
"Tia, malu dilihat. Hei, kenapa kamu menjadi agresif begini sih," ucap Hans mengingatkan Tia. Hans merasa heran dengan sikap Tia yang mendadak seperti itu. Namun jujur, Hans sangat menyukai diri Tia yang agresif. Dulu saat bersama Wulan, Hans lah yang selalu berusaha mencari perhatian Wulan.
"Ah, Iya. Untung gaunnya gak kenapa - kenapa, hehe ...." Tia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Niat hati hanya ingin memanasi Kirani yang sedari tadi menatap tidak suka kepadanya.
Di dalam hati Tia, entah mengapa timbul perasaan tidak ingin miliknya diganggu. Sudah cukup dia mengalah dan bersikap bodoh karena perasaan tidak enak pada orang lain. Dulu Tia mengira jika sikap tidak enak pada sang kakak yang ia miliki, baik untuk hubungan persaudaraannya dengan sang kakak. Ternyata ia salah, sikapnya itu malah dimanfaatkan oleh kakaknya sendiri.
Melihat keromantisan Tia dan Hans, Kirani mengepalkan tangannya. Ada perasaan cemburu dan kesal pada Tia.
"Tia, kamu ingin membeli gaun ini?" tanya Hans. Hans melihat Tia begitu menginginkan gaun itu.
"Iya, Mas. Tia ingin memakai gaun ini di acara spesial kita," jawab Tia sembari melirik ke arah Kirani.
"Baiklah. Kirani, tolong bungkus gaun ini." Hans menunjuk gaun yang dibawa Tia.
"Tapi Hans ... gaun ini sangat mahal." Kirani berupaya menunjukkan pada Hans kalau gaun sebagus itu tidaklah sepadan dengan Tia yang terlihat biasa saja.
"Kirani, berapapun biayanya tidak masalah! Asal Tia suka dan pas di badannya." Hans mengeluarkan black cardnya.
Mata Kirani terbelalak melihat kartu kredit berwarna hitam un limited itu. Kartu kredit yang hanya di miliki oleh orang-orang kaya saja, bisa mengajukan pembayaran dalam jumlah tanpa batas.
__ADS_1
"Ba ... Baiklah, Hans," jawab Kirani mengambil kartu kredit Hans lalu membawanya ke kasir. Gaun yang dibawa Tia pun juga dimintanya untuk dibungkus.
"Ini, Hans kartu kreditnya, dan ini bukti pembayarannya," kata Kirani menyerahkan kartu kredit beserta nota pembayaran.
"Gila! Hans si culun itu sekarang kaya raya. Gaun seharga 500 juta saja dia bayar. Andai aku bisa menjadi istri Hans, tentu tidak perlu aku bekerja seperti ini," gumam Kirani sembari menatap kagum pada Hans.
"Terima kasih, Kirani. Kami permisi terlebih dahulu. Masih ada yang harus kami selesaikan. Selamat malam," ucap Hans berpamitan pada Kirani.
Kirani sengaja menjabat tangan Hans dalam waktu yang cukup lama. Tia tidak suka dengan pemandangan yang dilihatnya. Dia pun berupaya melepas dua tangan yang saling mengait itu.
"Mmm ... Maaf, tidak sengaja," ucap Tia yang sengaja menyenggol bahu Kirani hingga tangan Kirani yang sengaja memegang tangan Hans dalam waktu yang lama, terhempas begitu saja.
"Ayo, Mas. Kita pulang, tidak enak dilihat pelanggan yang lain," seru Tia menyindir, membuat Kirani mati kutu.
"Ah, Iya. Terima kasih, semoga bisa menjadi pelanggan tetap kami," seru Wulan setengah berteriak.
Tia menarik tangan Hans hingga keluar dari butik. "Mas, apa Kirani itu mantan kekasihmu?" tanya Tia mendadak, membuat Hans terkejut bukan kepalang. Sejurus kemudian Hans tertawa melihat wajah Tia yang lucu.
__ADS_1
"Tia, apa kamu cemburu?" tanya Hans menghentikan langkahnya mendadak hingga Tia yang berjalan cepat pun tertarik dan masuk dalam pelukan Hans.
Bugh.
"Mas! Kalau berjalan jangan berhenti mendadak! Jadi nabrak kan?!" gerutu Tia. Tia yang pendiam berubah menjadi cerewet. Memang perasaan Cinta dan benci akan mudah mengubah sikap seseorang.
Bukannya menjawab pertanyaan Tia, Hans malah mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Tia. Hembusan napas Hans menyapu lembut leher Tia. Membuat Tia merasakan sensasi geli dibagian tengkuknya.
"Maaas ... Sabaarrr ...." Tia berupaya melepaskan dirinya dari pelukan Hans.
"Baiklah, akan aku tagih nanti malam," ucap Hans parau. Keinginan hati dan dorongan untuk malam pertama dengan Tia makin menggebu.
Blush ....
Pipi Tia merona, kulitnya yang putih terlihat memerah.
"Mas, kita belum mendapatkan perias pengantinnya. Masih ada satu tempatkan yang akan kita tuju setelah ini?" Tia tersenyum kecut mengingatkan Hans akan tujuannya semula.
Glek!
__ADS_1
Hans menekan salivanya kasar. Namun dia mendapatkan ide untuk bisa dengan aman dan nyaman belah duren.