
Di Lampung.
Siang yang panas, Clara sedang sibuk mengecek semua berkas aset perusahaan yang dimiliki. Dia berharap masih ada berkas berharga yang bisa menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan. Sejak kalah bersaing memenangkan tender hari itu melawan Gunawan, kekalahan lainnya datang secara bertubi-tubi.
"Huft! Aku harus mengumpulkan semua yang berharga untuk bisa membayar pinjaman ke bank yang sudah jatuh tempo! Tapi mengapa tidak ada satupun? Siapa yang mengambil, perasaan dulu Gunawan menyimpannya di brangkas ini! Sekarang tidak ada?" batin Clara merasa kesal apa yang dia inginkan ternyata tidak ada.
Clara harus meminjam uang ke beberapa bank untuk menutupi upah karyawan yang tertunggak beberapa bulan. Itu semua terpaksa dia lakukan karena tidak ingin didemo dan mendapatkan kecaman dari semua karyawannya. Bahkan sudah ada puluhan karyawan yang mengundurkan diri dari perusahaan.
Clara duduk bersandar di kursi kebesarannya sembari memijit pelipisnya. Merasa pusing dengan keadaan yang menghimpit dirinya.
Dering ponsel pun terdengar. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Dia segera mengangkatnya. Baru saja menempelkan ponsel di telinga, dia dibuat kaget dengan teriakan seseorang dari sebrang sana yang membentak dan memarahinya karena sudah lewat dari jatuh tempo yang ditentukan sesuai kesepakatan.
"Nyonya Clara! Batas pinjaman anda adalah hari ini! Jika tidak anda lunasi maka jangan salahkan saya untuk menyita rumah Anda!" Suara bariton dengan nada tinggi terdengar di telinga Clara.
Tidak ingin mendengarkan, Clara segera menutup panggilan telepon itu dan memblokir nomor tersebut agar tidak bisa menghubunginya kembali.
"Aku harus bagaimana?" Clara memijat keningnya yang berdenyut nyeri.
Clara kembali menerima telepon, tetapi itu dari asisten rumah tangganya. "Kenapa, Bi?"
"Nyonya, ada beberapa orang yang datang dan mengusirku. Mereka bilang rumah ini disita bank karena sudah lewat jatuh tempo," adu asisten rumah tangga Clara.
Clara terkejut mendengar itu. Dia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa. Terpaku diam mematung di tempat. Clara menutup sambungan telepon dan berlari menuju ruangan Rai.
"Rai, apa yang harus aku lakukan? Rumahku disita bank karena sudah lewat jatuh tempo. Bagaimana ini?" tanya Clara dengan nada suara yang panik. "Tolong lakukan sesuatu!"
Rai membelalakkan matanya dengan sempurna. "Maaf, aku tidak tahu harus apa. Aku tidak bisa membantumu, Clara."
"Rai ... Jangan pergi!! Mau kemana kau!!" teriak Clara, namun tidak digubris oleh Rai.
__ADS_1
"Raiii ... Raiiii ... Dasar lelaki sialan!! Habis manis sepah dibuang!! Menyesal aku mengenalmu dulu!!" umpat Clara dengan hati yang kesal.
Rai melenggang pergi begitu saja meninggalkan Clara. Dia tidak bertanggung jawab dan memilih angkat tangan karena Clara sudah tidak memiliki rumah. Dia tidak mendengarkan teriakan Clara yang terus memanggil namanya. Clara menjadi stres sendiri memikirkan nasibnya dan perusahaan.
Clara berjalan menyusuri jalan raya, sesekali berhenti di gedung yang tinggi lalu tertawa sendiri. Sedangkan Rai pergi membawa harta yang dia ambil dari Clara menuju ke Jakarta.
"Hahaha ... Lihat itu gedungku! Itu perusahaan papaku yang besar! Kalian tidak boleh mengambilnya! Kalian tidak boleh mengambilnya darikuuu ... hahaha!" Clara berteriak dan menangis di waktu bersamaan. Orang -orang yang lewat pun menyangka Clara adalah orang gil4.
"Apa?! Kalian lihat apa?! Kalian ingin mengambil perusahaan ku bukan?" teriak Clara memaki tiap orang yang lewat di depannya.
"Permisi, Nyonya! Anda sudah membuat keributan, sebaiknya Anda ikut dengan kami. Tidak ada yang perlu nyonya takutkan," ajak salah satu polisi wanita yang bertugas menangani sesama wanita.
Awak media yang kebetulan lewat di situ meliput dan mengekspos dibawanya Clara oleh petugas dinas sosial. Wajah Clara tersorot kamera dan viral di media sosial.
Di saat yang sama, Gunawan yang sedang memeriksa kemajuan perusahaan Tia tanpa sengaja melihat Clara yang masuk dalam siaran televisi.
"Clara? Mengapa dia dibawa paksa oleh petugas kepolisian dan beberapa petugas kesehatan? Ada apa dengan Clara? Hmm ... kasihan dia, tapi bukan urusanku lagi. Mungkin Tuhan sedang menghukum dirinya dan dia menuai apa yang selama ini telah ia lakukan. Entah berapa kehidupan orang yang sudah Clara hancurkan begitu saja," gumam Gunawan tidak mau mencampuri kehidupan Clara lagi.
Sementara itu Sinta yang kebetulan juga sedang membuka aplikasi birunya tiba-tiba terkejut dan hampir saja menjatuhkan ponselnya gara-gara melihat sang ibu masuk berita.
__ADS_1
"Mama?! Ini mama bukan? Kenapa mama bisa ditangkap petugas?" ucap Sinta melotot tidak percaya. Dia pun membesarkan foto sang ibu yang sedang dibawa paksa oleh petugas.
"Benar! Ini adalah mama! Mengapa mama bisa tertangkap petugas rumah sakit jiwa? Mama kan tidak gila! Aku harus bilang pada papa, mumpung papa masih ada di sini!" Sinta bergegas menemui Gunawan yang masih berada di ruangan Tia.
"Papa ... Papa! Lihat, mama di tangkap oleh petugas rumah sakit jiwa. Pa ... Kasihan mama, papa harus membebaskan mama, Pa!" teriak Sinta tiba-tiba masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam terlebih dahulu
"Sinta! Apa-apaan kamu? Mengapa kamu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam terlebih dahulu, hah!" hardik Gunawan yang kaget dengan Sinta yang tiba-tiba masuk dan berteriak sesuka hatinya.
"Papa ... Ini urgent papa! Papa harus tahu keadaan mama bagaimana!!" teriak Sinta kembali, dia lupa jika sekarang ini masih jam kantor yang mengharuskan dia untuk menjaga dan mentaati semua peraturan kantor.
"Sinta!! Ini bukan rumah melainkan kantor perusahaan milik Tia. Semua ada tata tertib dan aturan yang harus kau taati. Walau kau adalah kerabat dari pemilik perusahaan!" hardik Gunawan keras. Dia menjadi tahu bagaimana kelakuan Sinta selama ini di kantor Tia. Sungguh Tia adalah sosok yang sabar hingga bisa bertahan dengan pegawai seperti Sinta.
"Kau sangat berbeda dengan Tia, Sinta! Dia bisa diam mengahadapi kelakuan mu selama di kantor, akan tetapi papa tidak! Papa adalah pekerja keras yang paham aturan jadi kau harus bisa mengikuti peraturan yang berlaku! Bicarakan masalah mama mu nanti setelah jam kantor selesai, sekarang kau harus keluar dari ruangan ini dan masuklah jika menyangkut pekerjaan saja! Kau paham, Sinta!!" ucap Gunawan dengan tegas.
Sinta melongo tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah. Sinta baru tahu bagaimana Gunawan bekerja hingga bisa membuat perusahaan sang kakek berjaya. Ternyata sang ayah bekerja dengan kedisiplinan yang tinggi tidak seenaknya seperti ayah kandungnya-- Raiyanza.
"Tapi, Paa ...!"
"Tidak ada tapi-tapian, cepat kau keluar dari ruangan ini! Dan bicarakan hanya masalah pekerjaan bukan masalah pribadi! Papa tidak punya banyak waktu untuk mengurusi masalah mamamu!!" hardik Gunawan lagi. Kali ini Sinta tidak bisa berkelit lagi. Dia tidak bisa berkata banyak selain mematuhi apa yang dikatakan oleh Gunawan.
"Baik, Pa. Sinta permisi," jawab Sinta dengan lemas. Harapannya agar sang ayah mau menolong ibunya sirna. Tidak ada lagi yang bisa ia mintai tolong untuk membebaskan sang ibu.
__ADS_1
"Mama ... Maafkan Sinta, Ma. Karena Keegoisan Sinta mama kini hidup terlunta-lunta seperti itu. Sungguh Sinta bukanlah anak yang berbakti," gumam Sinta lirih sembari berjalan menyusuri lorong untuk kembali ke ruang kerjanya.