuman berdeham saja!" Tia heran dengan sikap Hans yang mendadak berubah dingin. Segudang pertanyaan berkelindan di pikiran Tia tentang makna sikap Hans tersebut.



"Tia ... Mas tidak mengijinkan mu jika kau pergi sendiri. Kau sudah bersuami, tidak baik keluar sendirian. Mas sedang berpikir mencari waktu agar bisa mengantarkan mu pergi."



Raut wajah Hans sudah berubah dari yang tadi menghangat tetiba berubah dingin. Inilah yang membuat siapapun yang belum mengenal baik maka akan salah paham. Beruntung Tia sudah diberitahu oleh ibu kandung Hans.



"Tia, bersabarlah jangan kau masukkan hati sikap Hans yang terlalu posesif. Dia sangat menjaga apa yang menjadi miliknya. Tapi, sebenarnya dia baik. Namun caranya yang salah. Ibu harap kau tidak akan ambil hati semua sikap Hans yang posesif."



Kata- kata sang ibu mertua langsung melintas dalam memori Tia. Tia mengambil napas dalam-dalam agar hatinya bisa lebih legowo menerima sikap dan keputusan Hans.



"Ya sudah, Mas. Aku ikut aja kapan mas longgarnya," ucap Tia dengan senyum yang dipaksakan.



Siapa yang akan mau terima jika belum apa-apa sudah dilarang. Hans menoleh ke arah Tia. Wanita yang berada di depannya itu ternyata berbeda dengan Wulan.



Dulu sekali Hans bicara seperti itu maka Wulan akan marah dan akhirnya akan mengancam berpisah, hingga pada akhirnya Hans hanya diam saja membiarkan Wulan bertindak sesuka hatinya.

__ADS_1



"Tia ... Kamu tidak marah aku kekang seperti itu?" tanya Hans menatap serius pada Tia.


__ADS_2