
Beberapa hari kemudian.
Karena tidak ada yang menemani, akhirnya Sinta nekat menemui Clara ke rumah sakit jiwa. Awalnya tadi ia sudah mengajak papanya tapi dia tidak mau, lagipula ia tak akan memaksa sebab ia tak mau berdebat dengan pria tua itu.
Sinta terbang ke Lampung mengambil penerbangan pertama. Setelah sampai di bandara dia menggunakan jasa taksi online menuju ke rumahnya. Di sepanjang jalan dia membayangkan wajah sang mama yang dibawa paksa oleh petugas rumah sakit, ia tidak tega melihat mamanya berada di tempat itu bersama dengan orang-orang yang memiliki gangguan mental. Tentu saja dirinya merasa bersalah, ia tak bisa menjadi anak yang baik untuk mamanya itu.
"Ma, aku mau jenguk mama. Semoga mama baik-baik saja di sana," batin Sinta.
Tadi Gunawan melarangnya menemui Clara, alasannya dia takut dirinya disakiti oleh Clara. Gunawan percaya Clara sakit mental, dan bisa saja menyakiti orang lain seperti ODGJ pada umumnya. Tapi Sinta tidak peduli akan hal itu, ia tetap bersikeras untuk menemui Clara di rumah sakit jiwa.
Sinta juga sudah mengetahui jika Rai meninggalkan Clara ketika dia tahu Clara sudah tak memiliki apa-apa sekarang. Memang laki-laki itu tak tahu terimakasih, Sinta juga kesal jika membayangkan wajah Rai. Menurutnya dia yang menyebabkan mamanya berada di sana dan dibawa oleh petugas kesehatan.
Sesampainya di tempat parkir, ia langsung turun dari mobil dan berdiri tepat di depan rumahnya. Sinta sangat terkejut melihat tanda bahwa rumah sang mama sudah disita bank.
"Apa ini? Mengapa rumah ini di sita oleh, bank? Ada apa dengan semua ini? Apa mama histeris karena masalah ini? Bukan karena Rai?" batin Sinta setelah membaca tulisan bahwa rumahnya disita. Sinta tidak menyangka jika selain perusahaan yang sudah bangkrut, rumah juga disita oleh bank. Sungguh pastilah ini sangat menyakitkan bagi ibunya.
Sinta menghubungi nomer sahabatnya Rara. Beruntung Sinta masih menitipkan mobilnya di rumah Rara sehingga mobil itu aman.
"Hallo, Ra. Bisa kau antar mobilku ke rumahku? Maaf, aku tidak bisa mengambilnya sendiri. Aku sudah berada di depan rumahku sekarang," ucap Sinta.
"Kau sudah kembali ke Lampung? Baiklah sekarang juga aku akan meluncur ke sana," jawab Rara.
"Okey. Terima kasih, Rara," ucap Sinta tersenyum lalu menutup ponselnya.
Tidak berapa lama kemudian, Rara sahabat Sinta pun datang dengan mobil Sinta. Mobil kado ulang tahun dari Gunawan sewaktu dia masih kuliah dulu masih bagus.
__ADS_1
"Terima kasih, Ra. Kau memang sahabat terbaikku," ucap Sinta berterima kasih pada Rara.
"Sudahlah, aku yang ucapkan terima kasih. Selama di rumahku mobil ini sangat membantu keluargaku," sahut Rara melempar kunci mobil ke arah Sinta.
"Baiklah, aku antar kau pulang setelah itu aku akan ke rumah sakit," ucap Sinta pada sang sahabat. Wanita dengan kacamata minus, dengan rambut diikat mirip ekor kuda.
Rara dan Sinta pun meninggalkan rumah yang sudah disita bank itu. Sungguh sangat memalukan jika semua orang tahu jika rumah yang dulu tempat berteduh kini sudah disita oleh bank.
Setelah Sinta mengantarkan Rara di rumahnya, Sinta melakukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Mobil mewah itu masuk ke dalam parkiran khusus mobil. Sinta pun keluar dari mobil dan berjalan masuk. Pemandangan yang ia lihat adalah banyak sekali petugas kesehatan di sini, sejauh ini suasana masih tenang.
Saat ini Sinta sudah berada di bagian resepsionis, menanyakan di mana keberadaan mamanya supaya ia bisa menemui. Tapi resepsionis itu seolah-olah melarang dirinya untuk bertemu dengan mamanya sendiri.
"Sus, mama saya bernama Clara. Baru hari ini dia dibawa ke sini, apakah saya bisa menemuinya?" tanya Clara sekali lagi.
"Maaf, pasien atas nama Ibu Clara tidak bisa dijenguk oleh siapapun. Dikarenakan kondisi kesehatannya yang tidak stabil dan harus dalam pantauan medis. Mungkin jika keadaan sudah mulai membaik anda bisa menemui Ibu Clara."
"Tapi kenapa, sus? Bukannya boleh ya pasien dijenguk oleh keluarga?" tanya Sinta.
"Kenapa mama saya bisa mengamuk, Sus?" tanya Sinta tak paham.
"Beliau mencoba untuk kabur, padahal tadi sudah ditempatkan di tempat paling ujung dan ternyata beliau bisa membuka gembok dengan belati yang entah dari mana ia dapatkan."
"Hal yang dulu pernah ia lakukan saat pertama kali dibawa ke rumah sakit ini. Lalu salah satu petugas kami melihat beliau ada di halaman depan dan pada akhirnya petugas kami membawa kembali beliau dan maaf, saat melarikan diri itulah nyonya Clara mengalami kecelakaan. Jadi saya mohon nona bisa diajak kerja sama.
"Kita juga sempat kecolongan, karena kita pikir beliau sudah nyaman berada di tempatnya. Tapi ternyata dugaan kami salah dan belum berakhir, nyonya Clara mulai mencongkel gembok kamar beliau dan akhirnya beliau bisa kabur. Ini juga karena kelalaian dan kesalahan kita. Seharusnya kita mengecek kembali gembok-gembok kamar pasien. Mungkin juga karena kamar itu jarang sekali ditempati karena letaknya yang paling ujung, sangat mungkin nyonya Clara kabur hanya dengan menggunakan pisau buah. Tapi anda tenang saja, Nyonya Clara tidak mengalami luka serius."
Sinta terdiam, tadi dirinya memang sempat melihat beberapa petugas kebersihan yang sedang membereskan kekacauan dan dari sini ia tahu kalau itu kekacauan yang diakibatkan oleh mamanya sendiri. Ternyata mamanya mencoba untuk kabur dari tempat ini dan pada akhirnya dia tidak bisa kabur.
Kalaupun Clara berhasil kabur pasti dia juga akan dicari oleh petugas kesehatan di sini dan akan menggemparkan media sosial terkait itu. Untung saja Clara cuma sampai di halaman rumah sakit. Jika tidak entah apa yang akan terjadi.
Dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana Mamanya tadi, pasti dia berteriak-teriak karena tidak mau dibawa oleh petugas. Rasanya menyesakkan sekali, pantas saja suster melarang dirinya untuk bertemu dengan mamanya karena hal ini. Tapi Sinta sudah sampai di tempat ini dan mana mungkin juga dirinya pulang tanpa bertemu dengan mamanya.
"Sus, sebentar saja. Apa tidak boleh?" mohon Sinta.
"Maaf, saya tidak bisa mengizinkan anda. Begini saja, anda bisa meninggalkan nomor ponsel Anda di sini nanti jika keadaan beliau sudah membaik dan bisa dijenguk saya pasti akan hubungi anda."
__ADS_1
"Sus, saya nggak tahu apakah saya bisa kembali ke sini atau tidak. Secara saya memiliki masalah yang tidak mungkin saya ceritakan kepada semua orang, tapi harapan saya cuma ingin bertemu dengan ibu saya."
"Tidak bisa, pasien sudah mendapatkan diagnosa sebagai orang dalam gangguan jiwa atau ODGJ. Jadi sangat Bahaya jika orang lain mencoba bertemu dengan pasien. Apalagi Rumah Sakit ini sangat mengutamakan keselamatan dan kesehatan pasien dan juga keluarga."
Jika sudah seperti ini Sinta juga bingung bagaimana jadinya, padahal ia sangat ingin bertemu dengan Clara. Akhirnya Sinta memutuskan untuk berjalan keluar dari rumah sakit ini, waktu berada di taman ia berhenti dan memilih duduk di sana. Matanya menatap beberapa orang yang ada di sini.
Tidak bisa membayangkan bagaimana tadi Mamanya mengamuk, pasti petugas kesehatan yang ada di sini kewalahan menghadapi mamanya yang mengamuk itu. Jika tidak boleh dijenguk mana mungkin ia akan memaksa menjenguk mamanya, bisa-bisa dirinya juga ikut diduga sebagai orang yang memiliki penyakit mental. Sinta memutuskan untuk menelepon papanya saja. Siapa lagi jika bukan Gunawan.
"Papa, aku tidak bisa bertemu dengan mama. Mereka mengatakan tadi Mama sehabis mengamuk dan dia dilarang ditemui oleh siapapun. Padahal aku sangat ingin bertemu dengan Mama."
"Astaga, Sinta. Kamu menelepon Papa hanya untuk mengatakan itu? Kalau kamu tidak diizinkan untuk menjenguk Mama kamu itu ya kamu pulang saja bekerja atau apalah yang bisa membuat kamu melupakan masalah ini. Terus memangnya kalau kamu lapor papa, kamu bakal bisa jenguk Mama kamu itu? Mikir dong."
"Pa, kenapa sih papa nggak ada sedih-sedihnya? Aku di sini khawatir dengan kondisi mama, pasti Mama ketakutan melihat mereka semua Makanya mama berteriak-teriak dan mengamuk di sini. Ayolah pa, bantu aku untuk bertemu dengan mama sebentar saja. Aku cuma mau mastiin keadaan mama dengan mataku sendiri, udah itu doang."
"Sinta, kalau orang yang berwenang di sana sudah melarang kamu memangnya kamu mau Papa memohon-mohon kepada mereka supaya kamu diizinkan masuk? Lagian mama kamu itu sudah kelainan jiwa, yang ada kamu malahan dalam bahaya kalau terus dekat dengan dia. Jadi lebih baik kamu pulang saja dan jangan bertemu dengan mama kamu itu."
"Kasihan mama, Pa, setidaknya papa datang ke sini untuk temani aku. Aku yakin Mama tidak sakit jiwa seperti apa yang mereka katakan."
"Kamu masih belum percaya? Kalau dia tidak sakit jiwa kamu pasti sudah diizinkan untuk bertemu dengan dia dan bahkan dia sudah mendapatkan perizinan untuk pulang. Tapi sekarang apa buktinya, kamu saja tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan mama kamu itu dengan alasan mama mu itu menyerang petugas. Kalau orang sudah dalam gangguan jiwa dia pasti akan menyerang siapapun yang ada di dekatnya termasuk kamu. Terus kamu memaksa mau masuk dan juga berteriak seperti orang gil4?"
Sinta terdiam, memang bener apa yang Papanya itu katakan. Tapi di satu sisi ia tidak suka jika ada yang menyebut mamanya sebagai orang gil4. Sinta tahu jika orang tuanya sudah bercerai tapi apa salahnya jika dia minta bantuan kepada Papanya supaya diizinkan bertemu dengan mamanya walau hanya sesaat.
Kata dari perkataan papanya saja sudah terlihat bahwa dia tidak peduli lagi terhadap mamanya. Semisal dia peduli pasti membantu dirinya dan dia akann bertanya bagaimana keadaan mamanya sekarang. Jika berada di sini dirinya merasa menjadi manusia yang penuh dosa.
Kurang bersyukur dan melihat orang-orang yang memang tempat tinggalnya di sini membuat ia merasa jauh lebih bersyukur dari sebelumnya. Bahkan dari Kejadian ini membuat dirinya belajar banyak hal tentang kehidupan walaupun ada bersalah itu akan tetap ada di hatinya. Hanya ada kata andai yang tidak akan bisa menjadi kenyataan.
"Sinta, Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi kepada Papa maka papa akan menutup telepon ini. Papa memiliki banyak sekali pekerjaan dan jangan membuang waktu papa."
"Aku mau tunggu di sini aja pa, sampai mereka mengizinkan aku untuk menengok mama. Aku juga akan tetap menunggu Mama di sini, aku yakin Mama tidak akan mengamuk kepadaku jika dia melihat aku datang ke sini untuk dia."
"Terserah kamu saja, tapi alangkah lebih baik kamu kembali ke kantor dan bantulah Papa bekerja. Itu lebih bermanfaat ketimbang menunggu sesuatu yang tidak jelas bagaimana kejelasannya."
"Aku pulang nanti saja pa, kasihan mama kalau dia merasa tidak ada dengan peduli dengan dia. Bedanya aku masih berada di sini supaya Mama tahu aku bekerja keras untuk melihat dia."
"Kamu menyinggung papa?"
"Tentu saja tidak, tapi jika Papa merasa itu akan jauh lebih baik."
Sinta mematikan sambungan telepon itu secara sepihak, ternyata tidak ada solusi bagi dirinya supaya bisa bertemu dengan mamanya itu. Papanya juga selalu menyudutkan dirinya ketika ia membela Clara. Padahal menurutnya tidak ada yang salah dengan apa yang dirinya lakukan, tapi Papanya itu malah mementingkan pekerjaan daripada kebahagiaan mamanya.
"Mama, maafkan aku. Sampai sekarang aku masih belum bisa menemui mama. Tapi mama jangan khawatir, Aku akan berusaha supaya bisa bertemu dan bertatapan mata langsung dengan Mama. Mama yang sabar ya di sana Aku yakin mama tidak gil4."
"Mama jangan sedih, sekarang memang titik terendah mama tapi aku yakin mama bisa bangkit. Maafkan aku yang belum bisa jadi kebanggaan mama, tapi aku akan berusaha membuat mama dan papa bangga dengan aku."
__ADS_1
Sinta menghela nafas pelan, ia memijat pelan pelipisnya yang terasa sakit. Rasanya membutuhkan kesabaran ekstra untuk menghadapi masalah ini. Ia berharap Clara baik-baik saja.