
Wulan memutar otaknya mencari alasan yang bagus agar Steve tidak mengantarnya pulang ke rumah. Andai Steve tahu jika Ridho adalah suami Wulan, jelas rencana Wulan pasti akan berantakan.
"Mas, mm ... Aku tidak pulang ke rumah, orang tuaku hari ini ada acara di luar kota, aku takut di rumah sendirian, mas mau antar aku cari hotel terdekat?" tanya Wulan dengan nada memelas.
Steve menoleh ke arah Wulan lalu berkata, "Kamu takut sendirian di rumah? Mengapa? Apa perlu mas temani?"
Wulan membulatkan matanya, merutuki kebodohan diri yang mengatakan takut sendirian di rumah. Jelas pasti Steve akan bilang seperti itu.
"Duh! Kenapa aku mengatakan hal itu? Jelas lah jika Steve akan jawab seperti itu," gumam Wulan di dalam hati.
Wulan segera mencari alasan lagi. "Bukan begitu, Mas. Aku hanya ingin menghabiskan waktu saja di hotel. Sudah lama aku tidak merasakan me- time untuk diriku sendiri. Setiap hari harus kerja dan kerja terus. Aku kan bosen, Mas!" ucap Wulan bergelayut manja di lengan Steve.
Steve yang sudah terkebI goda pun tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan senyum merekah, Steve mengangguk sambil berkata, "Baiklah, sesuai keinginanmu aku akan membawa mu ke sebuah hotel yang indah dan lengkap fasilitasnya."
__ADS_1
"Mas, jangan yang mahal-mahal, aku tidak banyak uang untuk bisa bayar sewa hotel itu," ucap Wulan modus. Ingin Steve yang membayari sewanya.
Steve tersenyum tahu kemana arah pembicaraan Wulan, dia pun segera memutar balik arah mobilnya menuju ke hotel yang dia inginkan.
"Tenang saja, semua biar aku yang bayar, kau cukup menyenangkan hatiku saja," ucap Steve sembari mengedipkan matanya.
"Yes, berhasil! Aku mendapatkan mangsa. Kau sudah masuk ke dalam perangkap ku Steve!" gumam Wulan merasa senang, jaring yang ia tebar, mendapatkan mangsa.
"Terima kasih, Mas. Tenang aja, aku akan membuat mas senang nanti," ucap Wulan dengan wajah yang ceria.
"Ayo, silakan masuk. Ini adalah hotel dimana aku sering menginap di sini jika ada meeting di kota ini. Kamu pasti suka dengan pelayanan dan fasilitas hotel ini," ajak Steve sembari mengajak masuk Wulan ke hotel bintang Lima favoritnya.
"Wah, megah sekali hotelnya ya, Mas. Pasti mahal sewa kamarnya," puji Wulan memandangi isi hotel tersebut. Semua terlihat mewah baginya karena Wulan biasa hanya menyewa hotel bintang tiga saja.
__ADS_1
Wulan merasa bagaikan seorang istri dari pengusaha sukses, dia bergelayut manja di lengan Steve.
"Selamat malam, Tuan Steve. Senang Anda bisa menyewa kembali di hotel ini. Anda memang pelanggan terbaik kami," ucap salah satu penjaga
Wulan menoleh ke arah Steve, dia merasa bahwa Steve adalah sosok yang memang suka bersenang-senang dengan wanita.
"Hmm ... Terima kasih, hanya karena ada tugas di kota ini yang harus saya selesaikan," jawab Steve tersenyum ramah. Steve memang sosok yang ramah pad siapapun.
"Ini kuncinya, Tuan." Sang petugas resepsionis memberikan kunci pada Steve.
"Terimakasih, Nona," ucap Steve sembari mengedipkan matanya.
"Ayo, Wulan," ajak Steve pada Wulan yang mematung di sampingnya.
__ADS_1
Wulan tersenyum lalu kembali menggamit tangan Steve. Malam ini akan Wulan pastikan semua berjalan sesuai rencananya. Mereka pun akhirnya berjalan sambil saling bercanda menaiki lift menuju ke lantai di mana kamar mereka berada. Sebuah kamar eksklusif yang khusus untuk para petinggi kantor.