Menikahi Mantan Suami Pelakor

Menikahi Mantan Suami Pelakor
Bab 33


__ADS_3

Wulan mengeluarkan dompet dan mengambil kartu kredit yang dia sembunyikan dari suami dan ibunya. Wulan adalah sosok yang sangat perhitungan dalam pengeluaran uang.


Semua kebutuhan belanja dia minta cash pada Ridho, sedangkan kebutuhan pribadi dia ambil dari kartu kredit Ridho. Alasan yang Wulan pakai setiap kali uang belanja habis adalah naiknya harga semua kebutuhan pokok.



"Silakan ini kuitansinya, Nyonya. Dan ini kartu kredit Anda, semua proses sudah selesai," kata sang pegawai administrasi.



"Terima kasih, Sus," jawab Wulan sambil tersenyum. Dia pun membuka semua rincian biaya.


Mata Wulan membulat, melihat deret angka yang tertera di dalam kuitansi. Dirinya hampir terhuyung, beruntunglah saat ini dia berada dekat dengan dinding, hingga Wulan masih bisa berpegangan.


"Gila! Wanita tua ini merampok isi tabunganku. Kalau tahu begini, aku tidak sudi membawanya ke rumah sakit. Aku harus bilang pada papa, minta ganti! Enak saja duitku habis hanya untuk membayar rumah sakit mama!" gerutu Wulan di dalam hati. Dia masih ingat jika orang tuanya masih ada sepetak tanah peninggalan kakek neneknya.



Wulan melangkah kembali menuju ke ruang UGD.

__ADS_1



"Semua sudah saya bayar, Dok. Mama bisa dipindah ke ruang rawat inap," ucap Wulan menyerahkan kuitansi pada sang dokter jaga. Sang dokter hanya menggelengkan kepalanya karena melihat Wulan yang tidak enak dipandang.



"Baiklah, Nyonya. Kami akan segera memindahkan pasien ke kamar rawat inap," ucap sang dokter dengan ramah. Walau apapun yang terjadi seorang dokter harus ramah pada semua pasien dan keluarganya.



Dokter dengan nama tag dr. Arfa Lukmana, menandatangani semua berkas untuk di serahkan pada suster. Setelah selesai dokter Arka menyerahkan berkas pada sang suster untuk dibawa ke perawat yang berjaga di ruang rawat inap Meri.




Sementara dari arah berlawanan, Tia berjalan membawa beberapa keperluan Hans. Tia menatap lurus ke depan, dilihatnya sosok wajah yang sangat dia kenal.


__ADS_1


"Bukankah itu mbak Wulan? Papa, Aris dan apakah yang di atas brangkar itu adalah mama?" gumam Tia di dalam hati memastikan kebenaran pemandangan yang dilihatnya. Setelah merasa yakin, Tia berlari mendekat ke arah brangkar.



"Mbak Wulan, Papa, Aris? Dan mamaa ...!" Tia berjalan di samping brangkar. Sedangkan Cahyo dan Aris ikut mendorong dari belakang.



Tia memilih mengikuti kemana sang ibu akan dirawat. Hatinya merasa khawatir pada sang ibu. Walau sang ibu tidak menerimanya dengan baik, namun Tia bukanlah sosok yang tidak tahu terima kasih. Tia hany ingin sekadar menjalankan tugasnya sebagai anak yang berbakti pada kedua orang tuanya terutama sang ibu.



Brangkar sudah masuk ke dalam salah satu kamar kelas satu, bukan kamar VIP. Wulan tidak mengijinkan sang ibu menghabiskan terlalu banyak duitnya.



Para suster merapikan tempat dan setelah selesai mereka meninggalkan kamar Meri. Wulan menghampiri Tia. Dia ingin memanfaatkan Tia agar mau membantu biaya rumah sakit sang ibu.


__ADS_1


"Tia! Enak-enakan kau hidup luar! Lihat mama sakit karena memikirkan mu! Kau harus tanggung jawab!" Wulan melimpahkan semua kesalahan pada Tia. Wulan sangat ingin duitnya tidak keluar lagi untuk ibunya.


__ADS_2