
Hans menepuk pundak Tia, setelah itu dia berusaha memijat bahu istrinya yang seharian capek mengurus dua anak kembarnya yang pada hari ini hari aqiqahnya.
"Kamu capek kan? Mas pijit dahulu, mumpung anak-anak tidur."
"Iya, Mas. Makasih, ya. Tia sangat lelah hari ini." Tia menyibak rambutnya agar Hans bisa leluasa memijat bahu dan tengkuknya.
Jiwa kelelakian Hans bergejolak melihat tengkuk Tia. Namun, dia harus menahan karena Tia masih dalam masa nifas. Selain itu Hans sudah berjanji jika tidak akan tambah momongan sebelum anak mereka berusia lima tahun. Tia sudah bilang jika sebelum pasang alat kontrasepsi maka Hans dilarang meminta haknya pada Tia.
"Mas ... Kau tidak apa-apa kan menahan diri tidak meminta hakmu sebagai suami terlebih dahulu?" Tia bertanya untuk meyakinkan dirinya bahwa Hans tidak akan meminta haknya pada Tia terlebih dahulu.
Hans mengacak rambut sang istri sambil tersenyum, dia pun berkata, "Tidak, Sayang. Aku bisa bersabar untuk tidak mengedepankan egoku sendiri. Melihatmu lelah karena capek mengurus Hasan dan Hasna, membuat mas tidak tega."
Tia tersenyum, gantinya merasa tenang karena sang suami tidak akan memaksa dirinya untuk melayaninya. Tia takut jika nasibnya sama seperti berita di televisi yang memberitakan seorang istri yang mengalami pendarahan karena sang suami memaksa untuk berhubungan di saat nifas belum selesai.
"Terima kasih atas semua perhatianmu, Mas. Aku merasa lega sekarang. Nanti jika aku sudah siap dan selesai masa nifas ku maka aku akan melayani mu kembali," ujar Tia menggenggam tangan sang suami.
"Tenang saja, Tia. Cinta dan kasih sayangku kepadamu lebih besar dari egoku sendiri, Sayang. Sekarang kita fokus pada tumbuh kembang bayi kita. Besok mas akan mencari baby sitter untukmu agar kau tidak kecapekan dan ASI -mu melimpah."
"Baiklah, Mas. Tia akan sabar menunggu sampai mas dapat baby sitter untuk membantu Tia menjaga Hasan dan Hasna," jawab Tia patuh. Dia sekali lagi merasa beruntung memiliki suami yang sabar seperti Hans.
Hans berdiri dari tempatnya lalu dia mengambil ponselnya yang berada di atas nakas. Dia menghubungi sang sekertaris untuk mencarikan baby sitter untuk Tia.
"Baiklah, Terima kasih banyak. Jika sudah dapat segera hubungi saya."
__ADS_1
"Siap, Bos!"
"Sudah, sekarang kau istirahat lah dulu. Malam masih panjang, sebaiknya kita tidur biar badan kita fresh." Hans mengajak sang istri untuk tidur.
Tia mengangguk dan tersenyum, bergegas dia ganti baju dan berangkat tidur. Malam pun berlalu dengan dengkuran halus dari dua pasang suami istri yang tidur berpelukan.
***
Di Lampung.
Seorang wanita tengah mabuk-mabukan, dia melampiaskan semua kekecewaan dan rasa kesal yang ia rasa. Wanita itu sangat sedih lantaran dirinya hanyalah anak hasil hubungan terlarang.
"Papa ... Kenapa Sinta bukan anak papa?! Sinta hanyalah anak h4r4m dari lelaki sialan itu!!" Sinta berteriak di tengah dentuman musik di Club malam. Bau minuman keras menyeruak dari mulutnya.
"Ra, lihatlah si Sinta. Mengapa dia menjadi begitu? Apa yang telah terjadi?" tanya Siska pada Rara sahabatnya.
"Tahulah, Sis. Sinta emang begitu! Semenjak perusahaannya dikabarkan bangkrut dia menjadi sosok yang berbeda. Gilanya lagi, kabar yang aku dengar anak Sinta sekarang ikut suaminya. Sinta tidak mau lagi mengasuh putrinya. Ibu macam apa dia?" celoteh Rara.
"Hahaha ... Dunia memang memuakkan! Aku sangat benci dengan hidupku!" Sinta tertawa dan berteriak sembari menenggak minumannya.
"Sinta sudah lah, kau sudah cukup mabuk hari ini. Kamu nanti bisa sakit jika terus begini!!" teriak Rara menarik tangan Sinta untuk pulang.
"Tidaak!! Jangan bawa aku pulang!! Aku tidak ingin pulang, aku tidak mau pulaaang ... Lepaskan!!" Sinta meronta karena tidak ingin diajak pulang oleh Rara dan Siska.
Sinta memberontak dan melarikan diri dari cekalan tangan Rara dan Siska. Dia pun berlari dan tanpa disengaja Sinta menabrak Sinta.
Bruk!
__ADS_1
"Aww ...!" jerit Sinta yang menabrak seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar dengan tato di bagian leher belakangnya.
"Kau!!" hardik lelaki itu dengan geram.
"Maaf! Kau siapa? Kau sudah punya pacar?! Apa kau mau jadi pacarku?" tanya Sinta meracuni tidak jelas. Sinta sudah mabuk, dia berbicara ngelantur tidak jelas.
Lelaki yang semula marah itu pun akhirnya diam lalu tersenyum menyeringai.
"Baiklah aku akan menjadi pacar mu, Sayang!" jawab lelaki itu dengan tatapan laparnya. Bagian atas Sinta menyembul keluar, membuat lelaki itu memiliki ide untuk mendapat gratisan malam ini.
Sinta berlalu begitu saja dari teman-teman yang berniat membawa pulang Sinta. Setelah melihat Sinta bersama lelaki, teman-teman Sinta memilih pulang. Mengira Sinta bersama saudaranya.
"Namamu siapa, Manis?" tanya lelaki yang ditabrak oleh Sinta.
"Sinta. Namaku Sinta, kamu tahu mengapa kedua orang tuaku memberi nama Sinta kepadaku?" jawab Sinta sambil meracau.
"Memang apa?" tanya lelaki itu. Dia membawa Sinta masuk ke dalam mobilnya.
"Karena papaku ingin aku menjadi seperti Dewi Sinta di kisah Ramayana. Sabar dan tidak mudah menyerah. Tapi asal kamu tahu jika sekarang ini aku sudah menyerah dengan hidupku! Aku sudah tidak peduli lagi dengan hidup ini, aku ingin kau bawa aku pergi jauh dari sini!" jawab Sinta meracau.
Lelaki dengan leher bertato itu tersenyum, dia merasa seperti mendapatkan hadiah lotere tanpa diundi. Niat hati mau melampiaskan segala penatnya di Club malam itu, malah mendapat sosok wanita yang datang dengan percuma.
Mobil mewah berlapis anti peluru itu melaju meninggalkan club dan menuju ke sebuah rumah yang dijadikan markas oleh kelompok sindikat jual beli wanita.
Broom ....
__ADS_1
Suara mobil mengudara memecah keheningan malam kota Lampung.